INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
Chapter 33


__ADS_3

Akhir-akhir ini Kala selalu pulang larut malam, dan saat ini Ia sedang memarkirkan mobil miliknya. Dari dalam mobil miliknya itu, Kala melihat Ninis yang berdiri dengan tangan yang menumpuk di hadapan dada miliknya itu, tatapan nya pun lurus saat menatap kedatangan Kala. Kala segera keluar dari dalam mobil miliknya itu, Ia menghampiri Ninis.


“Sedang apa kamu di luar?” Tanya Kala.


Ninis memalingkan pandangan nya, “Ninis lagi cari udara segar,” jawabnya ketus, “Ya, Ninis sedang menunggu Mas lah. Mas selalu pulang malam seperti ini kan? Dan gak ada waktu banget buat bicara sama Ninis.” Sambungnya saat itu.


“Masuk kamar Nis, gak enak kalau Ibu dengar.” Sahutnya.


“Ninis udah gak peduli mengenai itu semua, sampai kapan Mas mendiamkan Ninis?” Tanyanya dengan sedikit berteriak, “Lama sudah Ninis pendam ini semua, lama sudah Ninis memakan hati seorang diri. Mas gak memahami Ninis.” Lanjutnya.


Kala terlihat menatap geram kearah wajah Istrinya, lima bulan pernikahan nya bersama Ninis seakan tidak berarti apa-apa dan Kala benar-benar sudah berubah. Kala menarik tangan Ninis seraya membawanya untuk masuk, Ninis mencoba melepaskan genggaman tangan Kala yang begitu erat hingga membuat tangan nya meringis kesakitan.


Sesampainya di dalam kamarnya, Kala pun melepaskan genggaman tangan nya itu. Ninis kembali meringis kesakitan dan terlihat mengusap pelan pergelangan tangan nya itu, “Kenapa kasar sih Mas?” Tanya Ninis kembali.


“Kenapa Kasar?” Tanya Kala, “Masih mau Tanya kenapa?” Tanya nya kembali.


“Ya, kenapa?” Tanya Ninis, “Wajar gak sih Ninis protes sama Mas?” sambungnya bertanya, air matanya mulai keluar dan ia terlihat menangisi kekesalan nya itu. Kala yang terlihat mencoba mengatur amarahnya pun terlihat tak henti bergerak sembari berulang kali mengusap keringat di dahinya, Ia merasa kesal dengan apa yang di katakana oleh Ninis sebelumnya.


“Mas, sudah cukup satu bulan ini. Mas pulang di saat Ninis tertidur, dan Mas pergi saat Ninis pun masih tertidur. Ninis menghampiri Mas ke Kantor, dan mereka bilang Mas gak ada. Ninis telepon, Mas pun gak pernah menerima panggilan telpon. Dan bahkan saat Ninis mengirim sebuah pesan kepada Mas. Mas gak mau membaca nya. Lantas dimana letak kesalahan Ninis pada Mas?” gerutu Ninis kepada suaminya itu, “Ninis sudah meminta maaf saat Mas berada di Bandung, dan sebelum-sebelumnya setiap ada pertengkaran pun Ninis selalu yang meminta maaf duluan pada Mas!” sambung Ninis.


“Tolong hargai keberadaan Ninis disini Mas, Jika Mas ingin Ninis pergi..Maka..”


Kala menyela, “Maka apa?” Tanya Kala.

__ADS_1


“Maka bicaralah pada mereka semua!” teriaknya sembari membubuhkan tubuhnya dengan terduduk lemas di atas lantai, “Kenapa Mas seperti ini sama Ninis?” Tanya nya kembali.


Kala menyimpan kedua tangan nya itu pada pinggang miliknya, nafas nya berat saat mendengar tangisan yang di berikan oleh Ninis. Ninis menundukkan kepalanya, “Kamu sudah mengetahui semuanya kan? Jawab aku dengan jujur. Kamu pula kan yang mengatakan semua ini pada Ibu?” Tanya nya kembali.


Kala berjalan menuju meja kerjanya, lalu mengambil sebuah alat perekam yang ia simpan sedari dulu. Kali ini, Ia hanya merekam sebuah percakapan saja. Terdengar suara percakapan Ninis melalui sambungan suara bersama seseorang yang Kala pun tidak tahu siapa, di sana Ninis mengatakan bahwa saat ini Kala sedang terguncang akibat sang Ibu tengah mengetahui permasalahan dengan Camelia. Ninis terlihat kebingungan, setelah memberikan isi suara Ninis itu, Kala membuang alat itu kedalam aquarium miliknya dan merogoh ponselnya.


Ia berjongkok di hadapan Ninis, lalu ia memberikan beberapa gambar dimana Ninis melakukan pertemuan bersama Andre.


“Ini akan menjadi bukti di pengadilan saat nanti aku ajukan perceraian!” tegas Kala, Ninis terkejut saat melihat beberapa foto nya bersama Andre. Bahkan Ninis sempat memasuki sebuah hotel bersama Andre dan semenjak Kala mendengar suara Ninis yang mengatakan hal itu, Ia segera menyewa orang-orangnya untuk membuntuti kemana Ninis pergi.


Dan benar saja apa yang Kala pikirkan mengenai istrinya itu, sosok mantan kekasihnya lah yang menjadi teman bicara Ninis pada saat itu. Kala pun kembali berucap, “Kau tidak bisa lagi bertanya kenapa mengenai sikap diriku satu bulan ini, sedari aku pergi untuk pertemuan dengan Klien ku, aku sudah mengetahui siapa yang mengirim foto-foto ku bersama Camelia. Dan ternyata itu adalah ulah mu! Kamu pantas mendapatkan ini Nis, kamu pantas mendapatkan sikap dingin dari ku kembali.”


“Dan dengar Nis, Camelia lebih baik dari kamu. Camelia tidak pernah menuntutku, mencurigai ku bahkan kepergian nya dari sini karena ia tidak mau memberikan beban itu pada ku dan juga pada Kita. Ia ingin menyelamatkan pernikahan kita, tetapi apa yang kau lakukan?” Beber Kala saat itu, “Kau lah yang menghancurkan semuanya, Dan dengar Nis, Aku memang bersalah. Aku memang sudah mengotori pernikahan ini sebelumnya, tetapi aku tidak seperti mu yang ingin membalas kesalahan ku!” Tegas nya kembali.


“Dan saat ini, Camelia ku sudah tidak bisa aku temukan! Aku tidak bisa bertanggung jawab dengan apa yang Amel derita, kehamilan seorang diri bagi gadis seusianya sangatlah tidak mudah!” lirihnya kembali.


“Dan jujur Nis, Aku sangat mencintai Camelia. Hanya dia di hatiku!” ungkapnya menyusul, Ninis menangis manakala mendengar sebuah curahan hati suaminya, “Maaf, Jika kejujuran ku membuat mu sakit. Dan aku akan tetap mengajukan surat permohonan cerai untuk mu ke pengadilan.” Sambung Kala tanpa ragu.


“Maafkan Ninis Mas, maafkan Ninis. Ninis mohon jangan ceraikan Ninis.” Rengeknya pada Kala.


Kala tak menghiraukan Ninis, “Aku akan tetap menceraikan mu, bahkan saat ini talak satu sudah aku berikan padamu!” Tegas Kala kembali.


Ninis tak henti menggelengkan kepalanya itu, “Ninis rela di madu dengan Camelia, asalkan Mas tidak menceraikan Ninis. Ninis mohon!” Rengeknya kembali sembari memohon di bawah kaki suaminya itu, Kala tidak semudah itu memberi maaf pada Ninis. Apalagi Kala sudah menjatuhkan sebuah talak untuk Istrinya itu, Ia sama sekali tidak menghiraukan rengekan istrinya. Justru, Ia memilih untuk meninggalkan Ninis seorang diri dan terlihat berjalan menuju sebuah taman di rumahnya itu. Ia duduk sembari menundukkan kepalanya, “Aku ingin segera menemukan kamu Mel.” Dan saat Kala sedang asyik menghabiskan waktunya di taman tersebut, sebuah mobil terdengar keluar dari garasi rumahnya.

__ADS_1


Kala yang menyadari itu semua pun segera menghubungi orang yang selama ini ia sewa untuk mencari tahu keberadaan Camelia, dan benar saja sosok Asep terlihat mengeluarkan mobil miliknya. Bahkan Asep bersama Sumiati terlihat bersama-sama pergi menuju rumah Camelia.


Kala berpikir untuk menunggu kabar dari orang tersebut, dan kembali masuk kedalam rumah. Kala berjalan menuju kamar miliknya, Ia melihat Ninis yang masih saja menangis seorang diri sembari menekukkan tubuhnya di atas ranjang milik mereka. Kala tetap tidak menghiraukan Ninis, Ia memasuki kamar mandi dan hendak membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai, Kala kembali keluar dari dalam kamarnya dan berjalan sembari menenteng laptop miliknya itu menuju kamar lain. Kala memilih untuk tidur di kamar lain, dibandingkan harus tidur bersama-sama dengan Ninis.


Beberapa Jam kemudian, sampailah Sumiati di halaman rumah bekas Bu Eny itu. Memori ingatan akan Bu Eny dan Pak Barata pun terputar dalam ingatan nya, air matanya menetes. Asep pun segera membawanya untuk masuk, mengingat Asep dan Sumiati tidaklah memiliki waktu yang cukup banyak. Karena kerinduan sosok Sumiati lah yang membuat Asep rela mengantar nya malam-malam hanya untuk bertemu dengan anaknya, menyadari kedatangan sebuah mobil itu, Regi mencoba memperhatikan mereka dari balik jendelanya itu.


Namun saat itu Regi mengingat betul bahwa Orang tua Camelia selalu datang saat malam tiba akibat pekerjaan yang sangat sibuk dan itulah yang Alia katakan pada Regi, Regi pun memilih untuk melanjutkan pekerjaan nya di hadapan laptop miliknya.


Asep mengetuk pintu rumah Camelia, lalu tak berselang lama Camelia pun membukanya. Pertemuan Sumiati dan Camelia pun di iringi tangisan pecah serta saling memeluk satu sama lain,”Bagaimana keadaan mu nak?” Tanya Sumiati pada Camelia.


“Amel baik-baik saja Bu, mereka semua baik-baik dan sangat menjaga Amel.” Sumiati melihat perut anaknya yang kini sudah mulai membesar, “Disini Amel juga tidak sendiri, Bapak Barata, Ibu Eny, Ibu Sun dan Mas Kala juga Ibu dan Bapak menemani Amel.” Sambungnya.


Sumiati mengusap pelan perut Camelia, “Apakah Cucu Ibu sehat?” Tanya Sumiati.


Amel mengangguk sembari menyelipkan sebuah senyuman, “Sehat bu, dia juga sangat aktif namun tidak pernah merepotkan Amel.” Jawabnya.


Sumiati mengusap ujung kepala anaknya, Ia juga memeluk Camelia dan terlihat seseorang dari kejauhan memperhatikan rumah tersebut. Ia merasa jika Asep dan Sum sedang menemui Camelia, dan itu artinya Ia berhasil memberikan Informasi penting pada Kala. Setelah melakukan perbincangan yang cukup banyak, Asep meminta Sumiati untuk segera pulang bersamanya. Sumiati memeluk Camelia dengan erat, begitu pun Asep yang juga memeluk Camelia dengan berat. Camelia juga tidak lupa menceritakan siapa orang yang menyewa paviliun nya itu, Asep begitu senang saat mendengar kisah baik yang di ceritakan Camelia mengenai Regi dan Asep merasa tenang karena kehamilan Camelia di perhatikan oleh Bidan sekaligus dokter kandungan yang sangat hebat.


Camelia mengantarkan Ibunya sampai masuk kedalam mobil, lagi dan lagi Regi memperhatikan mereka dari dalam. Ia pun merasa lega karena benar yang mendatangi Camelia adalah wanita dan pria yang ia kira adalah kedua orang tua Camelia, Asep pun kembali menuju kediaman Sundari dan mereka tidak lupa melambaikan tangan kepada Asep. Camelia masuk kembali kedalam rumahnya itu, namun seseorang suruhan Kala berhasil mengabadikan momen semuanya yang ia sempat lihat itu temasuk dimana saat Camelia melambaikan tangan dengan keadaan perut membuncit karena hamil.


Camelia tidak menyadari hal itu, Camelia pun kembali masuk dan kembali beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2