
Fathan kembali setelah beberapa jam. Tentu saja, dengan membawa buah tangan. Ya, itu adalah seporsi rujak mangga muda, beberapa jenis manisan kering, dan juga asinan buah seperti yang selalu Azkira suka.
"Abang, kenapa beli semua ini banyak sekali?" tanya Wanita itu sambil mengusap memutar perutnya.
"Entahlah, aku merasa ingin saja membeli semua itu. Mungkinkah, kali ini aku yang ngidam lebih parah?"
"Hahaha ... Abang lucu sekali," kata Azkira diiringi renyah tawa.
"Oh, ya, Sayang. Apa ada kabar dari Bang Revan?"
Azkira mengerutkan dahi sambil menggelengkan kepala "Tidak ada, Bang," katanya.
"Ahh, iya ... aku lupa. Pasti dia sedang menikmati masa pengantin barunya," imbuh Fathan teringat bahwa Revan baru saja menikah.
"Tumben sekali Abang menanyakan kabar Bang Revan," komentar Azkira.
"Memangnya kenapa? Bukankah, dia juga Abangku?"
"Iya, sih, tapi aneh saja rasanya." Azkira seperti menerka-nerka sesuatu yang terlintas mengusik di dalam benaknya.
"Ternyata, punya saudara itu menyenangkan juga, ya. Selama ini aku hanya sendiri, kecuali ada Dion sebagai sahabatku. Baru kali ini, setelah aku memaknai arti keluarga, dan aku merasakan bagaimana punya seorang kakak, itu sungguh menakjubkan bagiku."
__ADS_1
"Jadi, Abang sayang sungguhan pada Abangku?"
"Kenapa pertanyaanmu selalu menyiratkan keraguan, Azki?"
"Ya, aku ingin tahu saja. Memangnya tidak boleh bertanya?"
"Ihh, kenapa Abang jadi sensitif sekali?!" imbuhnya.
"Itu karena kamu selalu membuatku ingin melahapmu," canda Fathan sembari mengaum menirukan suara macan.
"Menyebalkan," cicit Azkira.
Revan membawa Azkira ke atas pangkuannya. "Sayang, aku mulai berpikir sekarang. Menatap jauh ke masa depan. Aku ingin membawa rumah tangga kita ini, ke arah yang lebih bermakna."
"Hemmm, cukup restui saja niat suci ini dengan doa-doa. Selama ini, aku merasa terlalu banyak membuatmu sesak, sedih, dan mungkin marah. Maaf ya, Sayang."
"Sudah aku katakan, Bang. Lupakan saja yang lalu-lalu. Aku juga bersedia membuka lembaran baru, bahkan jauh sebelum Abang mengutarakan keinginan yang baik ini."
"Maaf untuk hal-hal menyakitkan yang sudah mengisi harimu di sepanjang tahun bersamaku, Azki," ucap Fathan mengutarakan maafnya lagi.
"Bang, hentikan. Jangan sampai permintaan maafmu yang terlalu berlebihan, membuatku ingat lagi pada luka-luka yang kamu berikan, dan kesalahan-kesalahan yang kamu lakukan. Abang lihat, aku masih di sisimu hingga detik ini. Itu artinya, semua sakit telah impas. Sebab, Abang sudah mau menebusnya dengan perubahan sikap dan kasih sayang Abang yang begitu melimpah ruah."
__ADS_1
"Azkira, kekasih hati yang sempat aku sia-siakan. Bolehkah aku utarakan rasa cintaku sekali lagi?"
Tiba-tiba saja suasana menjadi sangat romantis. Terlebih, Fathan kala itu berlulut menunjukkan sebuah gelang untuk dipakaikan di tangan Azkira. Ahh, ada wajah yang merah padam serta pipi yang merona. Ya, Azkira salah tingkah dibuatnya.
Azkira merona, berkaca-kaca, juga sedikit ingin tertawa. Dia mulai mengulurkan tangannya yang akan dipakaikan gelang indah oleh Fathan. Hatinya tiba-tiba bergelenyar, merasakan sesuatu yang asing, tetapi sangat nyaman. Seperti disayang seribu kali lebih banyak. Apakah itu karena sebuah gelang? Tentu saja bukan.
"Gelang ini bertambah indah saat sudah berada ditanganmu. Aku yakin, andai gelang ini bisa bicara, dia akan berjingkrak riang gembira, karena berada di tempat yang tepat," sanjung Fathan yang tiba-tiba saja menjadi sangat puitis.
"Stop, Bang! Jangan buat wajahku terbakar api malu. Kurasa warna pipiku sudah lebih merah dari sebelumnya sekarang," protes Azkira yang sungguh sangat salah tingkah.
"Kamu terlihat semakin cantik saat malu seperti itu. Azkira, aku mencintaimu. Sejak malam tahun baru di awal tragedi cinta kita dimulai, hingga hari ini," tutur Fathan sambil menatap wajah Azkira dan menyelami matanya dalam-dalam.
"Bang Fathan yang sempat aku benci hingga ke tulang, aku pun juga mencintaimu. Lebih panjang dari musim, lebih tinggi dari gedung dan pepohonan yang mencakar langit, juga lebih besar dari semestaku sendiri."
Mereka pun saling berpelukan. Sambil mengenang pahit manis perjalanan cinta, sembari mendengarkan dan saling menghangatkan. Dengan kecup dan ciuman yang ringan hingga ganas dan semakin dalam.
"Tetaplah denganku sampai kita tua nanti, Sayang," pinta Fathan berbisik lirih penuh goda di telinga Azkira.
"Aku akan ikut, kemana saja Abang membawaku, Bang. Di sisimu adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan kepadaku."
Bersambung ....
__ADS_1
Detik-detik menuju tamat ya, Mak.Lope-lope. ❤🖤❤🖤❤🖤❤