Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 47 Maaf


__ADS_3

Malam itu langit tampak kelam, gelap pekat, tertutup awan hitam. Tidak ada cahaya bulan ataupun bintang yang tampak gemerlap di atas sana. Kala itu, langit begitu sunyi sesunyi hati dan perasaan Revan.


"Nak, bagaimana keadaan Nurhayati, ibumu? Apa dia tidak baik-baik saja kamu tinggalkan menginap di rumah Nenek lagi?" lontar Sinta seraya menepuk pelan bahu Revan yang sedang berdiri mematung.


Revan tersenyum seraya menyentuh tangan Sinta, lalu menciumnya. "Ibu baik-baik saja, Nek. Kenapa Nenek belum tidur?" tanya Revan.


"Nenek perhatikan, sejak tadi kamu melamun, Nak? Apa ada masalah?"


Revan menundukkan wajahnya sejenak. "Tidak ada, Nek. Semua baik-baik saja," jawab Revan menutupi perasaan yang sebenarnya sedang kalut.


"Mau Nenek buatkan minuman hangat?" tawar Sinta.


"Tidak usah, Nek. Terima kasih. Nenek istirahat saja." Kemudian, Revan mengantarkan Sinta sampai ke depan kamarnya.


"Ya sudah, kamu jangan tidur terlalu larut, ya."


"Siap, Nek." Revan merekahkan senyum terbaiknya.


Selepas itu, Revan kembali ke dalam kamarnya seraya membuang napas kasar. "Entah apa yang terjadi pada diri ini? Kenapa ruang hatiku selalu terisi oleh kesakitan yang tak kunjung berkesudahan?" keluh Revan.


Di rumah Fathan, lebih tepatnya di ruangan kamar. Azkira sedang mengompres wajah Fathan yang penuh lebam akibat bogem mentah yang dilayangkan Revan. Ini sudah kedua kalinya Azkira mengompres bagian wajah suaminya itu menggunakan es batu. Tampak Fathan meringis nyeri setiap kali kain pengompres ditempelkan ke bagian lebam itu.


"Tahan sedikit, ya, Bang." Azkira mengurusi Fathan dengan sangat telaten.


"Azki ...," lirih Fathan.


"Hmmm .... Ada apa, Bang?"


"Terima kasih, ya," ucapnya.

__ADS_1


"Untuk apa, Bang?"


"Untuk semuanya. Untuk hati yang bersedia memaafkanku setelah semua hal buruk yang aku lakukan padamu. Maafkan aku, Sayang. Kesakitan yang aku terima ini, tidak sebanding dengan kesakitan yang aku berikan padamu," tutur Fathan sambil menatap wajah Azkira dengan lekat.


"Tidak perlu diingat lagi, Bang. Walaupun, aku belum melupakannya, tapi aku sudah memaafkanmu. Bukankah tidak baik menanam dendam dan benci di dalam hati terlalu lama? Tidak masalah jika aku harus melalui takdir itu. Yang penting ... sekarang kamu sudah berubah."


"Aku adalah laki-laki paling beruntung, karena sudah mendapatkan istri seperti dirimu, Azkira."


"Dan aku adalah wanita paling beruntung, karena aku membuat suamiku merasa beruntung memiliki diriku."


Mereka saling melempar senyum, berpelukan, lalu tidur saling berdekapan. Memberi hangat pada setiap rengkuh. Menciptakan rasa nyaman di waktu terlelap mereka.


****


"Ya ampun, bukankah ini helm milik Bang Revan? Kenapa aku bisa seteledor ini? Aku lupa tidak memberikan padanya saat turun dari sepeda motor kemarin." Dila baru ingat, bahwa Revan menitipkan sebentar helmnya untuk dia pegangi.


Ya, kala itu Revan sangat buru-buru sampai lupa memakai helm dan hanya membawa vitamin yang dia beli di apotek tempat Dila bekerja. Helm itu Revan titipkan sebentar, karena dia hendak memasukkan vitamin tersebut ke saku jaketnya. Namun, karena emosi yang sudah menguasai di dalam dirinya, dia sampai lupa memakai helmnya dan langsung melajukan sepeda motornya secepat kilat.


"Bagaimana aku akan memberitahu Bang Revan? Aku saja lupa minta nomer ponselnya. Ya sudahlah, aku tunggu saja. Siapa tahu Bang Revan ingat kalau helmnya ada padaku," imbuh Dila lagi. Kebetulan, hari itu Dila sedang libur bekerja.


Benar saja, tidak lama berselang, Revan datang ke rumah kontrakan Dila. "Permisi! Dila ...," seru Revan seraya mengetuk pintu.


"Bang Revan! Mau ambil helm, ya?" ucap Dila sesaat setelah dia membukakan pintu untuk Revan.


Revan tersenyum, tapi tidak menjawab pertanyaan Dila. "Boleh aku masuk?" katanya.


"Ohh ... i-iya, Bang. Sialakan masuk," gagap Dila. Gadis itu langsung mengambil helm tadi, kemudian memberikannya kepada Revan.


Revan menaikkan kedua alisnya. "Apa ini berarti aku tidak boleh berlama-lama ada di sini?" cetus Revan.

__ADS_1


"Ha? Maksud Abang? Bukankah Abang ke sini hanya untuk mengambil helm yang tertinggal?" kata Dila menjawab dengan peetanyaan. Wajahnya tampak bersemu malu.


"Kalau ternyata aku mau membawa serta hatimu, apa kamu mengizinkannya?" sambung Revan yang entah mengapa dia sangat tertarik melihat kegugupan Dila.


"Jangan bercanda, Bang. Sebentar, Dila akan membuat kopi untuk Abang." Dila langsung berlalu tanpa berani menatap Revan yang terus saja memperhatikan dan membuatnya salah tingkah.


"Gadis ini manis juga. Apa lagi kalau sedang gugup begitu. Kadar kecantikannya meningkat sepuluh kali lipat lebih banyak," gumam Revan sambil tertawa kecil.


"Silakan diminum, Bang," ujar Dila saat mendaratkan satu cangkir kopi di atas meja, di hadapan Revan.


"Terima kasih, Dila."


Dila mengangguk pelan. Lalu, tiba-tiba cangkir kopi itu tanpa sengaja tersenggol oleh Dila, hingga tumpah ke baju Revan. Dila sangat kaget, begitu juga dengan Revan.


Kemudian, Dengan cepat Dila membersihkan tumpahan kopi di baju Revan menggunakan beberapa lembar tisu. "Maaf ya, Bang. Aku tidak sengaja," ucap Dila tak enak hati.


Sekali lagi, Revan tidak menjawab dan malah fokus memperhatikan wajah Dila yang sedang sibuk mengelapi baju Revan. Entah bagaimana kejadian itu bermula. Tahu-tahu Revan sudah meraup bibir Dila dengan lembut dan penuh perasaan.


Kala itu, Dila tidak melakukan perlawanan atau penolakan. Dia hanya terdiam pasrah dan membiarkan Revan menciumnya. Walaupun, di dalam hati Dila sungguh dia terkesima, terhenyak dan kaget. Sebab, itu merupakan pertama kalinya dia dicium oleh seorang lelaki. Dila memang tidak pernah berpacaran atau memiliki kekasih, karena yang dia perdulikan selama ini hanyalah kerja dan kerja.


Setelah paguttan itu lepas. Mereka baru tersadar dan sama-sama salah tingkah. Revan meraup kasar wajahnya, sedangkan Dila menutupi wajah dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku, Dila," ucap Revan dengan hati berdebar hebat.


"Abang telah mengambil ciuman pertamaku," kata Dila dengan polosnya. Meski pun terkadang sikap Dila sangat dewasa, tetapi dalam hal ini dia sangatlah awam dan belum berpengalaman.


Bersambung ....


Yang kemarin request kisah Revan, awas kalo gak kasih gift! 🔨🔨🔨🔨🔨🔨🔨

__ADS_1


__ADS_2