
Keesokan harinya, Kala sudah terlihat berpakaian dengan begitu rapih dan seolah menunggu istrinya terbangun. Ia duduk dengan perasaan gelisah, sedari terbangun malam itu, ia pun tidak dapat tertidur kembali. Ia terus memikirkan mimpi buruk nya itu, dan ingatan akan Camelia begitu melekat di dalam kepalanya.
Satu jam sudah Kala duduk dengan perasaan yang tidak karuan, Ninis pun terbangun dan mendapati sosok suaminya duduk di hadapan ranjang dimana ia tertidur. Ninis pun membalut tubuhnya dengan menggunakan kain seprei berwarna putih, Ia mengampiri Kala dan menatap aneh kearah suaminya itu.
“Apakah ada sesuatu hal yang sedang mengganggu pikiran mu suamiku?” Tanya nya.
Kala tersenyum, ia lagi-lagi berusaha menutupi kerisauan hatinya.
“Tidak ada sayang, aku hanya sedang merindukan Ibu,” jawabnya sembari menatap wajah Ninis.
Ninis membalasnya dengan seutas senyuman, “Besok kita juga pulang Mas, atau kalau enggak kita pulang saja hari ini.” Ajak Ninis, tentu hal itu membuat Kala merasa mendapatkan celah untuk pulang. Dan lagi-lagi Ninis membuat nya begitu takjub, semua itu tentu nya karena rasa pengertian yang di miliki oleh Ninis. Kala pun meminta Ninis untuk segera bersiap, Kala sendiri membantu Ninis untuk membereskan barang-barang bawaan nya.
Beberapa menit pun berlalu, Ninis telah selesai membersihkan tubuhnya. Kala memeluk tubuh Ninis dari belakang, Ninis terlihat tersenyum dan seakan tidak mencurigai apapun.
“Kamu tidak merasa kecewa kan?” Tanya Kala kembali.
Ninis menggelengkan kepalanya, “Sama aja kok Mas, Mau di rumah ataupun di Hotel kita kan tetap bersama. Next time, Ninis ambil cut, Mas kala juga ya. Kita ke Bandung, atau Bali mungkin?” Tanya Ninis.
Kala mengecup pipi Istrinya itu, “Gak ke luar Negeri?” Tanya Kala.
“Enggak ah, Ninis mau wisata di dalam negeri aja. Sama Mas, berdua.” Celetuknya.
“Oke sayang, Mas janji.” Kata nya seraya mengucap janji akan membuat jadwal untuk melakukan cuti satu pecan bersama Istrinya itu.
Kala memang sangat pandai dalam menutupi perasaan nya itu, Ia juga selalu berusaha untuk tidak menunjukkan perasaan kalutnya atau sedihnya. Itu semua hasil dari didikan Sundari yang selalu meminta Kala untuk menjadi pria tangguh, walaupun pada kenyataan nya Kala adala sosok anak yang sangat manja dan tidak bisa berjauhan dengan sosok Ibu nya.
Mereka sudah bersiap untuk melakukan check out, Kala terlihat tak segan merangkul Ninis sembari mendorong koper pada tangan kirinya. Dan hal itu sangat berbeda pada saat pertama mereka menikah, Kala tak henti memberikan Ninis sebuah perhatian.
Sementara itu Camelia masih merasakan hal yang sama, Camelia yang semakin pucat itu membuat khawatir ibunya.
“Mel, ke Dokter yuk. Biar Ibu antar.” Ucap Sumiati yang pada saat ini melihat Camelia sedang berhadapan dengan laptop miliknya.
“Enggak usah bu, Camelia hanya kelelahan saja setelah menghadapi ujian untuk masuk universitas.” Jawab nya, “Setelah ini Amel akan beristirahat.” Timpal nya.
__ADS_1
Sumiati menggelengkan kepalanya, “Mel, Ujian itu sudah satu minggu yang lalu. Dan sekarang kamu tinggal menunggu jawaban terima atau tidak nya, tetapi kamu terlihat sakit sudah sedari sebelum kamu Ujian untuk masuk universitas.” Protes sang Ibu dibalas dengan senyuman yang terlihat terpaksa, “Ibu gak mau ya ndo kamu sakit tapi ibu seakan tidak memperdulikan kamu, hanya kamu anak ibu satu-satu nya.” Ungkap sang Ibu yang semakin mendekati tubuh Camelia.
Camelia mengangguk dengan pelan mendengar kalimat yang terucap dari mulut ibunya, “Ya sudah nanti kalau Amel mau ke Dokter Amel bilang sama Ibu ya.” Ucap nya seraya ingin menenangkan hati Ibunya itu. Sumiati pun bergegas melanjutkan pekerjaan nya, Camelia kembali melakukan aktifitas belajarnya itu. Ya, Camelia memang di tuntut untuk banyak belajar oleh Sundari. Diam-diam harapan besar Sundari begitu besar kepada Camelia, Ia ingin Camelia memiliki jenjang karir seperti wanita lain dan tak ingin Camelia mengikuti jejak Sumiati.
Rasa sayang Sundari kepada Camelia memang sangatlah besar, bahkan ia tidak menganggap Camelia seorang anak pembantu melainkan anak saudaranya. Hanya saja, Ia memiliki keyakinan bahwa Camelia tidak akan pernah pantas menjadi istri Kala karena usia yang terpaut sangat jauh.
Satu jam pun berlalu, Nani datang menghampiri Camelia.
“Mel, di panggil Ibu ke ruang kerja nya.” Ucap Nani pada Camelia, Camelia pun mengiyakan apa yang di katakan Nani dan segera bergegas menghampiri Sundari.
Ia berjalan sembari menahan rasa pusing pada kepalanya, Ia pun berusaha untuk tidak menunjukkan bahwa Ia sedang dalam keadaan tidak baik. Sesampainya Camelia di hadapan ruang kerja Sundari, pintu itu terlihat terbuka. Camelia mengetuk pelan dari luar dan terdengar suara Kala maupun Ninis seakan berbincang hangat dengan Sundari.
“Masuk Mel.” Ucap Sundari dan hal itu mengejutkan Kala.
“Ibu memanggil Amel?” Tanya Amel dengan nada yang begitu santun.
“Iya Mel, duduk lah di sini.” Tunjuknya pada kursi yang berada di hadapan Kala.
Camelia pun berjalan menuju tempat tersebut, lalu segera duduk dengan kepala tertunduk.
“Iya kan Mas?” Tanya Ninis kepada suaminya, dengan kalimat terbata Kala mengiyakan apa yang ditanyakan oleh Ninis.
Camelia masih menundukkan kepalanya, bibir nya seolah tak ingin menjawab. Namun bagaimana lagi, saat ini Ninis lah yang sedang bertanya.
“Amel sibuk belajar Mbak.” Jawab Camelia, “Amel gak mau mengecewakan Ibu yang sudah menyekolahkan Amel.” Sambungnya.
“Aku pun akan bangga kalau suatu hari kamu lulus di perguruan tinggi pilihan Ibu, semangat ya Mel.” Ucap Ninis dengan begitu sangat ramah.
Camelia pun menjawab, “Terimakasih Mbak Ninis.”
“Ya sudah, Ibu memanggil mu kemari untuk memberitahu bahwa kamu lulus Tes untuk masuk Universitas itu dan Ibu sangat bangga. Ibu berharap kamu bisa lulus sampai menjadi sarjana yang hebat, semua nya untuk kamu di kemudian hari Mel. Ibu hanya ingin kamu hidup dengan layak dan dapat membantu semua orang.” Kalimat itu seakan menusuk hati Camelia maupun Kala, Camelia terlihat tidak terlalu antusias mendapatkan Informasi yang di berikan Ibu Sundari mengenai kelulusan nya. Sundari merasa Aneh, Ia menarik tangan Camelia.
“Apakah kamu senang Mel?” Tanya Sundari kembali.
__ADS_1
“Tentu senang Bu, Amel sangat senang dan berharap dapat mempertanggung jawabkan apa yang sudah Amel dapatkan. Sekali lagi Amel mau ucapin terima kasih sama Ibu maupun Mas Kala dan Mbak Ninis yang sudah memberikan Amel semangat.” Ungkap Camelia, “Amel akan lebih giat lagi belajar Bu,” sambung Camelia.
“Ibu sangat percaya itu, ya sudah senin nanti kamu sudah bisa mengikuti acara penerimaan mahasiswi baru. Dan ibu sudah mendapatkan undangan nya melalui surel, nanti ibu kirim untuk kamu ya.” Ucap wanita tua semi modern itu.
“Baik bu.” Jawab Camelia, Sundari pun segera meminta Camelia untuk pergi dari ruangan nya itu. Dan saat Camelia berjalan pelan-pelan Camelia mendengar potongan kalimat yang mengatakan Kala begitu sangat romantis terhadapnya dan kalimat itu tentu saja di katakana oleh Ninis kepada Sundari. Kalimat yang baru saja terucap oleh Ninis di sambut tawa penuh riang oleh Kala dan hal itu membuat hati Camelia semakin rapuh apalagi kondisi nya kini terbilang sangat lemah.
Camelia berjalan sembari menundukkan kepalanya, tak terasa air mata nya pun jatuh dan ia segera menyeka nya saat mendengar langkah pelan seseorang di belakangnya.
“Mel.” Panggil Kala, langkah Camelia terhenti sejenak. Kala berjalan dengan sangat cepat, ia terlihat menghampiri Camelia. Entah kapan Kala meminta ijin untuk keluar ruangan Ibunya, yang jelas saat tadi Camelia mendengar gelak tawa Kala beserta Istri dan Ibunya itu.
Sembari berdiri di belakang Camelia Kala pun terdengar berbisik, “Temui aku di taman belakang dekat gudang, aku butuh berbicara dengan mu.” Ucap Kala yang terdengar begitu tegas, Camelia tidak menjawab apapun ia tetap menundukkan kepalanya.
Kala berjalan melewati Camelia, lalu kembali menghentikan langkah dari kaki nya itu.
“Jam 8 malam, aku menunggu mu dan kau harus datang.” Tegas nya kembali saat meminta Camelia menemui nya. Camelia terdiam sejenak, Ia memperhatikan langkah dari Kala itu. Air matanya kembali terjatuh, jantungnya berdegup kencang manakala memikirkan pertemuan nya nanti bersama Kala.
Ia pun tak hentinya berpikir apakah ia akan menemui Kala atau mungkin ia tidak akan menggubris ajakan dari anak Tuan nya itu, entahlah yang jelas Camelia begitu sangat merasa risau saat ini.
“Aku tidak mau mengingkari janji ku pada diriku sendiri, dan satu bulan yang lalu dia yang mengatakan rishi jika melihat wajah ku. Tetapi mengapa ia ingin menemui ku malam nanti.” Ucapnya dalam hati. Tanpa berpikir panjang, Ia kembali menuju kamar pribadi nya. Saat ia masuk, Ia mendapati sebuah kertas terlipat di atas meja belajarnya, Ia pun membuka kertas tersebut.
“Temui Aku, jangan lagi menghindar dari ku!!!”
Camelia terduduk lemas, tak lama kemudian sang Ibu datang menghampiri dirinya. Sontak hal itu membuat Camelia segera membuang kertas tersebut ke bawah meja belajar tersebut, “Apa yang dikatakan Ibu Sun Ndo?” Tanya Sumiati.
“Ibu hanya mengatakan bahwa Camelia di terima Bu di Universitas Negri Indonesia dan senin sudah mulai mengikuti acara penerimaan mahasiswi baru.” Ucap Camelia.
“Alhamdulilah, kamu harus banyak bersyukur Ndo. Tuhan maha baik, dan sayang kepada mu. Ibu sangat berharap kamu dapat mengikuti semua pelajaran disana, lalu lulus dengan nilai terbaik dan menjadi sarjana muda yang akan membanggakan kami.” Ungkap Sumiati.
Camelia sedikit melebarkan senyuman nya, “InshaAllah Camelia akan berusaha lebih baik lagi bu.” Ucap Camelia.
“Ya sudah, Ibu balik lagi kedapur ya. Malam ini, Ayah dan Ibu nya Mbak Ninis mau makan malam disini dan Ibu harus mempersiapkan segala macam masakan yang lezat untuk mereka.” Ucap Sumiati.
“enggeh Bu, nanti Amel bantu Ibu.”
__ADS_1
“Ndak Usah lah Ndo, kamu Istirahat saja.” Ucap ibunya itu, Camelia mengangguk dengan pelan.
Dalam hatinya kembali berucap, “Bagaimana mungkin Mas Kala akan menemui ku sementara Ayah dan ibu mertua nya akan datang untuk makan Malam. Ah sudahlah, mungkin Mas Kala hanya sedang bercanda dengan ku dan ia tidak begitu serius menemui ku.”