
Sebuah hingar bingar suara terdengar bersahutan di dalam bandara tersebut, Ninis terlihat melirik ke kanan serta kiri dimana ia berdiri, ia seakan menunggu seseorang yang sudah lama tidak bertemu dengan nya. Dan Orang tersebut sudah berjanji akan menyambut kedatangan Ninis bersama suaminya itu, seseorang itu adalah Raden Mas Regi Brawijaya adik satu-satunya Ninis.
Seseorang pun memanggilnya dari arah belakang dimana Ninis berdiri di hadapan Kala, "Mbak Ninis." Panggil Regi dengan suara yang cukup keras, Ninis pun berlari dan memeluk Regi dengan pelukan yang begitu erat.
"Welcome here my sister, I'm sorry I'm late to pick you up. oh Yes, brother-in-law, where are you?" Tanya Regi dengan menggunakan bahasa asing.
"Gak apa-apa sayang," jawab Ninis, "Itu suami kakak." Tunjuk Ninis saat melihat Kala yang berjalan menghampiri mereka.
"Assalamualaikum Regi," mengulurkan tangan sebelah kanan nya dan Regi menyambut tangan tersebut.
"Waalaikumsalam Mas, sebelumnya Regi minta maaf kalau Regi sudah telat menjemput Mas dan Mbak. Dan Regi ikut senang atas pernikahan Mas dan Mbak Ninis," ungkap Regi.
"Gak apa-apa Regi, lagipula maaf juga karena kami sudah merepotkan Regi." Balas Kala.
Perbincangan mereka berlanjut sampai dimana mereka masuk kedalam mobil yang dikemudikan langsung oleh Regi, Regi begitu ramah begitupun Kala yang tak kalah ramah dengan nya. Dan hal itu membuat Ninis merasa bahagia, "Oh Iya, dua bulan lagi Regi pulang ke Indonesia kak."
"Oh ya, kenapa gak bilang si Reg. Tau gitu kita ketemu di Indonesia saja." Sahut Ninis sembari memberikan senyuman untuk adiknya itu.
"Ya gak apa-apa dong mbak, lagipula kapan lagi sih Mbak tengok adiknya disini. Semenjak Mbak pulang ke Indonesia, semua Regi kerjakan sendiri. Dari makan, jalan-jalan, kerjain tugas. Melelahkan sekali." Keluh Regi di sambut tawa oleh Kala begitupun Ninis.
Lalu Kala menimpali kalimat adik iparnya itu, "Memang kalau laki-laki itu selalu tidak bisa jika tidak ada perempuan di dalam nya, Mas pun semenjak menikah terasa berbeda. Karena kakak perempuan mu tidak pernah tidak memperhatikan Mas, dan Mas sangat bersyukur untuk itu."
Regi tersenyum, "Tetapi Mas belum tahu saja sifat buruk Mbak Ninis." Mendengar hal tersebut, Ninis segera menepuk pelan bahu adik nya itu.
"Kamu ya udah mulai mau jadi pengadu lagi."
"Memangnya kenapa Gi?" Tanya Kala kembali.
Regi pun menyeletuk, "Mbak Ninis itu kalau udah marah ngomelnya bikin kesal, tetapi cuma sekian detik dan seketika Mbak Ninis bisa ketawa lagi. Memang sih gak terlalu buruk, tapi kan aneh." Regi tertawa terbahak-bahak saat memberikan sebuah ledekan untuk kakak perempuan nya itu.
__ADS_1
Tawa Regi pun tertular kepada Kala, Kala juga tertawa dan Ninis terlihat mencubit pinggang milik suaminya itu hingga suaminya meringis kesakitan.
"Awas ya kalian, kalian aku aduin sama bapak loh. Bapak akan marah kalau anak perempuan nya di keroyok kaya gini."
"Cih! Keroyok apaan sih, Mbak Ninis gini nih Mas. Selalu saja lebay." Ujar Regi dengan gaya medok nya, dan hal itu kembali membuat Kala tertawa.
Sampailah mereka ke sebuah rumah yang sudah lama Regi tempati, rumah ini pun memiliki kisah tersendiri untuk Ninis bersama keluarga nya. Rumah berukuran kecil yang berada di sebuah kota New York adalah rumah impian Ninis manakala menikah dengan Andre dulu, karena dulu sang Ayah pernah mengatakan bahwa rumah itu akan mereka berikan untuk Ninis saat Ninis menikah. Namun, saat ini Ninis sudah tidak menginginkan tinggal di luar Negeri. Tinggal bersama Kala sudah sangat membuat Ninis bahagia.
Kala berjalan memasuki rumah tersebut, entah mengapa sebuah guci berukuran sedang itu pecah begitu saja tanpa siapapun menyenggolnya. Kala menatap Ninis begitupun Ninis yang juga menatap Kala, "Sudah gak apa-apa, Guci itu memang sudah sangat tua." Kata Regi, Regi segera membawakan sebuah pengki dan segera membersihkan bagian Guci yang pecah itu.
"Apakah ini akan datang sebuah pertanda buruk?" Tanya Ninis.
Regi tertawa, "Gini nih Mbak tuh sama aja kaya Ibu, kalau ada apa-apa selalu bawa-bawa primbon Jawa. Ini sudah Modern mbak, lagian mungkin saja Guci ini pecah karena sudah waktunya."
Ninis menjawab kalimat yang baru saja Regi katakan, "Regi, kita memang lama tinggal di Amerika. Tetapi dengar, nenek moyang kita itu mengajarkan kita untuk menghormati setiap adat yang ada."
"Ya Mbak, tapi gak usah selalu ikuti apa kata Ibu. Nanti malah kena sugesti sendiri,"
Dan wajah Camelia seakan melintas dalam ingatan nya, namun Kala mencoba untuk menutupi semuanya.
"Ya udah, Mbak sama Mas istirahat dulu ya. Regi mau siapin makanan untuk Mas dan Mbak."
"Kita makan keluar aja lah Regi, kita gak mau merepotkan kamu disini." Kata Kala.
"Gak apa-apa Mas, lagian siapa juga yang merasa di repot kan?" Tanya Regi balik.
Kala pun mengucapkan rasa terimakasih nya kepada Regi dan mengajak Ninis untuk beristirahat sejenak sembari menunggu masakan yang di buat Regi selesai.
Ninis masuk kedalam kamar utama yang berada di rumah tersebut, dan Kala terlihat menyusulnya dari belakang. Ninis tersenyum saat menatap Kala, "Sepertinya Mas mudah sekali akrab dengan Regi, padahal setahu saya Regi selalu susah saat dekat dengan orang yang baru saja bertemu."
__ADS_1
"Mungkin karena Mas kakak iparnya, Regi baik sekali, ramah bahkan terlihat begitu sangat rajin." Sahut Kala.
"Ya, Regi banyak mewarisi sifat bapak. Kami tidak banyak bertengkar karena Regi salah satu adik yang selalu berusaha menghormati kakaknya." Ucap Ninis, "Dan Ninis sangat bangga sama dia, dia mampu lulus dengan nilai yang sangat baik dan menjadi Dokter kandungan sesuai dengan cita-citanya." Sambung Ninis.
"Aku pun bangga, Regi sekarang sudah menjadi adik ku. Apalagi aku tidak memiliki adik maupun kakak, dan pastinya Regi akan aku anggap seperti adik ku sendiri." Sambut Kala, Kala memeluk Ninis dan Ninis merasa bahagia mendengar kalimat yang baru saja Kala ucapkan.
Mereka berdua merebahkan diri di atas ranjang tersebut, Sebuah ide akan perjodohan Regi dengan Camelia pun melintas dalam otak Ninis, "Mas, sepertinya Ninis memiliki ide bagus untuk Regi."
"Ide bagus apa itu?" Tanya Kala kepada Ninis, Ia mengubah posisi tidurnya. Menyamping dan menghadap Ninis, lalu menatap Ninis dengan tatapan sempurna.
"Bagaimana kalau Camelia kita jodoh kan dengan Regi, aku rasa Camelia sangat baik, cantik dan sangat sopan. Lagipula Bapak tidak akan mempermasalah status sosial Camelia." Ucap Ninis kepada Kala, Kala terdiam dan merasa jika apa yang menjadi Ide Ninis bukanlah seharusnya. Apa yang sudah terjadi diantara dirinya dan Camelia akan menjadi penghalang bagi siapa lelaki yang akan menikahi Camelia, apalagi lelaki seperti Regi yang terlihat begitu sempurna.
"Mas gak setuju ya?" Tanya Ninis kembali.
Kala terlihat seakan tidak menyetujui perjodohan tersebut, "Bukan tidak setuju, tetapi kita harus bertanya dulu sama Regi ataupun Camelia. Jangan sampai nantinya malah Camelia ataupun Regi merasa keberatan."
"Ya, Ninis juga tahu Mas. Ninis pasti tanya dulu kok." Sahut Ninis.
Kala terdiam, Ia kembali ke posisi semula dan berpura-pura untuk memejamkan matanya. Entah mengapa ia merasa tidak mau jika Camelia mendapatkan sosok laki-laki lain yang akan mendampingi hidupnya kelak, perasaan cemburu itu begitu besar dan Kala tak tahu mengapa perasaan itu hadir di dalam benaknya.
Dan di tempat berbeda, Camelia yang kini sedang menyendiri di dalam kamar itu terlihat begitu lemas. Sudah dua hari Camelia berada di dalam rumah tersebut, namun tak satupun makanan masuk kedalam perutnya.
Bukan karena tidak terdapat makanan di sana, Asep dan Nani sudah mempersiapkan semuanya. Akan tetapi mual itu semakin terasa dan saat ini ketiga kalinya Camelia memuntahkan isi dalam perutnya.
"Ya Tuhan kenapa perutku terasa terkoyak," keluh Camelia, Camelia pun membuka Laptop miliknya. Ia memang sengaja membawa barang tersebut untuk ia jadikan sebagai teman di dalam rumah tersebut, "Cara mengurangi mual saat mengidam." Kata Camelia sembari mengetik kalimat tersebut.
"Makan yang teratur, beristirahat lah dengan teratur, makan-makanan yang bergizi dan meminta sebuah pelukan kepada suami." Camelia membaca sebuah artikel di dalam Web tersebut, "Suami?" Air matanya kembali menetes saat membaca artikel terakhir tersebut, "Ya Tuhan, kuatkan aku. Nak, tolong Mama ya. Tolong jangan buat mama mual terus, kamu kuat dan mama pun akan kuat. Mama sayang kamu." Ucap Camelia bermonolog.
Ia mengusap perutnya dengan pelan, dan setiap kali mengusap perutnya itu, ia selalu memikirkan sosok Kala. Sosok lelaki yang mungkin pertama kali ia cintai, sosok Kala yang selalu memperhatikan dirinya seperti adik sendiri.
__ADS_1
Ia mencoba untuk tidak menangis, ia mencermati sebuah artikel yang mengatakan bahwa seorang ibu hamil dilarang keras untuk bersedih, semua kesedihan dilarang keras dirasakan oleh Ibu hamil dikarenakan akan berpengaruh pada kesehatan janin nya.
Dan Camelia berharap bahwa apa yang ia bayangkan mengenai sosok Kala tidak lagi membuatnya bersedih.