Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 29 Riuh Tangis


__ADS_3

"Sudah sesakit ini pun hatiku tetap saja tidak bisa berhenti mencintaimu, Azki." Revan menghempaskan diri ke atas single bednya.


Cintanya terlalu dalam pada Azkira. Tidak ada yang mampu mengalihkan perasaannya dari rasa sayangnya pada Pemilik netra coklat nan indah itu. Meski lautan perih dan ombak luka menerjangnya sekali pun, Revan akan tetap berdiri teguh setegar karang untuk mempertahankan cintanya pada Azkira. Walau tanpa dia sadari, bahwa mencintai Azkira untuk saat ini, sama halnya dengan merayakan luka setiap hari. Mengharapkan balasan cinta dari milik orang lain tak ubahnya pungguk yang merindukan bulan. Mustahil bisa tercapai.


Memikirkan Azkira, seperti melihat ke lautan lepas yang seakan tak ada ujungnya. Azkira ada nyaris di setiap kisah indah yang tersimpan dalam memori Revan. Kalian tahu rasanya mencintai sendirian? Itu seperti menggoreskan sebilah pisau ke urat nadi. Sakit tiada terkira.


"Revan, kamu belum tidur, Nak?" Seorang Wanita paruh baya menegur Revan. Dia adalah Nurhayati, ibunda dari Revan.


"Revan belum mengantuk, Bu," jawabnya santun.


"Apa kamu sudah makan malam? Ada ayam goreng mentega dan brokoli cah sapi kesukaanmu," papar Nurhayati.


"Nanti saja, Bu. Revan tidak lapar." Pria itu lalu menghambur memeluk Sang Ibu.


"Ada apa, Nak? Apa kamu masih memikirkan Azkira?" terka Nurhayati seolah tahu isi hati Putranya.


"Kenapa rasanya sakit sekali, Bu? Revan tidak bisa melupakannya barang sedetik saja," adu Revan sambil menagis tanpa suara. Hanya air mata yang terus mengalir tanpa isak atau sedu sedan.


"Sabar, Nak. Kita hanya manusia biasa yang tidak kuasa atas takdir-Nya. Belajarlah untuk ikhlas dalam mencintainya. Cobalah untuk rela pada apa yang menjadi kehendak dari-Nya. Ibu berdoa, semoga suatu hari ada perempuan beruntung yang akan menjadi pendampingmu dalam susah dan senang." Nurhayati membelai lembut pucuk kepala Revan. Di matanya, sedewasa apapun Revan, tetaplah seorang anak-anak baginya.


"Sudah jangan menangis. Putra Ibu tidak boleh cengeng," kata Nurhayati seraya menyimpulkan seyum penuh kehangatan khas seorang ibu.


"Bagaimana kalau Revan tidak bisa melupakan dia untuk seumur hidup Revan, Bu?"


"Maka terima saja takdir itu, Nak. Jangan dilawan nanti rasanya berat. Lagi pula, kamu tidak perlu melupakannya. Yang kamu perlukan adalah belajar untuk tetap bahagia walau tanpa dia."

__ADS_1


Revan semakin mengeratkan pelukannya. Dia merengek seperti seorang anak kecil yang minta dibelikan mainan. "Tapi Revan maunya bahagia dengan dia, Bu."


"Ahh, kamu ini ada-ada saja. Terserah padamu saja lah, Nak. Cinta 'kok dipaksakan," desis Nurhayati sambil berlalu meniggalkan Revan.


****


"Apakah itu masih sakit?" Fathan membawa pandangannya pada bekas memar di sudut bibir Azkira yang mulai memudar.


"Yang menyakitkan bukan bekas lukanya, melainkan perasaan yang kamu hadirkan saat kamu melakukannya, Bang. Aku merasa tidak berarti sebagai manusia."


"Tapi aku tidak sengaja. Itu terjadi begitu saja saat aku mendengarmu terus bicara," dalih Fathan.


"Begitulah dirimu yang sebenarnya. Melukai, lalu berlindung di balik kata tidak sengaja. Menciptakan kesakitan, lantas bersembunyi di balik keegoisanmu yang selalu merasa benar. Melakukan kesalahan dan menebusnya dengan kata maaf, kemudian mengulanginya lagi. Itulah dirimu, Bang. Aku ulangi sekali lagi. Itulah dirimu!"


"Aku bahkan tidak tertarik untuk sekedar mendengar ucapan yang keluar bersama janji-janji manismu, Bang. Andai suatu saat, ternyata kita tidak berjodoh ... aku pesankan kepadamu, jadilah pendengar yang baik untuk istrimu, Bang. Dengarkan keluh kesahnya, ceritanya, kata-kata dan keinginannya sebentar saja, sebelum kamu kembali sibuk dengan duniamu."


"Azki, kenapa kamu bicara begitu? Apa kamu lupa kalau sekarang kita adalah suami istri? Bagaimana bisa kamu mengatakan tentang kita yang tidak berjodoh? Bukankah itu tidak mungkin?"


"Ya! Kamu benar, Bang. Kita sudah menikah dan menjadi suami istri. Itu tidak terbantahkan. Tetapi, perlu kamu pahami, Bang. Tidak setiap kebersamaan itu akan selamanya abadi. Terlebih, kita menikah atas perjodohan. Di atas cinta yang tidak pernah ada. Tepatnya, sedari awal kamu sudah tidak mengharapkan kehadiranku. Maaf-maaf saja, Bang. Mungkin, bagimu aku hanya seorang wanita biasa yang tidak sebanding denganmu. Aku terlahir dari latar belakang keluarga yang sederhana dengan segala kekuranganku. Tapi percayalah, aku adalah segalanya bagi seseorang yang mencintaiku. Dan kurasa, itu bukanlah dirimu."


Bibir Azkira bergetar saat mengatakan semua itu. Tumpah sudah apa yang dia pendam di hatinya selama ini. Segala yang dia rasakan kini tercurah dalam perbincangannya malam itu bersama Fathan. Merebak sudah rasa yang selama ini menggumpal dan membuat sesak di jiwa.


"Azki ... mungkin sikapku padamu selama ini memang sangat buruk. Akan tetapi, aku berani bersumpah bahwa aku tidak pernah membandingkan atau merasa tidak sepadan denganmu. Aku tidak pernah mempermasalahkan semua itu," beber Fathan dengan seraut wajah sedihnya.


"Benarkah begitu, Bang? Lantas, apa yang membuatmu memperlakukanku secara tidak adil? Apakah kamu melihat aku sebagai benda mati atau sampah yang tidak ber-"

__ADS_1


"Azkira, cukup! Tolong jangan memperkeruh keadaan. Kamu tidak mengerti maksudku," pungkas Fathan.


"Huh! Kamu benar, Bang. Kamu selalu benar dan sialnya, aku harus menerima kemalangan di mana akulah yang selalu berada di posisi yang salah!" Azkira bicara dengan intonasi tinggi dan mimik wajah geram.


Kemudian, Wanita itu memejamkan matanya sembari berusaha mengatur napas yang mulai berderu diburu rasa kesal. Detik berikutnya, Azkira sudah tidak sanggup lagi menahan diri untuk tidak menangis. Bayangan tentang Fathan yang telah banyak melukai secara fisik mupun verbal, membuatnya meratap pilu, meraung pedih, bagai tersayat sembilu.


"Maafkan aku, Azki. Maafkan aku," kata Fathan berulang kali.


Fathan pun menangis didera rasa bersalahnya yang teramat besar pada Azkira. Dunianya terasa bagai di ambang kemurkaan Azkira, yang sewaktu-waktu dapat menghancurkannya. Lalu, dia beranjak, bergerak mendekati Azkira.


"Tolong jangan begini, Azki. Pukul aku bila perlu, tapi aku mohon tolong jangan siksa aku dengan rasa bersalah ini." Fathan memeluk Azkira yang masih menangis hingga tersedu-sedu.


"Tolong lepaskan aku, Bang. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang kesakitan. Aku merasa hidupku tidak berguna karena perlakuanmu yang selalu membuatku terhina."


"Tidak, Azki. Kamu berarti bagiku. Aku yang salah. Tolong jangan meminta untuk pergi dari hidupku." Tangis Fathan pun tak kalah pecah dari Azkira.


Sembari terus mendekap Azkira, Fathan tidak hentinya meminta maaf dan melabuhkan kecup serta cium di pucuk kepala juga seluruh permukaan wajah Azkira. Malam itu, ruangan kamar mereka dipenuhi riuh tangis yang terasa bagai gemuruh badai. Fathan benar-benar telah dibuat kalang kabut oleh aduan Azkira.


Azkira menengadahkan wajahnya, lalu menatap rapuh kepada Fathan yang masih setia mendekapnya. "Aku lelah, Bang. Aku ingin tidur," ucapnya pelan.


"Tidurlah, Azki. Tidurlah, Istriku. Tidurlah kamu dalam pelukanku. Izinkan aku meringkuhi segala perasaan sakitmu malam ini."


Bersambung ....


Jangan lupa tinggalkan jejak cantik, setelah membaca, ya. Love you. ❤🖤

__ADS_1


__ADS_2