Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 46 Jangan Berani Menyakiti!


__ADS_3

"Kenapa, Dila? Apa itu mengejutkan?" ucap Revan yang melihat ekspresi kaget Dila.


"Emm, t-tidak, Bang," gagap Dila salah tingkah.


Revan tersenyum simpul. "Kamu pulang jam berapa?" lanjut Revan.


"Ini sudah mau pulang, Bang. Paling sekitar sepuluh menit lagi. Ada apa, Bang?"


"Aku tunggu di depan. Akan aku antar kamu pulang!" tandas Revan. Lantas, dia ke luar tanpa menunggu jawaban dari Dila.


Dila terperangah heran. "Ada apa dengan Bang Revan? Kenapa tiba-tiba dia mau mengantarkan aku pulang?" pikir Dila.


Detik berikutnya, Dila melangkah dengan kaki ragu. Ada perasaan berdebar dan juga bingung perihal Revan yang sudah bersiap untuk mengantarnya pulang. Benar saja, begitu sampai di luar, Dila sudah melihat Revan yang masih setia menunggunya sejak sepuluh menit yang lalu.


Dila mendekat perlahan. "B-bang Revan, belum pulang?" lontarnya gugup.


"Aku sudah berjanji untuk mengantarmu pulang 'kan? Lalu, apa aku harus pulang sendiri tanpa menepati janjiku?" ujar Revan sembari tersenyum meledek.


Dila menunduk seraya berusaha memalingkan wajah dari Revan. Entah mengapa, dia merasa sangat deg-degan. Dan untuk mengurangi rasa gugupnya, Gadis itu terus saja memainkan jemari tangannya sendiri.


"Cepat naik! Nanti keburu hujan," ajak Revan melebur kegugupan Dila.


Dila mengangguk dan naik ke sepeda motor Revan. Kemudian, Revan melaju secara cepat dengan tiba-tiba. Sampai-sampai, Dila menjerit kaget dan ketakutan.


Melihat Dila begitu, Revan malah tertawa. "Kamu takut, ya?" ledeknya.


"Iihh, Abang! Kenapa usil sekali? Kalau kita berdua jatuh bagaimana?" omel Dila spontan.


Revan tidak menjawab lagi dan hanya tersenyum. Dia memperhatikan wajah Dila yang manis dari kaca spion motornya. "Entah karena mereka sahabat, atau aku yang terlalu memikirkan Azkira. Wajah Dila dengan adikku itu tampak mirip. Hanya saja, mata Dila tidak bulat sempurna seperti mata Azki," batin Revan.


Belasan menit kemudian, bukannya pulang ke rumah kontrakan Dila, Revan justru membawa Sahabat adiknya itu pergi ke sebuah kedai mie. Sepertinya, dia akan mengajak Dila makan di sana. Benar saja, tanpa basa-basi lagi, Revan langsung menarik pelan tangan Dila untuk menuju ke dalam kedai mie tersebut.

__ADS_1


"Bang, kenapa kita ke sini? Bukankah seharusnya kita ke rumah kontrakanku," protes Dila.


"Diamlah. Aku akan memberitahumu kedai bakmie yang punya cita rasa lezat luar biasa. Kamu harus mencobanya!"


"Ihh, Bang Revan kenapa, sih?" keluh hati Dila.


Revan memesan dua porsi bakmie untuk mereka berdua. Seperti tidak mau mendengar alasan penolakkan dari Dila, Revan terus saja mendominasi pembicaraan kala itu. Hingga dua mangkuk mie pun habis, Revan masih bersikap seakan tidak membiarkan Dila melontarkan pertanyaan dan rasa penasaran pada dirinya.


"Terima kasih ya, Bang. Ternyata, Abang punya selera yang baik. Mie-nya sangat enak. Padahal, biasanya aku tidak habis makan satu mangkuk mie sendiri." Dila mulai tidak terlalu kaku lagi saat bicara dengan Revan.


"Sama-sama, Dila. Omong-omong, aku ingin berterima kasih padamu," ujar Revan.


"Berterima kasih untuk apa, Bang?" tanya Dila semakin bingung.


"Untuk bantuan yang kamu berikan pada Azki waktu itu. Sampai sekarang aku belum tahu, mengapa Azkira ke luar dari rumah suaminya malam itu, tapi aku bersyukur karena dia lari ke tempatmu. Setidaknya, kamu bisa dipercaya."


"Jadi, Abang belum tahu kalau waktu itu Azkira pergi karena bertengkar hebat dengan suaminya? Lelaki itu bahkan berani memukuli Azkira." Lagi-lagi, Dila menutup mulutnya. Dia tidak sadar apa yang dibicarakannya adalah rahasia yang tidak boleh diceritakan.


"Maafkan Dila, Bang. Dila keceplosan," papar Dila polos.


"Tak apa, Dila. Aku berterima kasih padamu. Apa kamu sudah selesai?"


"Sudah, Bang."


"Mari kuantar kamu pulang." Revan bangkit, lalu mempersilakan Dila berjalan lebih dulu. Sementara itu, Dila merasa tidak enak hati.


Sepulang dari mengantarkan Dila, wajah Revan yang semula ceria dan berseri menjadi sangat murung dan sarat emosi. Dia langsung bergegas menuju rumah Fathan. Revan melajukan sepeda motornya dengan kecepatan yang tinggi tak ubahnya terbang.


Tak berselang lama, dia pun tiba di depan rumah Fathan. Langsung saja dia turun, dan menekan bell rumah Fathan. Dia melakukannya berulang kali seperti tidak sabaran.


Detik kemudian, seseorang yang tidak lain adalah Bi Inah, datang membukakan pagar garasi dan mempersilakan Revan untuk masuk. Tentu saja, setelah Bi Inah bertanya lebih dulu siapa Revan dan apa keperluannya. Wanita paruh baya yang sudah mengabdi sejak lama pada keluarga Antoni itu, memang sudah terlatih untuk bersikap kritis terhadap tamu baru yang datang ke rumah Tuannya itu.

__ADS_1


Sesampainya di dalam rumah. Bi Inah menyuruh Revan untuk menunggu. Lalu, dia pergi memanggil Fathan yang sedang berada di kamarnya bersama Azkira. Sementara itu, Antoni sedang tidak ada di rumah, karena dia kembali lagi ke luar kota setelah mempertemukan Revan dengan Azkira.


Bi Inah mengetuk pintu kamar Fathan dan Azkira. "Den Fathan, ada tamu yang mencari. Namanya Revan. Dia sudah menunggu di ruang tamu, Den!" seru Bi Inah dari balik pintu.


"Bang Revan!" ucap Fathan dan Azkira bersmaan.


Tak ayal, keduanya pun segera menemui Revan dengan penuh antusias. Sepasang suami ustri itu berlarian seperti anak kecil saja. Azkira langsung berteriak menyeru Revan sambil menghambur ke dalam pelukannya.


Sekilas Revan tersenyum pada Azkira. Namun, tanpa diduga-duga, setelah itu Revan melayangkan sebuah pukullan tepat mengenai wajah Fathan.Terdengar suara jeritan Azkira yang sangat kaget tiada terkira.


Fathan menyentuh bekas pukullan Revan tersebut sambil meringis merasakan panas dan perih yang menjalar di pipinya. "Ada apa, Bang? Kenapa kamu memukulku?" tanya Fathan.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, Fathan. Atas dasar apa kamu berani memukulii adikku?" Revan terbakar api amarah mengetahui kebenaran itu.


"Bang, tenanglah dulu, Bang. Jangan lakukan itu," tahan Azkira berusaha melerai.


"Aku tidak pernah membiarkanmu disakiti, bahkan oleh seekor semut sekali pun. Tapi lihat, lelaki itu sudah berani memperlakukanmu begitu, Azki! Dia tidak pantas diampuni!" jerit Revan dengan deru napas yang memburu dikejar rasa kesal dan tidak terima.


"Tapi, Bang Fathan sudah berubah, Bang. Dia tidak lagi kasar padaku," bela Azkira sambil menangis.


"Aku tidak perduli, Azki. Dia harus menerima balasan dari perlakuan kejamnya terhadapmu. Entah aku sebagai kakakmu atau bukan, aku tetap tidak terima kalau dia berani memperlakukanmu dengan tidak adil." Revan sangat marah hingga bagian putih matanya tampak memerah.


Sekali lagi Revan hendak mendaratkan sebuah tamparran pada Fathan. Namun, Azkira menghalanginya. "Cukup, Bang!" katanya sembari menghadang tangan Revan.


"Azkira, minggirlah dulu, Sayang. Biarkan Bang Revan melakukannya. Aku ikhlas menerima semua itu. Yang dikatakan Bang Revan memang benar. Aku harus dihukum atas segala dosa-dosa yang pernah aku lakukan padamu," tutur Fathan pasrah.


Azkira menggelengkan kepalanya. "Abang, aku mohon. Dia adalah Ayah dari calon keponakanmu. Azki mohon, maafkan Bang Fathan," rengek Azkira memohon sembari memeluk Revan untuk meredam emosinya.


Revan menitikkan air mata. Dia mengusap lembut pucuk kepala Azkira. Lantas, Kakak Azkira itu memicingkan mata tajam ke arah Fathan. "Kalau sampai kamu berani menyakiti adikku lagi, walau hanya seujung kuku dan sehelai rambutnya saja, aku tidak akan pernah mengampunimu, Fathan!" tandas Revan penuh penekanan.


Bersambung ....

__ADS_1


Mana nih votenya?! Yuk ahh, kasih dukungan yang banyak. ❤🖤


__ADS_2