INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
Chapter 40


__ADS_3

Sesampainya Kala di kediaman Sundari, Ia segera menghampiri Ibunya itu. Ia mengetuk pintu ruangan pribadi ibunya, “Masuklah Kala..” Sambut Sundari yang terlihat berdiri menghadap kaca jendela besar di ruangan nya itu, Sundari membalikkan tubuhnya itu. Kala terlihat berdiri menatap wajah Ibunya, mereka yang saling menatap itu masing-masing memiliki tatapan yang sangat dingin.


“Duduklah Kala, ada hal yang sangat ingin Ibu tanyakan padamu.” Tanpa menjawab apapun Kala terlihat menuruti keinginan Ibunya, sikap Kala kini sangat jauh berbeda, Kala lebih berani menatap mata Ibunya dan menurutnya ini adalah sebuah protes akan kekesalan nya terhadap sang Ibu yang selalu memaksakan pernikahan nya bersama Nini.


Sundari berjalan dengan pelan, Ia meraih gagang telepon dan segera menghubungi pelayan yang berada di dapur, “Ambilkan saya dua cangkir kopi, 1 manis dan 1 nya pahit. Segera.” Titahnya, setelah selesai memerintah pelayan untuk membawakan dua cangkir kopi, Ia pun menutup kembali panggilan tersebut.


“Sejak kapan Ibu meminum kopi, apakah Ibu tidak takut jika asam lambung Ibu naik?” Tanya Kala.


Sundari menjawab, “Sejak kamu tidak betah dirumah.”


“Um.. Sejak kapan kamu kembali peduli dengan keadaan Ibu?” Tanya balik Sundari pada Kala, Kala terdiam dan enggan menjawab pertanyaan Ibunya. Sundari pun kembali bertanya, “Apa jika Ibu mati kamu baru peduli kembali pada Ibu, Kala?” lanjutnya bertanya, pertanyaan itu semakin memekik diri Kala. Entah apa yang akan Sundari katakan pada anaknya itu, yang jelas semua ini sudah sangat dapat di pastikan mengenai hubungan pernikahan diantara Kala dengan Ninis.


Kala belum juga memberi jawaban, sosok pelayan baru yang menggantikan Camelia datang dengan sebuah nampan di tangan nya.


“Ibu maaf, tadi ada kiriman kue dari Mbak Ninis. Katanya untuk Ibu.” Ucap Pelayan bernama Rani itu, Sundari menerima kiriman kue itu dengan senyuman.


“Baik, kembalilah bekerja dan katakan pada Sum suruh menemui saya pukul 4 Sore ini.” Rani mengangguk dan segera pergi dari ruangan tersebut, Sundari juga meminta nya untuk menutup pintu ruangan itu dengan sangat rapat. Lalu Sun kembali menatap wajah anak lelakinya itu, “Lihat menantu kesayangan ibu, dia sangat memahami Ibu dan sangat menyayangi Ibu. Lalu mengapa kamu malah mematahkan hatinya?” Tanya Sundari.


“Kala tidak mema..” Sundari menghentikan apa yang akan Kala katakan, Sundari menarik nafasnya itu dengan sangat pelan lalu membuangnya perlahan.


“Ibu belum menyuruh kamu menjawab pertanyaan Ibu Nak,” ujarnya sembari terlihat meraih salah satu cangkir berisikan kopi miliknya, Ia menyeruput kopi tersebut dan kembali menatap wajah anak lelakinya.

__ADS_1


“Ada masalah apa diantara kalian?” Tanya Sundari yang berharap Kala segera menjawab nya.


“Banyak hal yang Kala pikirkan mengenai pernikahan ini, Kala sudah mencoba untuk mencintainya Bu. Tetapi, sepertinya Kala tidak cocok untuk Ninis begitupun sebaliknya.” Jawab Kala kepada Ibunya, Ia benar-benar memberanikan diri untuk mengatakan kejujuran hatinya.


“Tidak cocok? Setelah permasalahan mu muncul dengan Camelia, lalu kamu mencari masalah di dalam rumah tangga mu. Kamu benar-benar keterlaluan Kala.” Desak Ibunya, “Ibu tidak mau dan tidak sudi mendengar pertengkaran kalian.” Sambung Sundari.


“Jangan bawa-bawa nama Camelia di dalam permasalahan Kala dan Ninis, karena bukan Camelia lah penyebab pertengkaran kami pada malam itu.” Bantah nya saat itu, Sundari menghela nafasnya kembali. Dadanya sesak, namun ia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakitnya itu saat berhadapan dengan Kala.


Sundari beranjak dan memilih untuk duduk di samping anaknya itu, “Kala tolong hentikan semua ini, kasihan Ninis. Ibu melihat kalian tidak saling menyapa, bahkan di saat Ninis menyapa mu, kamu sama sekali tidak menghiraukan keberadaan nya. Dan Ibu tidak berharap itu terjadi, Ninis adalah menantu yang sangat baik bagi Ibu, dia pandai membuat Ibu bahagia.” Bujuknya kembali kepada Kala, Pandangan kosong Kala menandakan bahwa dirinya tidak menyukai apa yang Ibu nya katakan. Sundari kembali berucap, “Dengar Kala, setiap pernikahan pasti terselip sebuah ujian. Kamu dan Ninis sedang berada di tahap itu, Ibu yakin hubungan kalian akan semakin membaik jika kalian berbicara dengan kepala dingin.” Kala mengalihkan pandangan nya, Ia memandang lekat wajah Ibunya itu. Ia tidak menampik bahwa rasa sayang nya terhadap sosok Ibu nya masih sangatlah besar, akan tetapi Kala sudah merasa tidak ingin menuruti peraturan Ibunya mengenai hubungan rumah tangga nya yang menurutnya sudah sangat hancur.


“Apa ada hal yang ingin kamu sampaikan pada Ibu?” Tanya Sundari.


Kala mengangguk, “Mungkin yang ibu katakan benar, akan tetapi itu menurut Ibu. Kala pun tidak bisa memungkiri bahwa sosok Ninis adalah sosok Istri yang sopan, Ia tidak pernah lupa untuk memberikan senyuman pada Kala. Akan tetapi Kala tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, Kala tidak mau menyakiti Ninis begitupun Kala tidak ingin Ninis menyakiti Kala.” Terangnya, Sundari tidak memahami apa yang di katakan oleh anaknya saat ini. Yang jelas, Sundari merasa jika Kala masih memiliki sisi emosional yang belum dapat ia kendalikan.


Kala mendecih kesal, “Kala pun sudah kehilangan separuh jiwa Kala setelah menyetujui perjodohan ini, Kala berusaha untuk mengubah pola pikir Kala dan mencoba untuk selalu memberikan kebahagiaan untuk Ibu. Tetapi, jujur Kala tidak bahagia bu bersama Ninis.”


Sundari semakin tidak mengerti dengan apa yang anak lelakinya itu katakan.


Kala kembali berucap, “Kala tidak bisa melanjutkan semua ini.”


“Apa yang kamu maksud Kala, apa kamu sedang berusaha untuk mempermalukan ibu di depan mertua mu?” Tanya Sundari dengan sorot mata yang kini terselip sebuah amarah.

__ADS_1


Kala membalas tatapan nya, “Bukan hanya Kala yang mempermalukan Ibu, Ninis pun sudah mempermalukan ayahnya.” Ujar Kala dengan nada yang begitu tegas.


“Ninis telah berselingkuh dan menjalin hubungan gelap bersama Andre kekasihnya 4 tahun lalu. Hal itu ia lakukan di belakang Kala, Dan Kala tidak bisa menerima itu.” Tegas Kala kembali.


Sundari menggelengkan kepalanya, “Omong kosong apa ini Kala? Ninis tidak mungkin melakukan itu!” tukas Sundari yang sama sekali tidak mempercayai apa yang Kala katakan, “Jangan pernah berusaha mencari kesalahan istri mu Kal, dia wanita yang memiliki tingkat pendidikan moral tinggi. Ninis pasti sudah memahami sebelum melakukan hal itu.” Sundari terdengar memberikan banyak pembelaan untuk menantunya itu, Kala pun segera memberikan semua bukti yang mengarahkan kepada perselingkuhan Ninis.


Ia menunjukkan beberapa foto pertemuan biasa, foto mesra yang sedang memeluk satu sama lain. Transkip percakapan dari sebuah Chat online, dan terakhir sebuah foto Ninis dan Andre yang sedang memasuki sebuah hotel. Wajah Sundari memerah saat Kala menunjukkan itu semua, Sundari merasa jika dada nya semakin sakit saat melihat apa yang sebenarnya tak ia pernah duga.


“Kala sudah memberikan talak pada Ninis, mungkin satu atau dua minggu lagi, Kala akan segera mengajukan sebuah permohonan cerai ke pengadilan. Kala berharap Ibu tidak menghalangi Kala.” Ungkap Kala kembali, Sundari tak mampu berkata apapun, Ia terdiam dan enggan mengatakan apapun.


‘Dan hari ini, di sebuah pemakaman, aku melihat seseorang yang berdiri tak jauh di belakang Ninis. Ia bersembunyi di balik pohon untuk menyaksikan pemakaman Ibu mertua tadi, Kala pun menemuinya saat semua sudah melangkah pulang dan Kala berbicara padanya.”


“Apa yang kamu katakan Kala?” Tanya Ibunya kembali.


“Kala mengajaknya untuk berbicara malam ini.” Jawab Kala, “Kala memang bersalah dengan adanya permasalahan bersama Camelia, tetapi jujur kita melakukan itu tanpa sengaja. Sedangkan menantu kesayangan Ibu diam-diam melakukan itu dengan sengaja.” Tambah Kala.


Sembari menatap wajah Ibunya, Ia kembali mengatakan.. “Lantas untuk apa Kala masih mempertahankan hubungan Ini?” Sundari terdiam kembali, Ia tetap saja tidak mempercayai apa yang Kala katakan.


“Ibu tidak mau kamu menceraikan Ninis, Ibu sudah sangat menyayangi nya Kala. Tolong jangan memberikan cerita bohong seperti ini, dan Ibu sangat mempercayai Ninis.” Kala menatap kesal kearah wajah Ibunya.


Kala beranjak dari kursi yang ia duduki sedari tadi, “Kala apakah kamu mendengar apa yang ibu katakan?” Tanya Ibunya kembali.

__ADS_1


“Kala tetap ingin bercerai dengan Ninis bu, Kala tidak bisa menerima ini semua.” Kala pun memilih untuk meninggalkan Sundari, namun belum juga Kala keluar dari rumah tersebut, Sundari terdengar memberikan sebuah ancaman padanya.


“Kala Ibu tidak mau kamu menceraikan Ninis, jika kamu menceraikan Ninis. Itu artinya kamu ingin juga keluar dari rumah ini!” Kala enggan menghiraukan ancaman itu, Sundari yang melihat sikap anaknya begitu sangat kesal dan hal itu kembali memancing Amarahnya.


__ADS_2