
Satu minggu berselang ....
Revan mendapat kabar yang tidak mengenakkan. Dalam telepon itu, Gunawan yakni ayahnya memberitahu bahwa Nurhayati sakit. Lelaki paruh baya itu tampak memohon agar Revan pulang barang sebentar, untuk menemui Nurhayati yang terus saja memanggil-manggil nama Revan.
Mendengar kabar itu, Revan pun tak pikir panjang lagi. Dia langsung mengambil cuti dari pekerjaannya selama beberapa hari untuk pulang. Meski niat hati sebenarnya dia enggan kembali ke tempat penuh kenangan itu, tapi kerisauan dan rasa khawatir terhadap wanita yang sudah membesarkan dirinya itu lebih besar dari apa pun. Oh ya, satu hal yang belum kuberitakukan. Revan mengganti nomer ponselnya sejak dia memutuskan pergi. Karena itu, Azkira tidak pernah bisa saat menghubunginya.
Beberapa jam Revan tempuh dalam perjalan pulang tersebut. Perasaan sedih, cemas, dan ingin segera sampai untuk memastikan bahwa Nurhayati baik-baik saja pun terus memenuhi ruang pikirannya. Sejak dulu, Revan paling tidak bisa melihat Nurhayati sakit. Dia pasti akan panik bukan kepalang.
Detik kemudian, Revan pun sampai di rumah itu. Dia segera berlari masuk ke dalam rumah sambil menyeru Nurhayati. "Ibu ... Ibu," katanya berteriak.
Namun, sesampainya di dalam rumah. Ada yang membuat Revan terhenyak, terperangah begitu heran. Keningnya mengerut, pandangan matanya mengedar penuh analisa, sementara mulutnya kelu menganga.
"Ibu tidak sakit?" pikirnya yang melihat Nurhayati rampak sehat dan bugar.
"Abang ...," lirih seseorang yang tidak lain adalah Azkira.
Revan masih diam mencoba mencaritahu. "Ada apa sebenarnya, Azki?" ucapnya bingung.
__ADS_1
Azki tidak menjawab dan malah menghambur memeluk Revan dengan erat. Sementara, di sana juga ada Fathan, Sinta, Antoni, lengkap bersama kedua orang tuanya yaitu Nurhayati dan juga Gunawan. Hal lain yang membuat Revan tak kalah bingung ialah, mengapa Fathan tidak marah seperti biasanya melihat Azkira yang memeluknya begitu erat? Bukankah, Fathan biasanya sangat cemburuan? Revan benar-benar merasa heran.
Sinta datang menghampiri Revan seraya menangis. "Kenapa aku tidak menyadari bahwa Revan yang selama ini sudah kuanggap sebagai cucuku sendiri ternyata memang cucu kandungku?" gumam Sinta yang turut memeluk Revan bersama Azkira.
"Nenek, apa maksud semua ini?" tanya Revan dengan perasaan tak menentu.
"Duduklah dulu, Nak," titah Nurhayati. Lantas, semua orang pun kini duduk di sana.
Perlahan dan sangat hati-hati, Nurhayati mulai menceritakan semuanya. Semua hal yang dia ingat, mulai dari saat dirinya dan Gunawan mengadopsi Revan dari panti asuhan sampai pindah dari tempat tinggal yang dulu, ke tempat tinggalnya saat ini. Dengan bibir yang bergetar dan perasaan hati yang berat. Nurhayati mengatakan bahwa Revan bukanlah anak kandungnya. Bukan anak kandung dirinya dan juga Gunawan.
"Bu, aku juga tahu dan ingat walau hanya sekilas, bahwa diriku diambil dari panti asuhan. Aku tahu Ibu dan Ayah bukanlah orang tua kandungku. Tapi, bagiku itu tidak masalah, Bu. Karena kalian menyayangiku lebih dari diri kalian sendiri. Berhenti berkata bahwa aku bukan anak kandung kalian," papar Revan sambil menangis.
"Azki, kamu ini bicara apa?" tutur Revan masih tidak percaya.
"Yang Azkira katakan adalah benar, Revan." Antoni turut bicara.
"Tidak! Kalian pasti berbohong. Tidak mungkin semua itu benar. Katakan, Azki! Katakan bahwa kamu hanya bercanda 'kan! Jangan konyol begitu, Azkira."
__ADS_1
Azkira menangis. Sinta, Nurhayati dan semua orang yang ada di sana tak mampu lagi membendung air mata yang sudah mendesak. Sesak rasanya menerina kebenaran itu. Walaupun, kebahagiaan juga datang secara bersamaan.
"Kami punya buktinya, Revan. Aku punya semua buktinya. Aku adalah sahabat dari kedua orang tua kandungmu. Aku yang selalu membantu mereka untuk mencari keberadaanmu tanpa henti, sejak kamu menghilang di pusat keramaian malam itu. Aku yang menjadi saksi nyata bahwa mereka masih mencarimu sampai ajal menjemput mereka. Percayalah, Nak. Jangan patahkan hati kami," tutur Antoni.
Revan menggeleng, lalu menoleh pada Nurhayati yang sejak tadi menangis hingga tersedu-sedu. "Ibu, jangan menangis. Revan tetap anak Ibu. Sampai kapan pun tidak akan ada yang berubah. Revan tetap anak Ibu dan juga Ayah. Jangan takut, Bu. Jangan sedih," bujuk Revan sembari menyeka air mata di pipi Nurhayati. Sepertinya, Revan sangat tahu apa yang dirasakan oleh Wanita yang sudah mengasuhnya sejak dia kecil itu.
Riuh tangis dan segudang penjelasan serta bukti-bukti pun telah diuraikan. Revan akhirnya mau berlapang dada menerima kenyataan itu. Walaupun, perih luka di dalam dadanya masih sangat terasa. Sebab, ternyata satu-satunya cinta yang bertahta di kerajaan hatinya adalah adik kandungnya sendiri. Itu bukanlah hal yang mudah untuk di terima.
Bersambung ....
Guys, jangan lupa mampir juga di karya othor kece, sohib aku Kak Rini Sya. Dijamin oke punya deh.
Langsung aja kepoin. 👇
Judul : Mengejar Cinta Mantan
__ADS_1
Selamat Membaca. ❤❤❤