Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 52 Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Azkira dan Fathan sudah berada di rumah. Mereka tidak lagi menginap di tempat Sinta. Saat ini, mereka sedang melewati fase kehilangan dengan terus bersama dan saling menguatkan. Ya, kehilangan calon bayi bukanlah hal yang sederhana bagi mereka.


"Bang ...," lirih Azkira sembari bergelayut manja di pangkal lengan Fathan. Dia seakan tidak ingin berjauhan dengan Pria yang menjadi suaminya itu.


Fathan mengelus pipi Azkira dengan lembut. "Ada apa, Cantik?"


"Apa Tuhan masih mau menitipkan momongan lagi padaku, setelah kejadian ini? Apa Dia masih akan mempercayaiku setelah aku tidak bisa menjaga amanah-Nya dengan baik?" Mata Azkira berkaca-kaca.


"Hey, Sayang. Dengar! Semua yang terjadi ini bukanlah kesalahanmu. Tuhan tidak akan menghukum seseorang atas kesalahan yang tidak dia lakukan, bukan? Jangan menyalahkan dirimu sendiri." Fathan membesarkan hati Azkira seraya melabuhkan kecup lembut di keningnya.


"Percayalah, kita akan segera punya bayi yang lucu dan sehat. Jangan terus berlarut dalam kesedihan, hum," bujuk Fathan, walau hatinya sendiri sebenarnya sedang hancur.


Azkira masuk ke dalam dekapan Fathan. Mencari ketenangan dari kehangatan yang Fathan hadirkan. "Abang tidak marah padaku?" katanya.


"Tentu saja tidak, Sayang. Mana mungkin aku marah padamu." Pelukan Fathan semakin erat merengkuh tubuh Azkira.


"Sudah, jangan menangis lagi. Bagaimana kalau kita pergi berbulan madu saja? Apa kamu mau?" imbuh Fathan.


"Ke mana, Bang?"


"Ke mana saja yang kamu inginkan, Sayang. Kita akan menikmati waktu kita bersama. Dan membuat adik baru," canda Fathan seraya memaksakan tawa dalam keadaan berdukanya.


"Hihihi! Ya, aku mau," jawab Azkira yang juga mengulas senyuman di tengah tangisannya.


"Oke, kalau begitu kita cari tempat yang indah untuk berbulan madu, setuju?"


"Tentu saja," jawab Azkira lagi. Mereka pun saling menghangatkan sembari menyaksikan keindahan langit langit dari balik jendela kaca.

__ADS_1


****


"Dila, apa kamu serius sudah siap, jika aku melamarmu?" tanya Revan.


Mereka sedang berada di tepi pantai. Revan sengaja mengajak Dila ke pantai untuk menyegarkan pikirannya. Karena, selama ini Dila hanya pergi bekerja dan pulang ke rumah kontrakannya. Begitu terus setiap hari.


"Tidak tahu, Bang. Lagi pula, apa Abang yakin ingin menjadikan aku istri? Kita 'kan belum mengenal lama. Bagaimana kalau nanti Abang menyesal?" balas Dila.


"Kenapa harus menunggu lama untuk mencintai seseorang? Kalau kita sudah sama-sama cocok, aku rasa tidak perlu lagi menunda kebahagiaan."


"Emmm, bukannya Abang mencintai Azkira? Aku bisa melihat dari cara Abang menatap matanya saat itu, saat Azki sedang sakit di tempatku."


"Kamu benar, Dila. Aku memang mencintai Azkira, tapi Tuhan tidak pernah menyatukan cinta kami dalam sebuah ikatan kekasih. Kamu tahu kenapa?"


"Karena Azkira adikmu?" terka Dila.


"Benar! Dan aku bersyukur untuk hal itu. Akan sangat berbahaya dampaknya kalau sampai aku dan Azkira terikat pada hubungan selayaknya kekasih atau suami istri. Beruntungnya, sejak dulu Azkira memang menganggapku hanya sebatas kakak. Menyayangiku sebagai seorang adik pada kakaknya, walau saat itu kami sama-sama belum tahu bahwa ternyata kami saudara kandung."


"Aku semakin menyayangi dan mencintainya, Dila," ungkap Revan. Wajah Dila tampak masam mendengar kata itu.


"Tapi tidak lain sebagai seorang kakak pada adiknya," lanjut Revan lagi. Dila pun akhirnya tersenyum.


"Oh ya, apa Azki mengabarimu?" imbuh Pria tampan itu.


"Mengabari perihal apa, Bang?"


"Dia baru saja kehilangan calon bayinya," kata Revan sambil menatap jauh ke arah lautan lepas.

__ADS_1


Dila kaget bukan kepalang. "Memangnya apa yang terjadi pada Azki, Bang?"


"Entahlah! Katanya, sih, dia terjatuh saat di restoran suaminya. Tapi, aku meragukan hal itu. Pasti ada orang yang sengaja membuat Azkira terjatuh," duga Revan yang belum tahu, kalau pelakunya kini sudah tertangkap.


"Jahat sekali. Semoga saja yang melakukan itu pada Azki segera mendapat ganjaran," ujar Dila turut merasa geram.


Revan menyimpulkan senyuman. "Apa kamu menyayangi Azki juga?" lontar Revan begitu saja.


"Tentu saja, dia 'kan sahabatku."


"Calon adik iparmu!" tandas Revan sambil menatap Dila penuh arti. Dia senang karena Dila menyayangi Azkira-nya. Gadis kecilnya yang manja.


"Jadi, bolehkah aku bertanya sekali lagi, Dila?"


"Katakan saja, Bang. Apa yang ingin kamu tanyakan?"


Revan mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. "Maukah kamu menikah denganku?" ucap Revan sembari bertekuk lutut di depan Dila, lalu menunjukkan sebuah cincin yang indah. Ya, Revan melamar Dila dengan sangat romantis.


Dila terharu dan mulai berkaca-kaca. "Jangan bercanda, Bang," katanya.


"Tidak! Aku sedang sangat serius. Maukah kamu menjadi istriku, Dila?"


Kali ini tangis Dila pecah tak terbendung lagi. "Ya, aku mau, Bang." Dila menganggukkan kepalanya.


Revan langsung menyematkan cincin itu di jari manis Dila. Lantas, dia berdiri dan mereka saling berpelukan. Disaksikan hamparan pasir, debur ombak dan panorama pantai yang menakjubkan, cinta keduanya kini ditegaskan dengan sebuh cincin yang melingkar di jari manis Dila.


"Setelah kegalauan yang panjang dan patah hati yang begitu dalam. Ternyata, Tuhan telah menyiapkan segala hal yang terbaik untukku. Segala sesuatu yang aku butuhkan. Walau keinginanku sempat dihancurkan, itu tidak lain karena Sang Maha Cinta ingin menjagaku dan Azkira dari hubungan yang salah. Kini aku mengerti, Yang Maha Kuasa memberikan lebih dari yang aku mau. Aku mendapatkan keluarga dan adikku, juga menemukan wanita yang akan menjadi pendamping hidupku selamanya, Dila. Ough, kali ini air mata yang jatuh pun menjadi pertanda bahagiaku." Revan bicara dalam hati sambil terus memeluk Dila.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa dukungannya, ya. Terima kasih. ❤❤🖤🖤❤❤


__ADS_2