
Kabar duka itu telah sampai ke telinga Azkira dan juga Fathan. Dila pun tak tinggal mendapatkan kabar tersebut. Sehingga, mereka semua hadir untuk mengantarkan Nurhayati ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Semua orang turut berduka cita. Revan terus bicara di atas pusara, kepada Nurhayati yang telah terkubur tanah merah. "Terima kasih, Ibu. Berkatmu aku tidak pernah merasa sendiri setelah sempat hilang dari keluarga kandungku," tuturnya. Lalu, dia mencium nissan sementara yang terbuat dari kayu.
Azkira, Revan, Dila, tak terkecuali Gunawan dan Sinta turut menabur bunga dan air mawar di atas tanah merah yang masih basah itu. Kemudian, mereka menguatkan Revan. Dila sendiri, terlihat tak banyak berbuat apa-apa. Duka itu terlalu pekat bergelimang meliputi mereka.
"Abang ...," lirih Azkira seraya memberi isyarat agar Revan berdiri.
Tak kuasa menolak, Revan pun langsung bangkit berdiri. Dan mereka mulai pergi meninggalkan pemakaman itu. Seperti hilang separuh hidupnya, kurang lebih begitulah yang dirasakan Gunawan. Bagai anak ayam kehilangan induknya, mungkin kata itu yang lebih tepat untuk Revan. Sementara, yang lain larut dalam duka yang sama.
Sesampainya di rumah Gunawan, atau Ayah asuh Revan. Pria itu mulai mengenalkan Dila sebagai calon istrinya. Sebenarnya, itu bukan waktu yang tepat, tapi Revan tidak ingin menunda lagi.
"Ayah, Nenek, Azki, Fathan," seru Revan pada semua orang. "Kenalkan, ini Dila. Calon istriku," imbuhnya lagi.
Dila menunduk dalam-dalam. Ada rasa gugup sekaligus malu dan senang. Semuanya bercampur aduk menjadi satu.
"Dila, sejak kapan kalian--"
"Tanya saja pada Abangmu, Azki," ucap Dila menjeda pertanyaan Azkira.
"Baiklah, aku turut bahagia untuk kalian." Azkira memeluk Dila.
"Ekhemm .... Selamat ya, Bang." Fathan berdeham dengan nada meledek. Semua orang pun tertawa dibuatnya.
****
"Abang, apa ini?" tanya Azkira sembari mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Itu hadiah yang aku siapkan untuk pernikahan Bang Revan nanti," jawab Fafhan dengan santainya.
"Ya ampun. Bang Revan bahkan belum menyebar undangan. Apa ini tidak salah?"
"Apa yang salah dengan itu? Tentu saja tidak salah, Azki. Aku sangat bahagia, karena akhirnya Bang Revan bisa jatuh cinta pada wanita lain."
"Maksudnya?"
'Ahh, itu artinya dia sudah tidak terpaku lagi pada cintanya kepadamu, Azki. Kenapa kamu polos sekali! Revan itu dulu mencintaimu sebagaimana kekasih. Barulah setelah dia tahu bahwa kalian saudara kandung, dia mencoba melabuhkan hatinya pada gadis lain.' Fathan terus mengoceh di dalam hatinya.
"Abang, kenapa diam saja? Aku sedang bertanya," imbuh Azkira masih menanti jawaban dari Fathan.
"Ya, maksudku ... pokoknya aku bahagia untuk Bang Revan," jawab Fathan beralibi.
"Benarkah? Jadi, Abang sudah mulai menyayangi Bang Revan juga?" kata Azkira sembari bergelayut manja di lengan Fathan.
"Itu pastu, Azki. Bang Revan abangku juga 'kan," tandas Fathan dengan bangga.
"Itu tidak boleh dan tidak akan pernah terjadi," balas Fathan dengan cepat. Azkira tertawa geli.
Fathan tiba-tiba berjongkok di hadapan Azkira sambil mengelus perutnya. "Sayang, apa benihku belum ada yang tumbuh di sana?" cetus Fathan begitu saja.
Raut wajah Azkira seketika berubah beku. "Abang, kenapa kamu bertanya seperti itu? Memangnya yang Abang tanam itu benih bayam yang bisa tumbuh dengan cepat? Benih anak itu hanya Tuhan saja yang bisa menntukan kapan tumbuhnya, Bang," papar Azkira.
Fathan bangkit lagi. "Apakah kita perlu bulan madu lagi?" tanya Fathan dengan wajah penuh harap.
"Iiihhh! Kenapa Abang mulai menyebalkan?" protes Azkira seraya mencubit gemas kedua belah pipi Fathan.
__ADS_1
Hangat cengkrama di antara keduanya pun terus berlangsung. Mereka saling berkejaran, sampai perang bantal. Dan tentu saja berakhir dengan bertempur di atas kasur. Ah, Fathan bisa saja mengambil kesempatan dalam setiap situasi dan waktunya bersama Azkira. Dia benar-benar pejantan tangguh.
Sementara itu, Dion yang adalah seorang jomblo akut sedang menunaikan tugasnya sebagai seorang manager dari Chili Sauce Resto. Dia mengarahkan seorang supervisor-nya agar menjaga kendali restoran. Hal itu, dikarenakan mereka baru saja menghadapi seorang tamu cerewet dan kerjanya hanya protes saja terhadap menu dan pelayanan di Chili Sauce Resto. Tamu wanita dengan dandanan yang heboh itu selalu saja mencari-cari celah untuk memarahi atau menyalahkan waiter dan waitress yang melayaninya.
"Kenapa tissue ditempatkan di side plate?" katanya dengan sedikit membentak.
"M-maaf, Nona. Konsep restoran kami memang seperti itu. Menata tissue di atas side plate dan dibentuk mirip bunga," jawab seorang waitress bernama Anjani.
"Huh! Jawaban yang membosankan," cicit Wanita itu lagi.
Dion yang mendengar hal itu dari jarak beberapa meter, langsung menggelengkan kepalanya sambil berdecak kesal. "Tadi dia protes karena es batu bentuknya panjang dan terdapat bolong di tengah. Lalu, dia protes lagi karena saus cabainya terlalu pedas. Dan sekarang, tissue pun tak luput dari protesnya yang tidak masuk akal itu. Sebenarnya, dia ke sini ingin makan atau ingin menjadi juri?" gerutu Dion yang rasanya ingin mencekikk pengunjung yang sangat bawel itu.
"Sabar, Pak Dion. Mungkin dia mengidap penyakit julid," ujar supervisor yang diketahui bernama Angga.
"Kamu benar, Angga. Mungkin selama ini hidupnya penuh tekanan. Kasihan, padahal masih muda," cibir Dion sambil tak melepaskan pandangannya ke arah wanita tersebut.
"Sudah, Pak Dion. Jangan dipandangi terus. Bahaya, takutnya Pak Dion malah jatuh cinta nantinya," cetus Angga yang melihat bidikkan mata Dion terus terpaku pada pengunjung restoran yang cerewet itu.
"Tutup mulutmu, Angga. Sana lanjutkan kerjamu!" tandas Dion tidak terima.
Kembali kepada Azkira dan Fathan. Mereka masih asyik meneruskan ronde berikutnya. Seperti tak punya rasa lelah, Fathan terus saja menggarap tubuh Azkira sesuai kehendak hatinya. Dia benar-benar membuat Azkira kewalahan melayaninya.
"Abang, aku sudah lelah," keluh Azkira.
"Tapi, aku masih ingin, Sayang. Kamu terlalu candu buatku."
Azkira sudah malas berdebat, karena dia tahu Fathan tidak akan mau mengalah kalau perihal yang satu itu. Akhirnya, dia pun membiarkankan saja tubuhnya dimainkan oleh Fathan dengan sesuka hatinya. Dia memilih pasrah ketimbang semakin lelah karena ucapannya tidak diindahkan.
__ADS_1
Bersambung ....
Mak, kritik dan sarannya dipersilakan loh, ya. 😘😘