
"Ini bukan tentang kesalahan dan sebuah maaf saja, Bang. Tapi, ini tentang hatiku yang sudah tidak bisa lagi menerima luka."
"Azki, tapi bagaimana dengan Ayah dan Nenek? Setidaknya pikirkan mereka juga."
"Bang! Sejak awal aku sudah menaruh kebahagiaan mereka di atas kebahagiaanku. Jangan bersikap seolah aku tidak pernah berkorban, padahal dari keseluruhan ini akulah yang kalian korbankan." Segala alasan sudah tidak bisa lagi mencegah Azkira untuk pergi dari sana.
"Oke! Oke! Semuanya salahku dan aku minta maaf. Aku mengakuinya dan tidak akan mengulangi hal yang sama. Tolong jangan pergi, Azki."
"Maafkan aku, Bang. Tapi aku bukanlah seorang anak kecil yang bisa kamu pukul, kemudian kamu rangkul. Aku punya batas kesabaran dan menurutku hubungan ini sudah tidak sehat, Bang."
"Kita bisa mencobanya sekali lagi 'kan? Aku yakin kita bisa memulai semuanya dari nol."
"Sudahlah, Bang! Aku tidak mau waktumu dan waktuku dihabiskan untuk hal yang sia-sia. Aku ingin memberi kesempatan pada diriku untuk merasakan bahagia sebenatar saja. Boleh 'kan? Aku permisi!"
"Mau kemana? Ini sudah dini hari, Azki. Di luar tidak ada kendaraan umum yang beroprasi."
"Jangan khawatirkan aku, Bang. Aku sudah biasa dengan kesusahan di dalam hidupku."
"Kalau begitu biarkan aku mengantarmu."
"Tidak perlu! Aku bisa pergi sendiri."
Ya, Azkira benar-benar pergi. Dia tidak perduli lagi pada kata-kata dan usaha Fathan yang menghalangi langkah kakinya. Hingga luputlah sudah Azkira dari pandangan mata Fathan kala itu.
Fathan berteriak frustasi. Dia membanting benda apa saja yang ada di hadapannya. "Bodoh kamu, Fathan!" hardiknya merutuki diri sendiri.
Di luar sana, di dini hari yang dinginnya menelusuk hingga ke sanubari. Azkira berdiri sejenak, menjeda langkah kakinya. Lalu, dia menelepon seseorang.
Cukup lama Azkira diam menunggu, hingga akhirnya datanglah Revan dengan sepeda motornya. Benar, yang Azkira hubungi tadi adalah Revan.
"Azki, sedang apa di sini? Apa yang terjadi? Di mana suamimu?" ujar Revan memberi banyak pertanyaan. Azkira memang belum bercerita, dia hanya minta ditemui di tempat itu.
"Azki ...," ulang Revan menyeru Azkira yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Bolehkah Azki minta antar, Bang?" Azkira justru mengalihkan pembicaraan Revan.
"Oke!" Revan langsung setuju, karena dia tahu Azkira belum mau bercerita.
Azkira minta diantarkan ke rumah kontrakan temannya yang bernama Dila. Ya, Azkira beteman sudah sekitar tiga tahun lebih semenjak mereka bekerja di Chili Sauce Resto. Sayang sekali, waktu itu Dila lebih dulu keluar dan memilih untuk pindah pekerjaan menjadi seorang apoteker, yang dirasa lebih cocok untuknya. Karena Dila sendiri merupakan seorang lulusan sekolah farmasi. Kendatipun tidak satu pekerjaan lagi, komunkasi di antara keduanya masih berjalan dengan baik hingga kini.
Detik berikutnya, Azkira sudah sampai di rumah kontrakan Dila. Tampak Dila sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan Azkira, yang tentunya sudah memberi kabar sebelumnya. Revan membantu membawakan koper Azkira dan mengekor di belakangnya.
"Azki ...." Dila menyeru.
"Dila, kamu apa kabar?" Azkira menghamburkan diri memeluk Sahabatnya itu.
"Maaf mengganggumu sepagi ini," imbuh Azkira. Kala itu waktu menunjuk pada pukul 03.15 dini hari.
"Tidak masalah, Azki. Ayo masuk," ajak Dila.
"Dila, kenalkan ini Bang Revan. Bang Revan, ini Dila." Azkira mengenalkan keduanya. Mereka pun saling melempar senyum.
"Emm, Azki ... apa tidak sebaiknya Abang pulang saja? Tidak enak bertamu ke tempat seorang wanita di waktu seperti ini," ungkap Revan.
Azkira mengerti dan akhirnya setuju. "Ya sudah, Bang. Terima kasih, ya."
"Kamu masih berhutang cerita pada Abang, Azki. Jaga dirimu baik-baik. Kalau butuh Abang telepon saja," papar Revan.
"Tapi jangan beritahu Nenek dulu, ya, Bang. Azki tidak ingin Nenek kepikiran nantinya."
"Jangan khawatir, tapi kalau ada apa-apa segera kabari Abang!" titah Revan melanjutkan.
"Dila, aku titip Azki, ya." Revan bicara pada Dila.
"Siap, Bang. Tenang saja, Azkira aman di sini," jawab Dila sembari mengangkat kedua ibu jarinya. Revan menyimpulkan senyum, lalu pergi dari sana.
Di dalam perjalanan pulang. Revan masih kepikiran mengenai Azkira. "Apa yang terjadi padanya dan pria yang jadi suaminya itu? Kenapa dia membiarkan Azkira keluar rumah sendirian? Lalu, memar di ujung bibirnya? Apa Azkira mengalami kekerasan?" Revan tak habis pikir dan sangat mencemaskan keadaan Azkira.
__ADS_1
****
Kesokan paginya, Fathan kembali menemui Dion dengan pikiran yang teramat kacau. Dia menagih janji pada Dion, perihal otak dari pelaku fitnah yang menyangkut Chili Sauce Resto dan juga Azkira. Sambil meneguk kopi yang sudah terhidang khusus untuknya, Fathan memulai obrolannya dengan Dion.
"Seperti dugaanku, Fathan. Ini adalah ulah Ellena dan juga Fatih. Jadi, sebelum mereka mengkhianatimu dengan malakukan pertunangan diam-diam, kedua cecunguk itu sudah lebih dulu menyerang restoran dengan isu yang sudah mereka siapkan sedemikian rupa," beber Dion.
Fathan manggut-manggut mengisyaratkan kepahamannya terhadap penjelasan Dion. "Lantas, apa kaitannya dengan Azkira? Kenapa dia turut dilibatkan?" tanya Fathan.
"Sebenarnya mereka hanya memperalat. Siapa pun bisa jadi korban. Kebetulan saat itu Azkiralah yang mendapat peluang untuk dikambinghitamkan."
"Keterlaluan! Kenapa mereka melakukan hal semenjijikan itu?"
"Aku tidak tahu, Fathan. Akan tetapi, sepertinya mereka memiliki dendam pribadi terhadapmu," jawab Dion mencoba menarik sebuah kesimpulan.
Fathan menggemeratakkan deretan giginya dengan raut wajah geram dan sorot mata penuh amarah. "Kabarkan pada media mengenai semua ini. Dan pastikan nama baik Chili Sauce Resto kembali. Kamu tahu 'kan Dion? Selama ini kita sudah banyak berjuang untuk kemajuan restoran ini."
"Baik, aku akan mengurusnya. Tentu saja, aku juga tidak terima dengan perbuatan keji mereka," kata Dion tak kalah geram.
"Mereka akan menerima akibatnya!" Fathan tersulut api kebencian pada Ellena dan juga Fatih.
Di sisi lain, di tempat berbeda yaitu di rumah kontrakan Dila. Azkira sedang termenung usai menceritakan masalahnya pada Sahabatnya tersebut. Dia menatap kosong dengan wajah lesu.
"Sebagai sahabatmu, aku hanya bisa membantumu dengan dukungan dan doa terbaik. Semoga saja, ada penyelsaian yang melegakan untuk masalahmu dengan suamimu itu. Aku rasa, kalian hanya sama-sama sedang emosi saja. Tapi, mengenai kekerasan yang dia lakukan padamu, aku juga sama sekali tidak membenarkan. Tidak seharusnya dia melakukan itu padamu." Dila menanggapi Azkira dengan sangat bijak dan dewasa.
"Entahlah, Dil. Aku merasa hidupku sudah tidak akan pernah baik-baik saja," keluh Azkira lagi.
"Sabar, Azki. Tentu saja semua itu bukanlah perkara yang mudah untuk dihadapi, tapi aku yakin bahwa Tuhan telah memilihmu karena Dia percaya kamu mampu melewati semua ini." Dila mengusap lembut pundak Azkira.
"Terima kasih, Dila. Kamu selalu bisa mebuat perasaanku lega," tutur Azkira sembari menangis.
"Sama-sama, Azki." Dila berusaha menguatkan Azkira dengan sebuah pelukan. Dan pagi itu menjadi hari yang dimulai dengan deraian air mata.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak cintanya, ya, pembacaku terkasih. 🖤❤🙏