
Di sisi lain, Dion sedang menempuh perjalanan menuju pesta pernikahan Helmi. Setelah satu jam lebih, dia pun tiba di gedung Sport Centre yang juga merupakan sebuah layanan penyedia jasa Wedding Venue indoor-outdoor, di mana Helmi memakai gedung itu sebagai tempat resepsi pernikahannya.
Dion terus berjalan dan masuk di antara para tamu undangan, yang tampak kompak memakai dress code bernuansa broken white. Sama seperti para tamu lainnya, Dion pun hadir dengan mengenakan busana bernuansa putih tulang yang beradu elegan di tubuh gagahnya. Lantas, Dion menghampiri kedua mempelai pengantin yakni Helmi, dan juga istrinya yang bernama Clarissa.
Helmi langsung dapat mengenali Dion kala itu. "Hey, bagaimana kabarmu, Teman Lama," sambut Helmi kala Dion membrikan sebuah pelukan sebagai ucapan selamatnya pada Helmi.
"Seperti yang kamu lihat, Hel. Aku baik-baik saja. Oh ya, Fathan mengirimkan permohonan maafnya pada kalian, karena dia berhalangan hadir malam ini. Dia juga mengucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua," tutur Dion sambil membagi pandangannya pada Helmi dan juga Clarissa.
"Ahh, tidak masalah. Tapi kenapa dia tidak bisa datang? Bagaimana kabarnya? Apa Fathan baik-baik saja?" ujar Helmi memberondong Dion dengan sederet pertanyaan. Sementara itu, Clarissa hanya turut menyimak dengan biasan senyum indah di bibirnya yang berlapis riasan lipstick.
"Istrinya sedang tidak bisa ditinggalkan. Dia baik-baik saja, Hel. Tidak perlu khawatir," jawab Dion.
"Istri? Kapan dia menikah? Dengan siapa? Kenapa tidak mengundangku?" Lagi-lagi Helmi bertanya.
"Astaga! Aku lupa," gerutu Dion dalam hati. Dia secara tidak sadar mengatakan hal yang masih dirahasiakan.
"Lupakan! Aku hanya salah bicara. Omong-omong, sekali lagi selamat untuk kalian berdua," ujar Dion mengalihkan pembicaraan.
"Terima kasih, Dion. Silakan, nikmati jamuan yang tersedia." Helmi tersenyum, begitu pun dengan Clarissa.
Dion berbaur bersama tamu undangan lain sambil mencicipi aneka hidangan pesta yang tersedia. Setelah kurang lebih dua jam berada di sana, Dion pun mulai merasa jenuh. Akhirya, dia memutuskan untuk berpamitan pulang pada Helmi dan Clarissa.
Malam kian beranjak gelap. Di dalam perjalan pulang dari pesta itu Dion sempat menepikan mobilnya di sebuah jalanan yang sepi. Dia menatapi foto seorang wanita yang tengah tersenyum, dengan memakai seragam kerja Chili Sauce Resto dan terdapat name tag bertuliskan nama wanita tersebut di bagian kiri atas dadanya.
"Lagi-lagi aku harus mengalah. Aku harus rela mengubur mimpiku untuk bisa bersamamu, demi sahabatku. Sahabat yang paling berjasa dalam hidupku." Dion bicara pada foto itu. Dan kalian tahu siapa wanita dalam foto itu? Ya, dia adalah Azkira. Ternyata, selama ini saat Azkira masih bekerja di Chili Sauce Resto, diam-diam Dion sering memperhatikan Azkira. Entah daya pikat apa yang ada pada Azkira, tapi itu mampu membuat Dion jatuh hati padanya. Walaupun, nasibnya kini serupa dengan Revan yang harus merasa kehilangan, sebelum sempat memiliki Azkira.
"Kamu yang selalu cantik dengan kesederhanaan dan kamu yang memancarkan pesona dan selalu nyaman menjadi dirimu sendiri, membuatku menambatkan hati padamu. Sayangnya, di saat aku baru akan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku padamu, takdir justru bekata lain dan sepertinya ingin menyapaku dengan sebuah luka dan patah hati yang harus aku alami sebelum hubungan kita sempat terjalalin."
__ADS_1
Dion meratapi luka yang dia sembunyikan di balik sikap tegarnya yang seolah baik-baik saja. Sulit dipercaya mengapa Dion dan juga Revan bisa jatuh cinta pada wanita yang sama, tapi itulah kenyataannya. Dan yang lebih tidak adil, justru Fathanlah yang mendapatkan wanita yang mereka cintai itu. Ya, Fathan yang notabene tidak memiliki rasa cinta pada Azkira sebelumnya. Keadaan terkadang sekejam itu. Menabur luka pada hati-hati yang berharap, tapi malah menumbuhkan cinta pada hati yang justru menolak. Takdir kehidupan memang semisteri itu.
"Sudahlah, Dion. Lebih baik kamu pulang, lalu tidur. Buang jauh-jauh rasa cintamu pada Azkira," ucap Dion bicara pada dirinya sendiri.
****
"Kenapa aku masih penasaran? Siapa sebenarnya anak laki-laki yang berada di sampingku dalam foto itu?" gumam Azkira sembari menikmati hidangan roti dan selai coklat, sebagai menu sarapannya.
Pagi itu, Fathan sedang di dalam kamar untuk berganti pakaian usai mandi. Azkira sarapan lebih dulu, karena dia merasa sangat lapar. Tentu saja dia sudah meminta izin kepada Fathan dan sudah mandi sebelumnya.
"Hey, Sayang. Bagaimana, apa sarapanmu cukup?" tanya Fathan yang sudah selesai dengan ganti pakaiannya.
"Lumayan, tapi sebenarnya aku lebih suka nasi goreng. Makan roti untuk sarapan bukanlah kebiasaan untuk orang sepertiku," jawab Azkira sembari terus mengunyah roti dalam mulutnya.
"Kalau begitu pesan saja lewat aplikasi food delivery service," usul Fathan seraya mengotak-atik ponselnya untuk memesan makanan lewat aplikasi layanan pesan antar.
"Loh, kenapa begitu, Sayang?"
"Nanti saja, aku lebih suka memasaknya sendiri. Emm ... aku akan melakukannya saat kita sudah pulang ke rumah nanti." Azkira berusaha meyakinkan Fathan.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau ... aku bisa apa?" balas Fathan pasrah.
Azkira menyimpulkan senyum, lalu mengoleskan selai coklat pada sepotong roti dan memberikannya kepada Fathan. Di meja itu mereka sarapan bersama. Momen yang sangat manis, bahkan lebih manis dari selai coklat sekali pun.
Di tempat berbeda, di rumah Sinta. Revan datang berkunjung. Namun, kali ini kunjungannya berbeda. Revan ke rumah neneknya Azkira tersebut untuk berpamitan.
"Nak Revan!" sapa Sinta menyambut dari depan pintu.
__ADS_1
Revan menyunggingkan senyuman di bibirnya, tapi sorot matanya memancarkan kesedihan yang dalam. Ya, siapa saja akan dapat merasakan kesedihan itu andai melihatnya secara langsung. Begitu juga dengan Sinta.
"Nenek, Revan pamit pergi," ucapnya dengan bibir yang tampak bergetar. Dia menahan tangisnya sekuat tenaga agar tidak pecah.
"Loh, pamit kemana, Nak? Kamu mau pergi ke mana? Kenapa harus pergi?" Sinta memberondongnya dengan pertanyaan.
"Ke suatu tempat, Nek. Revan ingin tinggal, tapi sepertinya keadaan meminta Revan untuk pergi."
"Ada apa sebenarnya, Nak? Nenek masih tidak paham maksudmu."
Revan hanya menunduk tidak menjawab. Lalu, dia memberi pelukan sebagai ucapan perpisahan pada Sinta. "Nenek jaga kesehatan, ya. Sampaikan salam Revan pada Azki kalau dia ke sini nanti. Beritahu dia untuk menjaga pola makannya. Sekarang, tugas Revan untuk menjaga Azkira sudah selesai, Nek."
Tiba-tiba air mata Sinta lolos begitu saja. "Revan cucuku, Nenek ingin menahanmu agar kamu tetap di sini, Nak. Tapi, kalau kamu sudah memutuskan untuk pergi, Nenek hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Walaupun, kamu tidak mengatakan dan Nenek tidak mengetahui alasanmu yang sebenarnya."
"Terima kasih, Nek. Nenek tenang saja. Ibu dan juga Ayah Revan ada di sini. Jangan sungkan untuk datang pada mereka kalau Nenek butuh sesuatu."
Sinta melepaskan pelukan Revan, lalu dia menatap dengan lekat pada Pria berwajah sendu tersebut. "Jaga dirimu baik-baik di mana pun nantinya kamu berada. Ingatlah untuk kembali ke sini saat kamu butuh rumah untuk pulang," pesan Sinta padanya.
Revan mengangguk. "Tolong berikan ini pada Azki, Nek. Revan tidak sempat menemuinya." Pria itu menitipkan sebuah kotak kado yang entah apa isinya.
"Nanti Nenek sampaikan pada Azki," kata Sinta seraya menerima kotak hadiah tersebut.
Lantas, Revan pun pergi dari sana. Tampak jelas kegamangan ada dalam diri Revan kala itu. Tapi bagaimana pun, dia tetap pergi dan entah mau ke mana. Dia belum bersedia mengatakannya.
Bersambung ....
Note : Tinggalin jejak dukungannya, please! ❤🖤
__ADS_1