Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 27 Tak Pernah Berubah


__ADS_3

Di penghujung sore ketika Dila pulang dari bekerja. Gadis itu tersentak melihat keadaan Azkira. Dia pun segera berlari menghampiri Azkira dengan rasa cemas yang membuatnya sangat tergopoh-gopoh.


"Azki ...," serunya sambari memastikan suhu tubuh Azkira yang kala itu tengah menggigil.


"Ya ampun. Kamu demam tinggi, Azki." Dengan segera Dila mengambil obat penawar demam dari kotak P3K miliknya.


Sebelum memberikan obat tersebut, Dila lebih dulu pergi untuk mengambilkan makanan pada Azkira. "Azkira! Kenapa makanan ini utuh? Kamu tidak makan seharian, ya?" omel Dila.


Dalam gigil demanya, Azkira tidak bisa lagi menggunakan fokusnya. Wanita itu terus merintih dengan badan yang terlihat gemetar. "Bang Revan." Hanya nama itu yang dia sebut sejak tadi.


"Makanlah dulu sedikit!" titah Dila sembari hendak menyuapkan makanan pada Azkira. Namun, Azkira menggelengkan kepala.


"Azki, tolong jangan begitu. Jangan siksa dirimu sendiri. Buka mulutmu dan makanlah sedikit, hum," bujuk Dila.


"Bang Revan ...," lirih Azkira mengulangi sebutannya tanpa perduli pada bujukan Dila yang ingin menyuapinya makan.


Dila menghela napas panjang. "Di mana ponselmu?" tanya Dila.


Mendapati Azkira yang tidak menjawab, akhirnya Dila pun mencarinya sendri. Kemudian, dia segera menghubungi Revan saat sudah menemukan ponsel Azkira. Tapi, panggilan itu tidak dijawab oleh Revan, meski Dila sudah melakukan panggilan tersebut berulang kali.


"Aduh, bagaimana ini? Bang Revan tidak menjawab teleponnya," gerutu Dila sambil berdecak.


Di detik berikutnya, ada panggilan masuk ke ponsel Azkira, dan diketahui itu dari Revan. Dila pun buru-buru menerimanya.


[Halo, Bang Revan.]


[Ada apa, Azki? Maaf, tadi Abang habis mandi,] ujar Revan dari ujung telepon sana.


[Ini Dila, Bang.]


[Loh, Azki kemana, Dil? Kenapa ponselnya ada padamu?] Revan terdengar keheranan mendapati yang meneleponnya adalah Dila, walau menggunakan ponsel Azkira.


[Maaf, Bang. Azkira sedang deman tinggi. Dia tidak mau makan dan minum obat. Sejak pagi makanan yang Dila sediakan untuknya juga masih utuh. Sekarang dia terus memanggil nama Abang. Dila tidak tahu lagi harus berbuat apa, Bang.]


[Ya sudah, Dila. Aku segera ke sana.]


[Oke, terima kasih, Bang Revan.]


[Panggilan berakhir.]


"Sabar, Azki. Bang Revan sedang menuju ke sini," tutur Dila berupaya menenangkan Azkira.


Dalam waktu menunggu Revan datang, Dila memberi kompres air hangat pada Azkira, yang suhunya sudah dia sesuaian dengan suhu tubuh Azkira. Gadis itu melakukannya dengan telaten. Sampai akhirnya Azkira pun tertidur.


Cukup lama berselang, Revan kini tiba di rumah kontrakan Dila. Dia membawakan beberapa batang coklat kesukaan Azkira, dan juga buah-buahan. Lalu, dia langsung mengetuk pintu dan masuk, setelah Dila mempersilakannya.


"Dila, ada apa dengan Azki?" Pria itu sangat panik.

__ADS_1


"Dia demam tinggi, Bang. Aku juga baru mengetahuinya sepulang bekerja tadi. Sepertinya dia juga tidak makan sama sekali," terang Dila.


"Ya ampun. Apa sekarang dia tidur?" tanya Revan sambil membawa pandangannya ke arah Azkira.


"Iya, Bang, baru saja. Aku mengompresnya dengan air hangat tadi."


Revan duduk tepat di samping Azkira. Dia menatap penuh cemas pada Wanita kesayangannya itu. Wanita yang hingga kini masih setia berdiam di kedalaman hatinya. "Azki ...," bisiknya lirih.


"Sejak tadi dia terus memanggil-manggil nama Abang," ulang Dila seperti saat di telepon tadi.


Revan mengembangkan senyuman di bibirnya, dibarengi dengan luruhnya tetesan air mata yang membasahi pipinya. "Abang di sini, Azki," tutur Revan seraya menggenggam tangan Azkira.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus senang, atau sedih? Setelah sekian banyak langkah kaki yang dia ayunkan untuk pergi meninggalkanku, kini dia kembali menyebut namaku dalam igaunya. Dalam keadaan sakit dan tidak berdayanya ternyata akulah yang dia cari.'


Revan bertanya pada hatinya. Menelisik rasa yang entah harus lega, atau tertawa sejenak sebelum akhirnya terluka dan sesak seperti yang sudah-sudah. Semua itu sungguh mebuat Revan semakin sulit untuk melupakan Azkira, sebagai satu-satunya wanita yang dicintai setelah ibunya sendiri.


"Bang, mau aku buatkan teh atau mungkin kopi?" tanya Dila.


"Emm, tidak usah repot-repot, Dil."


"Kalau begitu, aku tinggal mandi sebentar, ya, Bang."


"Baiklah, aku di sini menjaga Azkira," tutup Revan.


'Banyak hal yang tidak aku pahami. Salah satunya adalah cara menyadari dengan sungguh, bahwa kamu kini telah menjadi istri orang lain, Azki. Seharusnya aku menjauh darimu, bukan? Menghindari pertemuan denganmu. Pertemuan yang akan membuatku semakin sulit melupakanmu. Satu-satunya hal yang sangat mudah kupahami adalah, bahwa ternyata seluka apapun hati ini, tetap saja tidak bisa memilih untuk tidak mencintaimu.'


Azkira yang terus saja terkena tetesan air mata Revan, akhirnya terbangun. Dia mengerjapkan matanya perlahan dan melihat dengan samar-samar. "Bang Revan ...." Azkira menyebutnya dengan suara pelan.


Buru-buru Revan menghapus air matanya. Menyembunyikan kesedihan mendmlamnya dari Azkira. Lalu, dia merekahkan senyum yang sedikit dipaksakan.


"Abang di sini, Azki."


Azkira meringsut hendak duduk. Lantas, dengan cekatan Revan membantunya. Dia tahu keadaan Azkira sangatlah lemah kala itu.


"Kenapa Abang menangis?" cetus Azkira.


Revan menunduk gugup. "Siapa yang menangis? Ahh, kamu bercanda saja."


"Bercanda? Apa air mata juga ternyata bisa mengalir sederas itu saat seseorang sedang bercanda?" tanya Azkira seakan mengintrogasi.


"Azki, Abang-"


"Abang bisa membohingi orang lain, tapi tidak dengan Azki, Bang." Azkira memangkas kalimat Revan.


"Azki, Abang tidak sedang membohongimu."


"Hahaha! Ya ampun, Bang. Azki hanya bercanda. Kenapa Bang Revan jadi gugup begitu?" Azkira menertawakan Revan, dalam keadaan dirinya yang sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Dasar anak nakal!" kata Revan seraya tertawa. Wajahnya yang semula tegang kini tampak lebih santai.


"Kenapa kamu tidak makan seharian, hum?" tanya Revan.


"Dari mana Abang tahu? Apa Bang Revan sekarang sudah jadi cenayang?" ledek Azkira.


"Abang sedang serius, Azki. Kenapa kamu selalu bandel soal memperhatikan pola makan yang baik? Kalau sudah sakit 'kan kamu sendiri yang merasakan!" oceh Revan.


"Aku rindu pada omelan Abang," jawab Azkira sambil cengengesan seakan tidak terjadi apa-apa padanya.


Ya ampun! Azkira membuat jantung Revan berdegup kencang seperti nyaris terlepas dari dalam sana. Wanita itu benar-benar membuat seorang Revan salah tingkah. Kalian tahu, Revan langsung menggaruk kepala dan tengkuknya yang tidak gatal saat itu.


"Sekarang kamu harus makan. Abang tidak mau mendengar alasan apapun!" Revan langsung mengambil makanan yang tadi sudah disiapkan oleh Dila, dan menyuapkannya pada mulut Wanita yang punya senyum manis itu.


"Abang!" seru Azkira dengan mulut yang penuh makanan.


"Hmmm ...," jawan Revan.


"Azki kira, Abang sudah berubah."


"Maksudmu?"


"Iya! Azki kira Abang sudah berubah tidak cerewet lagi, tapi ternyata masih sama saja," imbuh Azkira.


"Bahkan, perasaanku padamu tidak pernah berubah sedikit pun, Azki," batin Revan.


"Abang, kenapa diam saja?" rengek Azkira manja.


"Makanlah dulu baru bicara!"


"Issh, Abang ini! Kaku sekali. Aku 'kan hanya bertanya."


"Habiskan dulu makanannya, setelah itu minum obat. Tidak ada penolakan atau Abang tidak akan mengangkat teleponmu lagi!"


"Huuh! Mainnya ancaman," sorak Azkira.


"Biarkan saja. Menghadapi bocah keras kepala sepertimu memang butuh banyak ancaman," lanjut Revan ketus.


"Jangan panggil aku bocah, Bang. Aku sudah dewasa tahu. Apa Abang lupa kalau aku sudah menikah? Itu artinya aku sudah dewasa, bukan?"


Revan seketika tertegun. Dia memekik nyeri di dalam hatinya. "Kenapa kamu harus mengingatkanku kepada hal yang membuat lukaku basah kembali, Azki?" bisik Revan di dalam hati.


Tanpa diduga, Fathan sudah berdiri di depan pintu. Menatap keduanya tanpa berkedip. Kehadirannya yang tiba-tiba, membuat Azkira dan Revan tak kalah terkejut.


Bersambung ....


Note : Othor butuh suply dukungan. Habis baca tolong tinggalkan jejak, ya. Awas kalo gak. 🔨🔨🔨🔨

__ADS_1


__ADS_2