Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 28 Pulang


__ADS_3

Saat itu keadaan menjadi sangat tegang. Tampak Fathan mengepalkan tangannya seolah ingin mendaratkan pukullan pada Revan. Giginya gemeratak geram, rahang tegasnya semakin kentara mengeras, bahkan tatapan matanya seperti kobaran api yang menyala-nyala.


"Beraninya kamu bermesraan dengan istriku!" Amarah Fathan bergejolak tidak tertahan lagi.


BUGH!


Sebuah pukulan melayang ke wajah Revan. Fathan benar-benar hilang kendali. Dia sudah tidak mau menelaah keadaan lagi. Yang dibaca olehnya dari situasi itu hanyalah sebuah pengkhianatan yang nyatanya tidak pernah ada.


"Cukup! Apa yang kamu lakukan pada Bang Revan? Aku yang memintanya datang ke sini? Kenapa kamu memukulnya?" Azkira bertanya sambil berteriak dengan nyaring, hingga Dila yang kala itu baru selesai mandi merasa sangat terkejut.


Revan mencoba melerai. "Azki, tenanglah. Abang tidak apa-apa," katanya.


"Fathan, kamu salah paham. Aku ke sini karena Azkira sedang sakit. Aku membawakannya buah dan coklat kesukaannya. Kurasa, seharusnya kamu yang memperhatikan Istrimu, bukan? Lalu, kenapa kamu tidak ada di sisinya saat dia membutuhkan seseorang yang mengerti dirinya? Memahami keadaannya dengan sedikit perlakuan sederhana yang dia suka, kenapa?" Revan tidak balik memukul Fathan dengan kekuatan otot tangannya, melainkan memukul dengan pertanyaan yang berhasil membungkam mulut Fathan.


"Ada apa ini?" lontar Dila yang tadi hanya diam terhenyak tak bergeming.


"Tidak ada apa-apa, Dila," jawab Revan seraya tersenyum.


Azkira menangis dan semakin merasa kecewa pada Fathan. Lalu, Dila mendekat merangkul Azkira dan memeluknya. Sementara itu, Fathan juga turut menghampiri Istrinya tersebut.


"Azki ...," lirih Fathan sembari menyentuh pucuk kepala Azkira, akan tetapi Azkira segera menepisnya.


"Jangan menangis, Azki. Semuanya akan baik-baik saja," tutur Dila menghiburnya.


"Dila, sekarang suami Azki sudah datang. Tolong ingatkan dia untuk memberikan obat pada Azki. Aku pulang dulu," cakap Revan.


Dila hanya bisa menatap sekilas pada Fathan, kemudian melihat ke arah Revan dan mengangguk. Sementara itu, Azkira masih menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan Dila. Dan Fathan, dia kehabisan kata-kata. Semenjak tadi, kata-kata Revan begitu menohok dan membuat Fathan tidak bisa berkutik.


"Azki, Abang pulang dulu. Lekas sembuh, ya. Dijaga makannya. Jangan sampai telat lagi, oke." Revan berpamitan.


Azkira mendongakkan wajahnya pada Revan. Tampak sorot kesedihan begitu nyata tersirat di mata Azkira. "Abang ...."


"Abang harus pulang." Revan merekahkan senyum yang sesungguhnya tidak ingin dia lakukan. Sungguh, dia merasakan kesedihan yang sama dengan Azkira.


"Dila, aku pergi." Lantas, Revan pun benar-benar pergi sekarang, usai menoleh dengan malas ke arah Fathan yang kala itu hanya terdiam.


Dila mengantarkan Revan sampai ke depan pintu. "Hati-hati, Bang. Terima kasih sudah datang," ucapnya.

__ADS_1


"Ya, Dila. Masuklah, ini sudah malam." Revan mengangguk memberi salam perpisahan sekali lagi. Dila melambaikan tangan dan tersenyum.


Detik berikutnya, Dila melakukan seperti yang dipesankan Revan padanya, yaitu memberikan obat pada Fathan untuk diminumkan kepada Azkira. Lantas, Fathan menerima obat itu. Di sisi lain, Azkira merasa enggan dan begitu tidak ingin melihat kepada Fathan.


"Azki, minum dulu obatnya," kata Fathan seraya menyodorkan butiran obat penawar demam dan juga satu gelas air putih.


Azkira memalingkan wajahnya deri Fathan. Tapi kemudian, Dila duduk di dekat Azkira, lalu dia membujuk Sahabatnya itu agar mau meminun obatnya. Dan bujukan Dila pun berhasil.


"Tidakkah kamu mau pergi ke dokter?" tawar Fathan.


"Tidak akan ada dokter yang bisa memberikan penawar untuk rasa sakitku ini," jawab Azkira.


"Kalau begitu ayo kita pulang. Biarkan aku merawatmu. Kasihan juga 'kan pada temanmu. Bukankah dia akan kerepotan?" imbuh Fathan.


"M-maaf, Bang. Azki tidak merepotkan, tapi sebaiknya dia memang dirawat dengan baik," gagap Dila. Azkira terbelalak mendengar kata-kata Dila.


"Nah, kamu dengar sendiri 'kan? Kalau begitu aku akan membawamu pulang." Tanpa menunggu lagi, Fathan langsung menggendong Azkira.


"Turunkan aku! Apa yang kamu lakukan, Bang?" pinta Azkira sambil terus memberontak. Namun, Fathan tidak perduli.


Azkira sudah ada di dalam mobil. Namun, sepertinya itu bukanlah mobil Fathan yang biasanya. Tapi, apa perdulinya? Azkira pun memilih untuk masa bodoh dan melanjutkan lagi rajukannya. Ya, dia merajuk dan merasa ingin sekali membenturrkan kepala Fathan dengan keras.


"Ini barang-barangnya Azki, Bang." Dila memberikan koper dan buah-buahan serta coklat pemberian Revan.


"Terma kasih. Oh, ya, aku bawa kopernya saja. Barang yang lain ditinggal untuk kamu saja. Kamu temannya Azki?" Fathan merasa tidak sudi membawa apa yang diberikan Revan pada Azkira.


Dila mengangguk. "Iya, Bang," jawabnya.


"Aku Fathan, suami Azkira."


"Namaku Dila, Bang Fathan."


"Baiklah, sekali lagi terima kasih, Dila."


"Sama-sama, Bang. Tolong jaga Azkira, ya, Bang," ujar Dila memberanikan diri.


Fathan tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya. "Jangan khawatir, tentu saja aku akan menjaga istriku," jawabnya santai.

__ADS_1


"Dasar pembohong," umpat Dila di dalam hati.


Fathan pun pergi membawa Azkira pulang. Selepas itu, Dila seperti teingat sesuatu. Dia merasa pernah melihat Fathan sebelumnya, tapi entah di mana.


"Ya, aku melihatnya di apotek. Bukankah dia pria yang membeli kassa perban dalam kedaaan tangannya penuh luka?" Dila Akhirnya ingat.


Sebagai informasi, walau dulu Dila sempat bekerja untuk beberapa bulan di Chili Sauce Resto milik Fathan, tapi dia belum pernah bertemu Fathan. Karenanya dia tidak tahu dan tidak mengenal Owner dari restoran tersebut. Selekas kemudian, Dila pun masuk kembali ke dalam rumah kontrakannya.


Dalam situasi lain, Azkira dan Fathan masih saling diam selama dalam perjalanan pulang. Tepatnya, Azkira yang menolak untuk diajak bicara. Wanita itu sedang sangat tidak ingin berdialog dengan Pria yang menurutnya sangat aneh dan sulit dipahami itu.


"Tidak masalah jika kamu belum ingin bicara dan mengabaikanku saat ini, Azki. Setidaknya aku sudah berhasil membawamu pulang. Aku akan melakukan apa saja, yang penting kamu terus ada di sampingku," ucap hati Fathan.


Setibanya di rumah, Fathan pun turun dan langsung mebukakan pintu mobil untuk Azkira. Dia juga berusaha untuk menggendong Azkira lagi dan membawanya ke dalam rumah. Namun, Azkira menolak dan memilih untuk berjalan sendiri.


"Keadaanmu masih lemah, Azki," kata Fathan berharap Azkira mau dia gendong.


"Tidak perlu mengkhawatirkanku!" tandasnya sambil terus berjalan, walau tertatih-tatih.


Detik berikutnya, mereka pun sampai di depan pintu kamar. Lalu, Azkira yang lemas nyaris terjatuh dan terjerembab ke lantai. Beruntungnya, saat itu Fathan dengan cekatan segera menangkap tubuh Azkira.


"Sudah kubilang biar aku membantumu." Fathan membopong tubuh Azkira dan merebahkannya di tempar tidur.


Menyadari dirinya ada di kamar itu lagi, Azkira menghela napas dalam dan panjang. "Akhirnya, aku kembali lagi ke kamar yang jadi saksi dari segala luka dan kesakitanku," batinya sambil memejamkan mata.


"Gantilah dulu bajumu. Itu sudah kamu kenakan sejak tadi pagi." Fathan memberikan satu stel piyama tidur pada Azkira.


Melihat Azkira yang tetap diam tidak merespon, Fathan pun langsung menggantikan sendiri baju Azkira. "Kamu harus ganti baju agar tidurmu nyaman!" tandasnya.


Azkira memekik tak suka. "Apa yang kamu lakukan? Aku bisa memakainya sendiri," protesnya.


"Tapi akan memakan waktu yang lama, jadi biar kubantu saja," balas Fathan sambil terus sibuk memakaikan baju ganti itu.


Kalian tahu tidak? Seperti biasa Fathan mencuri-curi kesempatan. Terlihat beberapa kali dia menciumi pundak seksii Azkira. Sempat-sempatnya dia melakukan hal itu, padahal dia tahu bahwa Azkira sedang sakit.


Bersambung ....


Jangan lupa like, komen, subcribe, kasih vote dan gift. Terima kasih. Lope-lope. 🥰😍

__ADS_1


__ADS_2