
Keesokan harinya, Ninis terbangun dan melihat suaminya yang sudah tidak ada di samping dirinya. Ninis pun segera mengambil ponsel miliknya itu, sebuah pesan yang belum terbaca itu muncul pada Bar Nitifikasi ponsel tersebut. Lalu, “Pagi Ninis sayang, maaf Mas tidak membangunkan mu. Mas harus berangkat menuju lokasi Proyek di Kota Bogor. Dan hari ini aka nada pertemuan diantara Mas dengan Datuk, Mas akan sangat sibuk, maaf jika Mas tidak sering mengabari mu.” Sungguh pesan yang semakin membuatnya penasaran, pesan yang tidak biasa yang Kala kirimkan untuk Ninis.
Ninis pun segera bersiap untuk pergi menuju rumah sakit, kebetulan hari ini adalah hari pertama Ninis bekerja kembali setelah 9 hari melaksanakan Cuti. Ponselnya berdering, Ninis pun segera melihat ponsel miliknya itu. Dan, “Assalamualaikum Dek.” Sapa Ninis pada seseorang yang tak lain adalah adiknya.
Regi menjawab, “Waalaikum salam Mbak, disana pasti pagi ya?” Tanya Regi.
“Iya, ini Mbak baru bangun. Ada apa Dek?” Tanya Ninis.
“Kayanya Regi bulan depan udah di Indonesia Mbak, email balasan nya baru saja Regi dapatkan. Tak kira itu dua bulan lagi. Tapi Mbak jangan bilang ke Ibu sama Bapak ya, biar jadi kejutan untuk meeka.” Tutur Regi.
Ninis pun tersenyum, “Ya udah nanti beri saja kabar sama Mbak ya, terus Regi butuh apa lagi biar Mbak siapkan?” jawab Ninis.
Regi membalas senyuman yang diberikan oleh Ninis, “Apa saja ya, enggak ada kayanya. Biar Regi urus semua saja, kalau bisa sih nanti Mbak temani Regi siapa tahu ada rumah yang mau di jual di daerah puncak. Soalnya Regi dapat tugas di Rumah sakit lama Bogor.” Sahut Regi.
“Oh begitu, ya sudah nanti Mbak minta Bang Seno carikan ya.” Ujar Ninis, “Atau kamu mau Mbak rekomendasiin di Brawijaya?” Tanya Ninis kembali pada Regi sang adik.
Regi jelas menolak, menurutnya jika bertugas di rumah sakit yangberada di bawah naungan sang Ayah, sebagai anak laki-laki yang nantinya harus mengikuti peraturan sang Ayah pun membuat nya sedikit tidak nyaman. Regi ingin berdikari sendiri diatas kakinya sendiri, “Enggak deh Mbak, kalau gitu Regi gak perlu ikut Tes. Regi mau lurus saja, apa yang Regi lakukan atas keinginan Regi gak ada campur tangan Bapak.” Tolaknya.
“Jadi maksud mu Bapak memang mengatur Mbak dan Mbak hidup di aturan bapak?” Tanya nya dengan sedikit mata yang mendelik, “De, dengar ya. Kapan lagi coba kita menuruti keinginan orang tua.” Sambungnya.
“Regi gak mau mbak, Regi kan beda sama Mbak. Ya udah deh, udah dulu ya mbak, Regi Cuma mau kabari itu.” Sahut adiknya yang lebih memilih untuk tidak memperpanjang percakapan yang menurutnya sudah membuat kakaknya merasa tersinggung, Ninis sedikit menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah, kabari kakak saja kapan kamu mau pulang. Biar Nanti Mbak bilang sama Mas dan meminta antar untuk menjemput kamu.”
Regi tersenyum, “baik Mbak, kalau begitu Regi putuskan ya sambungan telepon nya.”
“Iya, Iya..” sahut Ninis sembari segera memutuskan panggilan tersebut, Ia pun segera bergegas melakukan niat sebelumnya.
__ADS_1
Sementara Itu, di tempat yang lain Sundari sudah bersiap untuk melakukan sarapan. Nani dan Surti terlihat mempersiapkan semuanya, “Bagaimana keadaan Sum katanya Nan?” Tanya Sundari.
“Kemarin Ibu Sum sudah membaik bu, katanya kalau gak hari ini besok juga pulang. Dokter Cuma bilang kalau tensi nya sangat rendah dan tidak harus di rawat dengan waktu yang sangat lama.” Jelas Surti.
Sundari menjawab, “Sumiati itu gak mau lama-lama karena selalu saja memikirkan pekerjaan di rumah ini, saya hari ini akan mengunjunginya dan memastikan bahwa Dokter mengatakan yang benar.”
Tak berselang lama, Ninis yang juga akan melakukan sarapan itu menyapa ibu mertuanya. Lalu Sundari bertanya kemana Kala dan mengapa tidak ikut sarapan bersama dirinya juga Ninis, Ninis menjawab apa adanya dan Sundari mengerti akan apa yang sedang Kala lewati.
“Sebagai pengurus sebuah perusahaan, pemiliknya juga pengelola. Kala pasti sibuk Nis, jangan sampai kesibukan Kala membuat hubungan kalian renggang. Oh Iya, Nani kemarin sudah beli Tes kehamilan kan?” Ujarnya pada Ninis sekaligus bertanya pada Nani.
Nani menjawab, “Sudah bu, Nani sudah simpan di atas meja sana bu. Mau Nani ambilkan?”
“tolong bawakan ya Nan.” Ninis terdiam sejenak, Ia melihat Nani membawakan beberapa alat tes kehamilan itu. Dan setelah alat tes kehamilan itu ada di hadapan dirinya, Ia pun segera memberikan alat tes itu kepada Ninis. Entah mengapa raut wajah gugup itu terlihat di dasar wajah Ninis, “Kamu Tes ya, kata Kala kan udah beberapa hari ini kamu sering mual, gak enak makan. Kamu lebih tau pastinya dari Ibu, tapi Ibu mau jadi orang pertama yang tau bahwa kamu sedang mengandung cucu Ibu.” Imbuh mertua nya itu, Ninis sedikit menganggukkan kepalanya.
Ia pun segera pergi menuju kamar mandi dan segera memakai alat tes kehamilan tersebut. Setelah ia memakai alat tes kehamilan itu, Ia menunggu hasil dari Tes kehamilan itu dan ternyata hasilnya adalah satu garis merah sebuah tanda negative bahwa Ninis tidak sedang mengandung. Dan yang sebenarnya terjadi, Ninis tahu bahwa dirinya memang tidak dapat mengandung dan hal itu sudah ia ketahui sebelum melakukan pernikahan bersama Kala.
Keringat dingin bercucuran, hal ini akan membuatnya malu di hadapan Ibu mertuanya. Ingin sekali rasanya ia jujur kepada mertuanya itu, akan tetapi apa mungkin mertuanya dapat menerima semua ini. Yang jelas Ninis harus segera memberikan sebuah Tes kehamilan yang menunjukkan sebuah tanda kehamilan dan tetap saja Ia tidak dapat melakukan kebohongan itu.
Tanpa di duga jawaban Sundari begitu sangat membuat Ninis bahagia, “Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, Ibu hanya berharap tetap Tuhan kan yang menentukan. Besok-besok coba lagi ya.” Kata Sundari sembari mengusap ujung kepala Ninis, mendengar hal itu ingin sekali Nani membongkar kenyataan yang telah terjadi.
Ingin sekali ia mengatakan bahwa, “Camelia dengan jelas sedang mengandung anak dari Kala, yang bukan juga anak mu.” Tetapi apa boleh buat, semua ini adalah rahasia dan mungkin sampai kapan pun akan menjadi rahasia ketika Camelia tidak mengatakan yang sebenarnya.
Ninis berpamitan kepada Sundari untuk pergi bekerja, dan di dalam perjalanan nya menuju rumah sakit. Ia mengingat kata-kata yang sempat di ucapkan oleh Andre mengenai rahasia besar akan dirinya, lambat laun Andre akan membongkar kenyataan hidup Ninis itu. Ninis pun memilih untuk mengajak Andre bertemu seraya meminta serta membujuk Andre untuk tetap tidak mengatakan apapun, Ninis akan memaksa nya untuk menutup mulut sampai kenyataan itu ia ungkapkan sendiri.
Karena memang sebenarnya mungkin hanya Andre yang akan mengerti keadaan Ninis, hanya Andre yang memahami apa yang Ninis rasakan saat ini.
Beberapa jam kemudian…
__ADS_1
Ninis melakukan pertemuan itu di sebuah Mall ternama di daerah Jakarta selatan, Ninis menunggunya di sebuah Restoran dimana Ia selalu datang bersama Andre. Dan tidak lama kemudian Andre pun datang, Ia terlihat akan mengecup kening Ninis namun Ninis menepis wajah Andre.
“Ingat Ndre, aku adalah Istri dari Mas Kala Surya Barata. Dan selamanya akan menjadi Istri dari Mas Kala.”
Andre tertawa kecil, “Sebegitu Setianya kah Kala hingga membuat mu setia kepadanya?” Tanya Andre.
“Maksud mu?” Tanya Ninis.
Andre menarik napasnya dalam-dalam, “Aku punya rahasia mengenai dia, bahkan Ayah mu sudah mengetahui semuanya dan saat ini Kala selalu menjadi orang yang akan menarik segala perhatian nya.” Tegas Andre, Ninis menggelengkan kepalanya. Lalu Andre kembali berucap, “Kamu gak percaya Nis?” Tanya Andre.
“Ya sudah kalau tidak percaya.” Susul Andre dengan senyuman sinis di wajahnya itu.
Ninis pun bertanya pada Andre, “Aku tidak akan percaya apa yang kamu ucapkan, dan jangan pernah lagi menemui Bapak. Bapak tidak harus selalu mengetahui apa yang terjadi pada ku, apalagi pada Mas Kala.”
“Tetapi sayang kamu sudah tidak bisa mencegah ku Ninis.” Tegas Andre kembali.
Ninis pun menyela kalimat yang baru saja Andre katakan, “Ya sudah, katakan padaku apa yang kamu ketahui mengenai Mas Kala.”
Andre menjawab, “Kala memiliki wanita lain, wanita itu pergi dan sebenarnya Kala lah yang membantu kepergiaan nya.”
Ninis pun menatap tajam kearah dimana Andre duduk, “Maksud kamu Camelia?” Tanya Ninis.
“Ya, Itu kamu tahu.” Seru Andre.
“Enggak! Andre Please jangan main-main, aku dan Kala baru saja 2 bulan menikah dan tolong jangan lanjutkan semua omong kosong ini.” Tukas Ninis sembari menatap wajah Andre.
Andre beranjak dari tempat duduknya, “Pernikahan kamu lebih baik hancur sedari saat ini dibandingkan kamu harus hancur di saat pernikahan kamu sudah terjalin lama. Ingat Ninis, Kunci mengenai apa yang Kala tutupi ada padaku. Aku bisa saja mengatakan ini semua kepada Ibu Sundari mertua mu itu! Tetapi aku hanya membutuhkan sebuah aba-aba dari mu. Dan aku rasa pertemuan singkat ini selesai, kabari aku jika kamu membutuhkan banyak Informasi mengenai suami mu!” Andre meninggalkan Ninis seorang diri, Ninis sendiri tidak menyangka bahwa Kala telah menutupi semua ini dan menunjukkan bahwa tidak ada hal apapun yang terjadi.
__ADS_1
Dan kepergiaan Kala tadi pagi membuat Ninis yakin bahwa Kala sedang menemui Camelia di tempat yang sudah mereka rahasiakan.
Ninis pun membatin sendu, "Apa ini semua, seharusnya memang aku menolak perjodohan ini dan menikah tanpa restu Bapak bersama Andre. mungkin kehidupan ku akan lebih bahagia, apalagi Andre selalu membuat Aku seakan ratu nya dan Mungkin aku tidak akan merasa sakit hati disaat aku sudah jatuh cinta pada sosok Kala suamiku." Ninis tak tahu harus melakukan apa, yang Ninis sadari adalah ia akan sangat membutuhkan Andre untuk mencari kebenaran tersebut.