
Suara pintu itu di ketuk dari luar, Camelia yang masih terlihat baru saja berusaha membuka matanya. Bias cahaya dari jendela ruang tamunya membuat Ia mencoba membuka matanya dengan perlahan, “Iya tunggu sebentar..” Ucap Camelia, Ia pun segera beranjak dari kursi ruang tamu tersebut.
“Ya Allah, sepertinya aku tertidur saat mendengarkan Mas Regi berbicara. Dia tak berani membangunkan ku, tetapi selimut ini?” Camelia menggelengkan kepalanya, Ia tak percaya bahwa tidur nya begitu lelap hingga tidak tahu bahwa Regi keluar dari rumahnya. Pintu itu pun di ketuk kembali oleh orang dari arah luar, Camelia melihat jam yang menempel di dinding dan ia merasa tak percaya bahwa hari sudah menunjukkan pukul 9 pagi dan itu artinya Camelia terlambat dalam memberikan sebuah sarapan yang bisa ia berikan untuk Regi.
“Ya Ampun Camelia, ada apa dengan mu?” Tanya nya bermonolog kembali.
Ia pun segera membuka pintu rumah tersebut, “Selamat pagi..” Sapa Kala dengan senyuman ramahnya, Camelia menggelengkan kepalanya dan tidak percaya jika sosok Kala datang sepagi ini.
“Mas.. Kenapa datang sepagi ini?” Tanya Camelia.
Kala menatapnya dengan senyuman kembali, “Mas gak bisa tidur semalam, Mas berpikir setelah solat subuh Mas akan segera melakukan perjalanan kesini. Dan ternyata memang sangat macet jalanan saat menuju kesini,” terangnya, Camelia melewati dimana tubuh Kala berdiri.
“Ya ampun, aku lupa tidak membuatkan sarapan.” Keluhnya kembali saat melihat mobil Regi yang sudah tidak terparkir di halaman rumahnya.
“Kenapa Mel? Sarapan siapa?” Tanya Kala.
“Sudahlah Mas, lupakan saja.” Ucap Camelia, “lain kali, Mas jangan terlalu memaksakan untuk menemui Amel ya. Amel tahu Mas dan Mbak Ninis sama sekali belum selesai.” Tambahnya. Kala terdiam dan sedikit mengangguk sebagai jawaban untuk Camelia.
Camelia pun mengijinkan Kala untuk masuk, Kala pun masuk dan betapa terkejutnya Ia menemukan dua buah cangkir yang terlihat sudah terpakai. Kala berpikir bahwa ada seseorang yang sudah menemani Camelia, Ia pun mengingat bahwa semalam Camelia mengatakan bahwa Ia sedang berbincang dengan salah satu tetangganya.
“Mel, ini Mas belikan sarapan untuk kamu.” Kala memberikan satu buah kantong pelastik berisikan makanan kesukaan Camelia, Camelia mengangguk. Lalu berucap, “terima kasih mas.”
Camelia pun terlihat membereskan sisa-sia cangkir dan piring kecil yang membekas di atas meja tersebut, “Mas mau aku buatkan kopi?” Tanya Camelia.
“Boleh Mel kalau tidak merepotkan.”
“Baiklah, Amel akan buatkan kopi setelah itu Amel mandi ya.” Kala mengangguk dan Amel segera berjalan menuju dapur rumah tersebut, “Ya Tuhan… “ ucap Amel kesal.
Kala segera berlari untuk menghampiri Camelia, “Kenapa Mel?” Tanya nya sembari melihat dapur Amel yang terlihat begitu rapi namun sepertinya kompor Amel tidak dapat menyala dengan sempurna.
“Mel, gak usah buat kopi nya. Mas minta air putih saja.” Kata Kala, Camelia mengangguk dan segera mengambil gelas kosong lalu mengisinya yang berada di dalam pompa gallon. Kala merasa Iba melihat keadaan Amel saat ini, “Terimakasih Mel.” Ucap Kala saat Camelia memberikan satu gelas air putih.
“Amel mandi dulu ya Mas, setelah itu kita sarapan bersama.” Ucap Amel kembali, Kala pun mengangguk kan kepalanya.
Sesaat setelah Amel masuk kedalam kamar mandi, ponsel Amel berdering tanda sebuah panggilan masuk untuknya. Kala pun segera beranjak dan meraih ponsel yang tersimpan di ujung meja tamu tersebut.
“Mas R memanggil, siapa dia? Amel kebiasaan kalau menyantumkan nama selalu hanya inisial.” Kala pun terlihat menyimpan kembali ponsel tersebut, Ia memainkan ponsel miliknya dan terlihat menghubungi Robby Assisten pribadinya di Kantor. ‘’
“Rob, tolong belikan semua yang aku list dan kirim ke alamat ini.” Isi pesan Kala kepada Robby itu sepertinya berniat untuk membelikan sebuah barang-barang yang menurutnya sudah tidak layak untuk Camelia, Robby pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh Atasan nya itu.
Setelah menunggu beberapa menit, Ia melihat Camelia keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai pakaian yang terlihat membuat perutnya itu terlihat membuncit. Kala begitu menyukai Camelia dalam keadaan apapun, apalagi saat ia melihat Camelia dalam keadaan hamil, Ia begitu semakin mencintai Camelia.
“Maaf menunggu lama ya Mas,” Kala mengangguk, “Amel masuk kamar dulu, kebetulan Amel belum menyisir rambut.” Sambungnya, Kala kembali mengangguk tanda Ia mengiyakan apa yang Amel katakan.
Tak lama kemudian, Amel keluar dengan membawa sebuah sisir antik yang Eny miliki.
“Biar Mas Bantu,”
__ADS_1
“Ah gak perlu Mas, Amel bisa sendiri kok.” Kala tetap beranjak dari tempat duduknya, Ia membuat Amel terduduk di atas sofa tunggal dan mulai membantu Camelia menyisir dan merapihkan rambutnya.
“Sisir antik ini Ibu juga punya loh Mel.” Mendengar hal itu, Camelia terdiam sejenak, ingin sekali rasanya ia mengatakan apa yang sesungguhnya telah terjadi. Namun, Ia tidak tahu harus menceritakan dari mana.
“Apa wanita itu ada hubungan nya dengan Ibu dan Bapak?” Tanya Kala sembari menunjukkan salah satu jarinya ke arah foto yang menempel di dinding.
Camelia terdiam kembali, Kini Kala duduk di dekat Camelia. Ponsel Camelia kembali berdering, "Amel mau angkat dulu telepon nya." Ijinnya pada Kala dan Kala pun mengangguk dengan pelan, Camelia beranjak sekaligus membawa ponsel miliknya itu.
"Assalamualaikum Mas." Sapa Amel.
"Waalaikumsalam Mel, Maaf Mas tidak membangunkan Amel. Mas melihat Amel tidur terlelap." Ujar Regi.
"Amel yang seharusnya meminta maaf Mas, Amel tidak sempat membuatkan sarapan untuk Mas."
"Mm, sebagai gantinya. Amel harus mau Mas ajak makan siang di luar." Ucap Regi.
"Sekarang Mas?" Tanya Camelia.
"Iya, gimana?"
Amel kembali terdiam dan seakan tidak ingin mengatakan keberadaan Kala di rumahnya, "Kenapa Mel?" Tanya Regi, "Amel gak bisa?" Tanya Regi kembali.
Camelia pun menjawab, "Bukan gak bisa sih Mas, bisa saja. Tetapi di rumah sedang ada Mas K yang aku ceritakan semalam." Regi begitu terkejut dengan kehadiran Kala di rumah Camelia saat ini, menurut Regi sudah seharusnya Kala berada di rumah Ninis dan menemani sosok Kakaknya itu.
Dalam hatinya bergumam, "Ya Tuhan, Kenapa semua ini begitu menyakitkan hati Mbak ku. Bagaimana jika dia tau suaminya berada di rumah wanita lain di saat Ia sedang benar-benar membutuhkan nya. Malang sekali nasib mu Mbak."
Regi pun memahami maksud Camelia saat ini, "Ya Sudah Mel kalau begitu kita undur untuk makan malam saja sebagai gantinya. Tetapi Amel temani Mas."
"Baik Mas kalau begitu." Ucap Camelia sebari tersenyum, Regi meminta ijin untuk memutuskan panggilan tersebut dan setelah itu terjadi, Camelia membalikkan tubuhnya dan terkejut saat melihat Kala yang berdiri di hadapan nya.
"Mas Kala.. "
"Siapa Mel? kenapa kamu mengatakan tentang ku kepada orang itu? siapa Dia?" Tanya Kala dengan segudang pertanyaan, Ia menatap lekat wajah Camelia.
"Dia.. Dia.." Camelia menatap ragu wajah Kala, sepertinya Kala memang sudah mendengar kan pembicaraan Camelia Dengan orang yang menurut nya adalah sosok Misterius.
"Dia siapa?" Tanya Kala kembali.
Camelia menundukkan kepalanya, lalu kembali menatap wajah Kala. Camelia menarik nafasnya dalam-dalam, "Dia Dokter kandungan yang selama ini ikut menjaga ku, dia tinggal di sebelah rumah dan menyewa rumah itu kepada Amel. Lalu, Amel menggunakan uangnya untuk kebutuhan Amel selama disini. Dan Amel sudah mendapatkan ijin dari Mang Asep untuk menyewakan rumah itu." Terang Amel, Kala menarik tangan Camelia dan mengajak nya untuk duduk kembali.
"Dokter itu laki-laki atau perempuan?" Tanya Kala, "Tetapi tadi Mas mendengar kalau Amel menyebutnya dengan panggilan Mas. dan Itu artinya orang itu adalah Pria?" Lanjut Kala sembari memandang pilu wajah Camelia, banyak hal yang menjadi sebuah pertanyaan bagi Kala dan Camelia belum jua menjelaskan semuanya.
"Dia Pria Mas, dia baru pulang Study kedokteran di Amerika dan dia dikenal dokter baik oleh warga disini."
"Sebentar... Amel." Kala mengingat bahwa adik Iparnya yang bernama Regi itu benar-benar cocok dengan apa yang sedang menjadi topik pembicaraan di antara dirinya dan Camelia, Camelia menatapnya seakan penuh tanya.
"Ada apa Mas? Apa ada hal yang ingin Mas katakan?"
__ADS_1
"Ya, Apakah dokter itu bernama Regi?" Betapa terkejutnya Camelia saat Kala menyebutkan Nama Regi, "Tolong jawab Mel." Pinta Kala kembali.
Camelia mengangguk kan kepalanya, lalu "Astaghfirullah, Apakah benar Regi bertugas disini?" Tanya Kala kembali.
"Ya, Apakah Mas mengenalnya?" Tanya Camelia,
Kala kembali menatap lekat wajah Camelia yang terlihat semakin cantik itu, "Jelas aku mengenalnya Mel. Dia adalah adik Ninis satu-satunya. Dan baru saja kemarin Mas melerai pertikaian diantara Regi dan Bapak mertua Mas. Dunia memang sempit."
"Dunia memang sempit? Mengapa Mas merasa tenang saat tahu adik dari Istri Mas disini dan Ia sudah mengetahui cerita kita."
"Maksud kamu Mel?" Tanya Kala kembali.
Camelia pun menggelengkan kepalanya, ia menggenggam satu tangan oleh tangan lain nya dan tak henti menunjukkan perasaan tidak enak nya itu. Kala pun menjawab, "Jelas aku tidak mengapa. Kau mencurahkan apa yang susah terjadi di antara kita itu baik."
"Maksud Mas?" Tanya Amel balik.
"Semoga Regi bisa membantu ku untuk Ninis memahami apa yang telah terjadi." Ungkap Kala, "Ingin sekali rasanya aku menceritakan ini pada Regi dan Tuhan Maha baik, Beliau membantu ku melalui kamu Mel." Sambung Kala.
"Tetapi Mas, Aku merasa tidak enak kepada Mas Regi."
Kala memegang tangan nya itu, "Kita berbicara bersama-sama dengan Regi ya." Camelia menganggukkan kepalanya.
Dalam hatinya Kala kembali bergumam, "Jadi sosok Camelia lah gadis yang Regi ceritakan padaku Malam itu, tetapi Regi tidak mengatakan bahwa gadis itu sedang mengandung."
Kala mengingat kembali saat Regi Menatap sebuah foto yang tidak dapat ia lihat dengan jelas, "Sepertinya foto gadis itu adalah foto Camelia, Ya Tuhan, malang sekali adik dan kakak ini." Sambungnya bergumam dalam hati.
"Mas Kala, Mas benar-benar yakin kalau Mbak Ninis berselingkuh? Bagaimana jika Mas Regi hanya menganggap cerita mas hanyalah sebagai alasan untuk berpisah dengan Mbak Ninis?"
Kala mengusap pipi Camelia, "Aku tidak peduli, yang aku pedulikan adalah dirimu dan calon bayi kita. Aku mencintaimu Mel, sangat sangat mencintaimu." Ungkap Kala kepada Camelia, Wajah Kala terlihat menghampiri wajah Camelia. Kala mengecup bibir Camelia, Camelia pun terlihat berlaku pasrah saat mendapatkan sebuah kecupan manis dari bibir Lelaki yang memang sangat ia cintai.
“Mm, Maaf Mel.” Kala tersadar dan segera melepaskan bibirnya yang memagut bibir Camelia, Camelia menunduk malu begitupun Kala yang juga merasa malu.
“Aku minta maaf Mel.” Camelia pun mengangguk dengan pelan, “Aku akan melakukan nya lagi setelah kita menikah, aku janji Mel.” Camelia tak mampu mengatakan apapun, hatinya pun seakan tidak menolak saat mendapat ciuman itu.
“Amel mau makan Mas.” Ucap Amel.
Kala mengangguk dan terlihat begitu gugup, “ Mas temani Amel makan.” Pinta Amel.
Kala menjawab, “Dengan senang hati, Mas akan menemani Amel makan. Amel cukup bahagiakan?” Tanya nya dengan penuh cinta.
Amel mengangguk dan terlihat tersenyum kepada Kala, “Lebih dari kata Bahagia Mas, walaupun Amel belum tahu kedepan nya bagaimana. Amel hanya tidak ingin mengharapkan apa yang belum tentu bisa Amel dapatkan.”
Mendengar hal itu, Kala meraih tangan nya dan menggenggam tangan Camelia.
“Mas akan selalu berusaha untuk kebahagiaan kita, Mas janji Mel. Mas tidak perlu jika harus kehilangan keluarga Barata beserta hartanya, Bapak akan lebih senang di saat Mas bertanggung jawab atas kesalahan yang Mas lakukan. Amel paham kan maksud Mas?”
Amel menganggukkan kepalanya, “Cuma sama Amel Mas bahagia, Amel pun tahu itu.” Susul Kala dan kalimat itu membuat Amel semakin merasa yakin jika cinta nya kepada Kala tidak pernah hilang ataupun berkurang.
__ADS_1
Kedatangan Kala kembali membuat perasaan Amel bahagia, Ia tidak dapat memungkiri bahwa hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk nya juga untuk bayi yang sedang Ia kandung.