
Satu minggu berselang, saat keadaan Azkira sudah pulih. Dia membuat sebuah permintaan pada Fathan. Permintaannya tidaklah aneh atau berlebihan. Hanya ingin diajak pergi mengunjungi Chili Sauce Resto. Namun, hal itu cukup membuat Fathan mengerutkan dahinya. Sebab, masih segar dalam ingatan Fathan, kejadian yang merenggut calon bayi mereka di restorannya tersebut.
"Bang, kenapa diam saja?" protes Azkira mendapati Fathan yang belum memberikan persetujuannya.
"Ough ... tidak apa-apa, Sayang. Baiklah, ayo kita pergi," gagap Pria itu.
Mereka pun pergi ke sana. Hari ini Azkira tampak berbeda. Dia merias wajahnya menggunakan make up tipis. Hal itu membuat aura kecantikannya semakin memancar.
"Jadi, apa yang ingin kamu lakukan di sana, Nyonya Fathan?" tanya Pemilik alis tebal itu sembari mencium tangan Azkira.
"Kita lihat saja nanti. Aku rasa, sudah saatnya aku menunjukkan sisi tega-ku," jawab Azkira dengan sorot mata yang membiaskan sejuta misteri.
"Maksudnya?" Fathan kaget dan bingung mendengar jawaban istrinya tersebut.
"Tidak apa-apa, Bang." Azkira merubah air mukanya kembali seperti biasa.
"Nah, sekarang kita sudah sampai," ucap Fathan. Lantas, dengan segera dia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Azkira.
Kini, mereka sudah berada di dalam restoran. Mata Azkira mengedar ke setiap sudut ruangan mencari keberadaan seseorang. Hingga tampaklah sosok yang dia cari-cari.
"Abang sayang, ayo antarkan aku ke belakang." Azkira menautkan tangannya pada Fathan dengan erat.
"Ada apa dengan istriku ini? Kenapa dia tiba-tiba sangat manis padaku?" batin Fathan.
__ADS_1
Fathan pun menurut saja saat Azkira membimbing tangannya ke bagian kitchen. Walupun, dia masih sangat kebingungan dengan sikap Azkira tersebut. Sesampainya di di sana, Azkira menyapa semua orang.
"Halo! Teman-teman, bagaimana kabar kalian?" lontarnya.
Mereka yang belum tahu kalau Azkira adalah istri Fathan pun tampak terkejut. Namun, karena segan terhadap Fathan, akhirnya para karyawan restoran itu menjawab juga. "Halo, kami baik, Azki," jawab mereka serempak. Sebelumnya, mereka tentu sudah mengenali Azkira, tapi sebagai karyawan seperti mereka.
Azkira mengangguk seraya tersenyum. Lantas, matanya memicing pada seseorang yang tidak lain adalah Nina. "Kamu apa kabar, Nina?"
"B-baik," jawab Nina sangat gugup.
"Bersyukurlah, karena kebusukanmu belum tercium. Tapi, aku pastikan sesegera mungkin semua orang akan mengetahuinya!" tandas Azkira dengan tatapan tajam.
Fathan semakin heran pada gelagat aneh Azkira. "Sayang, ada apa denganmu? Kenapa bicaramu sangat aneh?" katanya.
"Diamlah saja, Abang sayang. Nikmati pertunjukannya!" tukas Azkira menyiratkan teka teki. Sementara itu, Nina tampak gelisah tak menentu.
Nina pura-pura sibuk dan berusaha untuk menghindar dari Azkira. Namun, Azkira berhasil meraih pergelangan tangannya, lalu memegangnya erat-erat. Dengan sedikit keras, Istri Fathan itu menarik Nina hingga dia berdiri tepat di hadapannya.
"Azki sayang, ada apa sebenarnya?" kata Fathan yang sejak tadi dibuat penasaran oleh Azkira. Azkira hanya menoleh sekilas pada Fathan, selekas itu dia mlihat ke wajah Nina dengan tatapan membunuh.
"Dengarkan ini! Entah apa salahku padamu, Nina. Tapi, aku menyadari sejak awal aku ada di sini, kamu selalu menunjukkan rasa tidak sukamu padaku. Kamu kerap melontarkan kalimat buruk terhadapku, menghinaku, mengejekku, bahkan mencibirku sesuka hatimu. Dan semua itu tidak pernah aku pikirkan. Aku tetap menganggapmu sebagai temanku, partner kerjaku," papar Azkira dengan nada berapi-api.
Semua orang memusatkan perhatiannya pada Azkira. Mereka turut menyimak perkataan Azkira yang begitu nyaring, memenuhi ruangan bagian kitchen tersebut. Kemarahan Azkira itu seakan sampai dengan sempurna pada setiap orang yang mendengar kata demi kata yang diutarakannya.
__ADS_1
"Tapi, kali ini kamu sangat keterlaluan, Nina. Kamu telah membunuh bayi dalam kandunganku. Kamu mendorongku dengan sengaja sampai aku terjerembab dengan keras ke lantai. Manusia macam apa dirimu itu, Nina?" jerit Azkira semakin menjadi-jadi.
Fathan terhenyak, matanya terbelalak, jantungnya seakan berhenti berdetak. Apa yang diungkapkan Azkira itu, sungguh membuat Fathan syok tiada terkira. Bagaimana mungkin, pelaku pembunuhan terhadap janin yang dikandung istrinya itu, ternyata karyawannya sendiri. Dan dia masih leluasa bekerja tanpa rasa bersalah usai kejadian itu.
"M-maafkan aku, Azki," ucap Nina dengan tubuh gemetar.
Azkira hanya diam dengan air mata yang bercucuran. Sedangkan, Fathan menggemeratakkan giginya geram. Ingin sekali rasanya dia mematahkan tangan Nina saat itu juga.
"Dion!" teriak Fathan dengan kencang.
Dion yang kala itu sedang berdiri di station cashier, sontak berlari menuju sumber suara. "Fathan, ada apa ini?" tanyanya cemas.
"Bawa orang ini ke pihak berwajib!" tandas Fathan.
"Tapi, masalahnya apa, Fathan?" imbuh Dion ingin tahu.
"Dia yang tempo hari telah mendorong Azkira dengan sengaja, sampai istriku keguguran. Aku tidak mau tahu, pokoknya dia harus mendapat hukuman atas perbuatnnya!" ucap Fathan penuh penekanan.
Tanpa menunggu lagi, Dion pun langsung membawa Nina yang saat itu terlihat sangat ketakutan. Gadis itu terus bicara memohon dimaafkan. Namun, orang seperti dia perlu diberi efek jera agar tidak terus berlaku semena-mena. Terlebih, jika tindakannya itu sampai membahayakan nyawa orang lain. Dari situ juga semua karyawan Chili Sauce Resto mengetahui, bahwa Azkira adalah istri dari seorang Owner Chili Sauce Resto.
"Sayang, ayo kita pulang," ajak Fathan sembari menatap Azkira penuh kelembutan dan raut sedih di wajahnya.
"Iya, Bang." Azkira menyambut uluran tangan Fathan. Dan mereka pun pulang.
__ADS_1
Bersambung ....
Mohon dukungannya, ya. Terima kasih. ❤🖤❤🖤