INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
Chapter 31


__ADS_3

Malam hari di kota Bandung, Kala yang sudah menemukan sebuah penginapan yang berada di sebuah pusat kota itu terdiam di luar balkon kamarnya. Kesendirian nya saat ini menandakan sebuah ketenangan, walaupun tetap ia memikirkan dimana Camelia saat ini. Akan tetapi entah mengapa Ia begitu senang saat berjauhan dengan kediaman sang Ibu, bahkan keberadaan Ninis di sampingnya itu membuat hatinya selalu gelisah.


Malam itu, Ia meneguk satu gelas demi satu gelas lainnya hingga mengosongkan satu botol minuman beralkohol yang ia beli itu. Tentunya hal itu membuatnya mabuk hingga meracau segala permasalahan nya. Kala memang tidak berniat untuk menyelesaikan permasalahan nya dengan pergi ke sebuah club mainan, Justru ia lebih nyaman seperti ini. Ia takut jika sesuatu hal terjadi seperti apa yang ia lakukan saat pesta bujang usai di gelar.


Nama Camelia tak pernah ia lupa untuk ia sebut, Ia memang begitu sangat merindukan sosok Camelia.


Dan beberapa menit kemudian, Ponselnya kembali bergetar tanda sebuah panggilan masuk. Ia menghiraukan panggilan nya begitu saja, dan panggilan tersebut tak lain adalah panggilan yang di berikan oleh Ninis. Ninis terus menerus memberinya ia panggilan suara, panggilan Video bahkan sebuah pesan teks yang tak Ninis sadari sebanyak 100 pesan. Kala tetap meracau memanggil nama Camelia, “Mel kamu dimana toh, Mas Kala merindukan mu. Dimana sebenarnya kamu membawa bayi ku! Kamu tidak boleh menderita sendirian. Aku harus mendampingi mu, seperti apa kataku dulu saat aku berbisik di telinga mu. ‘Aku mencintai kamu, Kala mencinta Camelia.’ Kamu akan selalu aku cintai walaupun aku tidak pernah mengatakan secara gambling!” racaunya saat itu.


Ponselnya kembali bergetar, Kala pun meraih ponselnya itu.


Ia memicingkan matanya seraya melihat siapa orang yang sedang menghubunginya, sebuah nama Camelia seakan tertulis di sana. Walaupun sebenarnya Ninis lah yang sedang menghubungi nya kembali, Ia pun segera menerima panggilan tersebut.


“Halo Assalamualaikum Mas Kala.” Sapa Ninis, Kala menjawab nya dengan kalimat yang tidak jelas bahkan Ninis tahu bahwa Kala sedang mabuk.


Ninis kembali bertanya, “Apa kau sedang mabuk?” Tanya Ninis kembali.


“Di-ma-na kamu A-mel ku?” Tanya nya dan pertanyaan itu membuat Ninis merasa terkejut.


Ninis tak mengatakan apapun, Ia lebih memilih untuk mendengarkan racauan Kala.


“Kamu tahu, kamu dan anak itu sangat berharga untuk ku?” nafas Kala tersengal, “Hebat kamu Mel, jawablah. Kamu bisa menjawab kan?” Tanya Kala yang terdengar meracau sembari mengeluarkan sebuah tangisan kecil. Betapa kacaunya Kala saat ini, Kala mengira bahwa Amel lah yang sedang menghubunginya.


“Kamu tahu, aku sudah sangat melukai mu dengan mengatakan bahwa kamu harus melupakan kejadian itu. Aku menyesal Mel, kini aku bingung dengan masalah kita. Jawablah Mel, mengapa selalu diam begini.” Racau nya kembali, hati Ninis begitu panas dan tak kuasa mendengar nya. Ninis pun memilih untuk memutuskan panggilan tersebut dan membiarkan Kala dengan racauan nya itu, Kala tetap meracau tanpa mengetahui bahwa Ninis sudah mengakhiri panggilan nya itu.

__ADS_1


Sementara di dalam rumah nya, Ninis yang duduk di atas ranjang pun menangis. Air matanya mengalir dengan deras, Ia benar-benar merasa salah mengambil perjodohan yang di inginkan Ayahnya itu. Walaupun menurutnya semua ini bukanlah kesalahan sang Ayah, akan tetapi Ia tetap merasa salah karena telah menyetujui pernikahan tanpa cinta itu.


“Mengapa dengan mu Mas? Mengapa kamu melakukan ini padaku. Kemarin kita masih baik-baik saja, wajarkan diriku bertanya mengapa semenjak kepergiaan Camelia itu kamu selalu terlihat murung bahkan pandangan yang begitu kosong.” Ia bermonolog sembari menatap kesembarang arah dengan air mata yang tak henti mengalir, “Jika sudah seperti ini, apakah aku tetap bersalah saat mencari kebahagiaan ku. Aku tetap tidak mau Andre hadir, tetapi saat ini hanya dia yang selalu memperhatikan aku.” Tambahnya.


“Kamu seakan memberikan luka yang tak pernah bisa untuk aku lupakan, kamu seakan ingin mengakhiri semua ini namun kamu tidak mampu untuk mengatakan nya. Bagaimana jika Ibu mu tahu mengenai keadaan kita? Dan Bapak ku? Bagaimana jika mereka tahu kebahagiaan ku dengan mu hanyalah tiga bulan saja.” Sambungnya.


“Aku tidak kuat Mas.” Ungkap Ninis sembari memejamkan matanya sejenak.


Ia mengingat semua kalimat yang baru saja Kala katakan, Ia pun memiliki sebuah pertanyaan di dalam hatinya.


“Apa sebenarnya Mas Kala pun tidak tahu mengenai keberadaan Camelia? Dia tadi mengatakan, dimana kamu Mel? Lalu bagaimana bisa Andre mengatakan bahwa Mas Kala lah dalang di dalam kepergiaan Amel, dan Mas Kala mengetahui keberadaan Camelia.” Ninis menarik nafasnya dalam-dalam, Ia benar-benar memikirkan hal itu.


“Ah, tidak mungkin jika Andre sedang membohongi ku. Mungkin saja terjadi pertengkaran hebat saat semalam Mas Kala menemaninya, lalu Camelia pergi dan meninggalkan Mas Kala. Dan Mas Kala merasa kacau hingga memilih untuk mabuk, ia juga pasti sedang mencari tahu dimana Camelia dan tentunya Ia tidak berada di Bandung! Aku sudah tidak mempercayai Mas Kala.” Tuturnya kembali, Ia tak yakin bahwa kejujuran menyelimuti kehidupan Kala. Semenjak perbincangan nya bersama Andre, Andre pun sepakat untuk tidak lagi memberikan Informasi kepada Aji dan lebih memilih memberikan Informasi itu kepada Ninis.


Dan Aji yang tidak pernah tinggal diam, tetap menyuruh seseorang mata-mata handal untuk mencari Informasi mengenai kemana Kala pergi dan juga dimana keberadaan Camelia saat ini.


Apalagi Sundari tahu jika saat ini Camelia sedang mengandung bakal calon cucu nya, ia pun tidak mau membiarkan cucunya itu menderita tanpa pengawasan dirinya. Ia akan tetap mengakui cucu nya itu, namun dengan cara menutupi keberadaan nya. Ia tidak mau jika menantu kesayangan nya itu merasa sakit hati atas kelakuan anaknya, dan ia berharap jika permasalahan Kala tidak tercium oleh Aji dan istrinya juga menantunya itu.


Sundari yang pada saat ini sedang berada di dalam ruang kerja nya itu pun hendak menceritakan semua ini kepada Sumiati, Ia pun memanggil Sumiati untuk menemuinya di ruangan tersebut. Terdengar sebuah langkah kaki Sumiati itu, “Masuklah, tutup pintunya bahkan kunci saja.” Perintahnya itu pada Sumiati.


Sumiati pun menuruti perintah yang di berikan oleh Sundari, lalu ia berjalan kembali seraya menghampiri Sundari. Sundari menatap lekat kedatangan Sumiati, Ia masih duduk di depan kursi utama.


“Duduklah Sum.” Titahnya kembali, Sumiati pun duduk di atas sofa ruangan tersebut. Sundari beranjak dan segera duduk di hadapan Sumiati, “Tentunya kamu tidak mengetahui mengapa saya memanggilmu secara mendadak saat ini?” Tanya Sundari dengan tatapan yang tidak biasa.

__ADS_1


Seperti biasa Sumiati hanya mengangguk dengan senyuman khasnya, “Iya Bu, saya tidak tahu.” Jawab Sumiati.


“Kalau saya memanggil mu atau Pelayan lainnya ke ruangan ini sudah pasti ada masalah yang ingin saya sampaikan secara pribadi bukan?” Tanya Sundari kembali.


Sumiati menganggukkan kepalanya, “Sebelumnya saya minta maaf Sum karena baru membicarakan hal ini kepada kamu, Saya bingung, saya takut dan saya tidak tahu harus memulai dari mana.” Tutur Sundari dengan nada yang tegas namun Air matanya kini mulai membasahi kelopak matanya, “Sum, saya ingin tanyakan kepadamu, mengenai kepergiaan Camelia dan kamu seakan tidak menghiraukan kepergiaan nya itu.” Sambung Sundari sembari menarik nafasnya dengan pelan.


“Apa kamu tahu dimana keberadaan Camelia saat ini?” Tanya Sundari, rasanya Sumiati ingin menjawab pertanyaan itu dengan kalimat yang sejujur-jujurnya. Akan tetapi, Sumiati tidak bisa. Ia lebih dulu janji kepada Camelia, Ia pun belum melihat bagaimana keadaan Camelia saat ini. Ia terdiam sepi dan terlihat gelengan pada kepalanya itu, Ia memberanikan menatap mata Sundari beserta kebohongan nya.


“Jujur saja Sumiati, Jujur padaku! Bukan kah kita ini saudara.” Teriaknya kecil, ia juga menangis. Namun Sumiati mengingat betul percakapan diantara Sundari dan Kala pada saat itu, Sundari sempat mengatakan bahwa dirinya tidak ingin jika Kala selalu mengingat peristiwa itu. Bahkan Sundari mengatakan bahwa sampai kapan pun ia tidak akan mengakui Camelia sebagai ibu dari calon cucu nya, dan yang terakhir Sundari mengatakan bahwa ia tidak mau Kala mencari dimana Camelia.


Dan itu membuat Sumiati berpikir untuk tetap menyembunyikan keberadaan Camelia, Ia memilih untuk merapatkan bibirnya manakala pertanyaan itu muncul sebagai perbincangan nya bersama Camelia.


Sumiati menatap tegas mata Sundari, “Saya sudah tidak memperdulikan dimana Camelia saat ini, saya hanya ingin berbakti pada Ibu saja. Saya malu karena kepergiaan nya itu, Ia telah meremehkan sebuah tugas yang harus ia kerjakan sebagai calon mahasiswa. Ia melupakan amanat yang Ibu berikan, dan jujur saya kecewa dengan anak itu.” Ucap Sumiati dengan sengaja berbohong.


“Tolong jangan lagi membahas anak itu Bu.” Sambungnya.


Sundari terdiam saat melihat raut wajah Sumiati yang pada saat itu menjelaskan mengenai mengapa dirinya tidak menghiraukan kepergiaan Camelia dari rumahnya, “Maaf jika emosi saya tidak stabil saat menjawab tadi.” Ucapnya kembali.


“Tidak apa-apa Sum, saya mengerti bagaimana keadaan kamu saat ini.” Ungkap Sundari kembali, Sundari pun kembali menarik napas sesaknya itu. Sundari terlihat berpikir, Ingin sekali rasanya ia segera memberitahu Sumiati apa yang ia ketahui saat ini.


“Camelia sedang dalam mengandung Sum, jika kamu tahu dimana dia, tolong lihat dia tanpa satu orang rumah ini tahu. Atau biar kamu menemuinya bersama Asep sebagaimana kamu juga menyimpan rahasia keluarga ini bersama nya, aku mengkhawatirkan Camelia.” Mendengar hal itu, Sumiati pun menatap wajah Sundari. Sundari kembali berucap, “Dia mengandung cucu ku, dan setelah aku pikir-pikir keselamatan cucu ku adalah sangat penting. Dan aku akan tetap bertanggung jawab untuk mengurusnya, walaupun tanpa Kala dan Ninis ketahui.” Sambungnya saat itu.


“Aku akan segera memerintahkan Asep untuk mencari keberadaan Camelia jika kamu benar-benar tidak mengetahui nya.” Tambah Sundari.

__ADS_1


Kalimat itu pun di cerna baik oleh Sumiati, akan tetapi ia tetap bersikukuh dengan janjinya terhadap Camelia. Sumiati pun membalas, “Jika hal itu yang membuat Camelia pergi, itu artinya Camelia sudah siap dengan konsekuensinya. Saya tetap tidak akan mencarinya Bu. Maaf jika hal ini menyinggung Ibu, saya akan memasrahkan apapun kepada Ibu baik kepada Tuhan. Semoga Camelia baik-baik saja.” Sundari pun mengangguk pelan, Sundari memahami maksud yang di ucapkan oleh Sumiati.


Dan terakhir Sundari berucap, “Aku akan tetap mencarinya Sum, dan tolong jangan pernah mengatakan ini kepada Ninis maupun Kala. Biar Aku yang bertanggung jawab atas apa yang sudah anak ku lakukan, Aku pun tidak mau cucu ku hidup di dalam kesengsaraan.” Sumiati mengangguk, Sundari beranjak dan memeluk Sumiati. Bagaimana pun, Sundari begitu sangat menyayangi Sumiati maupun Camelia. Akan tetapi ia tidak mau merusak kebahagiaan menantu pilihan nya, apalagi masalah ini sampai tercium oleh besan nya itu. Walaupun kenyataan nya, Aji sudah lebih tahu lebih awal daripada dirinya.


__ADS_2