
Gemericik hujan di pagi hari membangunkan Azkira dan Fathan. Mungkin, keduanya sudah merasa cukup dengan waktu tidurnya. Pagi itu mereka kompak merekatkan dekap dalam eratnya peluk.
"Abang, AC-nya boleh dimatikan saja, tidak? Hujan di luar membuat udara dinginnya terasa sampai ke sini," tutur Azkira sembari membenamkan kepalanya di dada bidang Fathan, seperti yang biasa dia lakukan.
Tanpa menolak, Fathan pun langsung mengambil remote AC, dan mematikannya. "Apa sekarang lebih baik?"
"He'em," jawab Azkira manja.
"Abang, aku ingin makan sesuatu yang pedas," ungkap Azkira.
Fathan tersenyum sumringah. "Apa istriku sedang mengidam?" tanya Fathan sambil mencubit manja hidung Azkira.
"Entahlah, tapi sepertinya begitu."
Menerima semua sikap manja Azkira seperti rengekannya, permintaan yang diutarakannya, dan juga kerewelannya, entah mengapa membuat hidup Fathan justru terasa semakin berwarna. "Jadi, mau makan apa, Sayangku?" tanya Fathan gemas.
"Aku ingin asinan buah," jawab Azkira.
"Ini 'kan masih sangat pagi, Sayang."
"Jadi aku tidak boleh makan asinan buah? Ya sudah, kalau begitu aku tidak mau makan apa-apa," rengek Azkira sembari mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Alih-alih merasa kesal, Fathan justru semakin gemas pada Istrinya tersebut, "Bukan tidak boleh, tapi nanti perutmu sakit, Sayang. Kamu harus sarapan lebih dulu," bujuk Fathan, lantas memeluk Azkira dengan penuh kasih sayang.
"Baiklah, tapi nanti aku mau asinan buah," kata Azkira. Dan pada akhirnya Azkira pun menuruti usul Fathan tersebut.
Beberapa jam kemudian, Fathan pun menunaikan janjinya untuk memenuhi keinginan Istrinya yang sedang dalam masa ngidam itu. Sesekali Fathan meringis, mana kala menyaksikan Azkira sedang makan asinan buah yang cenderung pedas dengan rasa sedikit masam secara lahap, seperti melahap roti saja. Tidak lama kemudian, Fathan merasakan dirinya mual dan pusing.
"Abang kenapa?" tanya Azkira melihat gelagat aneh Fathan.
"Tidak tahu, aku merasa mual dan pusing," jawab Fathan.
"Itu namanya Den Fathan ketularan ngidam juga," timbrung Bi Inah sambil tertawa.
"Den ini tidak percaya kalau Bi Inah kasih tahu. Suami ngidam saat istrinya sedang hamil itu sudah umum terjadi pada banyak orang, walaupun tidak semuanya, Den," imbuh Bi Inah lagi.
Azkira tertawa sampai terpingkal-pingkal saat mendengar hal itu. "Kenapa begitu, Bi?" katanya dengan sisa tawa yang masih menggelitiknya.
"Bibi juga tidak tahu, Non. Yang jelas hal itu memang lumrah terjadi pada bapak hamil," terang Bi Inah yang tetap sibuk dengan pekerjaannya mengelap meja dan lainnya.
Mungkin, penjabaran Bi Inah memang terdengar tidak masuk akal. Namun, nyatanya hal itu memang benar-benar terjadi. Itu bukanlah sebuah dusta, melainkan suatu keadaan yang aneh, tapi nyata.
****
__ADS_1
Di sebuah panti asuhan yang berjarak tidak jauh dari tempat hilangnya Adnan kecil. Anak buah Antoni sedang mencari informasi mengenai Adnan dengan membawa sebuah foto yang memperlihatkan potret wajah Adnan saat kecil dan juga Azkira. Antoni juga memberitahunya bahwa target pencarian mereka adalah balita laki-laki, sementara bayi perempuan yang tidak lain adalah Azkira tidak termasuk dalam target.
Setelah mengobrol panjang lebar, anak buah Antoni yang diketahui bernama Jalal tersebut, mendapatkan titik terang soal keberadaan Adnan. Menurut informasi dari pihak panti asuhan, dia sudah diadopsi oleh sepasang suami istri. Lantas saja, Jalal pun meminta nama dan alamat lengkap orang tua asuh yang mengadopsi Adnan tersebut.
Jalal bersama dua anak buahnya bergegas meninggalkan panti asuhan, usai mendapat informasi yang dibutuhkan. Kemudian, dia menghubungi Antoni, guna memberikan up date terkini mengenai misi yang menjadi tugasnya. Langsung saja, Jalal menekan tanda panggilan pada kontak Antoni.
[Phone ringing.]
[Halo, Pak. Kami sudah medapatkan informasi akurat dari panti asuhan. Rupanya benar, anak yang kita cari memang sempat tinggal di panti itu, sebelum akhirnya diadopsi oleh sepasang suami istri,] beber Jalal dalam percakapannya bersama Antoni.
[Bagus! Kalian telusuri lagi dan cari sampai dapat,] ucap Antoni memberi perintah dari ujung telepon sana.
[Baik, Pak. Nanti kami informasikan lagi mengenai kabar terbarunya.]
[Call ending.]
Dari tempatnya berada, Antoni menghela napas lega. "Akhirnya aku mendapatkannya. Putra kalian masih hidup, Teman," gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
Bersambung ....
Dukung terus Author, ya. Terima kasih. ❤❤❤🖤🖤🖤
__ADS_1