
Beberapa hari kemudian, Kala yang baru saja pulang itu terlihat sedang memarkirkan mobil miliknya. Sundari berdiri tepat menunggu Kala di depan pintu utama rumahnya, Kala keluar dari dalam mobil miliknya itu dan segera menghampiri Sundari.
"Pagi Bu?" Sapa Kala sembari memeluk ibunya, wajah Ibunya terlihat berbeda seakan ada sesuatu hal yang ingin ibunya sampaikan kepada dirinya.
"Darimana kamu Mas?" Tanya Sundari.
"Kala pulang dari Depok Bu, dua hari ini Kala survey lokasi Proyek. Kebetulan banyak masalah di sana yang mengharuskan Kala mengeceknya sendiri." Terang Kala sembari berjalan bersama Ibunya itu, "Apakah Ninis sudah pergi ke rumah sakit?" Tanya Kala kepada Ibunya.
"Ninis tidak pulang dua hari ini, dia menghubungi ibu dan mengaku tidur di rumah Bapak. Mengapa Ninis tidak memberitahu mu?" Tanya Sundari.
Kala terdiam sejenak, ia ingat jika malam itu ia tidak menerima panggilan suara bahkan panggilan video dari sosok Ninis dan hal itu mungkin yang akan Ninis katakan padanya. Kala pun menunjukkan wajah yang tidak biasa, seolah kebingungan dalam menjawab pertanyaan Ibunya.
"Memangnya tidak bisa menerima panggilan sebentar, Untung saja Bapak mertua mu memberitahu Ibu bahwa Ninis aman bersama nya. Atau mungkin kalian bertengkar?" Tanya Sundari, Kala terdiam kembali. Lalu Sundari bertanya kembali, "Apa Ninis membuat mu marah?" Kala yang pada saat itu duduk di ruang keluarga pun segera menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak bertengkar Bu, kebetulan Kala gak bawa Charger ponsel malam itu, Kala sudah berbicara bahwa Kala tidak akan pulang dan keesokan harinya Kala segera memberi charger ponsel baru." Jawab Kala, "Dan mengenai Kala tidak menghubungi Ninis, Kala sangat sibuk Bu." Tambah Kala.
"Ya sudah ibu tunggu kamu di ruangan Ibu ya." Ucap Sundari pada Kala, Kala menganggukkan kepalanya.
Jantungnya berdegup sangat kencang, entah mengapa Sundari terlihat begitu ketus padanya dan hal itu membuat Kala berpikir bahwa Sundari sudah mengetahui apa yang sedang terjadi.
Nani memberikan Kala secangkir teh hangat, melihat keberadaan Nani. Kala pun memberikan Nani sebuah pertanyaan, "Bi Nani gak tau Camelia dimana saat ini?" Nani menggelengkan kepalanya, ia terlihat begitu gugup.
"Ti-tidak Mas." Jawabnya terbata. Kala mencoba memperhatikan Nani, "Kalau Bi Nani tahu, sudah Bi Nani temui Mas. Bibi pun sangat mengkhawatirkan Amel, apalagi Amel tidak pernah pergi kemanapun selama Bi Nani tahu." Sambung Nani.
"Justru itu bi, Kala tahu betul Amel tidak pernah kemanapun. Dan Kala berpikir seseorang telah membantu kepergian nya." Ujar Kala, "Kala akan menemukan Amel Bi, Kala janji." Tambah Kala.
Bi Nani mengangguk pelan, "Ya sudah Kala ke ruangan Ibu dulu ya." Pamitnya sembari membawa gelas berisikan teh hangat itu, Nani terdiam dan berpikir bahwa Kala sangat mengkhawatirkan Camelia dan Nani ingin sekali membantu Kala untuk menemui Camelia, akan tetapi ia mengingat betul janjinya kepada Camelia untuk tidak mengatakan kepada siapapun mengenai keberadaan nya.
Sesampainya Kala di ruangan Ibunya, Sundari yang berdiri tepat di hadapan Kaca jendela besar itu menyadari kehadiran Kala.
"Duduklah Kala, Ibu ingin memberikan kamu sebuah pertanyaan." Ucapnya dengan tegas.
Kala pun duduk di atas sofa itu, ibunya berjalan menghampiri kursi di mana Kala duduk. Ia menatap lekat wajah anaknya itu, "Ada hubungan apa Mas dengan Amel ini?" Tanya Sundari.
"Maksud Ibu hubungan apa?" Tanya Kala kepada Ibunya itu, "Mas tidak mengerti Bu." Sambung Kala.
__ADS_1
Sundari kembali beranjak dari tempat duduknya itu, lalu membawa sebuah amplop berwarna coklat dan memberikan amplop tersebut kepada Kala. Kala pun membuka amplop tersebut, ia begitu terkejut saat melihat beberapa foto kebersamaan dirinya bersama Camelia tempo lalu.
Foto itu saat dirinya dan Camelia diam-diam bertemu di taman belakang, dan foto lainnya yang menunjukkan Kala dan Camelia berada di taman komplek itu. Lalu, beberapa foto menunjukkan Camelia sedang menangis dan Kala terlihat memeluk Camelia seraya menenangkan Camelia itu.
"Katakan alasan Mas mengenai foto itu?" Tanya Sundari sembari menatap lekat wajah anak satu-satunya, Kala menundukkan kepalanya itu.
"Kala.. Kala.. Bingung Bu."
"Bingung?" Tanya Ibunya kembali, kali ini nada dari pertanyaan ibunya begitu tinggi.
Sundari menggelengkan kepalanya, "Lantas dimana keberadaan Camelia saat ini?" Tanya Sundari, "Kamu pasti menyembunyikan Camelia kan? Atau menyuruh Camelia pergi." Ungkap nya dengan mata yang membola.
Kala menggelengkan kepalanya itu, "Sumpah demi atas nama Tuhan Bu, Kala tidak tahu menahu dimana Camelia. Bahkan saat Amel pergi, Kala sedang dalam perjalanan menuju Amerika bersama Ninis." Sahut Kala dengan sangat yakin.
Ibunya kembali berucap, "Kalau begitu apa yang sedang terjadi Kala? Seseorang telah memberitahu Ibu mengenai ini semua melalui sebuah amplop berisikan foto-foto kamu dengan Camelia dan kamu harus menjelaskan ini semua sebelum orang itu memberitahu Ninis."
"Tolong jelaskan semuanya dengan jujur, Ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong kepada siapapun." Tegasnya kembali.
Kala masih saja terdiam, ia tidak tahu harus memulai dari mana menjelaskan semua yang telah terjadi. Kala takut sang Ibu malah membencinya saat tahu apa yang sudah terjadi dan apa yang Kala curigai mengenai Camelia, "Kala, bisakah kamu mendengar apa yang Ibu pinta saat ini?" Tanya Ibunya kembali.
"Kala takut Ibu marah kepada Kala, Kala telah mengecewakan Ibu dan semuanya. Kala lah yang menghancurkan semuanya Bu." Sahut Kala sembari meneteskan air matanya, "Kala mohon jangan pernah membenci Kala setelah Ibu tahu semuanya!" Sundari terlihat memalingkan wajahnya, kali ini Sundari benar-benar marah dengan apa yang sudah Kala lakukan
Sundari menatap Kala kembali, "Katakan atau Ibu akan mencari tahu sendiri dan memutuskan sendiri hukuman apa yang akan ibu berikan pada mu!" Ancaman yang diberikan oleh Sundari membuat hati Kala gentar.
Wajah Kala begitu sangat memerah seolah menahan rasa malu dan takut akan kemarahan ibunya, Sundari pun menarik tangan Kala dan meminta nya untuk segera berkata jujur.
“Kala telah melakukan hal yang tidak baik pada Camelia Bu, Camelia sama sekali tidak bersalah.” Ungkap Kala sembari memejamkan matanya, “Kejadian itu pun tanpa Kala sadari, Kala mohon maafkan Kala bu. Kala tidak mau mengecewakan Ibu juga Ninis dan Kala meminta agar Camelia melupakan itu semua. Namun saat ia pergi, Ia sedang mengandung anak Kala.” Tambahnya.
Mata Sundari membelalak seolah tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi, Kala pun menceritakan cerita yang sangat lengkap kepada Sundari. Sundari tidak mempercayai apa yang Kala katakan, menurutnya Camelia memang ingin menggoda Kala dan Camelia ingin memiliki Kala.
“Hentikan omong kosong itu Kala, Ibu tidak percaya mengenai hal itu. Mana mungkin kamu mabuk dan merudapaksa Camelia, Camelia memang menggoda mu dan kamu tergoda oleh nya.” Tegas Sundari, “Ibu sudah bilang, jaga Camelia dan jangan pernah menganggap Camelia orang lain untuk mu. Dia sudah seperti adikmu, kamu malah menerima godaan nya.” Sambung Sundari yang tetap dengan apa yang ia pikirkan mengenai Camelia.
“Kala sudah berkata jujur Bu, disini Kala bersalah. Bahkan Kala menyadari semua ini setelah Kala pulang dari malam pengantin Kala bersama Ninis, Kala menyadari itu dan Kala merasa sangat menyesal.” Tukas nya sekali lagi.
“Ibu tidak percaya, kamu hanya sedang berusaha melindungi Camelia. Kamu sudah membuat Ibu malu Kala!” teriaknya dan itu membuat Kala semakin merasa takut juga merasa berdosa karena sudah membuat ibunya marah, “Ibu tidak ingin kamu mencari keberadaan Camelia, bahkan jikalau kamu tahu dimana dia berada, Ibu tidak mengijinkan kamu menemui nya.” Sambung Sundari.
__ADS_1
“Ninis adalah menantu Ibu dan selamanya akan menjadi menantu Ibu, Ibu akan mempertahankan rumah tangga mu tanpa ada masalah apapun. Ingat, Ibu tidak merestui kamu dengan Camelia sekalipun ada anak di dalam kandungan Camelia!” teriaknya kembali, tanpa sengaja Sumiati mendengar kalimat itu. Sumiati yang akan menghampiri Sundari karena baru saja mendapatkan sebuah paket pesanan Sundari itu pun mendadak menghentikan langkah kakinya saat mendengar untuk pertama kalinya majikan nya itu berteriak kepada anak satu-satunya itu, hati Sumiati pun merasa sakit saat mendengar Sundari mengatakan hal yang buruk kepada Camelia.
Akan tetapi Sumiati tidak dapat melakukan apapun, Ia pun memilih untuk tidak melanjutkan langkah kakinya dan memilih untuk menemui Nani juga Asep untuk memberitahu apa yang baru saja ia dengar.
Ibunya terus menerus mengancam Kala agar tidak melakukan hal konyol yang akan membuat pernikahan yang baru saja seusia jagung itu hancur. Kala mengangguk pelan, namun hatinya berkata seakan ‘Carilah Camelia dan anak mu’ , Ia akan tetap mencari dimana keberadaan Camelia.
Sementara itu, di tempat berbeda Camelia sedang menyapu halaman miliknya. Seseorang yang tak lain adalah Bunda Alia itu menghampirinya, “Siang Mel.”
“Siang Bunda.” Balas Amel kepada Bunda Alia yang juga seorang Bidan di dalam kampung tersebut, “Mari masuk Bunda.” Kata Amel mengajaknya masuk kedalam rumahnya itu.
Alia pun duduk di atas sofa yang berada di dalam rumah kecil itu, “Mel, Mang Asep dan Mama mu dulu sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Kebetulan, kami juga selalu berhubungan baik dan Mang Asep sudah menjelaskan siapa kamu dan kenapa kamu disini.” Ungkap Alia.
“Bentar Bunda, Amel mau ambilkan bunda air terlebih dahulu.”
“Oh tidak perlu Mel.” Tolaknya saat itu, “Bunda hanya sebentar kok.” Sahut Alia, wanita berusia 35 tahun itu sangatlah baik dan dewasa. Ia cukup mengenal baik Sumiati, Asep, bahkan suami dari suamit sendiri. Dan ia juga sangat dekat dengan mendiang Ibu Eny semasa hidup, baginya Ibu Eny adalah ibu kedua saat Ibunya wafat terlebih dahulu.
Bunda Alia pun kembali berucap, “Bunda sudah berbicara pada Rt dan Rw setempat, jika mereka bertanya katakana saja kalau kamu adalah menantu almarhum Ibu Eny dan anak nya yang juga suami mu sedang bertugas di luar Negri. Kamu di titipkan kepada saya, jangan pernah mengatakan apapun selain itu ya Mel.” Camelia mengangguk pelan, “Saya melihat kamu seakan saya melihat Ibu Eny,” Ujar Alia sembari meneteskan air matanya.
Camelia menundukkan kepalanya, “Bedanya saya benar-benar bersembunyi dan saya sudah sangat menyakiti hati mbak Ninis, tetapi saya tidak berniat seperti itu Bunda. Jika dapat memilih, saya tidak mau malam itu terjadi. Jujur hal itu membuat kehidupan saya hancur dan saya tidak tahu harus bagaimana menyelesaikan ini semua.” Ungkap Camelia bersedih.
Alia memegang tangan Camelia, “Kamu jangan risau ya, saya akan siap membantu apapun Mel. Anak itu tidaklah berdosa, anak itu tidak boleh menanggung apapun. Anak itu pun yang akan menguatkan kamu Mel, percayalah padaku.” Tutur Alia, kalimat yang Alia sampaikan sedikit membuat Amel merasa tenang.
“Minggu depan akan ada pemeriksaan di Balai desa, berhubung alat di klinik belum lengkap, kamu ikut pemeriksaan itu ya. Nanti saya isi formulirnya,” ajak Alia, Camelia pun menganggukkan kepalanya tanda Ia menyetujui apa yang di katakana oleh Bunda Alia itu.
“Kira-kira sekarang berapa minggu Mel?” Tanya Alia.
Camelia menjawab, “Sepertinya sudah memasuki 12 minggu Bunda.”
“Wah masih sangat kecil, tapi kamu masih suka muntah kan?”
“Justru itu Bun, sering sekali dan apakah tidak akan membahayakan janin Amel?” Tanya Amel.
Alia tersenyum, “Tidak akan, banyakin makan sayur sama buah ya. Jangan Stress, apalagi capek. Kamu harus banyak beristirahat.” Sahut Bunda Alia.
Camelia mengangguk pelan, “Baik Bunda, terimakasih atas perhatian bunda ya.”
__ADS_1
“Ya sudah Bunda pulang ya, Bunda sudah simpan nomor kamu. nanti Bunda kirim pesan teks agar kamu dapat menyimpan nomor bunda. Dan sekali lagi, tolong jangan sungkan meminta bantuan apapun pada Bunda. Anggap saja Bunda adalah Ibu kedua kamu disini.” Camelia tersenyum, Alia memeluk Camelia dan Segera berpamitan untuk pulang.
Kebetulan jarak rumah yang di tempati Camelia dengan Alia hanya terhalang oleh tembok pemisah dan Alia hanya tinggal bersama anak gadisnya yang berusia 15 tahun, Alia yang begitu baik akan siap membantu Camelia dalam melahirkan anaknya kelak.