
Sementara Itu, di dalam rumah Camelia. Kala masih berbincang bersama Camelia, banyak hal yang Kala ceritakan kepada Camelia mengenai dirinya setelah menikah. Ia pun mengungkapkan bahwa dirinya mencoba untuk menerima Ninis sebagai Istrinya hanya karena perkataan Camelia saat berada di rumah sakit, Kala tidak sepenuh hati menerima dan benar saja, baginya Ninis tidaklah sebaik yang Ia kira.
Camelia berucap, “Tetapi tetap saja Mbak Ninis sempat menjadi yang terbaik dalam menjadi Istri Mas Kala.” Kala mengangguk dengan pelan, Ponsel Kala berdering begitupun ponsel Camelia yang juga ikut berdering. Keduanya pun menerima panggilan suara dari ponsel masing-masing, Kala keluar dari rumah itu dan menerima panggilan yang di tujukan oleh Ninis untuk dirinya.
Dan Camelia terlihat memasuki dapur untuk menerima panggilan yang di tujukan oleh Regi, “Halo Assalamualaikum Mas,” Sambut Camelia, dengan suara yang parau Regi pun membalas salam dari Camelia. ‘
“Waalaikum salam Mel, kamu baik-baik saja kan disana?” Tanya Regi pada Camelia.
‘Tentu Mas, Mas gimana keadaan Ibunya?” Tanya Camelia.
Entah mengapa Regi memilih untuk berbohong kepada Camelia, “Baik, besok malam aku juga pulan Mel. Tugas ku masih banyak di sana.” Jawab Regi.
“Syukurlah kalau begitu, Mas sudah makan?” Tanya Camelia yang entah mengapa begitu perhatian pada Regi dan Regi merasa ada yang aneh pada diri Camelia.
“Sudah Mel…” Jawab Regi, “Kalau Amel sudah makan?” Tanya Regi balik.
__ADS_1
“Sudah tadi di temani Mas K..” Celetuk Camelia.
“Mas Ka…?” Tanya Regi kembali saat ia mendengar celetukan Camelia.
Camelia menutup bibir nya sejenak, “Ma-maksud Amel, Baby K.” sahut Amel yang terpaksa berbohong, “Mas, nanti di sambung lagi ya. Amel mau ke kamar mandi dulu, Mas Dokter baik-baik di sana dan salam sama keluarga Mas di sana.” Ucap Amel.
Regi pun mengiyakan apa yang Amel inginkan, Sementara itu Kala juga sedang berbincang bersama Ninis melalui panggilan telepon nya.
“Mas lagi dimana sih?” Tanya Ninis dengan nada suara yang sangat parau dan terdengar bergetar karena sebuah tangisan.
“Mas lagi di lapangan, maaf belum bisa ke Rumah sakit. Tetapi pulang dari sini Mas langsung ke Rumah sakit.” Jawab Kala, “Ibu gak apa-apa kan?” Tanya Kala kepada Ninis kembali.
Sosok Camelia berdiri di belakang Kala tanpa mengatakan satu patah katapun, Camelia tahu bahwa Ninis lah yang sedang menghubungi Kala saat ini. Kala pun berucap, “Baiklah, Aku akan segera pulang.” Kala menatap kearah wajah Camelia, Camelia menatap sendu wajah lelaki yang masih sangat ia cintai saat ini.
Tak berselang lama, Kala meminta Ninis untuk memutuskan panggilan nya. Kala kembali menghampiri sosok Camelia yang berdiri tak jauh dari tubuhnya, “Ibu Kandung Ninis meninggal Mel.” Ucap Kala dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
Camelia meneteskan air matanya, “Masihkah Mas mau meninggalkan Mbak Ninis untuk aku dan anak ini?” Tanya Camelia.
Kala terdiam sejenak, “Apa Mas tega meninggalkan Mbak Ninis di saat hal ini sedang menimpa nya?” Tanya Camelia kembali.
“Itu sudah menjadi keputusan ku Mel, Aku akan tetap mengajukan perceraianku ke pengadilan saat semua sudah selesai. Paling lambat 7 hari kematian Ibunya, dan Itu sudah menjadi keputusan ku!” ucap Kala dengan penuh keyakinan, “Bolehkah aku mengusap anak ku yang sedang berada di dalam kandungan mu ini?” Tanya Kala kembali pada Camelia.
Camelia menarik nafasnya dalam-dalam, Ia masih saja bersikap ketus kepada Kala, padahal sebenarnya ia sama sekali tida ingin melakukan hal itu. Camelia menatap kembali wajah Kala, ‘Usap perut ku, dan peluk aku!” Entah apa yang membuat Camelia dengan berani mengatakan itu, Kala pun segera memenuhi kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Camelia.
Kala memeluk Camelia dengan pelukan yang begitu erat, Camelia menahan air matanya agar tidak lagi menunjukkan kesedihan nya di hadapan Kala. Lalu Kala mengusap lembut perut Camelia, “Papa Akan kembali kesini beberapa hari lagi ya Nak, jangan pernah bosan jika suatu saat Papa sering mengusap mu seperti ini. Papa sangat menyayangi mu.” Ungkap nya, air mata Camelia menetes. Entah hari apa hari ini, Ia begitu merasa sangat bahagia walaupun sebelumnya Ia sempat memililki rasa takut manakala sosok Kala menemui dirinya.
Dan mungkin semua rasa takut itu akibat sebuah mimpi yang pernah datang untuknya, Kala merogoh ponselnya, lalu memotret foto perut Camelia dan tak lupa meminta nomor ponsel Camelia yang baru agar memudahkan Kala untuk berinteraksi bersama Camelia.
“Mas pulang ya Mel, jaga diri baik-baik dan jangan lupa untuk selalu berdoa agar Tuhan memberikan kita jalan yang terbaik. Mas akan berjuang untuk kamu dan anak kita!” Camelia menganggukkan kepalanya itu, lalu Kala kembali memeluk tubuh Camelia dan ia juga tak lupa menatap foto yang menempel pada dinding rumah itu.
Kala beringsut meninggalkan Camelia, namun baru saja beberapa langkah Kala pun kembali menghampiri Camelia.
__ADS_1
“Tolong rahasiakan kedatangan ku, Aku juga tidak akan banyak bertanya mengenai rumah ini dan hanya menunggu kamu menceritakan kisah ini semua.” Ujar Kala kembali, Camelia sedikit mengangguk dan memahami semua yang di katakana oleh Kala.
Dalam hatinya bergumam, "Mas Kala, Apa kau masih mencintau Amel? Apa yang harus Amel lakukan Mas? Amel tidak ingin menjadi duri untuk hubungan Mas dan Mbak Ninis. Tetapi Jujur saja, Amel sangat membutuhkan Mas." air matanya tak sengaja Menetes, Ia begitu ingin anak yang sedang ia kandung hidup dengan belaian kasih seorang Ayah.