
Regi meminta kepada Camelia agar beristirahat, Camelia pun memilih untuk beristirahat di dalam kamarnya, ia juga memberikan ijin untuk Regi melakukan meeting Zoom di teras rumahnya itu. Bunda Alia yang masih berada di dalam kamar Amel membicarakan perihal tempat tinggal yang akan ia carikan untuk Dokter Regi, ia meminta ijin agar Camelia menyewakan Paviliun rumah tersebut kepada Regi dan Ia akan memberitahu Asep mengenai hal itu.
“Bagaimana jika Paviliun rumah ini kamu sewakan saja pada Pak Dokter, saya rasa Pak dokter orang yang sangat baik. Dan jika suatu hari kita membutuhkan nya, ia akan sangat sigap membantu kita?” Tanya Bunda Alia pada Camelia.
Camelia pun menjawab, “Amel gak bisa mengiyakan ataupun menolak, jikam memang Mang Asep mengijinkan silahkan saja Bunda.”
“Iya Mel, aku pun akan memberitahu terlebih dahulu Kang Asep. Dan uangnya bisa kamu pergunakan untuk memenuhi kebutuhan mu, lagipula Pak Dokter itu sangat sopan dan baik.” Timpal Alia pada Camelia.
Camelia mengangguk dengan pelan, “Ya sudah, nanti Bunda hubungi Mang Asep dulu. Untuk mala mini, biarkan Pak Dokter menginap di rumah Bunda. Karena kebetulan, penginapan di ujung kampung sudah terisi oleh para relawan yang akan membantu di esok hari.”
Camelia mengangguk pelan.
Bunda Alia pun berpamitan kepada Camelia, karena ia pun akan menghadiri meeting Zoom yang juga di hadiri oleh Dokter Regi.
Sementara itu, Regi yang sudah bersiap di hadapan Laptop miliknya mendadak mendapatkan sebuah panggilan Video dari kakaknya. Melihat sang kakak lah menghubunginya, Ia pun segera menerima panggilan tersebut.
“Halo, Assalamualaikum.” Sapa Ninis dan Kala pada layar ponselnya itu, Regi melambaikan tangan nya. Dan menjawab, “Waalaikumsalam.”
“Dimana ini Dek?” Tanya Kala.
“Regi lagi di Kabupaten Bogor, nanti nya Regi di tempatkan di rumah sakit kabupaten bogor. Besok ada acara untuk pemeriksaan disini, kebetulan setelah bencana beberapa bulan lalu mereka sangat membutuhkan tim khusus medis dan kami sebagai Dokter dan tim medis menjadi relawan disini untuk satu bulan ke depan.” Terang Regi, “Tempatnya dingin, suasana nya nyaman. Regi betah kayanya disini.” Sambung Regi.
“Kamu cari jodoh sekalian disana.” Celetuk Ninis.
Regi pun menggelengkan kepalanya, “Belum tahu, karir saja baru mau muncul.”
__ADS_1
“Dokter lulusan Amerika kok malah cari ke pelosok.” Celetuk Ninis kembali, Ia seakan mengejek adiknya itu.
Regi mengerutkan dahinya, “Regi senang membantu mbak, sebelum nantinya jadi dokter terkenal. Regi mau banget cari pengalaman disini, hati Regi tergerak saat melihat artikel beberapa bulan lalu.” Sahut Regi saat menanggapi ejekan dari sang kakak, kakaknya itu tersenyum dan terlihat mengacungkan salah satu ibu jarinya.
“Hebat, Mbak bercanda kok.”
“Tau kok, Mas Kala kemana lagi Mbak?” Tanya Regi pada Ninis.
“Mas Kala kebelet ke kamar mandi, eh kamu udah dapat rumah itu? Kenapa sih bukan nya kabari kakak, jadi kakak bisa minta tolong Mang Asep atau Pak Abu untuk mencarikan rumah untuk mu.” Tutur Ninis.
“gak apa-apa Mbak, Regi hanya ingin mandiri dan tidak mau menggantungkan diri pada orang lain. Kalau doa, Regi sangat butuhkan dari mbak.” Katanya seakan membujuk agar Mbak nya itu tidak marah kepadanya, “Eh Iya, Regi mau Zoom dulu mbak. Nanti kalau Regi sudah dapat penginapan, Regi telepon Mbak lagi ya.” Sambungnya.
“Eh bentar, memangnya kamu dimana?” Tanya Ninis.
“Ya sudah, sampaikan salam Mbak dan Ucapkan rasa terimakasih mbak kepada mereka ya.”
“Pasti Mbak.” Sahutnya sebelum memutuskan panggilan Video tersebut.
Beberapa saat kemudian, Ia segera memutuskan panggilan tersebut. Lalu kembali melakukan aktifitas yang akan ia lakukan itu, di balik jendela, Camelia menatap Regi dari kejauhan. Regi yang tak menyadari hal itupun terlihat focus melakukan meeting Zoom bersama tim lainnya, Camelia memikirkan sebuah ide terbaik dari Bunda Alia yang sebelumnya di bicarakan oleh mereka. Entah mengapa Camelia merasa jika Regi adalah lelaki yang sangat baik dan sopan, dan sebuah nada peringatan akan pesan masuk itu berdenting pada ponsel miliknya.
Ia segera membuka pesan tersebut, “Dari Mang Asep.” Ucapnya.
Ia segera membuka pesan tersebut, “Mel barusan mang Asep sudah mendapatkan kabar dari Bunda Alia, sepertinya apa yang Bunda Alia katakana benar. Lagipula, lelaki itu tidak tidur satu rumah dengan mu dan kebetulan pavilion itu sudah terdapat sebuah Kasur, almari dan kursi sofa. Ambil saja uangnya dan pakai untuk memenuhi kebutuhan mu di sana, jika tidak cukup Mang Asep akan memberimu bahan pokok setelah Mang asep mendapatkan waktu untuk menemui.” Pesan Asep yang begitu panjang pun di mengerti oleh Camelia, “Mas Kala sudah menyadari kepergiaan mu, mereka semua mencarimu. Tetapi tenanglah, mereka tetap tidak dapat mengetahui jejak mu. Dan ibumu memberikan salam untuk mu, jaga baik-baik dirimu mu Mel juga cucu mang Asep.” Camelia meneteskan air matanya itu.
“Baik Mang Asep.” Balas Camelia singkat.
__ADS_1
Dan di tempat berbeda, Kala baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Sepertinya Kala memilih untuk bersikap baik di depan Ninis dan seakan tidak menghiraukan kabar kehilangan Camelia dan tentunya Ninis tetap berpura-pura tidak mengetahui apapun, Kala memeluk Ninis dari belakang, Ia mengecup punggungnya.
“Kamu sudah melakukan Tes kehamilan itu?” Tanya Kala.
Ninis mengangguk, “Sudah, tapi hasilnya masih Nihil Mas. Ninis mau coba program sendiri aja, Ninis sudah mulai meminum asam folat dan meminum madu penyubur.” Jawab Ninis, satu bulan Pasca iamelakukan tes kehamilan yang di perintahkan oleh Sundari itu, Sundari pun kembali meminta Ninis untuk melakukan tes kembali. Dan hasilnya sangat Nihil, Sundari pun meminta Ninis untuk melakukan program kehamilan. Apalagi Ninis yang juga berprofesi sebagai Dokter kandungan, tentunya tahu sekali cara melakukan Program kehamilan itu sendiri. Dam mau tidak mau, Ninis pun kembali mengikuti keinginan ibu mertuanya.
“Jangan terlalu di pikirkan permintaan Ibu ya.” Bisik Kala di telinga Ninis, “Kalau sudah rezeki, Tuhan juga sudah pasti memberikan kita seorang anak.” Sambung Kala.
Ninis menganggukkan kepalanya, “memiliki anak adalah impian semua pasangan suami istri, tetapi untuk ku, aku tidak terlalu memikirkan nya. Aku percaya Tuhan selalu memberikan apapun yang terbaik bagi umatnya, jadi jangan terlalu memaksakan keinginan Ibu.” Sambung Kala, mendengar hal itu hati Ninis kembali mengingat apa yang pernah dikatakan oleh Andre. Ia berpikir jika Kala mengatakan hal seperti itu, karena dirinya tengah menunggu kelahiran bayi dari dalam kandungan Camelia.
Kala mengecup kening Ninis, bahkan Kala juga sempat mencium mesra leher Ninis dan seakan ingin mengajak Ninis untuk melakukan hal itu. Badan Ninis seakan bergetar, ingin sekali rasanya ia mengatakan kecurigaan nya itu. Kala pun bertanya, “Kamu kenapa sayang?” Ninis membalikkan tubuhnya itu, “Apa ada yang salah dengan apa yang aku katakana?” Tanya Kala kembali.
“Maaf Mas, Ninis sangat lelah hari ini.” Ucap Ninis yang terlihat menolak untuk melakukan hubungan suami dan Istri, Kala pun memahami hal itu. Kala melepaskan tubuh Ninis, “Kamu gak marah kan?” Tanya Ninis kembali.
Sembari tersenyum dan mengambil ponsel miliknya, Kala pun menjawab, “Tidak sayang, Aku keluar dulu ya. Mencari angina sepertinya akan baik untuk ku.” Ninis pun menganggukkan kepalanya.
Ninis berucap dalam batin nya itu, “Di keluar pasti akan menghubungi Camelia, Ia menelpon nya dan Camelia menggoda nya. Suami macam apa sih kamu Mas, aku kira kamu adalah lelaki impian setiap gadis seperti ku. Jika saja aku tidak menuruti Bapak, aku tidak akan mendapatkan masalah dalam hatiku ini.”
Ninis tetap mencurigai Kala, ia tetap berpikir bahwa Kala telah mengkhianatinya dengan memiliki hubungan gelap bersama Camelia. Bahkan ia tetap berpikir bahwa Kala lah yang menyembunyikan Camelia di suatu tempat yang tidak ia dan orang lain ketahui.
“Andre benar, Kala memang tidak baik untuk ku. Ternyata benar apa kata Andre, hubungan baru itu rumit. Kita tidak tahu dia seperti apa, bahkan dia juga tidak tahu apa yang aku butuhkan. Dan jika sudah seperti ini, Ninis harus apa?” Tuturnya kembali dalam hati.
Ia membayangkan manakala Camelia sedang bermesraan dengan Kala, kali ini Ia sangat membenci sosok Camelia yang dengan tega sudah merebut hati Kala untuknya. baginya, Camelia adalah duri yang menusuk di dalam dagingnya, Ia tidak akan pernah memaafkan sosok Camelia walaupun pernikahan nya dengan Kala tetap berlanjut, Ia akan pastikan bahwa Camelia mendapatkan sebuah penderitaan.
"Aku akan memastikan Camelia akan hidup menderita, dan aku akan menemukan dimana kamu bersembunyi!" tegas Ninis dalam hatinya kembali, Ia juga terlihat mengepalkan tangan nya itu dan terlihat begitu dendam kepada sosok Camelia.
__ADS_1