
6 bulan kemudian ....
Kala itu, sore menjelang malam pergantian tahun. Usia kandungan Azkira, sudah memasuki yang ke-tujuh bulan. Ahh, mereka sudah tidak sabar menantikan kelahiran buah hati yang paling mereka tunggu.
"Sayang, apa tidak ingin pergi ke luar dan turut memeriahkan tahun baru seperti orang-orang?" tanya Fathan.
"Duuh, aku akan merasa repot sepertinya, Bang. Soalnya, akhir-akhir ini aku lebih sering buang air kecil. Aku malas kalau harus bolak balik ke kamar mandi di tempat ramai."
"Baiklah, Sayang. Kalau begitu, kita undang saja semua orang. Bang Revan, Dila, Nenek, Ayah Gunawan, dan Bi Inah. Kita berkumpul dan BBQ-an. Setuju?"
"Itu lebih nyaman bagiku, Bang. Tapi ...."
"Tapi apa, Sayang?"
"Ayah Antoni, kenapa belum pulang juga? Apa dia tidak rindu berkumpul bersama kita?"
"Ayah pulang ...." Tiba-tiba saja Antoni sudah berdiri di belakang Azkira.
"Ayah!" sentak Azkira yang tampak terkejut, tapi juga senang.
"Ya, Sayang. Ayah pulang dan tidak akan pergi dulu, sampai cucu pertama Ayah lahir nanti."
Azkira tersenyum haru sembari menyalami tangan Antoni. "Terima kasih, Ayah."
__ADS_1
Lalu, Fathan memeluk erat Antoni. "Terima kasih, Ayah."
"Loh, terima kasih untuk apa, Nak?"
"Karena Ayah sudah membuatku dan kekasih incaranku bersatu," bisik Fathan di telinga Antoni.
"Hahaha! Jadi, ayah tidak salah 'kan menjodohkanmu dengan gadis pilihan Ayah."
"Itu sama sekali tidak salah. Ayah sudah sangat benar melakukannya." Mereka pun tertawa bersama-sama.
Tidak berapa lama, semua orang berdatangan. Berkumpul di rumah Antoni. Lengkaplah sudah keluarga besar mereka. BBQ-an mulai dilancarkan, gelak tawa, hangat cengkerama juga turut riuh mewarnai malam itu.
"Sepertinya, ada yang berbeda. Kenapa wajah Bang Revan begitu berseri-seri," goda Fathan yang saat ini menjelma menjadi seutuhnya seorang adik bagi Revan.
Revan hanya tersenyum, lalu memeluk Fathan. "Selamat untuk kita, karena sebentar lagi kita akan sama-sama menjadi seorang ayah."
"Tidak kusangka aku akan menyambut dua cicit sekaligus," ucap Sinta sambil tersenyum penuh kehangatan.
"Oh, Gunawan! Lihat, tahun ini kita akan menyambut cucu-cucu kita," ujar Antoni pada ayah asuh Revan.
"Benar, Nurhayati-ku pasti bahagia menyaksikan kebahagiaan ini dari atas sana," balas Gunawan.
"Aku yakin seperti itu," sambung Antoni lagi.
__ADS_1
Azkira dan Dila yang sedang sama-sama hamil pun hanya menyimak sambil saling menatap dan tertawa kecil. Mereka saling menautkan tangannya penuh rasa bahagia. Oh, ya. Waktu itu usia kandungan Dila baru tiga bulan. Itu artinya, selisih empat bulan saja dengan usia kehamilan Azkira.
Mereka menikmati waktu berkualitas itu. Menikmati hidangan sembari mengobrolkan semua hal yang bisa mereka bagi. Sungguh, malam itu segala kemeriahan seakan hadir di rumah Antoni.
Di tengah riuh itu. Datanghlah Dion. Ahh, iya. Tahun baru kali ini, Chili Sauce Resto tidak lagi buka hingga tengah malam. Sebab, setelah berkeluarga Fathan mengerti betapa pentingnya memberi kesempatan pada para karyawan untuk berkumpul bersama orang-orang tersayangnya.
"Apakah masih ada kursi kosong untukku?" lontar Dion. Membuat mereka semua terdiam dan sejenak mematung terkesima.
"Hahaha ...." Tiba-tiba Antoni dan Fathan tertawa bersamaan.
"Ayah, anak kesayanganmu. Si jomblo akut itu datang," olok Fathan.
"Jangan berkata begitu, Fathan. Apa kau tidak tahu. Ayah dan Pak Gunawan juga jomblo," balas Antoni.
Sontak saja gelak tawa dari semua orang mengudara bersama dengan kesenangan dan kehangatan di anatara mereka. Di malam penyambutan tahun baru yang gempita. Ini tahun paling indah, meski tak lepas dari kesedihan, luka dan peristiwa lalu yang banyak menorehkan luka.
Selekas lagi, kembang api akan kembali berpendar-pendar, terompet bersemarak, menghiasi langit yang malam ini tampak cerah. Tidak gelap dan pekat lagi seperti tahun lalu. Oh, sungguh indah malam itu.
"Paman, besok-besok sepertinya kita harus bersaing untuk mendapatkan pasangan. Supaya Fathan tidak lagi mengolok-olok jomblo seperti kita," tutur Dion. Mereka kembali tertawa.
'Kepada detik, menit, jam, hari, minggu-minggu serta bulan-bulan yang telah menemaniku melewati masa-masa sulit dan mudah, susah dan senang, sakit dan sehat, menderita dan bahagia. Terima kasih. Kini kekasihku telah jatuh cinta. Aku tak lagi takut kehilangannya. Kekasihku telah jadi istriku seutuhnya. Dan sebentar lagi akan melahirkan buah cinta kami. Itu hdiah paling istimewa. Terima kasih sekali lagi, wahai Sang Pemilik Jagad Raya.' Fathan merenung sejenak dalam diamnya.
'Mencintai takdir yang digariskan untukku. Ya, itulah yang selalu diajarkan mendiang ayah dan ibu padaku. Dan benar saja, ketika aku mulai pasrah dan mencintai segala hal yang menimpaku, kebahagiaan pun menjadi pengisi hari-hariku. Kini aku tidak takut lagi disiksa sampai hatiku lebam, perasaanku koyak, dan fisikku tak berdaya. Sebab, cintaku telah berubah. Fathan-ku telah menjelma menjadi seseorang yang hadirnya laksana dewa pelindung. Aku bersyukur atas takdir yang indah ini, Ya Rab. Aku bersyukur ikrar palsu pernikahan itu, kini berubah menjadi janji suci yang paling murni.' batin Azkira dalam hanyutnya bersama kemeriahan kembang api yang mempesona.
__ADS_1
Mereka pun hidup bahagia. Dengan keluarga, sahabat, dan teman tercinta. Kini, segalanya bisa diatasi, kini segalanya bisa dihadapi dengan lebih mudah. Pernikahan yang sebelumnya penuh siksa itu. Sekarang menjadi rumah tangga paling sempurna. Mereka saling mengerti, saling melengkapi, dan tentu saja saling mencintai.
TAMAT