INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
Chapter 1.


__ADS_3

Malam itu, Hujan mengguyur kota Jakarta. sebuah rancangan pernikahan pun telah di rancang dengan sebaik mungkin oleh wanita paruh baya bernama Nyonya Sundari Barata, beliau adalah salah satu wanita terpandang di


sebuah Komplek pinggiran kota Jakarta.


Hari Esok adalah hari yang sangat membahagiakan Nyonya Sundari, pasalnya anak satu-satunya yang bernama Kala Satrio Barata akan resmi melepas lajang dengan wanita pilihan Sundari sendiri.


Pernikahan yang tanpa dilandasi rasa cinta itu pun di terima baik oleh Kala, semua karena rasa sayang yang sangat amat mendalam kepada Ibunda tercintanya. Kala terpaksa menerima keinginan sang ibu, semua karena


wanita yang dipilih oleh Sundari adalah Seorang Dokter kandungan yang menurutnya sangatlah berwibawa, apalagi wanita ini memiliki segudang Prestasi


di Negeri ini.


Sundari menyukai wanita itu, walaupun Sundari hanyalah


beberapa kali bertemu dengan gadis bernama Ninis Brawijaya, seorang gadis yang berhasil mendapatkan nilai tertinggi saat menjalankan sekolah tingkat tinggi


Ilmu kedokteran di Melbourne. Parasnya yang cantik, serta tutur bahasanya yang lembut lah membuat seorang Sundari yakin bahwa gadis ini akan mampu menjadi


istri serta menantu Idaman untuk Kala juga untuk dirinya.


Hari itu suasana di dalam rumah begitu sangat disibukkan


dengan persiapan pernikahan Kala dan Ninis, Sundari pun memanggil Sum untuk memintanya memanggilkan Camelia.


"Sum, tolong panggilkan Camelia." ucap Sundari


pada Sumiati yang tak lain adalah kepala Asisten rumah tangga di rumahnya.


Sumiati pun segera menganggukkan kepalanya, "Baik


Bu.." Ia pun melangkah mencari seseorang bernama Camelia, Camelia adalah anak tunggal dari Sumiati. Ayahnya sudah lama meninggal, dan setelah Ayahnya


tiada, Camelia pun memilih untuk ikut bekerja bersama Ibunya di dalam kediaman Nyonya Sundari tersebut.


Tak lama kemudian, Camelia pun datang. Dengan raut wajah yang begitu cantik, ia menghampiri Sundari dengan seutas senyuman terbaiknya.


"Bu Sun memanggil Camelia?" Tanya Gadis berusia


tujuh belas tahun yang sebentar lagi akan memasuki usia delapan belas tahun.


"Ya Mel, Tolong lihat Mas Kala sudah pulang apa belum.


Sekalian antar kan Jas ini untuk dipakai olehnya besok hari." Camelia mengangguk dan segera mengikuti perintah ibu majikan nya itu, Sundari pun meminta Sumiati untuk tetap menemaninya. Maklum, esok adalah hari yang sangat spesial untuk anak tunggalnya itu, dan Sundari sangat membutuhkan tubuh yang


sehat dan bugar untuk keramaian di esok hari.


"Sum, ambilkan minyak gosok sekalian urut badan Ibu ya.


Ibu harus fit besok, soalnya badan ini terasa sangat remuk." Ucap Sundari.

__ADS_1


Sumiati pun tertawa kecil, "Boya ibu tuh dari kemarin


gak lelah mempersiapkan ini semua, tak ambil dulu ya minyak nya." Ucap Sumiati yang segera mengambil minyak untuk mengurut majikan yang sangat baik


untuknya itu.


"Lah Sum, maklum lah Mas Kala itu anak satu-satunya aku


dan Mendiang suamiku. kami pun mendapatkan Kala sangat tidak mudah, ya pantas saja lah kalau Kala menikah, lalu memberikan cucu. Ramai lah rumah ku


ini." Sundari memang sangat menginginkan cucu yang banyak, mungkin semua karena selama ini ia hanya memiliki satu anak saja. dan Camelia satu-satunya


anak Asisten rumah tangga yang sudah ia anggap seperti anak sendiri, bahkan Sundari selalu mengatakan kepada Kala jika Camelia adalah adik bontotnya.


"Semoga saja Mas Kala segera memberikan cucu untuk Ibu, saya pasti orang pertama yang akan membantu nya mengurus bayi kecil itu." Sumiati pun segera menggosokkan minyak urut tersebut, sembari memijat kecil, banyak hal yang dibicarakan oleh mereka berdua.


Karena bagi Sundari, Sumiati tidak hanya seorang Asisten


rumah tangga saja. Melainkan sosok Adik yang sudah menemaninya semasa muda dahulu, bahkan Sumiati menikah dengan suaminya pun atas perjodohan Sundari dan mendiang suaminya.


Sementara itu, Camelia terlihat sudah terdiam selama lima


belas menit lamanya di hadapan pintu kamar milik Kala. Tak ada jawaban sedikit pun, ia memutuskan untuk masuk dan mencoba mencari tahu keberadaan Satria, sesuai apa yang di perintahkan oleh Sundari.


Saat membuka pintu kamar Kala, ia terlebih dahulu memasukkan kepalanya seolah mencari tahu apakah ada orang di dalam ataupun tidak. Lalu, setelah memastikan tak ada satupun orang di sana, Camelia pun masuk dan


Ia melihat betapa rapi nya kamar seorang Lelaki tampan


bernama Kala itu, ia pun terlihat memperhatikan raut wajah tampan Kala yang tersimpan di dalam sebuah bingkai Foto berukuran kecil tersebut.


Dalam hatinya berucap, "Mas Kala sangat Tampan, namun


sayang Esok Mas Kala sudah ada yang punya. Hmmm, Apa sih Mel. kamu tuh gak pantas lagian sama Mas Kala." Camelia membalikkan tubuhnya, ia berjalan menuju pintu kamar milik Kala. Namun, saat ia akan keluar dari dalam kamar tersebut. seseorang menariknya dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang milik Kala. Camelia menutup wajahnya, sedikit demi sedikit Camelia mencoba membuka matanya itu.


Orang tersebut adalah Kala, Kala yang datang dengan suasana mabuk itu mencoba untuk merenggut harta satu-satu nya milik gadis itu. Camelia


meronta kesakitan, namun apalah daya tubuh mungilnya tidak bisa melakukan apa-apa.


Ya, Saat pesta lajang itu di mulai. Teman-teman nya begitu


antusias memberikan Kala satu gelas minuman beralkohol, dan hal itu membuat Kala mabuk dan tak sadarkan diri. Bahkan, Asep yang tak lain adalah supir


pribadi ibunya lah yang pada saat itu membawanya pulang dan menyembunyikan Kala sampai masuk kedalam kamar nya itu. Naas, Kala melihat sosok Camelia yang selama ini sangatlah ia kagumi.


Kala sangat menyukai dan Mencintai Camelia, namun sang ibu selalu mengingatkan Kala bahwa Camelia adalah adik bontotnya yang sudah seharusnya ia jaga. bahkan Perjodohan diantara Kala dan Ninis selalu menjadi


pengingat di saat Kala mendekati sosok Wanita lain.


Setelah melakukan hal tersebut, Kala terlihat tertidur lelap

__ADS_1


dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya itu. Camelia beranjak dari atas ranjang tersebut, ia menangis dan tak kuasa menahan rasa sakit akibat perlakuan


seorang Kala lelaki yang selama ini begitu sangat sopan menurut dirinya.


Satu persatu pakaian nya pun dipakai kembali oleh Camelia, air matanya tak kunjung selesai keluar membasahi pipi miliknya. Ia pun berjalan keluar kamar Kala dengan tangisan tersedu-sedu.


Malam itu selesai, Kala mendengar sebuah ketukan pintu yang dilakukan oleh Sumiati.


"Mas Kala, Bangun mas sudah pukul 8 pagi. sebentar lagi


Akad akan dimulai, dan Ibu meminta Mas Kala segera bersiap." ucap Sumiati, Kala mencoba menyelaraskan mata indahnya itu. bias cahaya pada jendela itu


membuat silau pada mata indahnya, ia mengucek matanya itu dan sesekali menggeliatkan tubuh miliknya itu.


"Iya Mbok Sum." jawab Kala, Kala pun berusaha


terbangun dari tidurnya. Ia melihat sebuah jas yang sudah tergantung rapi di depan lemari miliknya, Ia pun beranjak dari tempat tidurnya itu. Ia terkejut dengan pakaian miliknya yang terlihat berserakan di atas lantai kamar tersebut, "Apa-apaan ini?" Tanya Kala seorang diri.


Ia melihat dirinya tanpa sehelai pakaian yang bersarang di tubuhnya.


Kala pun mencoba meraih handuk yang dan berlari menuju kamar mandi, "Mandi sajalah dulu." ucap nya sembari berlari.


Setelah selesai membersihkan dirinya itu, Kala berjalan


menghampiri ranjang miliknya dan berpikir keras atas kejadian semalam. Ia tak sengaja melihat bercak darah pada ranjang miliknya, "Semalam aku ngapain


ya? Dan itu?" Ia mencoba mengingat-ingat kejadian malam itu.


"Aku harus tanya Mang Asep!" Tanpa berpikir lama,


Kala melepaskan kain penutup kasur miliknya itu dan segera berganti pakaian menggunakan Jas yang sudah di siapkan Ibunya. Pikiran mengenai semalam


membuatnya sedikit kacau, Ia tak tahu siapa wanita yang tidur dengan nya malam tadi.


"Mas Kala." Panggil Seseorang, Kala pun menoleh


dan melihat sosok Camelia berdiri di hadapan nya.


"Maaf Camelia gak ketuk dulu, ibu menyuruh Amel


memanggil Mas Kala."


Kala terpaku melihat Camelia berdiri dengan kepala yang


tertunduk, "Oke, sebentar lagi beres."


Camelia pun mengangguk dan kembali meninggalkan Kala seorang diri, "Aku harus lihat CCTV yang menghubungkan kamar ku dengan lorong menuju kamar ku. Aku harus mencari tahu siapa yang aku tiduri malam tadi ," Argghh... Semoga saja tidak ada dan aku hanyalah


berkhayal semata." sambungnya sembari berjalan meninggalkan kamar pribadinya.

__ADS_1


__ADS_2