
Dan di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sakit ternama di Kota Jakarta, Regi terlihat memandangi foto-foto Camelia. Ia tidak tahu mengapa ingatan nya kepada Camelia begitu sangat tajam, Foto-foto Camelia pun sengaja ia ambil tanpa Amel ketahui dan rasa nyaman itu sebenarnya telah tumbuh sejak satu bulan pertemuan nya.
“Amel lagi apa ya?” Tanya Regi seorang diri, Ia pun memilih untuk menghubungi Camelia.
Namun sayang, setelah beberapa kali ia mencoba menghubungi Camelia, Camelia tidak menerima panggilan suara yang diberikan oleh Regi. Ninis datang menghampiri Regi, raut wajahnya berbeda dan Ninis terlihat menyimpan sebuah luka pada sorot matanya.
“Mbak gak lagi punya masalah kan?” Tanya Regi.
Ninis menggelengkan kepalanya, tubuhnya sangatlah lemas dan Regi merasa jika sesuatu hal buruk sedang berada di dalam benak sang kakak.
“Mas Kala kemana Mbak? Kok masih belum datang sih.” Ucap Regi kembali.
Ninis pun menjawab, “Mas Kala sibuk, tadi udah telponan kok sama Mbak. Malah Mas Kala mau bertolak dari Depok ke Jakarta. Cuma Mbak halangi, pekerjaan nya sangat banyak. Jadi Mbak bilang saja kalau Ibu baik-baik saja.” Ninis terpaksa berbohong kepada adiknya itu.
“Ya masa sih mertua sakit kok belum muncul, Mbak ini gimana sih. Bapak pasti mikirnya enggak-enggak tuh.” Sahut Regi.
“Enggaklah, Bapak sudah tahu kok. Mbak udah bilang juga Dek.” Balasnya kembali, “Eh gimana Cewe itu, ada fotonya gak? Mbak mau lihat dong.” Goda Ninis untuk adiknya itu, Regi tersenyum dan wajahnya terlihat memerah.
“Ada, Mbak mau lihat?” Tanya Regi pada Ninis, Ninis mengangguk dengan pelan.
Regi terlihat sedang membuka kunci pada layar ponselnya itu, Ia hendak menunjukkan sosok gadis yang sering sekali ia ceritakan pada kakak nya itu. Namun saat Regi hendak memberikan foto Camelia pada Ninis, seorang Suster yang juga teman lama Ninis terlihat berlari kearahnya.
“Ninis..” Ia berlari dengan cukup kencang, saat melihat Suster Fara berlari Ninis segera beranjak dan menyusul langkah kaki dari Fara.
__ADS_1
‘Kenapa Fara?” Tanya Ninis dengan raut wajah yang cemas.
Fara yang terlihat berusaha mengatur nafasnya itu mencova mengatakan keadaan yang sedang terjadi, “Bu Widia Anfal lagi, Dokter Adi sedang menanganinya tetapi beliau meminta mu untuk menghampirinya.” Ucap Fara pada Ninis, hal itu sontak membuat Ninis segera berlari untuk menghampiri ruangan Ibunya.
“Regi beri tahu Bapak!” Titah Ninis, Regi pun segera menghubungi Ayahnya yang saat ini sedang beristirahat pulang.
Ninis menatap keadaan Ibunya dari balik kaca besar, sebuah alat pompa jantung sedang di lakukan untuk kembali memacu detak jantung Ibunya. Ninis tak kuasa menahan kesedihan nya akibat keadaan Ibunya itu, Regi datang dan saat itu Andre pun datang menghampiri Ninis. Andre mencoba menenangkan Ninis, “One.. Two…” Ibunya seakan menyerah saat Dokter Adi kembali menekankan alat pemacu jantung itu.
“Ibu Tolong bangun Bu..” Kata Ninis.
Regi menyadari keberadaan Andre yang saat ini begitu intim memeluk mantan kekasihnya itu, Regi pun meminta kepada Andre untuk menjauh dari kakaknya. Ia takut jika kakak Iparnya yang tak lain adalah Kala datang dan melihat keadaan itu. Andre pun memundurkan langkahnya, Regi beralih memeluk kakaknya itu.
Sebuah layar menunjukkan sebuah garis panjang yang menunjukkan sudah tidak ada lagi kehidupan bagi Ibu kandung Ninis itu, Ninis menangis dan sedikit berteriak seolah tidak mampu menerima kenyataan ini. Ninis terjatuh, tubuhnya ambruk tak kuasa menahan rasa sedih yang amat dalam.
Ninis menangis dan tak mampu mengatakan apapun, “Semua sudah takdir yang Allah tentukan Om, Regi dan keluarga InshaAllah Ikhlas. Kasihan juga Ibu jika terlalu lama merasakan sakit,” balas Regi
Adi menganggukkan kepalanya, “Ibumu mengalami komplikasi berat, jantungnya sudah tidak mampu berfungsi dengan baik dan paru-parunya sudah terendam sehingga membuatnya tidak bisa bernafas dengan bebas.” Terang Adi kembali.
Regi menganggukkan kepalanya, Ninis berjalan menghampiri Ibunya. Hari ini adalah hari yang paling mengenaskan di dalam kehidupan Ninis, semua itu karena Ia baru saja mendapat sebuah talak dari Kala suaminya dan tentunya pernikahan diantara dirinya dan Kala sudah tidak bisa Ia selamatkan. Dan di tengan permasalahan nya bersama Kala, Ninis juga harus kehilangan cinta sejatinya yaitu sosok Ibu yang selalu menyayangi dirinya.
Ninis memeluk jenazah sang Ibu, Ia menangis tersedu-sedu dan tak tahu harus mengatakan apa kepada Ibunya mengenai kondisinya saat ini. Ninis mengelus wajah Ibunya yang terlihat begitu pucat, “Bu, maafkan Ninis. Maaf karena Ninis tidak menceritakan apa yang Ninis lalui beberapa bulan belakangan ini, Ninis gak sanggup Bu. Ninis gak mau Ibu memikirkan nasib Ninis yang memiliki kehidupan tidak baik,”
“Ninis bersalah dan Mas Kala pantas menghukum Ninis. Ninis pun menyesal.” Katanya sembari berbisik, “Tetapi Bu, Ibu tidak perlu khawatir. Ninis bisa kok jaga diri dengan baik walaupun tanpa adanya Mas Kala, hanya saja Ninis merasa semakin bersalah karena Ninis tidak bercerita juga tidak memohon ampun pada Ibu.”
__ADS_1
“Ampuni Ninis bu, Ninis mohon. Tenanglah di sana, Ninis sudah Ikhlas.” Bisiknya kembali, Ia mengecup kembali kening Ibunya. Air matanya tak henti mengalir hingga sang Adik yang datang dari arah belakang memeluk dirinya, “Ibu sudah pergi duluan Dek.” Ucap Ninis pada Regi, Regi mengangguk dan Ia tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi ingin segera keluar. Regi pun memeluk kakaknya dan menangis di dalam pelukan nya, Ia merasa bahwa dirinya yang sangat bersalah di sini.
Selama Regi Di Amerika, Regi jarang sekali pulang ke Indonesia. Bahkan untuk menghubungi Ibunya saja sulit karena pertengkaran yang selalu terjadi di antara Regi dan Ayahnya, dan Regi selalu berdalih Sibuk atau memiliki kegiatan lain jika sang Ibu menagih kepulangan nya.
Dan saat ini, Ia begitu sangat menyesal. Ia dengan pelan melepaskan dekapan dari tubuh kakak kandungnya itu, lalu beralih menatap raga yang sudah kaku milik Ibunya. Ia menangis sembari menggenggam tangan Ibunya, “Maafkan Adek bu.” Ucapnya singkat, “Dunia Adek hancur saat ini melihat mata Ibu yang kini tidak lagi menatap wajah Adek dengan senyuman, Adek menyesal bu.” Sambung Regi.
“Maafkan Adek Bu.. Maafkan Adek.” Ucapnya berulang sembari menangis tersedu-sedu.
Regi memeluk tubuh Ibunya itu, tak lama kemudian sosok Aji datang dan terlihat memandangi wajah istrinya. Regi masih berada di samping Ibunya itu, “Menangislah Regi, keras kepala mu membuat Ibu mu sakit!” Tanpa di duga kalimat itu keluar dari bibir Ayahnya, “Andai saja sedari kemarin kamu pulang, dan memberi Ibu kebahagiaan. Mungkin Ibu mu masih hidup saat ini.” Ungkap Aji kembali dengan tatapan yang begitu tajam.
“Entah bagaimana jika tak ada Mbak mu, mungkin saat ibumu masuk liang lahat kau baru menemuinya!” Ucapnya kembali.
Regi menatap wajah Ayah kandungnya itu, ingin sekali ia menjawab apa yang sudah seharusnya menjadi jawaban darinya untuk sang Ayah. Akan tetapi, Regi yang memiliki sisi pikiran berbeda memilih untuk tidak membalas kalimat sang Ayah. Ninis yang menyadari hal itu pun mencoba menarik tangan Regi dan membawa Regi untuk keluar dari ruangan tersebut, “Mbak Lihat kan dengan sikap Bapak kepada Regi?” Tanya Regi dengan sorot mata yang penuh dengan amarah, nafasnya pun tersengal akibat menahan perasaan kesalnya itu.
“Mbak mohon janganlah bertengkar, semua orang tidak tahu dengan apa yang terjadi di dalam rumah kita.” Sahut Ninis.
“Sudah seharusnya Regi dulu mengajak Ibu untuk menetap di Amerika dan menjauhkan nya dari Bapak, Bapak tidak bisa membahagiakan Ibu, Bapak lah yang membuat Ibu sakit dengan segala aturan yang tidak jelas!” Gerutu nya dengan sarkas.
Namun…
Plaaaakkkkk….
Kakaknya itu menampar wajah Regi, suara tamparan keras tak membuat Regi menyesal karena sudah mengatakan hal buruk mengenai sosok Aji.
__ADS_1
“Hentikan perkataan mu mengenai Bapak Dek, itu tidak baik. Kamu tidak boleh selalu bertengkar dengan Bapak, apalagi kita sudah kehilangan Ibu. Mbak Mohon.” Ucap Ninis, tatapan tajam Regi berikan untuk kakaknya dan Ia memilih untuk meninggalkan Kakaknya itu tanpa menghiraukan kesedihan yang sedang Ninis alami.