INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
Chapter 25


__ADS_3

Tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat, Alia datang menghampiri Regi dan berbincang bersama Regi tepat di Teras itu. Alia begitu terkejut dengan sikap rendah hati Regi, pasalnya seharusnya Regi datang di esok hari bersama beberapa Perawat yang akan membantunya. Akan tetapi, Regi hanya datang seorang diri.


"Sebenarnya ini kesalahan yang saya buat Bu Bidan?" Kata Regi di depan Alia dan Camelia.


"Maksud Pak Dokter?" Tanya Alia.


Regi tersenyum, "Ya, seharusnya saya datang di esok hari dan tidak mengganggu waktu Ibu Bidan. akan tetapi, saya sangat membutuhkan tempat tinggal di daerah sini dan itu sangat mendadak." Jawab Regi.


"Kalau begitu, mengapa Pak Dokter tidak mengabari saya?" Tanya Alia, "Saya bisa mencarikan segera." sambung Alia.


"Tidak apa-apa Bu, Saya bisa kok mencari penginapan untuk satu atau dua malam. sebenarnya, Rumah saya di Jakarta Pusat. saya takut terlambat dalam menghadiri Acara esok."


Bunda Alia pun mengangguk kecil, "Kalau begitu biar saya bantu mencari penginapan, jam 8 malam ada Meeting bersama untuk acara besok. Pak Dokter harus segera bersiap." Alia melihat jam yang melingkari tangan nya itu, "Sekarang sudah pukul 7 malam." Sambung Alia.


Regi menatap Camelia, "Maaf jika saya tidak sopan, tetapi saya sangat membutuhkan ini." Kata Regi kepada Camelia.


"Jika saya bisa bantu, saya akan bantu Pak Dokter." jawab Camelia pada saat itu.


Regi pun menjawab, "Saya ingin membersihkan badan saya yang penuh keringat ini, jika di perbolehkan, saya ingin memakai kamar mandi Mbak Amel. lalu, meeting saya hanya satu jam dan saya bisa meminta ijin untuk meminjam teras rumah mbak Amel. itu pun jika Mbak Amel mengijinkan saya." Amel melirikkan matanya kearah dimana Alia duduk, Alia pun menganggukkan kepalanya itu.


"Jika tidak boleh, tidak apa-apa Mbak Amel." ucap Regi menyusul.


"Ah boleh saja Pak Dokter, silahkan saya antar ke dalam." ucap Camelia, Regi pun beranjak dari tempat duduknya.


langkahnya terhenti, "Maaf sebelumnya, apa nanti suami Mbak Amel tidak marah bila saya meminjam kamar mandinya?" tanya Regi kembali.


"Amel masih single." Celetuk Alia dan hal itu membuat raut wajah Amel berubah seketika, "Ma-maksud saya, disini hanya sendiri. suaminya di luar Negeri." Sambung Alia kembali, mendengar kalimat itu Regi terlihat menaruh rasa curiga mana kala melihat raut wajah Amel yang berubah seketika.


Regi pun kembali melangkahkan kakinya itu, lalu mengikuti langkah kaki Amel. Regi melewati satu ruang tamu dan melihat sebuah foto berukuran besar terpampang di ruangan tersebut, namun sepertinya Regi tidak menyadari bahwa wanita cantik itu Sundari, karena mungkin saja Regi belum pernah bertemu dengan Sundari.

__ADS_1


"Disini Pak. " Tunjuk Amel pada pintu kamar mandi, Regi pun segera masuk ke dalam kamar mandi tersebut.


Amel kembali berjalan ke luar rumah, Ia terlihat mengambil satu cangkir gelas kosong dan berniat untuk mengisi gelas tersebut. Bunda Alia pun berucap, "Maafkan Saya ya Mel, saya sendiri yang mengatakan kamu harus berbohong. tetapi saya malah mengatakan kejujuran itu. saya tidak bermaksud apapun." Camelia tersenyum dan terlihat mengusap pundak milik Bunda Alia itu.


Tanpa mengatakan apapun, Camelia berjalan kembali menuju dapur rumah tersebut. Dan sesampainya Camelia di tempat itu, Ia kembali meniti kan air matanya dan mengusap pelan perut miliknya itu. Ia tak tahu apakah bisa melewati semua ini hingga akhirnya bayi itu lahir, Ia menanggung semua beban ini. namun, Apalah daya Ia tak mampu meminta tanggung jawab kepada Kala karena mengingat Ninis yang sudah menjadi Istri dari Kala sendiri.


Melihat air yang sudah mendidih, tak membuat Camelia menyadari hal itu, lamunan nya kembali menyita segala aktifitasnya. Regi yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi pun melihat Camelia yang pada saat ini melamun keras, "Mbak Amel." Panggil Regi sembari melambaikan tangan nya, Amel tersadar dan menarik napasnya segera. Ia mematikan kompor tersebut.


Ia yang merasa kalut itu segera membawa panci pemanas air dan menuangkan nya kedalam gelas, namun sayang air itu sempat mengenai tangan kirinya dan alhasil tangan nya itu memerah. Regi segera menarik tangan Camelia, Ia menyalakan air dari keran dan segera membasuh tangan Amel dengan air dingin.


Mendengar sesuatu hal yang begitu bising dari dalam, Alia segera berlari menghampiri Camelia. Ia melihat Regi yang berdiri di samping Camelia, "Ada apa Pak Dokter?" Tanya Alia.


"Tadi Mbak Amel terlihat sedang melamun, saya menyadarkan nya dan Amel merasa kalut serta gugup. Ia menuangkan air panas kedalam cangkir itu dan tak sengaja air nya jatuh ke tangan Mbak Amel." Sahutnya, "Tenang saja, saya sudah membasuhnya dengan air dingin dan nanti saya akan beri Mbak Amel salep pendingin agar tidak membekas." Sahut nya kembali.


Alia menghampiri Amel dan memeluk tubuh Amel, "Bunda antar ke Kamar ya." ucap Alia, Amel menganggukkan kepalanya. Matanya tidak bisa menyembunyikan bahwa Ia sedang menyimpan sesuatu beban yang sangat berat, Regi memilih untuk kembali menuju teras rumahnya dan membawakan salep untuk Camelia.


Regi pun masuk ke dalam rumah kembali, di balik tembok kamar Camelia, Regi memanggil Alia.


Alia pun keluar dari dalam kamar dan kembali masuk untuk memberikan salep tersebut.


Camelia meringis kesakitan, entah mengapa perutnya terasa begitu keram saat ini. Sontak hal itu membuat Alia merasa terkejut saat melihat raut wajah Camelia, Alia pun mengusap dahi Camelia yang terlihat berkeringat, "Keringat kamu dingin, apa perlu kita ke Rumah sakit?" Tanya Alia.


Camelia menggelengkan kepalanya, "Tidak Usah bunda, Bunda juga bidan kan. biar Bunda saja yang memeriksa perut Amel."


"Apa yang Amel rasakan saat ini?" Tanya Alia,


Amel pun menjawab, "Perut bawah Amel sakit Bunda, kepala nya juga pusing."


Alia segera menghampiri Regi yang terlihat sedang sibuk membuka Laptopnya, "Ada apa Bu Bidan?" Tanya Regi yang melihat wajah Alia begitu cemas.

__ADS_1


Alia yang seorang bidan itu pun tak tahu mengapa merasa jika dirinya cemas saat melihat keadaan Camelia saat ini, "Bolehkah saya meminta bantuan?" Tanya Alia kepada.


"Boleh saja, mengenai apa itu Bu? " Tanya Regi kembali.


Alia pun merasa bingung dengan keadaan Amel saat ini, namun sepertinya saat ini hanya Regi yang dapat membantu Camelia. Alia pun terpaksa mengatakan bahwa Camelia sedang mengandung, "Tolong periksa Amel Pak Dokter muda, Entah mengapa Ibu panik."


"Kenapa memang nya? Apa Mbak Amel sedang mengandung?" Tanya Regi yang sama sekali tidak melihat sebuah tanda-tanda kehamilan pada Camelia, perutnya masih datar seakan tidak sedang mengandung.


Alia mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Regi, "Tadi dia mengeluh pusing dan perut bagian bawahnya sakit Pak Dokter." mendengar hal itu, Regi segera beranjak dan membawa alat pemeriksaan miliknya itu. Ia meminta Alia untuk menemani dirinya, "Biar Pak Regi yang memeriksa ya Mel, pikiran Ibu kacau saat ini." Ucap Alia kepada Camelia.


Lalu Regi bertanya pada Camelia, "Apa masih pusing dan sakit?" Camelia pun mengangguk, "Mual? " Tanya nya kembali.


Camelia mengangguk kembali, "Puser saya sakit Pak Dokter, kenapa ya? Apa bayi ini akan baik-baik saja?" Tanya Camelia dengan nada yang sangat pelan.


"InsyaAllah, semua akan baik-baik saja." ucap Regi seraya membuat Camelia merasa tenang, Regi segera memeriksa keadaan Camelia. Regi juga mencoba untuk memakai alat pendeteksi detak jantung, "Semuanya baik, yang Mbak rasakan saat ini karena Stress yang datang secara tiba-tiba. Oh Iya, Waktu periksa sebelumnya Janin Mbak berapa usianya?"


"Aku pergi ke dua Bidan, yang pertama mengatakan 14 minggu tetapi katanya juga 16 minggu. Aku tidak tahu pasti." Ujar Camelia.


"Ya sudah besok saya lakukan pengecekan melalui USG kehamilan ya, kita juga bisa tahu apakah bayi ini laki-laki atau perempuan." kata Regi, "Yang terpenting kelola Stress dengan sangat baik, dan kalau ada apa-apa katakan kepada saya ya." Sahut Regi kembali.


Camelia menganggukkan kepalanya, "Terimakasih Pak Dokter, terimakasih juga Bunda."


Alia mengangguk dan tersenyum sembari menatap Camelia, "Jangan lupa makan teratur, minum Vitamin asam folat nya dan ingat jangan stress. Kamu boleh kok menjadikan Bunda tempat mengeluarkan keluh kesah mu." Ucap Alia kembali.


"Betul Mbak Amel, kehamilan di Trimester pertama memang sangat sulit di lalui. tetapi yakinlah bahwa Tuhan pasti memberikan Mbak kekuatan, dan ingat jangan sungkan jika mbak membutuhkan bantuan kami."


Deg!


Entah mengapa Amel seakan melihat sosok Kala yang begitu baik kepada siapapun, Regi seakan memiliki kepribadian yang sama, Ia mengingat kembali sosok Kala yang selalu bersikap baik padanya.

__ADS_1


Amel pun membatin, "Ya Tuhan, Jujur saja saat ini yang Amel butuhkan hanyalah sebuah pelukan kasih sayang dari Ibu ataupun Mas Kala. Amel merindukan mereka," air matanya tersimpan di ujung kelopak mata indahnya itu, namun ia segera menyeka air mata itu.


__ADS_2