Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 38 Bingkisan Terakhir


__ADS_3

Azkira terduduk lemah di lantai kamarnya. Usai mengetahui, bahwa Revan telah pergi dari sana dalam jangka waktu yang tidak diketahui. Tentu saja, Sinta yang menyampaikan hal itu sembari memberikan sesuatu yang Revan titipkan untuk Azkira.


Di ruang tamu, Fathan tengah mengobrol bersama Sinta. "Nenek, apa perubahan emosional selalu terjadi pada wanita yang sedang hamil?" tutur Fathan sambil sesekali meneguk teh yang Sinta buatkan untuknya.


"Ya, memang hal itu lumrah terjadi. Biasanya itu perubahan hormonal. Memangnya ada apa, Nak? Kenapa kamu menanyakan hal itu?" kata Sinta.


Fathan tersemum lebar. "Istriku sedang mengandung, Nek. Usia kandungannya baru dua minggu," jawab Fathan.


Sinta tampak tidak bisa berkata-kata lagi. Namun, raut wajah bahagia tersirat jelas pada diri Sinta. "Selamat untuk kalian, Sayang. Nenek sangat senang mendengar kabar baik ini. Apa Azkira mulai rewel minta ini dan itu padamu?" ujar Sinta.


"Terima kasih, Nek. Rewel, sih, tidak. Hanya saja, sepertinya suasana hatinya mudah berubah dan sedikit lebih keras kepala."


Fathan tidak menyadari, bahwa yang terjadi pada Azkira bukanlah akibat dari kehamilannya semata, melainkan ada jejak trauma dan rasa jengah pada sikap kasarnya. Bukankah, wanita adalah makhluk paling perasa dan paling baik dalam mengingat? Begitu juga dengan Azkira. Meskipun, mungkin dia sudah memaafkan sebagian kesalahan yang Fathan lakukan padanya. Namun, ingatan pada hal-hal yang menyakitkan itu tetap ada. Dan percayalah, rasa sakit dan sedihnya tetap sama.


Di dalam kamar, Azkira membuka kotak hadiah pemberian Revan. Ya, tadi Sinta memberikan padanya saat Azkira sudah sendirian di dalam kamar, jadi Fathan tidak mengetahui hal itu. Perlahan dan dengan hati yang berdebar kencang, degup jantung yang terasa memburu, juga perasaan was-was hadir pada diri Azkira saat itu.


Tampaklah isi hadiah tersebut. Revan tak pernah tinggal menyelipkan beberapa batang coklat kesukaan Azkira di setiap dia memberikan bingkisannya. Di sana juga ada sebuah buku catatan kosong, yang berarti itu adalah buku baru. Bersampulkan foto wajah Azkira dan Revan. Sepertinya, Revan menempah buku tersebut secara khusus. Lalu, di sana juga ada selembar surat dari Revan untuk Azkira. Begini kira-kira isinya ....


'Dear Peri Kecilku, Azkira ....


Maaf, Abang pergi tidak pamit. Abang takut tidak sanggup melangkahkan kaki kalau Abang pergi dan berpamitan langsung padamu. Azki, jangan pernah merasa sedih atau sendiri. Sebab, kamu terlalu indah untuk merasakan semua hal yang menyakiti hati.


Azki sayang, Abang paham .... Mungkin kamu akan menjadi cengeng dan menangis saat membaca surat ini. Tapi, asal kamu tahu saja, bukan maksud Abang membuatmu sedih. Hanya, kamu harus mengerti dan mulai terbiasa tanpa Abang. Abang juga harus mulai terbiasa tanpamu, tanpa senyum usilmu, tanpa rengekan manjamu, tanpa tingkah konyolmu yang selalu membuat Abang rindu. Sebab, keadaan kita telah berbeda, Azki. Kini sudah ada yang menjaga dirimu di setiap tidur dan terjagamu.


Tugas Abang sudah selesai sekarang. Kamu sudah mendapatkan seseorang yang akan menemani hari-hari di sisa hidupmu. Sementara, Abang mendoakanmu dari kejauhan. Semoga senyuman itu tetap ada di bibir indahmu. Senyuman yang selalu membuat Abang merasa hidup ini penuh arti.

__ADS_1


Azki, tidak mudah bagi Abang memutuskan pergi seperti ini. Akan tetapi, sekali lagi ini demi hati yang perlu diselamatkan. Maafkan Abang, Azki. Kenangan tentang kebersamaan yang telah kita lewati, biarlah Abang jaga dalam hati dengan sendu, bersama pilunya rindu yang entah akan tumbuh atau gugur seiring waktu. Tetaplah sama, jangan berubah walau Abang tak lagi ada di sisi.


Bersama bingkisan coklat terakhir ini, Abang bersemoga agar hidupmu selalu manis. Semanis coklat dan kenangan yang ada padanya. Dan buku catatan ini, Abang sudah menyiapkannya sejak beberapa tahun yang lalu. Abang berharap ada kakimat yang akan terurai di sana melalui tulisan tanganmu.


Dengan cinta


Revan'


Sakit! Mungkin kata itu yang pertama Azkira rasakan saat membaca tulisan tangan Revan. Azkira hanya merasa bingung, kenapa Revan harus pergi? Bukankah keluarga harusnya tetap bersama? Bahkan, ketika coklat terakhir Revan sampai di tangannya, Azkira belum juga peka bahwa sebenarnya Revan menyayangi dan mencintai dirinya lebih dari sekedar seorang kakak pada adiknya, seperti kata Fathan. Namun Azkira belum juga menyadarinya.


Azkira menatap sekeliling. Matanya memejam mengingati sosok Revan yang selalu ada sedari dia masih kecil. Orang yang rela melakukan apa saja demi Azkira. Dan orang yang paling tidak rela mendapati Azkira menderita. Kini dia telah pergi, bahkan kontak ponselnya pun tidak lagi aktif.


"Kenapa Abang pergi seperti ini, Bang? Apa salah Azki pada Abang? Padahal, Azki baru ingin bercerita kalau Azki sedang mengandung anak pertama Azki. Bukankah, Abang selalu menganggap Azki anak kecil? Sekarang Azki sudah dewasa, Bang. Azki akan menjadi seorang Ibu. Memiliki anak dari laki-laki yang selalu memukul Azki setiap kali dia marah." Azkira terisak pilu.


Usai menangis dengan segala kesedihan dan rasa kehilangannya, Azkira pun ke luar dari kamar menghampiri Revan dan Sinta. "Abang, bisa kita bicara sebentar?" lontar Azkira.


"Kalau begitu Nenek pergi ke dapur dulu. Kalian bicaralah dengan leluasa." Gegas Sinta, lantas melenggangkan kakinya menuju dapur.


Di ruangan itu keheningan memenuhi. Lantas, Fathan bertanya pada Azkira. "Ada apa, Sayang? Apa kamu ingin sesuatu?" katanya.


"Iya, Bang. Aku ingin sesuatu," jawab Azkira.


"Kalau begitu katakan saja. Aku akan melakukan apapun semampuku, untuk memenuhi keinginanmu itu."


Azkira menatap Fathan dengan pandangan mata sejajar dengan mata Fathan. "Aku ingin tinggal di sini dulu, Bang."

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Kenapa tidak? Kita akan tinggal di sini sebanyak waktu yang kamu mau," tutur Fathan tanpa bantahan.


"Tanpamu, Bang. Aku ingin tinggal di sini tanpamu dulu," lanjut Azkira.


Fathan terhenyak, hatinya merebakkan getir ke setiap helaan napasnya. "K-kenapa begitu, Azki? Bukankah seharusnya kita tinggal bersama-sama," gagap Fathan dengan suara yang mulai melemah.


"Aku butuh waktu untuk menenangkan pikiranku, Bang. Aku butuh waktu untuk mengetahui apa maunya diri ini. Aku tidak ingin merepotkanmu."


"Tapi, Sayang. Kamu tidak merepotkanku. Mengapa kamu tidak mengatakan saja apa maunya dirimu padaku, tanpa harus berpisah walau hanya dalam kurun waktu tertentu. Bagaimana aku harus menyikapimu, kenapa tidak kamu katakan, Azki?" Suara Fathan mulai parau menahan rasa ingin menangis.


"Aku sudah pernah melakukannya, Bang. Dan Abang selalu marah padaku. Abang tidak pernah bersedia untuk benar-benar mendengarkan dan memahamiku." Kini Azkiralah yang mulai menangis.


Fathan merasa sedih, bersalah, sekaligus menyayangkan keadaan yang sedang dihadapinya. "Bagaimana mungkin kamu meminta untuk tidak tinggal bersamaku, Azki? Sementara, di dalam rahimmu ada janin yang akan tumbuh sebagai anak dari buah cinta kita. Apa tidak bisa kamu memaafkan aku sekali lagi?"


"Aku hanya perlu waktu, Bang. Tolong pahami aku. Dan tolong jangan membalikkan keadaan seolah aku yang jahat padamu. Aku mohon padamu sekali lagi, Bang. Tolong beri aku waktu untuk menengkan diri." Azkira terus bersikukuh dan mengulangi permintaan yang sama.


Fathan semakin menangis beruraian air mata. "Jangan siksa aku dengan semua perasaan ini, Azki. Aku tidak ingin kehilanganmu."


"Aku hanya butuh waktu, Bang. Tolong biarkan aku sendiri dulu. Aku janji akan menjaga anak kita dengan baik, sekali pun tanpa Abang ingatkan."


"Azki ...." Hati Fathan semakin nyeri bagai tertusuk seribu duri.


Bersambung ....


Jangan lupa dukungannya, ya. Demi kemajuan karya dan sebagai penyemangat bagi author. Terima kasih. ❤🖤

__ADS_1


__ADS_2