
Usai segala cuaca yang tercipta dalam setiap cecapan rasa panas, berpeluh, bergetar dan meluruhkan sesuatu bernama benih-benih cinta di dalam lorong bersalju milik Azkira, akhirnya Fathan menyudahi permainan yang memberikan rasa luar biasa itu. Dan dia hadir sebagai pemenang yang unggul untuk sementara waktu.
Selekas kemudian, Fathan merasa kalah dari segala kemenangannya. Kalian mau tahu apa penyebabnya? Biar kuberitahu. Setelah pergulatan panas itu berakhir, Azkira tampak sangat menyesal dan penyesalannya itu begitu kentara, tersirat di wajah ayunya yang telah lusuh dibasuh sisa lelah dan cucuran peluh. Bahkan, dia tampak enggan bicara ataupun menatap wajah Fathan. Dan itu membuat Fathan merasa dirinya tidak diinginkan.
"Azki ...," lirih Fathan sambil berusaha untuk membelai rambut Azkira.
"Aku mohon pergilah, Bang." Azkira menghindari sentuhan Fathan.
"Tidak, aku tidak akan pergi, Azki. Aku hanya akan pergi kalau kamu ikut bersamaku. Kita pulang ke rumah kita, hum," bujuk Fathan seraya bersikukuh.
"Aku butuh waktu sendiri, Bang."
"Tapi-"
"Tidak ada tapi, Bang! Aku mohon mengertilah. Sekali lagi, aku bukanlah anak kecil yang bisa kamu cambuk kemudian kamu peluk. Ini hati bukan persinggahan yang bisa kamu isi semena-mena."
"Azki, aku mohon. Pulanglah bersamaku. Aku janji akan merubah semua sikapku. Apa kamu sangat marah cuma karena aku menghapus foto-foto dari galeri ponselmu?"
Azkira meneliti wajah Fathan dengan tatapan membunuh. "Cuma katamu, Bang?" ujar Azkira sambil manggut-manggut.
"Ya! Wajar saja kamu mengatakan begitu. Karena setelah semua sikapmu yang paling mengancurkan harga diriku sekali pun, kamu hanya menganggap itu sebagai kesalahan kecil yang bisa kamu tebus dengan kata maaf. Asal kamu tahu saja, Bang. Kecewaku bukan perihal foto-foto yang kamu hapus tanpa permisi saja. Melainkan, karena perilaku dan kata-katamu selalu saja membuatku merasa rendah dan terhina," imbuh Azkira dengan penuh penekanan.
"Aku kira aku sudah menang, Azki. Aku kira aku telah berhasil meluluhkan hatimu dan bisa membawamu pulang ke rumah kita. Tapi, ternyata aku salah." Fathan menitikkan air mata. Dia merasa gagal.
"Maafkan aku, Bang. Aku hanya butuh waktu untuk menyembuhkan luka yang terlanjur menganga di dalam sini," tutur Azkira sembari menaruh tangan di dadanya seakan menunjukkan betapa sakit hatinya.
"Azki ...," seru Fathan masih dengan suara lirih dan berderai air mata.
"Jangan menangis, Bang. Jangan membuat aku merasa jahat padamu, padahal akulah yang telah kamu sakiti." Azkira bangkit, lalu mengenakan pakaiannya yang teronggok di lantai.
Fathan sudah tidak berdaya meredam kekecewaan Azkira, yang membuat wanita itu mengeraskan hatinya untuk Fathan. Kini tidak ada pilihan lain bagi Pria itu selain meng-iya-kan kata-katanya. Walaupun, saat itu dirinya merasa bagai dirajami batu yang tajam.
"Pakailah, Bang!" Azkira menyodorkan pakaian Fathan untuk dikenakan.
Fathan menatap kepada Azkira dengan wajah mmohon belas kasihan. Lalu, Azkira mengangguk memberi penegasan agar Fathan segera mengambil pakaian yang disodorkan olehnya. Dengan tangan bergetar dan perasaan hati yang lebam, akhirnya Fathan mengambil pakaiannya tersebut lalu mengenakannya.
Detik berikutnya, Azkira berdiri sambil membuka pintu, yang secara tidak langsung dia menyuruh Fathan untuk keluar dari sana. Ya, dalam kata lain Azkira telah mengusir Fathan.
__ADS_1
"Azki, aku ...."
"Silakan pergi, Bang!" tandas Azkira. Sikapnya itu menjelaskan bahwa dirinya tidak ingin didebat atau dinegosiasi lagi.
Fathan pun melangkah penuh gamang dan dengan berat hati bertolak pergi dari rumah kontrakan Dila tersebut. Sementara di luar masih gerimis, Fathan menuju ke mobilnya dengan rintik hujan yang membasahi tubuhnya. Kemudian, Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Di dalam sana, Azkira meluruhkan tubuhnya di lantai, di balik daun pintu. Wanita itu menangis sejadi-jadinya. "Kenapa? Kenapa harus aku yang seolah tampak jahat di ini?" ratapnya dengan suara parau dirundung kesedihan.
****
Fathan sampai di rumah dan sudah membersihkan diri. Dia terus diam dan tidak melakukan banyak hal. Semua itu karena dia sedang kecewa. Bukan pada orang lain, melainkan pada dirinya sendiri.
"Den, makan dulu, ya. Bi Inah sudah siapkan makanan kesukaan Den Fathan." Bi Inah merasa tidak tega melihat Fathan yang demikian berbeda. Tidak seperti biasanya yang enerjik dan banyak bicara.
Fathan tidak menjawab atau memberi respon. Pria itu hanya diam membisu. Tatapannya kosong dan hampa. Bibir dan lidahnya kelu, dia begitu enggan untuk bicara.
"Kenapa Den Fathan jadi begini? Apa ini ada kaitannya dengan Non Azki yang tidak pulang ke sini? Lalu, di mana Non Azki sekarang?" gerundal Bi Inah.
Tidak lama berselang, Dion datang berkunjung ke rumah Fathan. Entah ada angin apa? Tetapi, sepertinya ada hal yang ingin dia bicarakan pada Sahabatnya tersebut. Pria yang tidak kalah tampan dari Fathan itu tampak tidak sungkan masuk ke dalam rumah Fathan.
"Bi Inah!" seru Dion mengagetkan Wanita paruh baya yang tengah bengong mengamati Tuannya itu.
"Pintunya tidak dikunci, Bi, jadi saya langsung masuk."
"Iya, Mas Dion, tidak apa-apa. Memang belum Bibi kunci," balas Bi Inah.
Lantas, Dion melihat ke arah Fathan yang sedang kacau itu. "Kenapa dia, Bi?" lontar Dion merasa janggal.
"Bibi juga tidak tahu, Mas Dion. Sejak pulang tadi Den Fathan hanya diam saja. Bibi tawari makan juga tidak mau, Mas," beber Bi Inah.
"Ya sudah, Bi. Biar saya yang bicara pada Fathan."
"Baik, Mas, kalau begitu Bibi permisi. Mas Dion mau dibuatkan minum apa?" imbuh Bi Inah sebelum berlalu dari sana.
"Kopi hitam saja. Terima kasih, Bi."
"Baik, Mas. Sama-sama." Bi Inah melenggangkan kakinya ke arah dapur.
__ADS_1
"Hey! Ada apa denganmu? Tanganmu, apa kamu habis menghncurkan kaca mobilmu sendiri? Aku melihat kaca mobilmu retak dan sebagiannya hancur." Dion tak segan bicara pada Fathan.
"Aku sudah gagal, Dion." Pada akhirnya Fathan mau buka suara juga.
"Apa maksudmu? Kita sudah berhasil, Fathan. Nama baik Chili Sauce Resto perlahan mulai kembali. Bahkan, para pelanggan yang sempat hilang, sekarang sudah terlihat mengunjungi restoran lagi. Dan kabar terbaiknya, aku sudah melaporkan kedua pengkhianat itu pada pihak berwajib," kelakar Dion.
"Aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi, Dion."
"Yang benar saja. Bukankah seharusnya semua kabar baik itu membuatmu senang?" Dion tidak percaya pada apa yang dia dengar dari mulut Fathan.
"Menurutmu, apa aku masih bisa senang dan tertawa saat aku gagal membawa istriku pulang?" kata Fathan masih dengan ekspresi wajah yang datar.
"Maksudmu? Apa Azkira pergi dari rumah ini?"
"Bukan hanya dari rumah ini, Dion. Sepertinya, dia juga ingin pergi selamanya dari hidupku. Lalu, apa semua kemenangan itu ada artinya jika aku kehilangan istriku?" imbuh Fathan.
"Biar aku tebak. Jadi sekarang, Fathan telah jatuh cinta pada seorang Azkira yang sempat tidak diharapkannya?" ledek Dion.
"Entahlah, Dion. Karma apa yang sedang aku tuai ini? Sejak kejadian memalukan itu, aku memperlakukan dia dengan sangat buruk. Aku melimpahkan setiap kesalahan padanya. Aku menghinanya, mengatainya, bahkan aku juga memukulnya, Dion. Pasti perasaannya sangat hancur dan terluka. Bukan itu saja, Dion. Aku sudah membuat kehormatan dan harga dirinya hancur berkeping-keping. Lalu, sekarang dia pergi dan aku merasa tidak rela." Fathan bercerita dengan siratan sesal yang terlihat begitu nyata di garis wajahnya.
"Baiklah, aku mengerti perasaanmu, Kawan."
"Tidak, Sialan! Kau tidak mengerti sama sekali," umpat Fathan.
Dion tertawa lepas. "Setidaknya aku senang, karena seorang Fathan kini punya hati untuk merasa bersalah. Semua itu pasti karena cinta," olok Dion.
"Diam! Kamu tidak memberi solusi sama sekali. Dasar teman laknatt!"
"Ayolah, Kawan. Akui saja kalau dirimu mulai jatuh cinta. Sudah kukatakan, Azkira itu sangat cantik dan manis, bukan?"
"Cukup! Jangan bicara lagi, atau akan kusumpal mulutmu dengan keset."
"Oke! Oke! Aku diam." Dion menyembunyikan tawanya di balik kedua tangan yang menutupi mulutnya.
"Sudah kuingatkan padamu, Kawan. Azkira adalah wanita baik-baik. Sekarang setelah dia pergi, kamu menyesal, bukan?" batin Dion masih dengan nada olokkan.
Bersambung ....
__ADS_1
Gimane, Mak? Udah puas belum? Wkwkwk. Tinggalin komentarnya, ya. Jangan lupa like, vote sama giftnya juga. Terima kasih. Lope-lope. ❤🖤