INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
Chapter 6


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu, kehidupan malam diantara Kala dan Ninis masih saja seperti biasa. Kala yang terbiasa tidur di atas sofa membuat hati Ninis begitu sakit, namun Ninis tetap mencoba untuk tegar layaknya Istri yang sedang berusaha untuk belajar patuh kepada suaminya.


Malam itupun Ninis terdiam di atas ranjang dingin tanpa sentuhan suaminya, sementara sang suami yang tetap memfokuskan diri menatap layar Laptop di atas meja kerja nya.


Ninis beranjak dari atas tempat tidur tersebut, menghampiri suaminya itu.


"Mas belum mengantuk?" Tanya nya pada Kala, Kala tetap memfokuskan dirinya tanpa menjawab pertanyaan Istrinya itu.


"Mas.." Sapa Ninis kembali.


"Ah iya Mel, apa?" Tanya Kala pada Ninis.


"Loh kok Mel sih? Amel masih di rumah sakit Mas, besok mungkin dia pulang." Jawab Ninis dengan nada yang begitu terdengar sangat tenang.


"Astaghfirullah, Maaf Nis. Mas gak.."


"Gak apa-apa Mas, lagipula Ibu sudah cerita kalau kalian itu memang sangat dekat bak adik kakak kandung sesungguhnya. Apalagi sedari kecil, Ibu sudah menganggap Amel adalah anak perempuan nya. Dan Ninis paham betul kalau Mas mengkhawatirkan Amel, sebagaimana mestinya kakak yang mengkhawatirkan adiknya." Kala terdiam dan tak henti berpikir mengapa wanita baik ini dengan tega ia sakiti, "Mas mau aku buatkan kopi?" Tanya Ninis kembali. Kala menatap wajah Ninis dari balik kaca, senyuman nya itu membuat Kala merasa tidak tega.


"Gak usah Nis, nanti Mas malah merepotkan kamu." Jawab Kala sembari menatap wajah Ninis kembali.


"Gak apa-apa Mas, lagian sedari tadi Mas kerja. Hanya air putih yang Mas minum, tunggu sebentar ya Mas Ninis akan buatkan kopi untuk Mas." Sahut Ninis kembali, Kala pun mengangguk dengan pelan dan kembali memfokuskan dirinya untuk tetap melihat layar laptop tersebut.


TING!


Sebuah pesan masuk kedalam ponsel Ninis, Kala melirik sejenak karena merasa penasaran dengan ponsel Ninis yang sedari tadi berbunyi tak karuan.


"Cah Ayu, jangan lupa layani suami mu dengan sangat baik." kata Aji di dalam pesan tersebut.


Kala menundukkan kepalanya, hatinya semakin berkecamuk. Di satu sisi, Ia tidak mencintai wanita yang kini hidup satu atap dengan nya. Namun di sisi lain, Ninis begitu nyaris sempurna sebagai istri nya. Bahkan tidak hanya itu, kewajiban sebagai suami haruslah ia penuhi mengingat bahwa dirinya telah resmi menikahi wanita bernama Ninis itu.


Dan hal lainnya, ia begitu tidak menyangka bahwa sosok Ninis tidak hanya patuh kepada nya melainkan kepada Orang tuanya dan ia begitu merasa sudah menyakiti hati wanita yang tidak menaruh dosa sedikit pun padanya.


Hati nya mulai bergejolak dan sedikit memutuskan untuk mencoba mencintai Ninis sebagai mana mestinya, namun bagaimana dengan malam kelam itu?. Apalagi Kala yang sangat menyadari bahwa cinta nya kepada Camelia sudah tumbuh sejak lama, Ia merasa bingung, Ia pun merasa tidak tahu harus melakukan apa.


Tak lama kemudian, Ninis datang kembali dengan secangkir kopi yang ia simpan di atas nampan ukir yang begitu sangat cantik. Ninis meletakan kopi tersebut di atas meja kerja milik suaminya, setelah meletakan cangkir tersebut, Ninis pun kembali melenggangkan tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang miliknya.


"Nis," panggil Kala yang pada saat itu membuat Ninis segera menatap kearah suaminya duduk.


"Iya Mas. Kenapa? Kopinya gak enak ya?" Tanya Ninis pada Kala, Kala mengambil cangkir berisikan air kopi yang dibuat oleh Istrinya itu lalu menyeruput air kopi tersebut.


"Enggak Nis, kopinya mantap." Pujian Kala membuat wajah Ninis terlihat begitu bahagia, apalagi ini kali pertama suaminya itu memuji dirinya.

__ADS_1


Kala berpindah tempat, ia duduk di atas sofa dimana ia selalu tertidur malam.


"Sini Nis temani Mas." Pinta Kala.


Tanpa berpikir lama, Ninis pun menuruti permintaan suaminya.


"Maafkan Mas ya Nis, Mas belum bisa menjadi suami yang membuat mu bahagia. Ninis memahami maksud Mas kan?" Tanya nya, Ninis menganggukkan kepalanya.


"Ninis paham Mas, tidak mudah bagi Mas untuk mencintai wanita yang baru saja Mas kenal. Dan hal ini sudah di bahas oleh Bapak dan Ibu, sebagaimana Bapak dan Ibu pun mengalami hal yang sama." Terang Ninis, Ia begitu bijaksana bak wanita yang begitu dewasa di mata suaminya.


Apalagi, Ustad Syahroni yang juga sahabat dari Kala mengatakan bahwa lelaki sudah seharusnya menikahi wanita yang taat kepada Ayah ibunya juga memiliki rasa malu yang begitu sangat tinggi dan Hal ini Kala rasakan ada di dalam diri wanita yang ia nikahi bernama Ninis.


Kala menatap wajah cantik Istrinya, namun bukanlah wajah Ninis yang terlintas melainkan wajah Camelia.


"Astaghfirullah.." ucap Kala sembari menarik napasnya sangat dalam.


Ninis pun memegang tangan suaminya, lalu bertanya, "Ada apa Mas?"


"Enggak Nis, gak ada apa-apa." Jawab Kala yang terlihat lebih gugup dari sebelumnya.


"Ninis Jelek ya Mas." Ucapnya sambil membetulkan rambutnya yang berwarna hitam panjang tersebut.


"Enggak Nis, Cantik kok. Hanya saja Mas mau minta sesuatu, itu pun kalau Ninis mau dan berkenan untuk mengikuti keinginan Mas." Ucap Kala kembali.


"Sangat baik malah Nis, terutama untuk Ninis juga untuk Mas."


"Apa itu Mas?" Tanya Ninis kembali.


"Pakailah kain kerudung untuk menutupi mahkota indah mu, Mas akan lebih senang saat bepergian nanti. Dan itu salah satu keinginan Mas kalau memiliki Istri." Ucap Kala kepada Ninis, Ninis tersenyum.


"InsyaAllah Ninis akan patuhi perintah Mas, dan ini juga salah satu bentuk rasa kasih Mas terhadap Istri Mas. Terimakasih ya Mas." Kala terdiam saat mendengar kalimat yang baru saja terucap dari bibir Istrinya, Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya mencari keburukan istrinya itu. Semua nyaris sempurna, semua begitu terasa apik dan begitu sangat membuat hatinya bahagia.


Benih cinta itu pun sepertinya akan segera muncul dari hati Kala, mengingat begitu banyak sikap wanita yang di inginkan Kala dari sosok Ninis.


"Astaghfirullah, Aku lupa Mas." Ucap Ninis.


"Lupa apa Toh?" Tanya Kala.


"Aku tadi mau minta ijin temani Ibu dikamar, kebetulan sebelum bikin kopi Mas, Ninis ketemu ibu dan kakinya sakit. Katanya biasanya Mbok Sum yang selalu rutin pijat kaki Ibu,"


"Ah Iya sih, memang begitu Nis. Kalau gak ada Mbok Sum, ya sama Camelia." Celetuk Kala.

__ADS_1


"Ya sudah Ninis temani Ibu dulu ya Mas,"


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Kala.


"Gak apa-apa toh Mas, Ibu kan ibu aku juga. Lagipula, apalagi yang bisa kita kasih selain kasih sayang. Iya kan? Apalagi Ninis sekarang jauh sama Bapak dan ibu."


"Ya sudah Mas lanjut kerja ya, lagian besok ada Klien juga yang mau ketemu Mas." Ninis mengangguk, lalu tersenyum dan beringsut pergi menemui Ibu mertuanya.


Dan sesampainya di dalam kamar Ibu mertuanya, Ninis segera menghampiri Sundari yang terlihat duduk di atas sofa dengan sebuah album foto di atas tangan nya. Ia tersenyum menyambut Ninis menantunya itu, "Sini Nis, duduk sama Ibu."


"Loh Ninis kan mau Pijat kaki Ibu, kebetulan Ninis sudah membawa Minyak hangat untuk ibu."


Sundari sungguh merasa beruntung saat melihat begitu banyak perhatian yang diberikan menantunya, "Terimakasih ya Nis."


"Sama-sama Bu, Terima kasih juga sudah membesarkan Mas Kala dengan baik. sehingga Ninis mendapatkan kasih sayang dari seorang lelaki yang begitu sangat penyayang." ucap Ninis yang sengaja mengatakan hal demikian agar Sundari tidak memikirkan nasib nya setelah beberapa hari menjadi Istri dari Kala, "Ninis Pijat kaki Ibu ya," Ucap Ninis kembali sembari duduk dan mengangkat kaki milik Ibu mertuanya, sementara itu Sundari menunjukkan beberapa Foto dari masa melahirkan Kala hingga Kala berubah menjadi sosok Pria dewasa yang begitu tampan.


Ninis begitu mengagumi sosok lelaki yang kini menjadi suaminya, rasa ingin segera mendapatkan Kala Junior pun terbesit dalam dari benaknya.


Hari pun sudah larut, Ninis mengajak Ibu mertuanya untuk berbaring di atas ranjang. sembari menarik selimut tebal itu, Ninis menatap wajah paruh baya bernama Sundari itu.


"Ibu harus selalu sehat ya, doakan Ninis agar secepatnya memberikan ibu Banyak Cucu. Ninis ingin melihat Ibu, Bapak dan Ibu kandung Ninis bahagia." Sundari mengangguk, Ninis memeluk Sundari dan meminta ijin untuk segera menemui Suaminya di dalam kamar miliknya.


Dan sementara itu, Sosok Camelia terlihat lebih sehat dari hari-hari sebelumnya. Namun setelah pernikahan Kala dan Ninis, Ia menjadi sosok gadis yang lebih banyak terdiam membisu, apalagi kejadian malam itu membuat hatinya merasa risau.


"Aku yakin tidak akan terjadi sesuatu padaku, Dan Aku harap Tuhan membiarkan Mas Kala dan Mbak Ninis bahagia. karena bagiku, mereka adalah orang-orang yang baik." ucapnya dalam hati, hatinya hancur melihat pernikahan itu terjadi namun ia akan merasa lebih hancur disaat Pernikahan Kala dan Ninis mengalami kehancuran. Ia tidak mau melihat Sundari, wanita tua yang sangat menyayanginya itu merasa kecewa.


"Cahayu, kenapa toh melihat langit gelap terus. Ya harusnya tidur nak, besok kita pulang dan sebelum itu kesehatan mu harus menunjukkan kebaikan."


"Iya Bu, Ini Amel mau tidur kok." ucap Camelia sembari berbaring di atas ranjang rawat miliknya.


Sumiati pun tersenyum, ia menghampiri Camelia dan mengusap ujung kepala dari Camelia tersebut.


"Jangan sakit lagi ya Ndo, Ibu Khawatir. Kamu tuh jarang sakit, eh sekalinya sakit bikin Ibu cemas."


Camelia tersenyum, ia menarik tangan Ibunya itu.


"Maafkan Amel ya bu, Amel janji akan lebih menjaga kesehatan Amel." Jawab nya sembari tersenyum.


Malam ini menjadi malam terakhir Camelia menginap di dalam kamar rumah sakit, kegalauan pun melanda hati wanita yang akrab dipanggil Amel itu.


'Bagaimana mungkin Aku harus menyaksikan kehidupan Mas Kala dan Istrinya tiap waktu, apalagi setelah kejadian malam itu. Ya Tuhan, Amel gak yakin Amel akan segampang itu melupakan peristiwa malam itu." Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Sembari menatap wajah ibunya yang terlihat menampakkan kelelahan, ia tak sengaja menjatuhkan air matanya. Dalam benaknya, Ia pun kembali merasa takut jika sang Ibu atau Sundari mengetahui apa yang sudah terjadi diantara dirinya dan Kala.


"Amel gak yakin apakah mereka masih mau menerima kami sebagai anak-anaknya jika tahu hal yang sudah terjadi, Amel harap semua tidak pernah mengetahuinya." Ucap Amel kembali dalam hati.


__ADS_2