
Telepon itu pun tersambung, betapa bahagianya hati Kala saat mengetahui bahwa Camelia menerima panggilan yang diberikan oleh nya.
"Halo Assalamualaikum Mas." Sapa Camelia.
Kala menjawab, "Waalaikumsalam Mel, Amel sedang apa saat ini. sebelumnya maaf Mas mengganggu Amel."
"Um.. Tidak Mas, Amel baru saja selesai mencuci pakaian." Jantung Kala berdegup dengan sangat kencang, "Gimana Mas acara pemakaman nya?" Lanjut Amel bertanya.
"Alhamdulilah lancar Mel, oh Iya Baby kita merepotkan kamu tidak hari ini?" Tanya nya kembali, Ia tersenyum saat mendengar suara Camelia dan entah mengapa Camelia memang sebuah candu untuknya tersenyum.
"Bayi ini sangat baik Mas, dia tidak pernah merepotkan Amel. bahkan tendangan nya sangat membuat Amel bahagia." Sahutnya saat itu, Kala tersenyum kembali.
"Kapan kamu akan melakukan USG?" Tanya nya.
Terdengar jika saat ini Amel sedang menarik nafasnya itu, "Usia 7 bulan, itu artinya masih sangat lama. kenapa Mas?" Tanya Camelia.
"Mas akan datang dan ikut dengan mu, Bayi kita akan senang saat tahu Papanya begitu antusias dengan kehadiran nya." Ujar Kala, kalimat itu membuat Camelia merasakan kebahagiaan yang tak terhingga.
"Maafkan Mas ya Mel, Andai saja.. "
"Ssss, Sudahlah Mas. Amel Sudah tidak mau membahasnya lagi." Tukasnya menyela, "Bagaimana kabar Ibu Mas?" Tanya Camelia kembali.
"Ibu mu? Apa Ibu ku?" Tanya Kala balik.
"Mmm.. Ibu Mas. Ibuku kan sudah bertemu tempo lalu." Jawab Amel singkat.
Kala kembali tersenyum, "Sehat, Sehat kok."
"Aku merindukan rumah kalian." Ungkap Camelia, sepertinya Camelia sedang meneteskan air matanya.
Kala pun memberikan sebuah kalimat yang membuat Camelia sedikit merasa tenang, "Suatu hari, kita akan membawa nya pulang ke rumah Kakek dan Neneknya ini. Dan Aku akan membawa mu pulang sebagai menantu Keluarga BARATA." Kala menatap lurus dengan sebuah keyakinan yang sangat ia pegang, Ia begitu sangat yakin dengan apa yang ada dalam benaknya saat ini.
"Mel, Mas sudahi dulu ya Telepon nya. Nanti Mas hubungi Amel lagi, Amel baik-baik di sana ya. Kabari Mas jika membutuhkan sesuatu." Ucap Kala.
__ADS_1
Amel menjawab, "Terimakasih Mas, Tolong jangan meninggalkan Mbak Ninis untuk beberapa hari ke depan. kasihan Mbak Ninis Mas, Dia pasti sangat terpukul akibat kepergiaan Ibunya.
" Iya Mel, Mas tau. Bye Mel, Love You." Ucap Kala sembari tersenyum.
"Ya Mas, Ya sudah Amel tutup sambungan nya ya Mas." ucap Amel tanpa membalas sebuah ungkapan yang diberikan oleh Kala.
Kala menggelengkan kepalanya, "Amel masih memiliki rasa kecewa terhadapku, dia tidak membalas ungkapan yang aku berikan kepadanya." Kala mengeluh karena tidak mendengar Amel membalas ungkapan nya itu.
Di tempat berbeda, Ninis terlihat sedang memikirkan hubungan nya bersama Kala. Ia larut dalam sebuah lamunan, Ia begitu takut jika Kala benar-benar meninggalkan dirinya.
Ia menghela nafasnya, "Aku sudah sangat mencintai kamu Mas, entahlah Aku bingung harus melakukan apa agar kamu tidak melanjutkan perceraian itu." Ninis membatin sedih, pernikahan nya memang sudah berada di ujung tanduk. Ia memikirkan bagaimana perasaan sang Ayah saat tahu hubungan gelap anaknya tercium oleh Menantu juga besan nya, Ia dapat memastikan bahwa Aji akan marah dan mungkin tidak lagi menganggap Ninis sebagai anak kesayangan nya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Anak ku?" Tanya Aji dari belakang, Ninis pun menoleh ketika mendengar suara Ayahnya itu.
Ninis tersenyum, "Tentunya Ninis memikirkan kepergian Ibu, belum juga satu hari, Ninis sudah sangat merindukan Ibu." ucapnya yang dengan sengaja berbohong.
Aji menghampirinya, kedua tangan nya memegang kepala milik Ninis. Lalu Aji terlihat mengecup kening anaknya, "Anak Bapak itu gak boleh sedih, kalau sedih Bapak nanti ikut sedih." Ninis menganggukkan kepalanya, lalu memeluk tubuh sang Ayah dengan sangat erat. Ingin sekali rasanya Ninis menangis di pelukan sang Ayah, dan mengatakan semua yang telah terjadi.
Sosok Regi melihat keakraban Kakak perempuan nya bersama Ayah yang tidak pernah memperlakukan nya seperti demikian, Regi yang merasa kesal itu pun segera mengemas barang-barang miliknya.
Ia menggerutu sembari membereskan barang-barang miliknya, Ia tak lupa membawa Jaket kesayangan mendiang ibunya itu untuk Ia jadikan sebagai pelengkap dalam kesendirian nya.
Regi terlihat mendorong sebuah koper kecil berisikan pakaian-pakaian miliknya yang sempat tertinggal itu, Ninis melihat apa yang di lakukan oleh Regi dan Ninis terlihat berlari untuk menghalangi kepergiaan Regi.
"Hei Mau kemana?" Tanya Ninis yang terlihat menghampiri Regi.
"Egi mau pulang Mbak ke tempat dinas." Sahutnya.
Ninis menggelengkan kepalanya, "Dek, acara doa bersama untuk Ibu saja belum di mulai. Kok kamu malah pergi sih?" Tanya Ninis.
Regi terlihat memalingkan wajahnya, Ia tak menjawab pertanyaan yang diberikan oleh kakaknya itu.
"Biarkan saja anak itu pergi Nis, Bapak sudah tahu jika kepedulian anak itu pada Ibumu hanyalah Palsu." Celetuk Aji dari kejauhan, Regi enggan menanggapi kalimat buruk yang selalu diberikan Sang Ayah kepadanya. Tanpa membalas kalimat sarkas Ayahnya, Regi hendak melangkahkan kakinya kembali.
__ADS_1
"Jangan pergi Dek, Mbak Mohon!" Regi tetap tak mau mendengarkan sang kakak, "Ibu pasti sedih jika kamu memperlakukan bapak seperti ini." Sambung Ninis sembari menangis.
Regi menatap wajah kakaknya, "Mbak dengar apa yang barusan Bapak katakan?" Tanya Regi, Ninis seakan tak mau jika adiknya itu memasukkan perkataan sang Ayah kedalam hatinya. Namun, Regi berpikiran lain terhadap sosok kakaknya ini. Kakaknya tidak pernah merasakan sebuah cacian hingga makian tanpa apa yang ia lakukan kepada sang Ayah, Regi tetap melanjutkan langkah kecilnya. Ninis yang begitu kesal pun menarik tangan Regi hingga memancing kemarahan Regi, "Berhentilah Regi! Mbak mohon!" Teriaknya saat itu.
Regi menepis genggaman tangan kakaknya itu, "Mbak lah yang harus menghentikan rasa benci Bapak kepada Regi!" Balas Regi dengan berteriak, beberapa saudara dari Keluarga Widia dan juga keluarga Aji pun terlihat mencoba menenangkan mereka.
Sorot mata Regi begitu tajam, Ninis pun seakan tak mampu menatap mata penuh amarah milik adik lelaki nya itu.
"Apa pernah Mbak mendapat sebuah tamparan dari Bapak, Cacian, makian, hinaan bahkan Bapak dulu tak menganggap aku seorang anak dari darah dagingnya." Ninis menggelengkan kepalanya, "Sedari dulu hanya Ibu Widia yang menginginkan keberadaan ku disini, hanya Ibu yang selalu menyayangi ku, membuat ku sabar, menenangkan hati juga pikiran ku. Membuat aku merasa di butuhkan olehnya, dan merasa jika aku tak kehilangan kasih sayang dari sosok Ayah serta Ibu yang juga seharusnya aku miliki.".
"Kini Ibu sudah tidak ada, untuk apa aku disini. untuk apa aku dengan susah payah menyambut hati bapak sedangkan bapak tidak pernah menganggap ku ada. Aku hanyalah anak pembangkang, dan mungkin jika saja Ibu tidak menabung untuk ku. Aku tidak akan bisa menjadi dokter seperti saat ini." Air mata Regi mengalir, Ia benar-benar meluapkan amarah yang sudah lama terpendam.
Aji yang saat itu mendengar semua keluh kesah anaknya hanya terlihat menatap tajam kearah wajah Regi, tak ada sedikitpun hatinya merasa jika apa yang selalu ia katakan dan lakukan akan melukai hati Regi, tak ada penyesalan bahkan seakan tidak ingin mendengar setiap kalimat yang Regi utarakan.
Regi beralih menatap nya, Ia mengatupkan kedua tangan nya itu. Lalu berucap, "Maaf jika apa yang dulu bapak lakukan bersama Ibu kandungku membuat aku lahir ke dunia ini, Aku tidak pernah meminta bahkan memohon. Jikalau pun Tuhan memberikan sebuah tawaran pada ku, Aku akan mengatakan bahwa aku ingin lahir dari Rahim Ibu Widia agar Bapak mencintaiku dan menyayangiku seperti Bapak menyayangi Mbak Ninis. Dan andai Aku bisa memutarkan hati bapak, Aku akan membuat Bapak jatuh cinta pada anak usia 10 Tahun yang di tinggalkan oleh Ibunya dengan tangan terikat." Regi kembali melangkahkan kakinya, tanpa mereka sadari sosok Kala menyaksikan apa yang telah terjadi.
Kala mengikuti langkah kaki Regi, Ia terlihat tak henti memanggil nama Regi agar Regi menghentikan langkah kakinya.
"Regi, Please bisakah kita berbicara."
Regi tetap berjalan menuju tempat dimana Ia memarkirkan mobil miliknya itu, melihat hal itu, Kala memilih untuk menyusul langkah kaki adik iparnya itu.
"Stop! Bisakah kita berdua berbicara dulu." Regi terdiam, Ia enggan menatap wajah kakak Iparnya itu.
"Mas tahu kamu sedang merasakan terpuruk, sakit hati bahkan kecewa dengan keadaan saat ini. Tapi tolong jangan pergi dalam keadaan marah, jangan pergi saat amarah besar menguasai dirimu." Ujar Kala sembari berdiri dihadapan Regi, Ia.
"Mas lihat apa yang terjadi? Mas lihat apa yang Bapak katakan kepada Mbak mengenai Regi?" Ungkapnya, "Regi hanyalah anak dari Istri kedua Bapak dan membuat kehidupan Bapak selalu terancam. kehadiran Regi sama sekali tidak di inginkan, walaupun kehadiran Regi adalah prilaku bapak di masa lalu. tetapi bapak selalu terlihat bahwa Regi adalah petaka bagi Bapak." Ungkap nya kembali.
"Oh, Anak yang malang. bukan begitu Mas. tolong jangan halangi kepergiaan Regi. semakin lama Regi berada disini, semakin lama pula rasa sakit ini Regi rasakan." Kala sedikit menganggukkan kepalanya dan Regi kembali berjalan melewati dimana tubuh milik Kala itu berdiri.
Regi masuk kedalam kendaraan miliknya dan segera mengemudikan kendaraan nya itu menuju dimana ia bertugas.
Kala menundukkan kepalanya, Ia semakin yakin untuk memutuskan perpisahan nya bersama Ninis dan bersama-sama mengurus anak yang sedang di dalam kandungan Camelia bersama sosok Camelia yang menjadi Ibu biologis anak itu, Ia seakan tidak ingin nasib sang anak seperti nasib Regi. Hidup di tengah kebahagiaan keluarga lain sangat lah menyedihkan, "Aku tidak akan membiarkan anak Camelia tumbuh kembang di dalam pernikahan ku dengan Ninis, aku yakin, Ibu akan memberikan penawaran itu agar Aku tidak menceraikan Ninis." Gumam nya dalam hati, Ia seakan tahu sebuah maksud yang nantinya akan di sampaikan oleh Ibunya.
__ADS_1