Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 59 Aktifitas Paling Surgawi


__ADS_3

Di ranjang pengantin yang berhiaskan harum segar wewangian serta indahnya taburan kelopak mawar merah yang mempesona. Revan dan Dila masih berdiam-diaman dalam hening yang mendebarkan. Bahkan, kelakuan usil Revan yang biasanya suka nyosor bagai angsa, kini berubah kalem. Entah hal apa yang menyebabkannya menjadi begitu.


'Tuhan, yakinkan kakiku untuk menapaki biduk rumah tangga ini. Agar tidak gentar manakala berpijak di jalannya yang mungkin terjal penuh kerikil dan bebatuan. Agar aku tak menyerah melewati aral yang mungkin akan hadir melintang. Jangan goyahkan hati ini atas pilihan yang sudah menjadi ketetapan-Mu. Meski cintaku padanya baru separuh, tapi tolong jangan biarkan aku membuat ruang hatinya tak utuh dan hampa. Biarkan rasaku dan rasanya bersatu dalam tujuan meraih bahagia.' Di dalam batinnya, Revan melangitkan doa-doa.


Kala itu keduanya tengah duduk di tepi ranjang. Saling menunduk dan enggan memandang satu sama lain. Padahal, perasaan canggung itu sebelumnya tidak ada.


"B-bang ...," lirih Dila gugup.


Revan menoleh seraya menyimpulkan senyuman. "Ya," jawabnya lalu bergeser lebih dekat kepada Dila.


"Emmm ... aku mengantuk. Bolehkah aku tidur lebih dulu?" tutur Dila sembari malu-malu. Revan hanya mengulas senyum tipis.


Sebenarnya, Revan merasa bersalah kala itu. Sebab, sejak tadi dia hanya diam dan tidak melakukan apa pun. Lalu, diarahkan lagi pandangannya kepada Dila, dan ternyata Dila sudah merebah memunggungi Revan.


Revan bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terasa kaku. Entahlah, mungkin justru hatinyalah yang sebenarnya terasa kaku. Ah, perasaan itu bukanlah yang Revan mau.


'Kenapa Bang Revan tiba-tiba jadi pendiam? Apa sikap hangat yang biasa dia tunjukkan sebelumnya, hanyalah usaha untuk membuatku terpesona?' batin Dila yang kala itu berpura-pura sudah tidur.


"Apakah aku hanya pelarian yang dijadikan pengalihan untuk menyamarkan perasaan yang sebelumnya ada untuk Azkira? Kalau memang begitu, ini akan menjadi nasib malang bagiku," gumam Dila. Lalu saja kristal bening luruh dari ceruk matanya.


Revan sudah kembali dari kamar mandi. Dia melingkarkan tangannya pada tubuh Dila, seraya menyusul Dila berbaring. Tampaknya, pelukan itu teramat santun. Seperti sebuah pelukan yang menandakan permintaan maaf.


Dila membalikkan posisi badannya menghadap ke arah Revan. Tak ayal, posisi itu membuat kedua bagian depan tubuh mereka bersatu merapat. Revan tampak sedikit terkejut, karena ternyata Dila belum tidur.


"S-sayang ...." Revan melontarkan kata itu dengan lirih.


"Hmmm ...," sahut Dila.


"Kenapa belum tidur?" imbuh Revan seperti bertanya dengan segan.


"Tidak tahu. Aku sudah mencobanya, tapi mataku tidak juga lelap," balas Dila dengan wajah yang terbenam di dada bidang Revan.


"Mungkin aku harus menidurimu," cetus Revan begitu saja.


"Ha?" Dila tersentak.

__ADS_1


"Maksudku, mungkin aku harus menidurkanmu terlebih dulu agar matamu bisa terlelap," kilah Revan.


"Aku ingin mencoba yang pertama," kata Dila dengan keberanian yang dia kumpulkan.


"Ap-pa aku tidak salah dengar?"


"Tidak, Bang. Kurasa telingamu sudah mendengar dengan benar."


Tiba-tiba saja hati Revan dag-dig-dug tidak karuan. Pasokan oksigennya seolah terhambat hingga napasnya seperti tertahan. "Apakah kita akan melakukannya malam ini?"


"Aku akan setuju saja jika Abang menghendakinya begitu," jawab Dila lugas.


Sontak saja Revan bangkit dan duduk, disusul oleh Dila beberapa detik kemudian. Mata mereka beradu tatap, saling meng-iya-kan dalam satu hal. Ya, tubuh mereka merespon dengan baik untuk saling berbalas cumbu.


Kejadiannya begitu cepat. Tahu-tahu seluruh benang yang melekat di tubuh keduanya kini teronggok di lantai kamar. Bunyi kecipak dari kecup yang dicecap berulang kali terdengar dari mulut mereka. Selanjutnya, terjadilah sesuatu yang orang sebut sebagai pertempuran di malam pertama.


"Aakkhhhh!" pekik Dila menahan nyeri kala benda pusaka Revan menerobos lorong cintanya setelah beberapa kali hentakkan.


"Apakah itu menyakitkan?" tanya Revan dengan mimim wajah cemas.


"Kita pelan-pelan saja," sambung Revan. Dia mendiamkan miliknya di dalam sana agar otot-otot Dila yang semula tegang menjadi terbiasa.


Beberapa menit berselang, aktifitas yang paling surgawi itu pun berlanjut dengan sangat lancar. Revan mulai lihai memancing racauan merdu dari mulut Dila. Dan sebuah senyum kebanggaan pun tercetak di bibir manis Revan.


Mata mereka memebelalak, terpejam, lalu terbuka lagi. Terus bergantian hingga berulang-ulang, dikarenakan rasa nikmat yang tiada tara. Dila yang sebelumnya kesakitan pun, kini mulai meresapi kegiatan di malam pertamnya itu.


Lalu, Revan meng*erang disertai gerakan tarik ulur yang semakin cepat. Hingga akhirnya mereka menjerit berbarengan menandakan sebuah pelepasan hebat telah terjadi. Seketika tubuh mereka terkulai lemas tidak berdaya. Revan pun ambruk dan berguling ke sisi Dila.


"Terima kasih, Istriku," ucap Revan mengucup kening Dila dengan deru napas yang masih memburu.


Dila mengangguk pelan sambil tersenyum malu-malu. Pipinya tampak merah merona, tetapi bibirnya kelihatan sedikit pucat. Itu pasti akibat serangan yang dilakukan Revan padanya.


****


Fathan yang masih harus berpuasa karena Azkira sedang dalam masa ngidam yang parah pun hanya bisa bersabar. Dia sangat ingin, tapi di sisi lain juga tidak mau membuat kenyamanan Azkira terganggu. Sebab, benihnya yang sudah tumbuh menjadi segumpal daging di dalam rahim Azkira itu sangatlah berharga baginya.

__ADS_1


"Abang, kenapa diam saja? Abang sedang lelah? Mau aku pijat?" tegur Azkira seraya merapikan tempat tidur dan menawarkan sebuah pijatan.


"Tidak perlu, Sayang. Aku takut adik kecilku malah bangun nanti kalau kamu memijatku."


Azkira tertawa terpingkal-pingkal. "Mangkanya jangan messum! Abang pikirannya sangat ngeres. Sepertinya harus dibersihkan dengan sapu agar pikiran Abang jadi bersih," olok Azkira.


"Bukan pikiranku yang sangat ngeres. Akan tetapi, dirimu yang terlalu menggoda dan selalu menjadi candu buatku, Sayang."


"Alasan! Abang saja yang mudah tergiur. Apa hidup Abang akan kacau kalau tidak melakukan itu untuk waktu yang lama? Soalnya, masa kehamilan 'kan sembilan bulan, Bang."


"Ya ampun, Sayang. Aku mohon, jangan sampai selama itu juga aku berpuasa. Bisa pusing adik kecilku nanti." Fathan menanggapi gurauan Azkira dengan serius.


"Hahaha ... hahaha! Kenapa Abang lucu sekali? Sudah ah, sana pergi. Apa Abang tidak bosan terus bersama denganku?"


"Sayang, kenapa bicaramu begitu? Apakah kamu sangat mengiginkan aku merasa bosan padamu? Jahat sekali," rengek Fathan.


"Huuft, sepertinya dugaanku benar."


"Apa itu? Apa dugaanmu?" imbuh Fatan dengan wajah penasaran.


"Aku akan mengurus bayi yang kulahirkan dan satu bayi besar nantinya."


"Bayi besar?"


"Ya! Abang merengek terus seperti bayi besar."


Fathan tertawa dibuatnya. "Karena kamu senyaman pelukan ibu, jadi aku senang bersikap manja padamu, walaupun umurku di atasmu."


"Baiklah, itu bisa dipahami."


CUP!


Satu kecupan berlabuh sempurna di kening Azkira. "Kalau begitu aku pergi dulu. Mau mengecek restoran, sekaligus mencarikan makanan segar untuk kesayanganku sepulang dari sana nanti," lontar Fathan berpamitan sambil mengelus lembut perut Azkira yang masih tampak rata.


Bersambung ....

__ADS_1


Votenya, Mak. Jangan lupa. Wkwkwk. Oh ya, teman-teman. Sepertinya beberapa bab lagi novel ini akan othor tamatkan, dan akan ada karya baru yang rilis. Mohon dukungannya, ya. Muaaaach.❤❤❤


__ADS_2