Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 48 Calon Istri


__ADS_3

Revan benar-benar malu dan tidak enak hati. Dia juga bingung, kenapa dirinya bisa melakukan hal itu. Padahal, dia adalah orang yang paling bisa menahan hasrat semacam itu sebelumya.


"Dila, aku sungguh minta maaf padamu," mohonnya sekali lagi.


Dila mengintip Revan dari celah jemarinya. "Aku malu," cetusnya polos.


Revan yang semula sangat merasa bersalah, jadi ingin tertawa melihat tingkah polos Dila itu. "Memangnya benar, ini pertama kalimu?"


"Tentu saja benar. Mana ada aku berbohong. Mungkin Abang sudah terbiasa, tapi tidak denganku. Dasar laki-laki. Nakal sekali!" oceh Dila sembari mendumal.


"Astaga! Kenapa dia jadi semakin menggemaskan? Oh, ini tidak boleh terjadi. Tahan Revan, tahaaan. Ingat, kamu tidak boleh melakukannya lagi!" batin Revan bicara pada dirinya sendiri.


"Emmm, Dila ...," lirih Revan. Dila menoleh tanpa menjawab.


"Kamu mau memaafkan aku 'kan?" imbuh Revan.


"Tidak mau!" jawab Dila ketus.


Revan menghela napasnya dalam-dalam. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi sungguh, aku tidak berniat macam-macam padamu."


"Nyatanya Abang sudah macam-macam padaku," sangkal Dila.


"Jadi apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maafmu?"


"Abang harus menikahiku!"


"Ya ampun, Dila. Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Tidak bisa dilakukan seperti sedang memulai sebuah permainan," tandas Revan.

__ADS_1


"Bibirku sudah ternoda. Bukankah kesucianku juga sakral? Sekarang Abang telah merenggut kesucian bibirku dan Abang harus bertanggungjawab. Kalau tidak, seumur hidup tidak akan ada laki-laki yang mau menikah denganku, karena bibirku sudah dicium oleh lelaki lain."


"Apa dia benar-benar sepolos itu? Rasanya, waktu pertama kali aku melihat dia saat bersama Azki, dia tidak sepolos itu. Terlihat lebih dewasa dari pada Azkira. Apa dia memang tidak pernah punya kekasih?" gerundal Revan di dalam hatinya.


"Dila ...."


"Pokoknya Abang harus tanggung jawab."


"Begitukah?"


"Apanya yang begitukah? Pertanyaan macam apa itu?" Dila semakin ketus.


"Memangnya sudah siap menikah?" kata Revan.


Dila tampak salah tingkah dan gugup. "Ya ..., aku tidak tahu." Gadis itu berkedip tidak beraturan.


Revan yang sudah bangkit berdiri pun, akhirnya duduk kembali. "Kemarilah, kuberitahu," titah Revan.


"Mau apa? Abang jangan macam-macam lagi, ya!" tegas Dila.


Revan langsung menarik lengan Dila hingga Gadis itu terpelanting ke atas pangkuannya. Lalu, tatapan mereka saling bertemu, dan mereka pun melakukannya lagi. Saling memaggut seperti sebelumnya.


"Ini pertama kalinya juga bagiku, Dila," bisik Revan di telinga Dila.


Dila menatap penuh harap, seperti ingin dicumbui lebih jauh. Tapi kemudian, dia tersadar dan segera menundukkan wajahnya. "Ini tidak benar, Bang."


"Mulai sekarang kamu calon istriku, Dila!" tandas Revan.

__ADS_1


Dila memejamkan matanya. Antara malu, senang, merasa aneh, gugup dan lain sebagainya bercampur aduk menjadi satu. Dia menatap Revan sekali lagi, dan Revan membalas tatapannya.


"Aku pulang dulu. Jaga dirimu baik-baik, Calon Istri!" pesan Revan sambil berpamitan.


Alangkah malu dan salah tingkahnya Dila kala itu. Dia memejamkan mata sembari meringis. Dan tanpa diduga, Revan malah mendaratkan satu kecupan lagi di kening Dila sebelum dia benar-benar pergi dari sana.


****


Hari ini untuk pertama kalinya setelah sekian bulan menikah, Fathan mengajak Azkira untuk datang ke Chili Sausce Resto. Dengan perut yang mulai tampak menyembul, Azkira sangat cantik memakai gaun berwarna coklat susu yang melekat di tubuhnya. Sangat serasi saat bersanding dengan Fathan.


"Sudah siap?" tanya Fathan seraya tersenyum dengan tatapan yang membuat hati meleleh.


"Sudah, Bang," jawab Azkira singkat.


Lantas, Fathan menggandeng tangan Azkira dengan mesra menuju ke mobilnya. Fathan benar-benar telah berubah dan tampak sangat menyayangi Azkira. Perhatiannya pun selalu dia berikan pada calon ibu dari bayinya tersebut.


Di sepanjang perjalanan menuju restoran, Fathan tak henti-hentinya memberikan perhatian kepada Azkira. Dia mulai protektif sekarang. Azkira tidak boleh ini, tidak itu, tidak boleh begini, dan tidak boleh begitu."


"Ya ampun, Mas. Aku ini sedang hamil bukan sedang sakit," protes Azkira merasa terkekang.


"Karena itulah kamu harus hati-hati, Sayang," kata Fathan tak mau mengalah. Azkira memalingkan wajah darinya, dan hal itu membuat Fathan tertawa.


Kini mereka pun tiba di Chili Sauce Resto. Kedatangan mereka langsung disambut ramah oleh Dion dan semua karyawan resto, meski mereka belum mengetahui status Azkira sebagai istri dari pada pemilik Chili Sauce Resto alias Fathan.


Nina si waitress judes yang dulu selalu tak suka pada Azkira saja, kali ini tampak tercengang. Kalau dia tahu siapa Azkira bagi Fathan sekarang, pasti dia akan kepanasan. Terkadang sikap manusia memang ada-ada saja.


Bersambung ....

__ADS_1


Ditunggu vote sama giftnya. Tweima kasih sudah terus membaca karya ini. ❤🖤❤🖤


__ADS_2