
Tiga hari berlalu sejak saat itu. Fathan mulai mengontrol diri setiap kali bicara pada Azkira. Dia berusaha menanamkan rasa percayanya pada Sang Istri. Bahkan, Fathan tidak lagi marah ketika sekali waktu Azkira membahas mengenai Revan di hadapannya.
Fathan bertanya padanya. "Apa Bang Revan-mu itu begitu penting, Azki?"
"Tentu saja dia penting bagiku, Bang. Tapi perlu Abang tahu, kamu punya tempat sendiri di hatiku. Sebagai suami sah-ku. Yang padamu saja cintaku berhak aku labuhkan. Cinta sebagai seorang istri pada suaminya. Sementara rasa cintaku pada Bang Revan, tidaklah lebih dari cinta seorang adik pada kakaknya," papar Azkira.
Fathan tersenyum hangat. Matanya berbinar penuh harap. "Jadi, aku tidak boleh cemburu mulai sekarang?" katanya seraya mendekat pada Azkira.
"Boleh, Bang. Asal cemburu pada tempatnya, pada orang yang tepat. Bukan asal cemburu tanpa mau melihat-lihat dulu. Ketahuilah, aku juga senang dicemburui. Hanya saja, dalam batas yang wajar dan memang pantas." Azkira menatap Fathan penuh kelembutan.
"Maafkan aku yang selalu salah menilaimu, Azki," ucap Fathan seraya mencium tangan Azkira dengam sebuah hirupan yamg dalam.
"Lupakan, Bang. Bukankah sebentar lagi kita akan menjadi orang tua? Mungkin, kita bisa mulai belajar dewasa mulai saat ini," usul Azkira mencoba memberi pemahaman pada Fathan.
"Aku tidak menyangka akan seberuntung ini, Sayang," tutur Fathan penuh rasa syukur.
"Emm, Bang," seru Azkira.
"Hemm, ada apa, Sayang?"
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu saja boleh. Katakan padaku! Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Foto ini ...." Azkira menunjukkan foto dirinya sewaktu bayi bersama kakaknya yang hilang tersebut.
Fathan melihat pada foto itu. "Ya, aku tahu ... itu fotomu 'kan? Juga Kakakmu, benar?"
Azkira mengerutkan keningnya heran. "Jadi, Abang sudah tahu tentang foto ini?Abang juga tahu kalau ini fotoku?" katanya penasaran.
"Ya! Ayah selalu membicarakannya. Waktu Ibu masih hidup, Ayah juga membicarakannya pada Ibu. Kadang-kadang, aku sampai bosan mendengarnya," beber Fathan.
__ADS_1
"Apa? Abang bosan padaku?" ujar Azkira sembari mengerucutkan bibirnya.
Pria tampan itu tertawa tipis. "Bukan padamu, Sayang, tapi pada Ayah yang tidak pernah berhenti membicarakan hal yang sama. Asal kamu tahu saja, aku juga datang ke pemakaman mendiang orang tuamu bersama Ayah dan Almarhumah Ibu."
"Jadi, selama ini Abang sudah tahu aku juga?"
"Aku tahu semuanya. Dulu saat aku datang ke pemakaman, aku melihatmu menangis. Dalam hatiku berkata 'dasar anak cengeng'. Lalu, Tuhan membuatku berada di posisi yang sama sepertimu belasan tahun kemudian, tepatnya saat aku kehilangan Ibuku. Sejak saat itu, aku tahu bagimana rasanya menjadi kamu."
"Tapi, kenapa Abang bersikap asing padaku, kalau memang Abang sudah mengetahuiku sebelumnya?"
"Aku gengsi mengakui bahwa aku sudah mengagumimu sejak dulu, Azki. Kamu pikir, kenapa aku begitu marah saat melihat fotomu dalam kasus yang terjadi di restoran malam itu?"
"Memangnya kenapa, Bang?"
"Aku cemburu, Azkira. Aku merasa terbakar api cemburu, tapi aku bingung bagaimana mengatakannya padamu, karena saat itu kita bukan siapa-siapa."
"Benarkah? Tapi 'kan pasti Abang pernah punya hubungan dengan orang lain," timpal Azkira.
"Ya, aku kira aku cinta pada wanita pengkhianat itu. Ternyata tidak juga."
"Karena dia memilih menikah dengan sahabatku sendiri, Azki. Dan asal kamu tahu, merekalah dalang di balik semua yang terjadi padamu dan Chili Sauce Resto."
Azkira semakin bingung. "Maksudnya bagaimana, Bang?"
"Huuuft!" Fathan menghela napas panjang dan mulai bercerita.
Flas back on
Namanya Ellena, dia menjalin hubungan denganku, tapi tidak lama kemudian, ternyata dia juga menerima Fatih, sahabatku sendiri sebagai kekasihnya. Fatih sudah tahu hubunganku dengan Ellena sebelumnya, tapi dia tidak perduli. Suatu ketika, Fatih pergi ke sebuah club malam, di sana dia banyak minum dan mabuk berat. Lalu, ibunya meneleponku untuk menanyakan keberadaannya. Aku bersama Dion menyusulnya ke sana dan kuberi dia pelajaran dengan menghajjarnya. Ternyata dia dendam padaku. Buntut dari dendam itu adalah keinginannya untuk menghancurkanku semakin menjadi-jadi. Pertama, mungkin dia cemburu karena bagaimana pun Ellena sering bersamaku. Yang kedua, dia tidak terima saat kuberi pelajaran di club malam itu. Padahal, aku hanya ingin dia sadar dan berhenti membuat ibunya khawatir. Aku menyayangi dia sebagai sahabatnya. Yang ketiga, Fatih juga memperdaya Ellena, dia mengajaknya bersekongkol untuk menghancurkan usaha yang aku miliki. Dan tanpa disengaja, kamu turut mereka tumbalkan dalam aksi bejadnya itu. Setelah itu mereka bertunangan, dan menikah sepuluh hari kemudian.
Flash back off
__ADS_1
Azkira tidak pernah menyangka ternyata begitu banyak misteri di balik perilaku Fathan padanya. "Kalau memang Abang sudah mengagumiku sejak dulu, kenapa Abang menolak saat dijodohkan denganku?"
"Aku tidak benar-benar menolak, Azki. Kalau aku benar-benar menolak, pernikahan kita tidak akan pernah terjadi."
"Lalu, kenapa Abang sering sekali menyakitiku?"
"Rasa cemburuku padamu tidak masuk akal, Azki. Walau akhirnya aku tahu, bahwa kamu hanyalah korban dari fitnah yang dilakukan oleh Ellena dan Fatih semata. Namun, aku masih belum bisa terima melihatmu mesra dengan pria lain dalam foto itu."
"Abang jahat!" Azkira memalingkan wajahnya dari Fathan.
"Maafkan aku, Sayang. Kamu juga pernah bertanya 'kan mengapa aku mau melakukannya denganmu, padahal aku pernah berikrar tidak akan sudi menyentuhmu?"
"Ya! Itu kenapa lagi? Apa karena aku jelek?" ketus Azkira.
"Tidak, Sayang. Lagi-lagi aku menghukummu dalam diam, karena kecemburuanku padamu belum juga habis."
"Lantas, bagaimana dengan mantanmu itu?"
"Dikhianati olehnya aku memang marah. Tapi aku tidak sakit hati separah rasa cemburu dan sakit hatiku saat melihatmu dekat dengan pria lain. Dan aku baru menyadari, ternyata memang dirimulah yang aku cintai sejak dulu. Bahkan, Ayah dan Ibu memang sudah menggadang-gadang kita untuk dijodohkan saja. Lalu, aku mulai gengsi. Kemudian, Ayah memberiku tantangan kalau memang aku menolak dijodohkan."
"Oh, ya? Tantangan seperti apa?"
"Mencari calon istri sendiri. Dan begitu aku gagal, Ayah menjadi pemenangnya. Dia bilang 'sudah Ayah katakan Fathan, hanya Azkira saja yang pantas mendampingimu' sambil tertawa penuh kepuasan."
"Dasar kejam! Kamu penjahat yang sebenarnya, Bang!" tandas Azkira sembari memukkuli dada bidang Fathan.
"Ya, Sayang. Aku memang jahat ketika mulai jatuh cinta. Kamu hanya milikku, Azki." Fathan menahan pukullan Azkira dan mulai melummat bibirnya dengan lembut.
Aku rasa, kalian sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Seperti sebelumnya, Fathan dan Azkira melakukannya lagi. Fathan tampak seperti srigala yang lapar. Dia melahap Azkira tanpa ampun dan lupa kalau Azkira kini tengah mengandung. Dia baru memelankan gerakannya setelah Azkira mengingatkannya.
Setelah semua itu, Azkira kembali membahas fotonya bersama kakaknya yang hilang itu. Namun kali ini, dia menyampaikan keinginan untuk mencari kakaknya tersebut pada Fathan. Dan Fathan pun menyetujuinya dengan mendukung penuh niat baik Azkira.
__ADS_1
Bersambung ....
Guys, mungkin beberapa Episode lagi karya ini akan aku tamatkan. Tetap dukung othor, ya. Terima kasih. ❤🖤❤🖤