
Hari berlalu bulan berganti. Dan saat ini tepat dua bulan sudah sejak hari dikenalkannya Dila pada keluarga Revan. Hari ini juga bertepatan dengan hari bahagia yang paling dinanti itu. Ya, mereka menggelar acara pernikahan.
SAH!
Suara itu riuh terdengar dari beberapa saksi dan orang yang dihadirkan di sana. Di sana juga ada kedua orang tua Dila yakni Usman dan Hilda. Mereka turut larut dalam kebahagiaan untuk anak dan menantunya, Revan.
Azkira dan Fathan menghampiri, lalu memeluk kedua mempelai. Memberi ucapan selamat dengan segenap rasa haru dan senang. Tak lupa mereka juga memberikan hadiah yang sudah Fathan siapkan sejak lama itu.
"Apa ini?" tanya Revan seraya mengguncang kotak kado yang diberikan Fathan padanya. Sontak saja semua orang yang melihat tingkah konyol Revan pun tertawa.
"Dari pada penasaran, lebih baik Abang buka saja sekarang," tandas Azkira sambil terus menggenggam tangan Dila yang sudah resmi menjadi kakak iparnya.
"Memangnya boleh seperti itu?" tanya Revan sambil melihat ke arah Fathan dengan tatapan mengharap persetujuan.
"Kenapa tidak, Bang. Lakukan saja sekarang," kata Fathan sambil tergelitik tawa.
Tanpa menunggu lagi, Revan langsung saja membuka kotak kado tersebut. "Ha? Apa ini? Sebuah kunci?" gumamnya sambil menatap Fathan dan Azkira secara bergantian.
"Iya, Bang. Itu kunci sungguhan, bukan kunci mainan." Fathan merasa diragukan oleh Revan.
"Apa maksud semua ini, Fathan? Kunci dan sertifikat rumah? Tidakkah ini berlebihan?" imbuh Revan yang masih tercengang.
"Tidak ada yang berlebihan, Bang. Itu memang sudah lama aku persiapkan. Benar begitu 'kan, Sayang?" jawab Fathan sambil meminta di-iya-kan oleh Azkira.
"Benar, Bang Fathan sudah menyiapkan itu sejak lama. Itu adalah hadiah untuk Abang yang paling aku sayangi." Azkira bicara dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih pada kalian berdua. Tapi, menurutku ini berlebihan. Aku tidak bisa menerima ini." Revan sungguh tidak enak hati.
"Abang! Diterima atau kuculik istrimu nanti!" kata Azkira mengancam. "Kalau Abang menolak, aku tidak akan mau bicara lagi padamu," imbuhnya sembari bersedekap.
"Bang, adikmu itu tidak pernah main-main kalau sudah merajuk. Aku saja dibuat kewalahan membujuknya," timbrung Fathan mengobarkan sesuatu di dalam dada Revan. Ya, itu adalah sebuah kecemasan. dia tidak akan mau berseteru dengan Azkira.
"B-baiklah, aku akan menerimanya." Revan gugup tiada terkira.
"Nah, begitu 'kan lebih manis," ujar Azkira sambil tersenyum penuh kemenangan.
Pesta pernikahan Revan dan Dila terasa khidmat meski terbilang cukup sederhana. Semua anggota keluarga merasa bahagia, tak terkecuali Gunawan dan Sinta. Meski, Nurhayati telah pergi selamanya sebelum hari bahagia itu tiba, tapi dia tidak pernah lekang dari ingatan dan hati Revan juga Gunawan. Bahkan, Sinta pun mengakui bahwa Nurhayati adalah ibu terbaik setelah mendiang anaknya, yang mampu mengasuh dan membesarkan Revan menjadi pribadi yang baik.
****
"Sayang, pernikahan kita dulu tidaklah menyenangkan. Apa kamu tidak ingin menggelar pesta untuk resepsi pernikahan kita?" tanya Fathan yang berbaring di atas kasur menghadap Azkira.
__ADS_1
"Hemmm ... pesta pernikahan? Tidak ah, Bang. Membayangkannya saja aku sudah pusing. Aku tidak ingin dipajang di pelaminan berlama-lama. Asal Abang tahu saja, tadi Dila juga merasa pegal. Dia membisiki aku," jawab Azkira.
"Kenapa kamu berbeda, Azki. Tidak seperti kebanyakan wanita lain yang justru mendambakan pesta pernikahan yang meriah."
"Semua orang punya standard bahagianya masing-masing, Bang. Aku pribadi sudah cukup bahagia dengan menerima perubahan sikapmu saja."
"Apa kamu akan membahas keburukanku di masa lalu?"
"Hehehe! Tidak juga, Bang."
"Tapi, aku merasa kamu begitu."
"Iih! Kenapa Abang jadi sensitif sekali. Apa Abang sedang hamil?" cetus Azkira yang merasa kesal. Sementara itu, Fathan berhasil tertawa dibuatnya.
Namun, tawa itu perlahan hilang dan berganti dengan kecemasan. Ya, Fathan mencemaskan Azkira yang tiba-tiba berlari ke wastafel sembari muntah-muntah. Tak tinggal diam, Pria berparas rupawan itu membantu memijat pelan tengkuk Azkira.
"Sayang, kamu kenapa? Apa kamu tersedak biji?" lontar Fathan usai membantunya.
"Abaaang! Apa kalau aku mati kamu tetap akan bercanda?" rengek Azkira dengan perasaan ingin mencubit perut Fathan.
"Jangan berkata seperti itu, Azki!Aku tidak suka," tandas Fathan.
"Ya sudah. Baiklah, aku minta maaf."
"Tidak mau! Aku bosan memaafkanmu." Azkira memalingkan wajahnya ketus.
"Ayolah, jangan buat aku tersiksa, Sayang," rayu Fathan memohon.
"Kepalaku pusing, Bang. Bisakah kamu mengerti keadaanku?"
"Iya, Sayang, aku mengerti." Fathan memeluk Azkira dengan penuh kelembutan.
"Eemmph! Abang bau sekali. Aku tidak tahan," komentar Azkira dengan ekspresi wajah hendak muntah lagi.
"Yang benar saja," decak Fathan seraya mencium aroma tubuhnya sendiri. "Tidak bau, ah. Bahkan, aku sangat wangi dan segar," lanjutnya menyangkal tuduhan Azkira.
"Entahlah! Tapi, aku merasa mual mencium aroma parfum yang melekat di tubuhmu itu." Pemilik mata coklat itu terus bersikukuh.
Selekas kemudian, kondisi fisik Azkira menjadi sangat lemah dan tidak bergairah. "Abang, aku ingin manisan mangga," pintanya.
"Ini sudah pukul 10.00 malam, Sayang."
__ADS_1
"Tapi bayi di dalam perutku menginginkannya, Bang," rajuk Azkira dengan nada manja.
"Bayi? Sayang ...." Sontak saja Fathan terkejut dengan pernyataan Azkira itu.
"Iya, Bang. Sudah lima minggu," jelas Azkira.
"Azki ...," lirih Fathan. "Bagaiman bisa kamu merahasiakan ini dariku?" imbuhnya seraya menarik tubuh Azkira merapat kepadanya.
"Abang! Sudah aku bilang aku tidak suka bau parfum," protes Azkira.
"Baiklah, aku ganti baju dulu." Gegas Fathan.
"Bersihkan sekalian badanmu itu, Bang. Aroma parfum itu sudah menempel di kulitmu!" usul Azkira.
"Huuuft! Baiklah, Nyonya Fathan. Aku akan mandi untukmu," kata Fathan sambil menghela napas kasar. Dia mengalah dan mandi walaupun hari sudah sangat malam.
Beberapa menit kemudian, Fathan sudah rapi dengan baju baru dan tanpa parfum yang ia pakai. "Apa aku sudah boleh mendekat?" tanyanya. Azkira mengangguk.
"Jadi, apa ini sebuah kejutan, Sayang?" Pria itu tak memberi celah pada Azkira untuk menjawab pertanyaannya dan malah sibuk memaggut bibirnya dengan buas.
Azkira mendorong pelan tubuh Fathan. "Abang, tolong mengertilah aku sedang tidak bisa dibegitukan," protesnya lagi, setelah Fathan melepaskan ciumannya.
"Apa bayi di dalam kandungan suka menghukum ayahnya? Sayang, aku akan tersiksa kalau begini caranya," rengek Fathan bagai seorang balita.
"Ya ampun, Bang. Jadi, apakah Abang tidak senang dengan kehadirannya?" kata Azkira dengan nada kesal.
"Apa yang kamu katakan, Azki? Tentu saja aku senang, Sayang. Bukankah ini kabar paling baik, hum? Aku sangat bahagia." Fathan memeluki kaki Azkira yang dalam posisi berselonjor.
"Syukurlah, Bang," ucap Azkira lega.
"Apakah itu tandanya benihku unggul?" cetus Fathan.
"Tentu saja karena lahanku yang subur!" sangkal Azkira. "Abang, bisakah untuk tidak mengatakan hal-hal konyol sepert itu?" sambungnya lagi.
"Hehehe! Oke, Permaisuriku. Aku tidak akan bercanda lagi."
"Kalau begitu cepat belikan aku manisan mangga." Azkira membuat Fathan kewalahan malam itu, karena masa ngidamnya yang lumayan gencar.
Bersambung ....
Yang mau kasih ritik pedes, saran merobohkan, dan segala hal yan othor sukai ... boleh banget, ya. Menglope. ❤❤❤🖤🖤🖤
__ADS_1