
Camelia tidak dapat kembali melupakan peristiwa malam itu, Ia duduk di atas kursi dengan pandangan mata yang begitu kosong. Apalagi pertemuan nya dengan Kala beberapa jam lalu kembali memberikan luka yang mendalam, Camelia tak henti menangis.
Duduk dengan posisi menekuk kan kedua kakinya itu adalah posisi dimana seseorang sedang merasakan kesedihan yang amat sangat dalam, "Mengapa harus aku Tuhan, mengapa harus Amel yang mendapatkan luka ini. Dan mengapa malam itu harus terjadi, mengapa Tuhan. Mengapa?" Tanya nya berulang dengan air mata yang tak henti berderai.
Rasa ingin membunuh dirinya sendiri pun muncul, Ia begitu sangat ingin mengakhiri kehidupan nya. Ia menarik gagang nakas miliknya itu, lalu membawa sebilah pisau kecil miliknya. Namun saat hendak menggoreskan pisau tersebut, sosok Nani membuka pintu kamar miliknya.
"Apa yang kamu lakukan Mel?" Tanya Nani, Nani merampas pisau tersebut dan membuang jauh barang tersebut. Lalu Nani memeluknya, "Ceritakan Pada bibi Mel, apa yang terjadi?" ucap Nani sembari memeluk erat tubuh Camelia, ia juga terlihat meneteskan air mata nya itu.
"Amel bosan dengan kehidupan ini Bi." tegas Amel menjawab.
"Semua ada penyebab nya Mel, ceritakan lah beban mu itu agar kamu tidak terlalu berat memikul nya." Ujar Nani kembali, Camelia menggelengkan kepalanya
"Tidak Bibi, Amel belum siap." jawab Camelia kembali.
"Ya sudah sebentar, tunggu disini jangan lagi melakukan itu." Ucap Nani kembali, Ia beranjak dan membawa pisau kecil tersebut dengan niat menjauhkan barang tersebut dari Camelia. Lalu tak berselang lama, ia membawakan segelas air putih untuk Camelia. Nani mencoba menenangkan Camelia, "Ibu mu sudah tidur, mungkin kelelahan karena sudah memasak sangat banyak hari ini." Ucap Nani kembali.
"Jangan mengatakan hal yang baru saja bibi lihat kepada Ibu, Amel gak mau Ibu memikirkan Amel." ucapnya.
"Iya Mel. Bibi janji, kamu itu sudah bukan orang lain melainkan anak bibi sendiri. jadi kalau ada apa-apa, bilang ya. Jangan di telan seorang diri." Ucapnya pada Camelia.
Camelia menganggukkan kepalanya, "Terkadang hidup memang kejam Mel, Bibi juga sempat melakukan hal yang sama dengan Amel. malah bibi sudah hampir melukai dengan memutuskan tangan bibi ini," Ia menunjukkan bekas sayatan luka pada tangan kirinya.
"Bibi melakukan itu kenapa?" tanya Camelia.
"Waktu bibi muda, bibi sering mendapatkan cemoohan dari orang-orang sekitar. bahkan orang yang bibi Cinta meninggalkan bibi demi wanita lain, dan itu juga penyebab Bibi pergi dari Rumah. sampai saat ini, Bibi belum tahu nasib orang tua di Kampung."
"Bibi datang kesini hasil dari kabur bi?" Tanya Camelia.
"Ya, beruntung Bibi bertemu ibu mu di Pasar. Kamu aja masih sangat kecil, lalu beliau menawarkan bibi untuk bekerja disini. Beliau mengenalkan bibi dengan Ibu, dan sudah 15 tahun kurang lebih bibi bekerja disini." Terang Nani, "Itu alasan bibi begitu sayang dengan kamu juga Ibu mu, Bibi merasa Ibumu seperti orang tua untuk Bibi dan Bibi sangat bersyukur untuk itu." Sambungnya sembari sesekali menyeka air matanya.
"Mel, Bibi tahu masalah mu sangatlah berat. Dan bibi merasa ini bukan kamu, kamu adalah gadis periang, bahkan kamu juga sangat pintar. Bibi melihat kalau kamu sangat lemah akhir-akhir ini, Bibi mengkhawatirkan kamu." ungkap Nani sembari mengusap ujung kepala hinga mengusap air mata Camelia, "Jika berkenan, ceritakan lah beban mu agar Bibi dapat membantu mu. Bibi sangat menyayangi kamu dan tidak mau kamu menelan rasa pahit seorang diri." Sambungnya, Camelia sedikit mengangguk ragu. Lagi dan lagi, Camelia tidak siap mengatakan apa yang sedang terjadi kepada dirinya.
__ADS_1
"Amel hanya sedang putus asa Bi, Amel merindukan sosok Bapak. Amel hanya ingin bersandar kepada Bapak, memeluk Bapak dan mengatakan bahwa Amel rindu." jawabnya, Nani sedikit melebarkan senyuman nya. Ia tidak yakin bahwa saat ini Amel sedang berkata jujur padanya, apalagi sebelumnya ia melihat jarak yang begitu jauh antara Camelia dan Kala semenjak pernikahan itu terjadi.
Dan Nani berpikir bahwa sesuatu hal sedang terjadi antara Camelia dengan Kala, mengingat bahwa dahulu mereka sangat dekat dan ia melihat begitu sayangnya Kala kepada Camelia. Nani pun berpikir bahwa cinta Camelia terhalang oleh status Kala saat ini, begitupun sebaliknya.
"Ya sudah kamu Istirahat ya Mel, Bibi mau masuk kamar dulu. Kalau ada apa-apa bilang bibi Ya Mel, Bibi jamin rahasia aman dari Ibu mu. jangan sungkan kalau mau minta tolong atau sekedar bercerita, anggap saja Bibi sedang menjadi sahabat mu." Ucap Nani kepada Camelia, Camelia mengangguk pelan. Nani kembali memeluk Camelia, mengusap kepalanya dan mengecup keningnya lalu bergegas keluar dari kamar Camelia.
Ting! sebuah pesan masuk kedalam ponsel Camelia.
"Buka blokir pesan Online Mel, Mas mau telepon penting." Pesan tersebut di berikan oleh Kala kepada Camelia melalui pesan teks pada ponselnya nya, bukan nya menjawab, Camelia terlihat memblokir kembali nomor Kala sehingga Kala tidak dapat mengirimi bahkan menelpon dengan menggunakan ponsel miliknya.
Camelia pun mengusap perutnya itu, sepertinya ia sudah tahu bahwa dirinya sedang mengandung. namun, Ia belum mau membuktikan firasat nya itu, ia tidak siap dan tidak tahu harus bagaimana jika hal itu terjadi.
Camelia berjalan menuju pintu kamarnya, lalu ia mengunci pintu tersebut dan mematikan cahaya lampu kamarnya itu. Di dalam gelap, ia meringkuk kesedihan. ia menelan pahitnya kehidupan hanya seorang diri, ia berpikir keras agar dapat memulihkan mental nya yang sudah rusak akibat peristiwa malam itu.
Sementara itu, Kala masih duduk di hadapan laptop miliknya. Ia berpikir keras untuk mencari tahu keadaan Camelia, pertanyaan mengenai kandungan Camelia belum puas terjawab. Walaupun Kala ingin jika hal itu tidak terjadi, akan tetapi firasat mengenai hal itu semakin kuat manakala ia mendengar Camelia yang terganggu kesehatan akhir-akhir ini.
Bahkan wajah pucat nya menunjukkan ada hal yang sedang tidak baik terjadi pada Camelia, "Mas.." Panggil Ninis.
"Aku sudah memesan tiket dua hari lagi ya Mas." ucap Ninis pada Kala.
"Hm, Iya Sayang." jawab Kala kembali.
"Ya sudah, Ninis tidur duluan ya Mas. besok pagi Ninis langsung ke rumah sakit dan mengantarkan surat cuti Ninis." ucap Ninis kembali dan di balas sebuah anggukkan kecil dari Kala.
Ninis pun tertidur, Kala segera mencari artikel mengenai kehamilan. Kala bisa saja menanyakan apa yang menjadi rasa penasaran nya terhadap Ninis, Ninis sendiri adalah Dokter yang menangani bidang kandungan. Akan tetapi menurut Kala hal itu akan memunculkan sebuah pertanyaan dari Ninis untuknya, Dan Kala tidak ingin memperkeruh hubungan nya bersama Ninis.
Setelah selesai membaca, Kala tak henti melihat ponsel miliknya. Ia tak henti mengecek apakah Camelia sudah membuka tombol blokir pada pesan online nya ataukah masih saja sama, namun sayang pada nyatanya Camelia sudah enggan menjalani sebuah komunikasi bersama Kala dan Kala begitu merasa sangat kecewa.
*
Waktu pun begitu cepat berlalu, matahari pun sudah memberikan sinar kehidupan dan tentunya aktifitas di dalam kediaman Sundari pun mulai kembali dimulai.
__ADS_1
Kala dan Ninis terlihat berjalan menuju ruang makan, Nani terlihat menyiapkan semuanya. Kala begitu kecewa karena pada biasanya di hari itu Camelia lah yang dengan sigap melayani Sundari dan dirinya, "Camelia sudah bangun Nan?" Tanya Sundari.
"Sudah Bu, Amel lagi lari pagi kayanya bu." Jawab Nani.
"Iya saya minta dia buat lebih hidup sehat lagi, akhir-akhir ini dia sakit-sakitan kan Nan." Ucap Sundari kembali.
"Iya Bu, Amel terlalu kuat belajar. Dia memang rajin bu," Jawab Nani kembali.
"Mbak Nani boleh minta sayur lagi gak?" Kata Ninis pada saat meminta semangkuk sayur kepada Nani, dengan senyuman Nani pun mengiyakan permintaan Ninis.
"Nis, nanti kalau sudah tinggal di rumah baru. aktifitas pagi seperti makan pagi, bahkan makan malam itu wajib ya untuk Kala." seru Sundari seraya memberitahu Ninis, Ninis pun tersenyum saat mendengar kalimat berupa nasihat itu.
"Iya Bu, Ninis pasti siap kok mengurus Mas Kala."
"Ah nanti saja Bu, Kala masih sangat betah di sini. lagian ngapain sih punya rumah, toh rumah ini juga ujungnya untuk Kala." celetuk Kala, "Kala gak mau jauh dari Ibu, kalau Ibu sama Bapak Aji masih mau buatkan rumah untuk kami. Silahkan, tetapi sepertinya Kala tidak akan betah dan setiap hari merindukan ibu." tambah Kala.
"Nanti malah Mas Kala sedih terus bu." Timpal Ninis dengan tawa kecil yang diselipkan olehnya.
"Kamu ini Mas, sudah gede toh masih saja diam di ketiak Ibu." Timpal Sundari seraya menggoda Kala, "Itu sudah menjadi keputusan kami sebagai Orang tua kalian, ya Kalau kamu lebih betah disini kan setiap sabtu atau minggu bisa menginap. Apa Artinya menikah kalau masih diam bersama Ibu, nanti Istri mu tidak bisa mengurus rumah tangga mu." Ungkap Sundari kembali.
"Ya sudah nanti kita bicarakan lagi ya Bu." Ucap Kala.
"Oh Iya Bu, Ninis sama Mas Kala pergi hari Sabtu. Ninis sudah pesan tiketnya, kalau Ibu sama Bapak dan Bu Ayu mau ikut bisa Ninis pesan kan kembali."
"Oh tidak Nis, Ibu ada acara pertemuan untuk membahas masalah Panti sosial yang akan ibu pandu. sepertinya Ibu akan sangat sibuk ke depan nya." Ucap Sundari.
"Ya sudah kalau seperti ibu, Ibu doakan kami agar selamat ya dan perjalanan kami mendapatkan hasil baik." Ucap Ninis.
"Amin Cahayu kesayangan Ibu." ungkap Sundari, dibalas senyuman oleh Ninis maupun Kala.
beberapa menit pun berlalu, Ninis dan Kala pun terlihat berpamitan untuk melakukan aktifitas seperti biasa. Dan dalam perjalanan keluar komplek rumah Sundari tersebut, Kala terkejut saat melihat punggung seorang gadis yang duduk di atas kursi taman, ia duduk seorang diri dan ia tahu bahwa gadis tersebut adalah Camelia.
__ADS_1
Namun beruntunglah Ninis tidak menyadari hal itu, Kala pun memutuskan untuk kembali menemui Camelia setelah mengantar Ninis menuju rumah sakit. Kala pun berharap bahwa Camelia masih duduk di area Taman tersebut.