
Revan pergi dengan maksud untuk menghindari perasaan cintanya pada Azkira agar tidak tumbuh semakin besar. Ya, walau sebelum itu dirinya pernah berkomitmen untuk tetap mencintai dalam diam dan lukanya. Namun, pikirannya ternyata berubah. Revan berharap pertemuan yang sudah tidak akan terjadi lagi itu, akan mampu mengurangi perasaan cintanya sedikit demi sedikit. Meski itu akan sangat sulit. Atau mungkin, tanpa disadari justru dia sedang menanam bibit rindu yang lebih lebat dari sebelumnya.
Fathan dan Azkira pulang menuju kediamannya. Ada kebahagiaan yang tak terlukiskan tersirat di wajah Fathan. Benar, Pria itulah yang tampak paling menang saat ini.
"Selamat datang, Den Fathan, Non Azki." Bi Inah memberi sambutan saat mereka sudah sampai di rumah.
"Terima kasih, Bi," sahut mereka serempak.
"Duuh, mereka kelihatan tambah mesra saja," komentar Bi Inah seraya senyum-senyum sendiri. Kala itu, Fathan dan juga Azkira sudah berjalan menuju ke kamar.
"Sayang, hari ini aku mau berkunjung ke restoran untuk menemui Dion. Ada sesuatu yang harus kami bicarakan. Kamu mau ikut?" tanya Fathan saat dirinya dan Azkira sudah berada di dalam kamar.
Azkira tampak mengangkat alisnya dan merasa ragu. "Tidak, Bang. Aku di rumah saja," jawab Azkira seraya tersenyum.
Fathan memeluk Azkira sambil melabuhkan kecup sayang di kening Azkira. "Kamu yakin tidak mau ikut?" katanya memastikan.
Azkira mendongak menatap wajah Fathan. "Iya, Bang ... aku yakin."
"Kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu, ya. Pasti aku akan sangat merindukanmu," tutur Fathan sembari mengangkat tubuh Azkira dan menggedongnya sambil berputar.
"Kalau begitu cepatlah pulang setelah Abang selesai dengan urusan Abang."
"Tentu saja, Sayang. Aku mulai tidak betah berlama-lama berada jauh darimu." Mereka berpelukan sekali lagi, sebelum akhirnya Fathan pergi.
Dalam perjalanannya, Fathan menelepon Dion. [Halo, Dion. Ada apa meneleponku? Aku masih di jalan." Rupanya Fathan melihat jejak panggilan tak terjawab dari Dion di ponselnya.
[Ellena dan Fatih mendatangi restoran. Mereka mencari dan ingin bertemu denganmu untuk memohon pengampunan juga maafmu,] terang Dion dalam percakapan telepon itu.
[Ya ampun! Kukira kamu sudah menyudahi urusan kita dengan para pengkhianat itu.]
[Aku sudah menindak dan memberi pelajaran pada mereka. Sekarang mereka datang memohon agar aku mencabut berkas laporan pada pihak berwajib. Bagaimana menurutmu?] Dion terlihat bingung.
Fathan diam dan berpikir sejenak. [Begini saja, biarkan mereka menemui aku. Walaupun, aku sudah muak melihat wajah mereka, tapi aku ingin menyaksikan bagaimana mereka mengemis memohon ampun kepadaku,] anjur Fathan seraya tersenyum tidak simetris.
__ADS_1
[Baiklah, seperti katamu. Aku akan suruh mereka untuk menunggumu datang.]
[Oke, Dion.]
[Panggilan berakhir.]
"Ciih! Apa lagi yang ingin kalian dapatkan dariku, Pengkhianat?" cicit Fathan, lantas dia menambah laju kecepatan mobilnya.
Setibanya di sana, tampaklah wajah dua orang yang sebenarnya tidak pernah ingin Fathan lihat lagi. Namun, rasa ingin membalas kekecewaan yang mereka berikan terhadap dirinya itu ada. Karena hal itulah, Fathan memaksakan rasa muaknya, demi melihat wajah penuh kekalahan dari mereka.
"Fathan, aku mohon maafkan aku, maafkan Fatih. Tolong jangan penjarakan kami. Kami sudah melakukan klarifikasi ke media sosial." Ellena langsung menghampiri Fathan sembari memegangi pergelangan tangan Fathan.
"Singkirkan tangan kotormu itu dariku, Ellena!" tandas Fathan.
"Fathan, aku mohon padamu sekali ini saja. Bagaimana pun kita berteman, bukan?" timbrung Fatih.
Fathan melempar senyum getir pada keduanya. "Teman? Adakah teman securang dan sepicik dirimu, Fatih? Kalau memang ada, kurasa akan jauh lebih baik jika tidak memiliki teman. Ketimbang harus memelihara duri di dalam daging. Itu sangat menyakitkan."
"Fathan, apa secepat itu juga kamu melupakan aku sebagai wanita yang pernah kamu cintai? Setidaknya, aku pernah membuat hidupmu berwarna 'kan. Tolong akhiri semua ini." Sekali lagi Ellena memohon dengan tidak tahu diri.
"Cihh! Ternyata selain gemar berkhianat, kalian juga sangat tidak tahu malu," lanjut Fathan.
Wajah Ellena memerah. Mungkin dia malu, atau justru sedang menahan rasa kesalnya. Entahlah, yang jelas Fathan membuat dirinya dan Fatih begitu terhina.
"Baru kali ini aku bertemu dengan manusia macam kalian. Aku harap ini yang terakhir dalam hidupku melihat wajah pengkhianat yang sangat keji, penyebar fitnah, dan tidak tahu diri!" Fathan bicara dengan nada pelan, kemudian meninggi sekaligus dalam tempo yang bersusulan.
Ellena dan Fatih tersentak hingga tampak ketakutan. "Lihat saja nanti, Fathan. Semoga Dion tidak mengkhianatimu." Fatih menggerundal di dalam hati.
Selama ini, walau pernikahan Fathan dan Azkira belum dikabarkan dan hanya diketahui segelintir orang saja, tapi rupanya Fatih mengetahuinya. Entah dari siapa, mungkin orang yang sama yang dia suruh untuk melakukan jebakan fitnah terhadap Chili Sauce Resto dan Azkira waktu itu.
"Apa salahku pada kalian? Kenapa kalian setega itu padaku, huh?" Mata Fathan kini memerah terbakar amarah yang kian berkobar.
Bibir Ellena hanya terkatup tak dapat bicara. Wanita itu tampaknya sudah pasrah saat Fathan membeberkan segala keburukan yang dilakukannya. Sedangkan Fatih, dia meremmat kepalan tangannya dan ingin melawan Fathan, akan tetapi keadaan membuatnya tidak berdaya. Mengingat, niatnya dan Ellena menemui Fathan adalah untuk meminta maaf dan memohon agar tak dipenjarakan.
__ADS_1
"Sudahlah, Fathan. Pengkhianat seperti mereka tidak pantas diajak bicara. Asal kau tahu saja, Ellena berselingkuh dengan Fatih sejak awal kalian berhubungan. Waktu itu dia hanya memanfaatkan uangmu saja, Fathan." Dion yang semula hanya diam menyaksikan pun akhirnya ikut bicara.
"Benarkah itu, Ellena?" Fathan membidikkan tatapan tajam pada Ellena. Fatih tampak geram, tapi lagi-lagi dia hanya bisa diam.
"Benarkah kau sudah berkhianat padaku sejak awal kita berhubungan?" bentak Fathan.
"Jawab, Ellena!" cecarnya lagi.
"I-iya, Fathan. Aku tidak pernah benar-benar cinta padamu," akui Ellena dengan gugup.
Kala itu, ingin rasanya Fathan menamparr wajah Ellena dengan keras, agar Wanita itu juga merasakan sakit yang Fathan rasakan, tapi itu tidak terjadi. "Syukurlah, Tuhan telah baik padaku, karena menyelamatkan hidupku dari orang sepertimu."
Jujur saja, Fathan sangat marah kala itu. Namun, dia tidak ingin menyesali perpisahannya dengan Ellena. Yang dia sesali adalah pertemuan mereka. Lagi pula, untuk saat ini hati Fathan telah terisi oleh Azkira.
Di rumah megah Fathan. Azkira sedang asyik memainkan laptop pemberian Revan di hari ulang tahunnya tempo hari. "Bang Revan, tumben sekali dia tidak mengirimkan pesan padaku? Ada apa dengannya?" gumam Azkira.
"Apa kuhubungi saja, ya?" pikir Azkira yang langsung mengambil ponsel dan melakukan panggilan pada kontak Revan.
Detik kemudian, Azkira mengerutkan dahinya. "Kenapa nomernya tidak aktif? Ada apa sebenarnya dengan Bang Revan? Tidak biasanya dia tidak bisa dihubungi."
"Semoga tidak terjadi apa-apa padanya," harap Azkira sambil berhenti melakukan panggilan teleponnya tersebut.
Mungkin semesta memberi isyarat pada hati yang saling menempatkan. Walaupun, bagi Azkira Revan tidak lebih dari seorang kakak. Namun, rasa sayang dan ketertautan batin di antara mereka tetap ada. Sebab itulah, firasat Azkira merasakan ada sesuatu yang tidak biasanya pada Revan. Dia belum tahu, kalau saat ini Revan telah memutuskan untuk pergi menjauh darinya.
Kembali pada Fathan, Dion, dan kedua pengkhianat yakni Ellena dan Fatih. Saat itu, Fathan akhirnya memilih membebaskan mereka, namun dengan satu syarat dan peringatan tegas. Setidaknya, Fathan cukup puas melihat ketidakberdayaan kedua orang tersebut.
"Kalau sampai berani mengusikku lagi, aku pastikan kalian akan membusuk di penjara!" peringati Fathan.
"Kalian dengar itu?" timbrung Dion yang tak kalah gemas pada keduanya.
Ellena dan Fatih mengangguk penuh kepasrahan. Ya, mereka telah kalah. Kini, mereka harus menerima konsekuensi yang diberikan Fathan pada mereka.
Bersambung ....
__ADS_1
Mohon dukungannya, ya. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Terima kasih. ❤🖤❤🖤❤🖤