
Sepulang dari menemui Dion di restoran, Fathan bertolak untuk pulang. Dalam perjalanan, dia teringat akan Azkira. Dia pun mencoba menghubunginya lewat telepon.
Berkali-kali tombol panggilan keluar untuk kontak Azkira itu dia tekan. Namun, rupanya Azkira masih enggan bicara padanya. Panggilan telepon Fathan tidak dijawabnya sama sekali.
"Aku mohon angkatlah, Azki," decaknya sembari terus mengulangi usahanya. Dan lagi-lagi hasilnya nihil.
Terdengar helaan napas pasrah dari Fathan. Tapi tiba-tiba saja, Fathan teringat tentang Nenek Sinta. Pria itu kemudian menghubungi wanita yang merupakan nenek dari Azkira tersebut.
[Halo, Nak Fathan.] Sebuah jawaban terdengar dari ujung telepon sana.
[Nenek! Tolong katakan pada Azki, aku akan menjemputnya pulang,] kata Fathan tanpa berbasa basi.
[Apa maksudmu, Nak? Azkira tidak ada di sini. Apa dia pergi dari rumah? Kemana Azki?]
Mendengar hal itu Fathan mengerutkan keningnya. "Apa? Jadi Azkira tidak pergi ke rumah Nenek? Lalu kemana dia?" batin Fathan.
[Hening ....]
[Halo .... Nak Fathan! Apa kamu masih di sana? Kemana Azkira pergi?]
[I-iya, Nenek. Kalau begitu Fathan tutup dulu, Nek. Mungkin Azkira pergi ke tempat lain.] Fathan sudah tidak tahu harus menjawab apa.
[Panggilan telepon berakhir.]
"Aargghhh! Kemana dia pergi? Dini hari begitu naik apa dia?" Sungguh, Fathan dilanda kekhawatiran yang besar kala itu.
"Kumohon, Azki! Jangan siksa aku dengan rasa bersalah seperti ini," gerutu Fathan. Pria itu menepikan mobilnya di sebuah jalanan yang sepi.
Fathan menangis mengenang perbuatannya yang sudah keterlaluan pada Azkira. Ditambah lagi dengan fakta yang menjelaskan bahwa sejak awal Azkira tidak pernah melakukan hal yang salah terkait fitnah yang menimpa dirinya. Fitnah yang membuat nama Chili Sauce Resto menjadi tercemar dan nyaris sepi pengunjung. Kini setelah Fathan tahu kalau semua ucapan Azkira itu jujur, dia merasa meyesal telah memperlakukan wanita malang iti dengan buruk.
Fathan menjambak rambutnya frustasi. "Andai waktu itu aku mau mendengarkanmu, Azki," sesalnya sambil menempelkan kening pada stir mobilnya.
Awan mendung memyelimuti seluruh permukaan langit. Cuaca hari itu bagai sejalan dengan medungnya hati Fathan yang sedang mencemaskan Azkira. Walau dia tahu, dia akan menemukannya lewat aplikasi pendeteksi lokasi seperti yang pernah dilakukannya. Namun, yang menjadi kekhawatirannya adalah .... Dengan apa Azkira pergi malam itu? Apakah dia berjalan kaki? Mengingat, sedini hari itu tidak ada kendaraan umum yang beroprasi.
__ADS_1
"Ini semua salahku. Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku tidak mau percaya padanya saat dia mengatakan kejujuran? Aku telah melukai harga diri, hati dan perasaannya. Bahkan, aku juga sudah memukulnya." Fathan melihat kepada dua telapak tangan yan pernah dia gunakan untuk melalukan kekerasan terhadap Azkira.
Selekas kemudian, tampak tangan itu mengaliran darah segar. Ya, Fathan telah melukai tangannya sendri. Tangan yang membuat dirinya teringat akan dosa-dosa yang sudah dia perbuat pada Azkira. Dia menghantam kaca mobilnya sendiri hingga hancur dan menyebabkan kedua tangannya berdarah-darah.
****
"Azki, aku berangkat kerja dulu. Buatlah dirimu senyaman mungkin di sini. Anggap saja tempat tinggalmu sendiri," tutur Dila sambil menenteng tasnya.
"Terima kasih, Dila. Maaf sudah merepotkanmu."
"Ahh, tidak perlu berkata begitu. Jangan pikirkan hal apapun, oke!" Dila menepuk pelan bahu Azkira. Azkira pun mengangguk.
"Oh, ya. Jika hatimu sudah reda dengan marahmu, angkat saja panggilan telepon dari suamimu itu. Kabarkan bahwa kamu baik-baik saja. Tidak ada hati yang lega setelah membuat orang lain cemas, hum." Dila bersaha bersikap netral pada Azkira dan Fathan.
"Aku akan mencobanya," jawab Azkira sambil mengangguk dan menyimpulkan senyum.
"Kalau begitu aku pergi. Jangan lupa makan, ya. Aku sudah masak untukmu."
"Terima kasih sekali lagi, Dila." Mata Azkira berkaca-kaca.
Selepas Dila pergi. Azkira teringat pada pesan sahabatnya itu. Dia pun mengambil ponsel dan berniat untuk mengabari Fathan. Akan tetapi, ingatannya tentang sikap keras dan egois Fathan kembali menyerang pikirannya. Sehingga tangan itu meletakkan kembali ponsel yang sudah digenggam olehnya. Azkira mengurungkan niat yang semula ada.
Usai melukai tangannya sendiri. Fathan pergi ke sebuah apotek untuk membeli kassa perban. Ya, dia ingin membalut luka yang sudah diciptakannya sendiri. Dan kalian tahu apotek mana yang Fathan datangi kala itu? Benar, itu adalah apotek tempat Dila bekerja. Hanya saja, keduanya belum saling mengenal, jadi tidak ada percakapan yang berarti saat itu.
Sambil meringis menahan nyeri, Fathan melajukan kembali mobilnya. Tampak Pria itu juga sudah membalut luka di tangannya. Dia mengikuti GPS (Global Positioning system), yang dia gunakan untuk mengetahui keberadaan Azkira.
Di rumah Sinta. Ada Revan yang berkunjung sembari mengantarkan kue bolu pisang yang dibelinya. Revan tahu wanita yag sudah dia anggap neneknya sendiri itu sangat menyukai makanan tersebut. Perhatian Revan terhadap Sinta memang sangatlah tulus. Tidak berubah hanya karena dia tidak bisa mendapatkan Azkira selaku cucu dari Sinta.
"Nenek, ada apa? Kenapa Nenek terlihat gelisah?" tanya Revan.
"Tadi Fathan menelepon Nenek. Dia bilang akan menjemput Azki ke sini. Lalu, Nenek katakan padanya kalau Azki tidak ada di sini. Apakah Azki pergi dari rumah suaminya itu? Tapi kemana dia? Nenek kawatir ada apa-apa dengan Azki, Nak Revan," ungkap Sinta memaparkan kegelisahannya.
Revan menghela napas panjang, kemudian dia tersenyum. "Nenek jangan khawatir. Tidak ada yang terjadi pada Azki. Dia baik-baik saja, Nek."
__ADS_1
"Apa dia mengabarimu, Nak?" tanya Sinta.
"Ya, Revan tahu di mana Azki. Nenek tidak perlu cemas. Lagi pula, suaminya pasti bisa mengurus Azkira, Nek." Revan berusaha untuk membuat Sinta tenang.
"Syukurlah kalau begitu. Nenek jadi lega, Nak."
"Sekarang makan dulu bolu pisangnya. Ini masih baru dan pasti Nenek suka," bujuk Revan seraya mengembangkan senyuman.
"Terima kasih, Nak Revan. Untungnya ada kamu di sini. Sejak Azki menikah, rumah ini jadi sepi," adu Sinta.
Revan mengangguk tersenyum. "Jangankan rumah ini, Nek. Bahkan, hatiku pun turut sepi dan separuh duniaku hilang sejak Azkira menjadi milik lelaki lain," batin Revan mengulas perih.
Di bilik rumah kontrakan Dila. Azkira masih duduk tidak bergeming. Dia bagai patung yang tak bernyawa. Tatapan matanya kosong, wajahnya pucat pasih, dan pikirannya berkelana, menerawang jauh entah kemana.
Di sisi lain, Fathan sudah menemukan titik lokasi keberadaan Azkira. Pria pemilik alis tebal itu mengedarkan pandangannya ke luar, dari balik kaca jendela mobilnya yang sudah pecah dan tampak retak-retak pada sisi lainnya. Lantas, dia mencari akal untuk menemukan Azkira, di antara pintu ruang kontrakan yang berderet tersebut.
"Ayo, berbunyilah!" ujar Fathan tatkala dia menekan panggilan keluar pada nomer ponsel Azkira, sambil berjalan.
Benar saja, suara dering telepon terdengar dari salah satu ruang kontrakan. Fathan pun menghampiri sumber bunyi itu. Dan dari balik kaca jendela yang gordennya sedikit terbuka, Fathan dapat melihat wajah wanitanya sedang duduk diam tak ubahnya patung.
"Azki ...," lirihnya sembari menerobos masuk lewat pintu yang kebetulan tidak terkunci.
Perhatian Azkira yang sedang melamun tersadarkan saat Fathan menyeru namanya berulang-ulang. Dia sangat terkejut mendapati Fathan sudah ada tepat di hadapannya."Bang Fathan ...," lirihnya sembari mengerutkan dahi.
"Aku mencarimu, Azki." Fathan menangis dan langsung menghambur ke dalam pelukan Azkira.
"Aku minta maaf, Azki. Ayo kita pulang, Sayang. Maafkan aku," tutur Fathan sambil terisak.
Azkira masih diam. Namun, sesaat setelah itu matanya tertuju pada kedua bagian tangan Fathan yang dibalut dengan kassa perban, ketika Fathan mulai melepaskan dekapannya. Azkira terbelalak dan tubuhnya menjadi semakin lemas begitu sadar, darah di tangan Fathan tembus hingga ke bagian luar kassa perbannya.
"Ada apa dengan tanganmu, Bang?" ucap Azkira dengan suara yang sangat pelan.
Fathan hanya menjawabnya dengan senyuman dan mata yang terus mengembun. Kemudian, dia kembali memeluk Azkira, tanpa kata, tanpa bicara. Hanya suara tangis yang sangat dalam serta sedu sedan yang terdengar menyesakkan dada.
__ADS_1
Bersambung ....
Note : Dear pembaca yang othor cintai tanpa tapi. Makasih loh, ya, atas dukungan kalian. Terutama yang tidak pernah tinggal memberi like, komen, vote dan juga giftnya. Ihh, aku lope parah, sih. 😘😘❤🖤