
Segala rasa berupa kabut duka mulai reda. Kini, keadaan berubah menjadi sehangat pelukan. Menenggelamkan mereka dalam indahnya kasih sayang sebuah keluarga.
"Revan, sebentar lagi kamu akan punya keponakan. Azkira tengah mengandung anak pertamanya," cetus Sinta.
Revan masih bingung. Harus bagaimana dia bersikap saat menerima kabar baik itu. Jujur saja, dia masih kesulitan untuk menghilangkan sedikit rasa cemburu yang ada di hatinya. Namun, Revan berusaha sekuat mungkin untuk bersikap sewajarnya, dengan menyunggingkan senyum lebar di bibirnya.
Ada yang lebih tercengang mendengar kabar itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Antoni. Pasalnya, Fathan dan Azkira memang belum sempat memberitahunya.
"Apa kabar baik ini benar adanya?" tanya Antoni dengan tatapan menyelidik.
"Semua itu benar, Ayah. Ayah akan menjadi seorang kakek," jawab Fathan.
Mata Antoni berkaca-kaca. Dia tidak mampu lagi berkata-kata saking senangnya. "Aku tidak menyangka, kabar bahagia akan aku dapatkan secara bersamaan," gumamnya.
"Selamat untuk kita semua," timbrung Azkira.
"Eemm, aku ingin mencari udara segar sebentar." Gegas Revan seraya pergi ke luar rumah.
"Abang!" teriak Azkira yang turut menyusul Revan.
Fathan sudah hendak berdiri dan menahan Azkira. Namun, Antoni melarangnya. "Biarkan mereka melepas rindu setelah tahu bahwa keduanya adalah saudara kandung."
Nurhayati, Gunawan, juga Sinta setuju pada Antoni. Fathan pun akhirnya menurut dan mengurungkan niatnya. Kini dia memilih duduk dan menikmati makanan ringan yang terhidang di meja.
"Abang ...," lirih Azkira memanggil Revan sekali lagi.
Revan mengulas senyum yang tidak sampai ke sorot matanya. "Iya, Azki. Kenapa kamu ke luar? Masuklah! Sebentar lagi hujan akan turun," tutur Revan.
__ADS_1
"Apa Abang tidak rindu pada Adikmu ini? Apa aku tidak boleh mengobrol lebih lama dengan Abangku sendiri? Aku mencari-cari keberadaanmu, bahkan sebelum aku tahu bahwa Abang adalah kakak kandungku." Azkira kembali menangis.
"Apa yang kau katakan ini, Gadis Kecil?" Revan membawa Azkira ke dalam pelukannya. Mengacak pelan rambut Azkira dengan jatuhan air mata yang turut meluruh.
"Mungkin, inilah mengapa Tuhan tidak mengizinkanku untuk mengungkapkan perasaan cintaku padamu dulu, Azki. Ternyata, kamu adalah adikku. Seperti yang selalu kamu katakan bahwa aku adalah kakakmu. Dan semua itu kini terbukti," batin Revan mengenang yang telah berlalu.
"Aku sayang Abang," ucap Azkira sambil terisak.
"Aku juga, Azki. Aku menyayangimu lebih dari hidupku sendiri. Aku menyayangimu lebih dari segalanya. Sekarang, tidak ada lagi rasa takut kehilangan, karena kamu adalah adikku, Azki. Semesta membuat kita dekat, bahkan sebelum kita tahu dan menyadari kalau kita saudara kandung."
"Iya, Bang. Sekarang, kita tidak boleh berpisah lagi. Kita adalah keluarga yang harus terus bersama. Kalau Ayah dan Ibu kita ada di sini, mereka pasti akan sangat bahagia."
Kedua kakak beradik itu terus bicara. Menyampaikan isi hatinya. Mencoba saling mendekatkan diri dengan cara dan perasaan yang sudah berbeda dari sebelumnya. Sungguh, siapa pun akan terharu melihat keakraban mereka.
"Jadi, sudah berapa bulan calon keponakanku ada di sini," kata Revan sambil mengelus perut Azkira.
"Apa kamu ingin sesuatu?"
"Ya, aku ingin rujak mangga muda buatan Abang."
"Apa? Kenapa harus rujak mangga muda? Bukankah biasanya kamu suka coklat dan es krim."
"Itu biasanya, Bang. Sekarang aku sedang ingin rujak mangga. Ayolah, lakukan demi calon keponakanmu," rayu Azkira dengan wajah memelas.
"Baiklah, ayo kita buat sekarang." Revan menggandeng tangan Azkira dan masuk kembali ke dalam rumah Nurhayati, di mana semua orang masih ada di sana.
"Bang, bisakah kamu melepaskan gandengan tanganmu kepada Istriku?" lontar Fathan pura-pura cemburu.
__ADS_1
Tak ayal, semua orang yang ada si sana tertawa dibuatnya. Ternyata, selera humor Fathan bagus juga. Dia tidak sekaku dan semenyebalkan seperti yang sebelum-sebelumnya.
****
Tiga hari berselang, Fathan pergi untuk membelikan vitamin Nurhayati, ke sebuah apotek. Ya, Revan memilih untuk tinggal bergantian saja. Kadang di rumah Nurhayati, teekadang dia menginap di rumah Sinta. Dan tidak disangka, setibanya di apotek, dia bertemu dengan Dila yang sedang bekerja sebagai apoteker. Dila menyapanya lebih dulu.
"Bang Revan 'kan? Kakaknya Azkira?" lontar Gadis tersebut.
"Benar, Dila. Kamu masih ingat rupanya."
"Tentu saja Dila ingat, Bang. Azkira banyak bercerita mengenai Abang."
"Begitu, ya?" imbuh Revan.
"Iya! Azki selalu mengatakan bahwa dia anak tunggal, tetapi merasa seperti memiliki saudara kandung karena Bang Revan selalu ada untuknya."
Revan menghela napas dalam. "Dan aku memang kakak kandungnya, Dila. Kami saudara sedarah," terang Revan.
"What?" Dila menutup mulut dengan kedua tangannya seakan tak percaya.
Bersambung ....
Jangan lupa mampir di karya sohib ane Kak Irma Kirana, ye guys. Lope-lope. ❤🖤
Terima kasih, selamat Membaca. 💞💞
__ADS_1