Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 50 Curiga


__ADS_3

Keesokan harinya, Azkira sudah dibawa pulang. Kali ini, Azkira minta dibawa pulang ke rumah Sinta. Dia ingin di sana, karena di rumah Fathan tidak ada yang menemani. Bi Inah sibuk dengan pekerjaannya sendiri.


Walau hati Sinta rapuh melihat keadaan Azkira saat itu. Namun, dia tetap menghadirkan senyuman. Berusaha untuk menguatkan Azkira.


Fathan pun membiarkan Azkira di kamarnya ditemani oleh Sang Nenek. Sementara itu, dia mengobrol di ruang keluarga bersama Revan. Untuk pertama kalinya, mereka terlihat sangat akur.


"Fathan, kamu yakin Azkira mengalami pendarahan karena jatuh sendiri? Bukan karena ulah seseorang yang sengaja berbuat jahat padanya?"


"Aku belum menanyai Azkira perihal itu, Bang. Semoga saja dia ingat kejadian sebelum dia jatuh dan tidak sadarkan diri."


"Aku harap, kamu bisa lebih menjaga dan bertanggungjawab pada Azki. Sudah terlalu banyak kesusahan yang dia alami dalam hidupnya. Aku tidak bisa menerima lagi kalau dia harus terus-terusan menderita," tandas Revan.


"Apa Abang sedang meragukanku?"


"Kamu tidak perlu melontarkan kalimat pertanyaan itu. Buktikan saja kalau kamu mampu melakukannya." Revan tersenyum pada Fathan.


Fathan mengangguk setuju. "Oke, Bang," jawabnya singkat.


"Aku mau pergi dulu. Kamu istirahatlah sambil mengawasi Azkira. Kalau ingin kopi, mungkin kamu bisa membuatnya sendiri di dapur. Jangan biarkan Nenek kerepotan, hum," sambung Revan seraya menepuk pelan bahu Fathan. Fathan tersenyum dan mengangguk sekali lagi.


Revan pergi dengan sepeda motornya. Kalian tahu dia pergi ke mana? Benar, dia akan menemui Dila lagi. Hari ini kebetulan Dila masuk kerja. Revan mengetahuinya karena mereka kini aktif saling berbalas pesan.


Sesampainya di apotek tempat Dila bekerja. Fathan langsung saja masuk ke sana. Dila yang melihat Fathan pun tampak terkejut dan mulai tersipu malu. Pasalnya, Dila tidak tahu kalau Revan akan datang menemuinya ke tempat kerja. Tadi pagi, Revan hanya menanyakan apakah Dila bekerja atau tidak.


"Bang Revan! Untuk apa ke sini?" tanya Dila dengan sedikit berbisik.


Revan tersenyum penuh arti. "Tentu saja aku ingin menemui calon istriku, apa tidak boleh?"


Sontak saja Dila menutup mulut Revan dengan tangannya. Namun, bukannya marah atau tersinggung, Revan justru semakin tertarik untuk menggoda Dila. Dilepaskannya perlahan tangan Dila dari mulutnya, lalu dia cium tangan itu dengan penuh perasaan.

__ADS_1


"Duuuhh! Mereka mesra sekali, ya."


"Iya, mereka sangat romantis," komentar beberapa orang yang sedang mengantri untuk membeli obat. Mereka jadi senyum-senyum sendiri melihat Revan dan Dila.


"Cepat ke luar!" usir Dila yang wajahnya sudah memerah padam.


"Kenapa, Sayang?" kata Revan seakan sengaja membuat Dila kesal.


"Aku sedang bekerja, Bang. Kamu mau aku dipecat gara-gara ulahmu?" tandas Dila.


Revan mengerlingkan sebelah manik matanya genit. "Aku tunggu di depan!" tukas Revan seraya pergi dari sana.


"Ya ampun, Pria itu!" Dila menghela napas panjang.


****


"Iya, Bang. Aku sudah lebih baik sekarang."


Fathan tersenyum, lantas mengecup kening Azkira. "Aku berdoa, semoga kamu lekas sehat, Sayang."


"Aamiin. Terima kasih, Bang," ucap Azkira seraya menyimpulkan senyum dari bibir pucatnya.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" imbuh Fathan.


"Tentang apa, Bang?"


"Tentang bagaimana kamu bisa jatuh? Rasanya aku ragu kalau kamu jatuh sendiri. Apa ada yang menyebabkanmu jatuh?"


Azkira memejamkan matanya. Mengingat peristiwa kemarin, saat Nina mendorong dirinya dengan keras, hingga terjerembab ke lantai dan mengalami pendarahan. Namun, dia tidak kuasa untuk menceritakannya pada Fathan. Dia hanya menangis dalam diam dengan bibir yang mengatup menahan suara tangisnya.

__ADS_1


"Sayang ...." Fathan menatap penuh tanya.


Azkira menggelengkan kepalanya pelan. "Aku jatuh sendiri, Bang. Mungkin lantai pantry sedikit licin waktu itu," kilah Azkira.


"Tidak, Azki. Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Kalau kamu tidak mau menceritakannya, tak apa. Aku akan mencaritahu jawabannya sendiri," batin Fathan.


"Ya sudah. Yang penting, kamu cepat sehat, oke Cantik!"


"Iya, Bang." Azkira membentangkan tangan meminta pelukan. Fathan pun memberikan pelukan ternyamannya pada Sang Pemilik hati-nya itu.


"Tidurlah, aku akan membantu Nenek di dapur," titah Fathan. Azkira pun mengangguk patuh.


Sampai di luar kamar, Fathan tidak benar-benar pergi ke dapur. Akan tetapi, dia menghubungi Dion. Dia masih penasaran pada apa yang menyebabkan jatuhnya Azkira.


[Halo, Dion,] sapa Fathan saat Dion menerima panggilan teleponnya dari ujung sana.


[Ada apa, Fathan. Bagaimana keadaan Azki?]


[Dia sudah lebih baik, tapi masih dalam masa pemulihan. Dion, aku ingin kamu mencari tahu, siapa yang menyebabkan Azkira terjatuh saat itu. Aku tidak yakin Azkira jatuh dengan sendirinya. Bukankah lantai pantry sangat aman dan tidak licin?] duga Fathan.


[Oke, akan aku cari tahu. Nanti aku kabari lagi,] putus Dion.


[Baik ....] Panggilan berakhir.


Sungguh, kalau sampai Fathan menemukan bukti tentang semua itu. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada orang yang sudah berani membunuh calon bayinya dan menyakiti Azkira. Fathan sedang berada dalam kecurigaan dan balutan murka-nya saat ini.


Bersambung ....


Mohon dukungannya, ya. Terima kasih. 🥰

__ADS_1


__ADS_2