INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
chapter 13


__ADS_3

Hari itupun tiba, hari dimana kepergiaan Kala dan Ninis menuju Amerika. Kala yang sudah bersiap untuk pergi pun terlihat menunggu Ninis di area ruang keluarga, Sundari meminta Nani dan Camelia untuk membantu Ninis membawakan beberapa barang bawaan seperti koper yang akan di bawa oleh mereka. Namun saat Camelia terlihat mendorong koper tersebut, sosok Asep yang tak lain adalah seorang supir yang akan mengantar mereka pun terlihat membawa barang yang sedang berada di tangan Camelia.


"Sudah sama Mang Asep saja." Ucap Asep kepada Camelia, Camelia pun hanya mengangguk dengan pelan. Asep juga menyuruh Camelia untuk berjalan dibelakangnya, "Mang Asep bantu aja Bu, mobil sudah siap di depan." Kata Asep kepada Sundari.


"Iya, tadi biar Asep cepat mempersiapkan mobil. lagian kopernya gak berat masih bisa di dorong." Ujar Sundari, Asep pun hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun lagi.


Sundari memberikan sebuah pelukan kepada Anak serta menantunya itu, "Kalau sudah sampai kabari Ibu ya kalian."


"Iya Bu, itu nomor utama." kata Ninis menjawab kalimat Ibu mertuanya.


Camelia yang pada saat itu berdiri dibelakang Sundari hanya mampu menundukkan kepalanya, lagi dan lagi Camelia merasa sangat sakit melihat kedekatan diantara Sundari dengan menantunya itu. Dan kali ini, Kala kembali memeluk sang Ibu namun matanya terlihat menatap kearah wajah Camelia.


"Pastikan Camelia senin masuk kuliah bu." Ucap Kala yang sengaja memberikan perhatian layaknya kakak kepada adiknya.


Sundari melirik kearah Camelia, "Iya, Amel pasti masuk kok."


"Nanti Mas Kala pulang, Amel cerita ya apa saja yang kamu dapat saat Maba dilakukan." Amel menganggukkan kepalanya, Ninis tersenyum saat melihat perhatian yang diberikan suaminya kepada Camelia. Ninis memang berhati baik, ia tidak sedikitpun merasa cemburu saat melihat Kala yang selalu memperhatikan Camelia.


Karena yang ia tahu, Kala dan Camelia seperti layaknya seorang kakak beradik. Apalagi Ibu mertuanya selalu mewanti-wanti Ninis untuk tidak memiliki rasa cemburu, "Kabari Mbak Ninis juga ya Mel."


"Iya Mbak." jawab Camelia dengan suara yang terdengar begitu pelan.


Kala pun pergi bersama Istrinya untuk pergi berbulan madu ke sekian kalinya, tentunya hal itu membuat Camelia merasa sakit kembali. Dan kali ini, Camelia sudah tidak mau lagi menyimpan rasa sakit ini. Apalagi keadaan nya semakin memburuk, Camelia dinyatakan sedang mengandung satu buah janin hasil hubungan satu malam nya bersama Kala.


Dan Ia memutuskan untuk segera mencari cara agar apa yang sedang Ia alami tidak di ketahui oleh Kala maupun orang-orang dirumahnya, Namun ia masih mencari cara agar dirinya dapat menutupi semua itu.


Dua hari yang lalu, Camelia meminta ijin kepada Ibunya begitupun Sundari untuk melakukan lari pagi. namun pada kenyataan nya, Camelia sengaja mendatangi sebuah klinik kecil di sebrang Kompleknya itu. Ia ingin mengetahui apa mimpi Kala benar atau mungkin hanya rasa takut Kala saja.


Akan tetapi hal itu nyata, Ia terkejut saat seorang Bidan mengatakan bahwa dirinya dalam keadaan hamil. Dan hasil Lab menunjukkan bahwa hasil tersebut adalah Positif mengandung, Camelia merasa hancur dan tak tahu harus melakukan apa. Ia hanya menangis dan berharap bahwa Bidan salah dalam melakukan pemeriksaan, dan pada akhirnya Ia pun membeli sebuah Alat tes kehamilan lainnya.


Dan begitu melihat hasilnya, tampak dua buah garis berwarna merah jelas itu terpampang di dalam Alat Tes kehamilan tersebut. Camelia pun yakin akan apa yang di katakan Bidan tersebut, "Bagaimana ini?" Tanya Camelia pada saat itu dan hal tersebut membuatnya susah untuk memejamkan kedua matanya.


"Apa yang harus lakukan?" Tanya Camelia sembari membolak-balikkan langkah kakinya, sebelah tangan nya memegang kepala miliknya dan wajahnya begitu terlihat risau pada saat itu. Ia terus menerus memikirkan bagaimana caranya agar dirinya dapat keluar dari masalah sebesar ini, ia pun memutuskan untuk pergi setelah Kala dan Ninis melakukan perjalanan bulan madu tersebut.


Mata Camelia menatap kepergiaan Kala bersama Ninis, disitulah ia akan mematangkan rencana kepergian nya bersama Calon bayi yang berada di dalam kandungan nya.

__ADS_1


"Mel," panggil Sundari, Camelia membalasnya dengan sebuah tatapan kecil. Lalu Sundari bertanya, "Wajah mu semakin pucat Mel, Biar Nani Antar kamu ya." Ajak Sundari pada Camelia, Camelia menolak dengan cara yang begitu halus.


"Maaf sebelumnya Bu, bukan maksud Amel menolak perintah Ibu. Tetapi obat yang kemarin masih banyak Bu." Ucap Camelia, "Nanti malah di kasih obat baru lagi." Sambungnya sembari menyelipkan sebuah senyuman.


Sundari merangkul Camelia, "Ya sudah kalau kamu merasa sakit, atau tidak enak badan. bilang sama Ibu kamu ya, biar nanti Ibu kamu yang mengantar kamu untuk berobat di rumah sakit." Ucap Sundari, Camelia mengangguk dengan pelan.


"Iya Bu,"


Sundari masuk kedalam rumah tersebut, Camelia terlihat memperhatikan area rumah Sundari tersebut. Ia seakan sedang memikirkan bagaimana dan kapan waktu yang tepat untuk pergi tanpa seorang pun tahu termasuk Ibunya juga Nani, "Hey, lagi apa?" Tanya Nani.


Camelia terkejut, "Bi Nani mengejutkan Amel saja."


"Mel, bibi mau tanya boleh?" Tanya Nani, Camelia menganggukkan kepalanya dengan pelan tanda Ia membolehkan Nani untuk bertanya kepada dirinya. Nani pun menarik tangan Camelia, lalu memberikan secarik kertas yang sempat Camelia buang ke tempat sampah yang berada di depan kamarnya.


"Ini tulisan kamu kah Mel?" Tanya Nani.


Sebuah catatan bertuliskan, "Tolong aku Tuhan, aku tidak mau mengecewakan Ibu juga Ibu Sundari." Itu terlihat dibuang Camelia dan Nani yang pada saat itu merasa banyak sekali keanehan Camelia pun segera membawa kertas tersebut, "Bibi mau kamu gak memendam ini sendirian Mel, Bibi khawatir sama kamu." Ucap Nani dengan air mata yang terlihat menetes.


"Amel jangan membuat diri Amel menderita seorang diri, percayalah bibi akan membantu Amel." Jawab Nani.


"Pekerjaan apa Mel? Ibu Sun meminta Amel untuk Fokus belajar. Kalaupun harus bekerja, Amel hanya membantu semampu Amel. Dan Ibu Sun selalu memberi Amel uang jajan seperti beliau memberikan uang jajan pada anak gadisnya." Terang Nani.


Camelia menggelengkan kepalanya, "Tapi saat ini berbeda Bi, Amel sudah mulai memiliki tanggung jawab besar." Ucap Amel.


"Tanggung jawab besar apa Mel?" Tanya Nani, Camelia pun menarik tangan Nani dan membawanya jauh dari area ibunya juga Sundari. Di bawah taman, di sebuah kursi ia duduk dengan tubuh yang begitu lemas. Air matanya begitu deras mengalir dan terlihat sekali raut wajah cemas ada di dasar raut wajah Camelia, Nani sengaja membiarkan Camelia untuk lebih bersikap tenang.


Bagi Nani, membuatnya nyaman dalam tangisan adalah hal yang akan membuatnya sedikit lebih tenang.


"Menangislah Mel, bibi tahu sesuatu hal sedang terjadi padamu." Ucap Nani dan Camelia terlihat memeluk Nani, "Bibi akan membantu mu keluar dari masalah itu." Sambung Nani.


Camelia tetap menangis, Ia merasa bingung dengan apa yang akan ia katakan pada Nani. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya, atau tetap dengan rencana sebelumnya untuk mencari cara agar orang tidak tahu mengenai kepergian dirinya.


Camelia menatap wajah Nani, sesuatu hal terlintas dalam benaknya. Mungkin saja Nani dapat membantunya dengan meminjamkan uang kepadanya untuk pergi dari rumah tersebut, karena menurut Camelia uang tabungan yang sudah ia bongkar itu sangatlah tidak cukup.


Ia pun segera memberitahu Nani mengenai keadaan nya itu, "Amel mau pergi bi, Amel tidak bisa tinggal lama disini." Kata Amel pada Nani.

__ADS_1


"Apa karena pernikahan Mbak Ninis dan Mas Kala?" Tanya Nani, Camelia menggelengkan kepalanya.


"Bukan?" Tanya Nani kembali.


"Pernikahan mereka memang sudah yang terbaik Bi, Amel memang mencintai Mas Kala. Begitupun Mas Kala yang juga menyayangi Amel. Tetapi kejadian itu.." Kalimat itu terhenti, Amel menundukkan kepalanya kembali.


"Kejadian apa Mel?" Tanya Nani sembari memegang tangan Camelia, "Mel.."


"Malam itu bukan keinginan Amel Bi Nani, semua itu terjadi dengan begitu cepat dan Amel merasa takut." Ucap Camelia, "Amel.." Ia kembali menghentikan kalimat tersebut, ia beranjak dari tempat duduknya.


"Lupakan saja Bi Nani, anggap saja Bibi tidak pernah mendengar apapun dari mulut Amel." Seru Camelia, Nani menarik tangan Camelia kembali seakan meminta Camelia untuk kembali duduk di sampingnya.


"Tidak Mel, bibi yakin dengan apa yang kamu katakan barusan. Tidak mungkin seorang gadis polos seperti mu hanya mengarang sebuah cerita." Ucap Nani kembali.


Nani menatap wajahnya, "Amel sudah bibi anggap seperti anak gadis bibi, Amel sudah menjadi bagian di dalam kehidupan bibi. Kalau sampai Amel terluka, bibi pun akan merasakan hal yang sama. Jadi ijinkan bibi membantu Amel." Pinta Nani kembali, ia meyakinkan Camelia agar dapat menceritakan kejadian tersebut. Camelia mengangguk dengan pelan, "Tolong jangan simpan ini semua seorang diri Mel, bibi tidak mau kamu terluka. Bibi juga tidak mau kamu meratapi kesedihan mu seperti ini, setidaknya bibi bisa berusaha membatu mencari jalan keluarnya." Ucap Nani kembali.


Camelia menundukkan kepalanya, "Saat ini Amel sedang mengandung anak Mas Kala Bi Nani." Mendengar hal tersebut bibi Nani tak henti bergetar, Nani pun segera memeluk Camelia dan terlihat menangis sembari memeluk Camelia.


"Semua bukan keinginan Amel dan Mas Kala, Mas Kala dalam keadaan mabuk Bi dan Amel tidak tahu mengapa hal itu terjadi." Terang Camelia kembali, Amel pun kembali menceritakan peristiwa malam itu. Nani yang pada saat itu mendengar pun hanya terdiam membisu dan tidak mengatakan satu kalimat apapun, "Amel hanya mengantarkan Jas yang diperintahkan oleh Ibu Sun, dan Amel tidak berniat menggoda Mas Kala."


"Apa ibu mu tau mengenai ini? Dan apa Mas Kala tau Mel?" Tanya Nani.


Camelia menggelengkan kepalanya, "Tidak bi, Amel tidak mau Ibu tau. Amel juga tidak mau Mas Kala tau, Amel mau membesarkan anak ini walaupun hanya seorang diri. Amel tidak mau melakukan dosa apapun lagi." Jawab Amel sembari mengusap pelan perut miliknya.


"Mel, kehamilan itu tidak mudah. Bibi pernah merasakan hamil seorang diri dan berakhir keguguran, itulah yang menyebabkan Bibi berada disini dan tidak pernah lagi bertemu dengan keluarga bibi." Ucap Nani.


Camelia kembali merasa risau, namun ia tetap bersikukuh untuk membesarkan anak itu. Walaupun ia akan mendapatkan sebuah konsekuensi yang sangat besar, "Amel akan tetap membesarkan anak ini seorang diri, Ibu Amel, Ibu Sun maupun Mas Kala tidak boleh tahu Bi." Ungkap Amel.


"Amel tidak mau menghancurkan hati Ibu, juga Ibu Sum dan Amel tidak mau menghancurkan pernikahan Mas Kala dan Mbak Ninis."


Nani kembali terdiam sejenak, "Masalah inikah yang kamu bicarakan saat menghampiri Mas Kala tepat di kebun belakang?" Tanya Nani.


"Iya, tetapi mengenai kehamilan ini jujur saja Amel baru tahu kemarin Bi dan Amel sengaja mengatakan pada Mas Kala bahwa itu hanyalah rasa takut Mas Kala saja." Sahut Camelia, Nani menggenggam tangan nya itu. ia menatap wajah polos Camelia, Nani mengusap wajah itu. Air mata yang sedari tadi mengalir mengering seketika manakala ia bercerita pada Nani, Nani pun tergugah hatinya untuk membantu Camelia.


Semua itu karena pengalaman yang sudah terlebih dahulu Nani alami, dan Nani berharap bayi itu lahir dan menjadi penyelamat untuk Camelia kelak.

__ADS_1


__ADS_2