Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 36 Cemburu


__ADS_3

Satu minggu kemdian ....


Lembayung senja meliputi langit di penghujung petang kala itu. Keindahannya tidak perlu diperdebatkan lagi. Segala tentang senja disepakati seluruh dunia bahwa hadirnya memang selalu indah tanpa sangkalan.


Seperti cinta Revan pada Azkira yang selalu datang lagi dan lagi. Saat itu, Revan tengah menikmati secangkir kopi di tempat tinggalnya yang baru. Benar saja, kepergiannya itu tidak serta merta bisa membuat rasa cintanya pada Azkira berkurang, tapi saat ini yang dia rasakan justru kerinduan yang dalam dan tak terlukiskan.


"Aku menyesap secangkir kopi yang sudah kutambahkan gula ke dalamnya. Aku kira rasa pahitnya akan bekurang dan bepadu sepadan dengan rasa gula itu. Tapi ternyata, lidahku tetap menyecap pahit bahkan getir. Apakah ada yang salah dengan kopi, atau gulanya? Tidak! Kesalahan itu ada padaku, pada rasaku yang ternyata belum juga bisa berdamai dengan patah hati yang kualami, karena mencintaimu."


Revan melenguh, meresapi sakitnya cinta sendiri. Meski begitu, dia tetap saja meminum kopinya seteguk demi seteguk. "Aku kira jarak yang jauh ini akan membuatku mudah melupakanmu. Namun, ternyata aku justru semakin dekat pada rindu dan juga bayangan tentangmu. Cinta macam apa yang aku miliki untukmu ini, Azki?" gumam Revan.


Di tempat berbeda. Fathan tengah berdiri memunggungi Azkira, di depan jendela kamarnya. "Sudah aku katakan padamu, Azki. Aku tidak suka melihatmu menyimpan sesuatu atau apa saja yang berkaitan dengan pria lain!" tandas Fathan sembari melihat ke luar jendela.


"Tapi Bang Revan bukan orang lain, Bang. Dia kakakku!" sangkal Azkira.


"Kakak katamu? Kakak mana yang menyimpan binar cinta di matanya pada adiknya sendiri seperti pada seorang kekasih? Aku ini laki-laki, Azki. Aku bisa memahami tatapan cinta Revan padamu. Cinta yang bukan sekedar cinta seorang kakak pada adiknya!" Fathan menajamkan tatapan matanya pada Azkira.


Azkira menangis tersedu-sedu. "Kenapa kamu selalu menyudutkanku, Bang? Laptop ini Bang Revan beli dari has-"


"Aku bisa membelikanmu sepuluh laptop seperti itu, bahkan yang jauh lebih baik dari itu sekali pun," bentak Fathan menyelah ucapan Azkira.


Hati Azkira sakit bagai dikoyak hingga remuk. "Aku tahu, Bang. Aku tahu, mungkin kamu bisa membeli satu counter laptop sekali pun. Tapi kamu juga perlu tahu, bahwa ada yang tidak bisa kamu beli dengan uangmu yang banyak itu. Tidak akan sanggup kamu tukar dengan segala kemegahan yang kamu punyai. Kamu tahu itu apa? Sebuah pengorbanan, perjuangan yang panjang dan juga ketulusan. Bang Revan menyisihkan uangnya selama satu tahun hanya untuk membelikanku laptop, tapi sekarang kamu sudah menghancurkannya dalam sekejap. Aku tidak bisa memaafkan hal itu, Bang. Camkan itu!" Azkira diamuk rasa marah sekaligus rasa sedih dan sakit hatinya.


Fathan meremmas kuat rambutnya frustasi. "Aku cemburu, Azki. Megertilah aku cemburu!" ucapnya dengan suara berat.


"Itu bukan cemburu, Bang. Itu arogan! Kamu egois," jawab Azkira.


Perdebatan itu kian memanas di antara keduanya. Fathan terus dengan keegoisan dan cemburu buta-nya. Sedangkan Azkira, kembali dengan perasaan yang hancur dan luka hati yang lebih perih dari sebelumnya.


"Aku tidak bisa tinggal lebih lama dengan orang yang tidak pernah mau meluangkan waktunya untuk menghargai dan memahami aku sedikit saja." Azkira bergegas hendak meninggalkan kamar.


"Mau ke mana kamu, Azki?" teriak Fathan dengan suara berat dan parau.

__ADS_1


"Aku mau pergi. Rumah ini bukan tempat yang aman untuk orang kecil sepertiku."


"Tidak boleh, Azki. Aku tidak akan mengizinkanmu." Tanpa terasa Fathan menyeret dan mencengkram lengan Azkira dengan kuat.


"Arrrgghh! Sakiiiiiit!" jerit Azkira.


"Kamu tidak boleh pergi. Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan rumah ini, Azkira."


"Lepaskan! Kamu menyakitiku."


PLAKKK!


Fathan hilang kendali. Dia telah melayangkan tamparran keras ke wajah Azkira hingga bekas tangannya tercetak jelas di pipinya. Namun, selekas itu Fathan menjadi panik sendiri melihat keadaan Azkira yang menyedihkan.


Azkira merasa semuanya gelap dan perlahan kesadarannya hilang. Dia pingsan dan jatuh ke lantai. Rasa sakit yang Fathan berikan lewat tamparran yang dilakukan dalam keadaan marah juga cemburu itu, membuat Azkira tidak berdaya.


"Azki! Sayang! Bangun, Azki." Fathan mengguncang pelan tubuh Istrinya itu.


"Tidak! Aku sudah menyakitimu."


Bi Inah yang mendengar teriakan melengking dari kamar Fathan pun segera lari menghampiri. "Ya ampun! Non Azki kenapa, Den?" tanya Bi Inah tak kalah panik.


"Cepat panggil dokter, Bi. Dia pingsan," jelas Fathan sambil mengangkat dan merebahkan tubuh Azkira di atas kasur.


"B-baik, Den," gagap Bi Inah yang langsung menuruti titah Fathan.


Beberapa waktu berselang. Seorang dokter pribadi keluarga Fatha pun datang untuk memeriksa keadaan Azkira. Sementara itu, Fathan terlihat sangat khawatir. Bahkan, mata Fathan mengembun dupenuhi genangan air mata di ceruk dalam netranya.


"Bagaimana keadaan Istri saya, Dok?" tanya Fathan harap-harap cemas.


"Tidak perlu khawatir, Pak Fathan. Istri Anda tampaknya mengalami stres. Apa suasana hatinya mudah berubah belakangan ini?" kata dokrer yang diketahui bernama Rico tersebut.

__ADS_1


Fathan mengernyitkan dahinya. "Maksudnya bagaimana, Dok?


"Perubahan hormon pada wanita hamil berpengaruh besar terhadap kondisi emosionalnya. Itu sudah biasa terjadi dan gejalanya berbeda pada setiap orang."


"Maksudnya Istri saya hamil, Dok?" tanya Fathan memastikan.


"Betul, Pak Fathan. Usia kandungannya sekitar tiga belas hari. Sebaiknya, jangan biarkan dia berpikir berat agar tingkat stresnya berkurang. Saya akan resepkan beberapa obat dan vitamin untuk membantu daya tahan tubuhnya. Pastikan asupan makannya cukup, perbanyak istirahat, dan usahakan menerapkan pola makan sehat."


"Baik, Dok. Terima kasih banyak."


"Sama-sama, Pak Fathan. Dan selamat atas kehamilan Istrinya."


Fathan mengangguk sembari tersenyum lebar. Dia tidak menyangka akan mendapat kabar bahagia di tengah perseteruan yang terjadi di antara dirinya dan Azkira. Ini benar-benar kabar yang sangat membahagiakan bagi Fathan.


"Kalau begitu saya permisi."


"Silakan, dr. Rico. Sekali lagi terima kasih banyak," ucap Fathan yang dijawab dengan anggukan kepala dan simpulan senyum oleh dr. Rico.


"Waaah, selamat ya, Den Fathan. Bi Inah turut bahagia," ucap Bi inah memberikan selamat, setelah sebelumnya mengantarkan dr. Rico sampai ke depan pintu.


"Terima kasih, Bi Inah."


Kini hanya ada Azkira dan Fathan saja di kamar itu. Fathan memandangi wajah Wanita itu dengan lekat sambil berurai air mata. "Maafkan aku, Sayang. Aku tidak tahu kalau kamu sedang mengandung calon anak kita," tuturnya. Sementara itu, Azkira belum juga siuman.


Andai Fathan bisa mengendalikan emosinya sedikit saja. Pastilah semua itu tidak akan terjadi. Dan mungkin, sambutan yang lebih menyenangkan bisa dilakukan atas kehamilan Azkira itu. Namun, lagi-lagi Fathan mengulangi kesalahan yang sama. Kesalahan yang menorehkan kesakitan begitu dalam pada Azkira.


Detik berikutnya, Azkira sudah sadarkan diri dan mendapati Fathan yang sedang menangis sembari menggenggam erat tangannya. Azkira mengingat sekilas kejadian yang membuat dirinya terbaring lemah saat ini. Lantas, dia pun enggan menatap Suaminya yang tempramen tersebut.


Bersambung ....


Jangan lupa spil jejaknya dong, Kakak. Terima kasih.❣

__ADS_1


Mampir juga di karya baruku dengan judul : Ijah Will You Marry Me? ....💞💞



__ADS_2