INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
chapter 44


__ADS_3

Tak terasa pembicaraan mereka pun memakan waktu yang cukup lama, Camelia yang terlihat tertidur di atas sofa pun terlihat begitu sangat cantik. Regi memberanikan diri untuk menatapnya lebih dekat, raut wajah Camelia yang terlihat lelah karena sudah bercerita itupun membuat Regi tersenyum tanpa sebab. Regi berniat untuk memindahkan tubuh Camelia, namun sepertinya tidaklah sopan jika hal itu dilakukan oleh Regi. Regi pun memilih untuk membawa selimut yang tersimpan di dalam kamar pribadinya.


Saat Regi meraih selimut tersebut, Regi tak sengaja melihat foto Camelia bersama Kala yang tersimpan di dalam bingkai kayu, Ia pun meraihnya dan menatap raut wajah dari keduanya.


“Camelia mengatakan bahwa hubungan mereka dan Mas Kala hanya sebatas adik dan kakak, tetapi Camelia pun mengatakan dia sangat mencintai Kala begitupun sebaliknya. Aku sudah menduga karena perjodohan itu lah yang membuat Kala tidak bisa bersama cintanya begitu pun Mbak yang rela mengakhiri hubungan lama nya dengan Kak Andre.” Regi menyimpan kembali foto tersebut, dan sesegera mungkin keluar dari dalam kamar Camelia. Ia menyelimuti tubuh Camelia, lalu kembali menata[ wajah Camelia dan air matanya terlihat menetes.


Ia memikirkan betapa sakitnya Ninis saat benar-benar mengetahui apa yang telah terjadi, walaupun begitu Ninis tidak bisa menyalahkan sosok Camelia.


Ting…


Sebuah pesan masuk kedalam ponsel Camelia, Regi melirikkan sejenak matanya kearah bar notifikasi ponsel Camelia.


"Selamat malam cintanya Mas Kala.. Esok Mas akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi mu.” ucap Kala pada pesan nya.


Regi kembali menaruh ponsel milik Camelia di atas meja tamu tersebut, setelah itu ia beringsut pulang ke rumahnya dan ia tak lupa menutup pintu rapat rumah Camelia.


Seperti biasa, sebelum tidur Regi selalu membersikan dirinya terlebih dulu. Ia menatap kaca yang berada di bak Wastafel kamar mandinya itu, Ia memikirkan apa yang telah ia ketahui mengenai sisi kehidupan Camelia.


Regi mengedipkan kedua matanya, ia pejamkan sejenak mata indahnya itu. Ia mengingat betapa sedihnya Camelia menceritakan kisah kelam nya itu, air mata Camelia pun sempat menetes.


"Ya Allah, Jika aku mampu menanggung beban gadis berusia muda itu. Maka jadikanlah dia jodohku, maka berikan aku waktu untuk mendekatkan hatiku dengan hatinya. Aku merasa jatuh cinta kepadanya, aku ingin menyelamatkan jiwanya. Jika dia kembali dengan Kala, tak hanya kakak ku yang menderita, wanita muda yang aku cintai pun akan menderita." Ia tahu betul betapa kejamnya sikap Ayahnya saat tahu anak perempuan nya tersakiti, Ia tidak mau jika Aji membalaskan dendam nya itu kepada Camelia.


Regi pun berjalan untuk segera mandi, dan di bawah guyuran Shower wajah Camelia tak henti menghantui sosok Regi.


Gadis yang sangat malang itu mampu membuat sosok Regi merasakan jatuh cinta, Apalagi kebaikan hati Camelia seakan terlihat seperti Almarhumah Ibunya.


"Ya Allah, Mengapa aku terus menerus memikirkan Camelia." Regi tak henti menggelengkan kepalanya itu.


**


Sementara itu, Kala yang tidak dapat menemui Andre pun berpikir untuk menemuinya di keesokan hari. Ia terlihat begitu tenang duduk di Teras rumah bapak mertuanya dengan laptop yang terlihat menyala, "Mas mau kopi?" Tanya Ninis kepada Kala, mendengar sebuah tawaran dari Ninis, Kala terlihat menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, tetapi sedari tadi setelah acara doa itu selesai, Mas terlihat tidak meminum dan makan sesuatu. Ninis khawatir Mas malah sakit nantinya." Ucap Ninis sembari duduk di atas kursi tunggal yang tak jauh dari tempat Kala itu duduk

__ADS_1


Kala melirikkan matanya ke kanan serta kiri rumah itu, "Mas sebentar lagi mau pulang kok." Jawab Kala singkat.


Ninis mengalihkan pandangan nya itu, ia terlihat berpikir untuk menghentikan Kala pulang.


"Mas, Kalau Ninis boleh meminta tolong sebaiknya Mas menginap saja. Jangan sampai Bapak bertanya mengenai kepulangan Mas."


"Memangnya kenapa?" Tanya Kala sembari menatap ketus wajah Ninis, "Kenapa Mas harus selalu hidup dengan pura-pura?" Susul Kala bertanya.


Ninis menarik nafasnya dengan pelan, "Ninis tahu Ninis bersalah.. "


"Ya jelas." Jawabnya kilat, "Lalu?" Tanya Kala kembali, kali ini Kala memberikan tatapan sarkas kepada Ninis. tatapan nya itu sama seperti saat Kala memarahi Ninis di dalam dua hari yang lalu.


Ninis terdiam, kalimat talak terngiang dalam benaknya.


"Ninis minta maaf Mas." ucap Ninis yang berusaha menyembunyikan air matanya.


"Kamu sudah menipu saya Nis, saya tidak marah! tetapi saya kecewa, tipuan itu seakan sebagai balasan untuk saya!" Ujar Kala kepada Ninis, "Saya tidak melakukan perselingkuhan dengan Camelia, dan kamu selalu berusaha memastikan saya menyimpan sesuatu mengenai Camelia. Hal itu selalu membuat kamu mencurigai saya.' Kala terdengar berbisik di dekat Ninis dan Ninis mencoba mendengarkan apa yang sedang suaminya itu katakan.


"Dan kamu selalu menuduh saya bersama Camelia, sedangkan kamu sendiri bersama lelaki itu."


"Sudah cukup Mas, Ninis mohon." lirih nya meminta.


Kala menggelengkan kepalanya itu, "Tolong Akui perbuatan kamu kepada ku di depan ibu ku juga bapak mu, Tolong beri penjelasan agar secepat mungkin Kita berpisah." Ungkap Kala, Kala beranjak dari tempat duduk nya itu. Ia juga mengemas Laptopnya dan segera pergi meninggalkan Ninis, "Aku pulang, Besok aku ada pekerjaan yang sangat penting. Jika akan melakukan doa bersama, Aku akan meminta Pengurus panti membawa anak-anak untuk menemani kamu melakukan doa bersama."


"Selain itu, kabari Mbok Sum agar menyiapkan makanan untuk mereka."


Mata Ninis berkedip, air matanya membasahi kelopak matanya itu. Ninis menatap kepergiaan Kala, Ia sudah sangat yakin jika pernikahan nya tidak dapat lagi Ia selamatkan.


"Rasanya begitu sakit ya Bu. Sakit sekali, Ibu pernah bilang jika menikahi orang yang tidak mengenal mu, kamu harus siap." Batinnya saat itu, "Ibu benar, Ibu benar sekali. Ibu mengatakan itu karena Ibu mengalaminya, dan Ibu adalah orang pertama setelah Regi saat Ninis menyetujui Perjodohan ini." Ninis mengingat betul apa saja yang dikatakan oleh Mendiang Ibunya.


Ia begitu risau, Ia mengepalkan telapak tangan nya. lalu gerakan tangan nya berubah, Kali ini ia menutup mulutnya dengan salah satu tangan nya dan menarik nafasnya dengan begitu berat.


"Mengapa Ninis bodoh! mengapa Ninis melakukan itu. Dan mengapa Ninis mempercayai Andre, Mengapa Ninis merelakan diri Ninis untuk Andre dan melupakan bahwa Ninis telah bersuami." Racau nya sembari menangis, "Ibu, Maafkan Ninis. Maafkan Ninis karena telah memberikan luka dan dosa kepada Ibu dan Bapak, Maafkan Ninis bu. Ampuni Ninis." Ia menangis terisak, ia tak kuasa mengingat kesalahan yang telah ia lakukan.

__ADS_1


"Nis.. " Dari kejauhan terdengar suara sang Ayah memanggilnya.


Ninis segera menyeka air matanya itu, "Iya Pak." Ninis segera beranjak dan menghampiri sosok Aji yang sedang memanggil itu.


"Kala mana?" Tanya Aji.


Wajah Ninis terlihat kikuk, ia segera mencari jawaban untuk menjawab pertanyaan Aji.


"Mas Kala pulang dulu Pak, File pekerjaan nya tertinggal di rumah. Tadinya Mas Kala gak akan pulang, tetapi Ninis memaksanya untuk beristirahat di rumah Ibu. kasihan juga Mas Kala yang sudah dua hari ini kurang tidur." Ucap Ninis yang sengaja berbohong.


"Suami mu ini selalu saja sibuk bekerja, Bapak bangga terhadapnya tetapi Ya jangan terlalu Workaholic lah. Tidak baik untuk kamu dan anak-anak mu kelak." Ucap Aji, kalimat itu membuat keheningan sesaat perbincangan diantara Aji dan anaknya. Aji mengingat apa yang pernah Andre katakan mengenai kondisi medis Ninis sebagai perempuan, namun sepertinya Aji tetap menutupi hal yang ia ketahui itu di hadapan Anak perempuannya.


Ninis terhenyak saat mendengar sebuah kalimat yang di sampaikan oleh Ayahnya itu, "Bapak mau Teh hangat?" Tanya Ninis pada Aji.


"Tidak, Bapak sudah kebanyakan minum. Ginjal bapak sudah tidak sehat lagi. Oh Iya, Anak itu ada mengabari mu?" Tanya Aji.


"Tidak Pak, biarkan saja dulu. nanti juga Regi pasti menghubungi Ninis." Sahutnya, "Bapak mau beristirahat sekarang?" Tanya Ninis kembali pada Ayahnya, Ayahnya itu pun berjalan menuju ruang keluarga. Ia duduk dan menyuruh Ninis untuk ikut duduk bersamanya, Ia menatap wajah Ninis dan melihat sedikit sisa air mata yang masih tersimpan di balik mata indah nya.


"Apa kamu sudah menangis? Apa Kala membuat mu menangis?" Tanya Aji.


Ninis menggelengkan kepalanya, "Ninis hanya sedang mengingat Ibu Pak." Jawab Ninis, "Dan Ninis dan Mas Kala dalam keadaan baik." Tambahnya.


Raut wajah Aji terlihat tidak mempercayai sosok anaknya, Aji tahu jika pernikahan Ninis sedang berada di Ujung tanduk. Karena diam-diam, Aji dan Andre sudah membicarakan semua ini melalui sambungan telepon.


Aji yang merasa kesal pun berusaha untuk mencari ide dalam menghentikan itu semua, namun sayang Aji tidak mengetahui jika kesalahan terbesar anaknya lah yang membuat Kala ingin menceraikan Ninis. Aji menatap wajah Ninis, "Katakan pada Bapak jika Suami mu berani menyakiti mu, Bapak tidak akan pernah tinggal diam." Ucap Aji dengan sorot mata yang tajam.


Ninis menganggukkan kepalanya, "Tidak mungkin Bapak, Mas Kala adalah pilihan Bapak dan Ninis percaya jika pilihan Bapak tidak pernah salah." Balas Ninis sembari memaksakan senyuman nya itu.


"Pak, Ninis masuk dulu ke kamar ya. Kalau Bapak perlukan Ninis, Bapak panggil saja Ninis." Ucap Ninis kembali.


"Tidak, Beristirahatlah anak perempuan bapak yang sangat bapak sayangi. Jika Bapak membutuhkan sesuatu, Bapak bisa memanggil Eda." Sahut Aji sembari mengusap ujung kepalanya anaknya, Ninis memeluk kilat tubuh Aji. Tak hanya itu, Ninis juga mengecup kening Aji dengan kecupan kilas.


Ninis pun berjalan meninggalkan sosok Ayahnya seorang diri, Tangan Aji mengepal karena merasa kesal dengan apa yang sudah Kala lakukan. Sepertinya Aji juga tahu bahwa Kala sudah memberikan sebuah talak kepada Ninis, dan hal itu sama sekali tidak di inginkan oleh Aji. Ia tidak menginginkan perceraian diantara Ninis dan Kala terjadi, Semua itu juga karena sosok Kala yang juga pewaris Tunggal kekayaan Barata.

__ADS_1


__ADS_2