
Diam dan hening adalah hal yang mengisi kamar Fathan dan Azkira saat itu. Azkira selalu menghindar sebisa mungkin mana kala Fathan hendak menyentuhnya, sekali pun hanya usapan lembut di pucuk kepalanya, Azkira tetap menolak. Dan tidak ada yang bisa dilakukan oleh Fathan selain pasrah dan mencoba untuk mengerti.
"Sayang, kamu makan, ya. Calon anak kita butuh banyak nutrusi," bujuk Fathan.
Sontak saja Azkira terkesiap dan mengerutkan keningnya mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Fathan. "Apa maksudmu dengan calon anak kita, Bang?" kata Azkira sembari meringsut untuk bersandar di kepala ranjang.
Fathan tersenyum sambil berkaca-kaca. "Ya, Sayang. Kamu sedang mengandung anakku, buah cinta kita. Usia kendunganmu sudah tiga belas hari," jawab Fathan.
Azkira melenguh seraya berkedip tidak beraturan. "Aku hamil?" gumamnya sambil memegangi dan mengelus perutnya yang masih rata. Lalu, air mata Azkira pun mengalir tidak terbendung lagi.
"Itu benar, Sayang. Kita akan punya anak," imbuh Fathan yang juga ikut menitukkan air mata yang sedari tadi sudah menggenang.
"Kenapa kamu tidak tersenyum, Azki? Tidakkah kamu bahagia atas kehamilanmu ini? Tidakkah kamu senang menerima kabar baik ini? Kamu akan menjadi Ibu dari anakku, Azki," batin Fathan gelisah.
"Bagaimana ini? Aku akan punya anak? Apa Suamiku juga akan kasar pada anakku nantinya? Tidak! Aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi," raung hati Azkira. Dia punya banyak ketakutan terhadap sikap Fathan.
Azkira menggelengkan kepalanya terus menerus. "Aku tidak ingin anak ini lahir dan menerima sikap kasarmu, Bang," cetus Azkira dengan bibir yang bergetar.
"Tidak, Azki. Mana mungkin aku melakukan hal itu, Sayang," tutur Fathan meyakinkan Azkira.
"Tapi sebelumnya, kamu juga sudah berjanji padaku mengenai beberapa hal, Bang. Dan semua itu selalu kamu ingkari setiap kali kamu marah padaku," jawab Azkira dengan tangisan yang kini pecah.
"Azki, tolong jangan ingat keburukan yang sudah kulakukan padamu. Kamu harus tenang, Sayang. Jangan banyak pikiran," anjur Fathan.
"Jangan ingat? Apa Abang pikir melupakan kesakitan semudah membalikkan telapak tangan? Aku tidak habis pikir dengan sikapmu itu, Bang."
"Oke! Aku yang salah. Aku minta maaf. Azki, aku tidak ingin berdebat lagi, Sayang. Tolong mengertilah. Kamu harus banyak istirahat sekarang. Kalau tidak bisa melakukannya untukku, setidaknya tolong lakukan itu demi calon anak kita." Fathan melabuhkan kecupan di kening Azkira dengan sedikit menahan agar Azkira tidak terus menghindarinya.
__ADS_1
"Istirahatlah! Aku akan pergi ke luar sebentar," kata Fathan. Azkira tetap menangis dan tidak mau menjawab lagi.
Seperginya Fathan, Azkira menangis sejadi-jadinya. Dia menjerit meluapkan segala rasa yang ada di hatinya. Bingung, sedih, takut, kecewa dan cemas pada yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak menyesali kehamilannya, tapi dia sungguh takut Fathan akan terus kasar padanya.
Dalam perjalanan, di tengah lalu lalang kendaraan yang merangkak padat. Fathan mengemudikan mobilnya, berniat untuk menemui Dion. Ya, seperti biasa. Fathan akan bercerita pada sahabatnya itu guna menuai rasa lega. Fathan butuh seseorang untuk diajak bicara dan mendengarkan.
Detik berikutnya, mereka pun bertemu di sebuah cafe. Fathan yang menentukan tempat pertemuan mereka. Pria yang sedang dirundung kebimbangan itu berjalan memasuki cafe usai memarkirkan mobilnya.
Di sana, tampak Dion yang sudah duduk menunggu kedatangannya. "Terima kasih, Dion. Aku tidak tahu lagi pada siapa harus bercerita," sapa Fathan yang tanpa basa basi langsung mengungkapkan isi hatinya.
"Tenanglah dulu, Fathan. Bicara pelan-pelan. Ada apa sebenarnya?" ujar Dion.
Fathan pun mulai menceritakan semua yang terjadi pada dirinya dan Azkira selama ini. Semuanya, sejak awal pernikahan mereka. Fathan mengatakan penyesalannya, tapi dia juga dia tidak bisa menyangkal rasa cemburunya. Dia berada dalam dilema besar.
"Baik, Fathan. Aku tidak menyalahkanmu, tapi aku juga tidak menyalahkan Azkira."
"Kamu ini, tidak punya prinsip!" kata Fathan.
"Tapi aku tidak suka ada pria lain dalam pikiranya, Dion."
"Hey, Teman. Jika kamu tidak merubah pola berpikirmu yang seperti itu, percayalah Azkira akan semakin tidak betah hidup bersama denganmu. Kenapa tidak mencoba mengerti dan berusaha mengungkapkan rasa cemburumu itu dengan cara menarik simpatinya."
"Huuuft! Ini lebih rumit dari yang kubayangkan," keluh Fathan seraya menghela napas kasar.
"Wanita adalah makhluk yang rumit, Fathan. Tapi, ketika kamu bisa mengambil hatinya, maka dia akan memberikan seluruh hidupnya padamu. Semakin keras kamu memperlakukannya, semakin kuat juga tekadnya untuk memberontak padamu. Berilah dia pemahaman dan sikap lembutmu. Jika tidak, penyesalan akan menantimu di pintu karma, Fathan."
"Apa kamu sedang menakutiku?" balas Fathan ketus.
__ADS_1
"Tidak, bukan begitu. Aku hanya mengingatkan, supaya kamu tidak berakhir dengan penyesalan karena terlalu sering melukai perasaannya. Terlebih ..., kalau sampai berani menyakiti secara fisik," kata Dion dengan sangat hati-hati berharap Fathan tidak tersinggung.
Fathan manggut-manggut seraya meraup wajahnya kasar. "Aku rasa kamu benar, Dion."
"Tentu saja, kamu sahabatku, Fathan. Aku tidak ingin kamu terjerumus dalam sesal yang dalam," ujar Dion.
"Walaupun, sungguh hatiku sakit mendengar kamu telah tega memukul dan menyakiti fisik Azkira, bukan hanya sekedar melukai perasaannya dengan kata-katamu saja. Ketahuilah, Fathan. Aku akan menjadikan Azkira bagai seorang ratu andai dia menikah denganku. Sayangnya, takdir lebih memilihmu untuk bersanding dengannya, ketimbang denganku," lanjut Dion dalam hatinya yang terasa perih.
Usai mengobrol panjang lebar ditemani dua cangkir kopi dan sajian makanan ringan yang ada di cafe itu. Akhirnya, Fathan dan Dion pun pulang ke rumah masing-masing. Jujur saja, Fathan merasa lega setelah bercerita.
"Bi Inah, tolong sampaikan pada Den Fathan, Azki pergi ke rumah Nenek." Azkira membawa tas yang sepertinya berisi beberapa pakaiannya.
"Tapi, Non. Non Azkira 'kan masih belum sehat. Lihat tuh, wajah Non saja pucat seperti itu. Apa tidak sebaiknya Non Azki istirahat saja," usul Bi Inah mencoba menahan Azkira agar tidak pergi.
Baru hendak menjawab Bi Inah, tiba-tiba Fathan datang dan berjalan masuk dari arah pintu. Hal itu membuat pandangan Azkira tertuju kepadanya. Sedangkan, Fathan menatapi Azkira dengan sejuta kegundahan.
Melihat Tuannya sudah datang, Bi Inah memilih pamit dari sana. Lalu, langkah Fathan semakin mendekat pada Azkira. Sementara itu, Azkira hanya berdiri mematung dengan kepala yang tertunduk.
"Sayang, mau ke mana? Aku antar, ya," lontar Fathan dengan sangat lembut.
Azkira mengangkat wajahnya. "Aku ingin tinggal di rumah Nenek saja," jawabnya menatap sayu.
Fathan memejamkan matanya, sambil menghirup udara dalam-dalam. "Tidak masalah jika itu maumu, Sayang. Aku akan mengantarkanmu ke sana, hum." Fathan membawa Azkira ke dalam pelukannya. Dia berusaha mengalah demi memenangkan hati Azkira kembali.
****
Sesampainya di rumah Sinta, neneknya. Ada hal lain yang membuat Azkira terkejut bukan kepalang. Wanita itu sampai tampak lunglai dan lemas tiada terkira, saat mengetahui kebenaran yang tidak pernah disangka-sangka.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan jejakmu. Terima kasih. ❤🖤