INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
chapter 14


__ADS_3

Saat ini mereka berdua masih berada di tempat yang sebelumnya, ada hal yang sangat ingin Nani katakan pada Camelia. Namun kalimat demi kalimat itu seakan tertahan dan enggan keluar dari bibirnya, "Bi, bantu Amel untuk keluar dan lari dari rumah ini, Amel tidak mau jadi penghalang kebahagiaan mereka." Ujar Amel.


"Bibi akan berusaha membantu mu Mel,"


Camelia menatap wajah Nani, Nani seakan ingin mengatakan sesuatu pada Camelia. Lalu, "Mel, maafkan bibi."


"Maafkan untuk apa bi?" Tanya Camelia.


"Sebenarnya bibi sudah tahu Mel dengan apa yang terjadi, bahkan Mang Asep pun tahu dan kamu tidak seorang diri. Kami selalu memperhatikan kamu dan berharap hal buruk tidak terjadi padamu, namun inilah rasa takut kami. Kamu mengandung seorang diri, kamu mempertanggungjawabkan semuanya hanya seorang diri." Terang Nani dan hal itu membuat Camelia bertanya-tanya mengapa Nani dan Asep tahu mengenai apa yang sudah terjadi.


"Bagaimana bibi dan Mang Asep tahu mengenai semua ini?" Tanya Camelia.


Nani memejamkan matanya sejenak, ia menarik napasnya dalam-dalam dan terlihat meneteskan air mata.


"Mas Kala meminta Mang Asep untuk menghapus hasil Rekaman CCTV yang mengarah pada kamarnya, lalu bibi menghampiri Mang Asep di dalam kamarnya dan betapa terkejutnya bibi melihat mu berjalan dengan lemas keluar dari dalam kamar Mas Kala. Raut wajah mu begitu seolah menahan rasa sakit, bahkan air mata dan keringat begitu menyatu." Jelas Nani pada Camelia.


"Dan kami mencoba mencari tahu mengenai dirimu, hingga saat kamu memasuki sebuah klinik bidan pun kami mengikuti mu. Bibi selalu menangis Mel, ingin rasanya bibi menggenggam tangan mu dan menjadi teman mu untuk pergi kesana. Tetapi Mang Asep menghalangi bibi dan mengatakan bahwa kamu akan selalu ia perhatikan, ia juga merasa risau dengan keadaan mu saat ini." Jelasnya kembali.


Mendengar penjelasan Nani mengenai perintah Kala kepada Asep, Camelia pun berpikir bahwasanya Kala ingin peristiwa itu dilupakan olehnya, Kala pun seakan tidak mau mempertanggungjawabkan apa yang sudah terjadi, padahal sebelumnya Kala dengan lantang mengaku akan mempertanggung jawabkan semuanya.


Camelia pun membatin, "Mendengar perintah Mas Kala pada Mang Asep, Amel semakin yakin bahwa pergi dari rumah ini adalah jalan yang sangat baik untuk semuanya. Untuk Ibu, Mas Kala, mbak Ninis bahkan untuk bayi ini." Nani tetap menggenggam tangan Camelia, Ia mencoba untuk membuat Camelia bersikap lebih tenang dalam merencanakan kepergiaan nya.


Nani pun berucap, "Biar Bibi berbicara dengan Asep, siapa tau rumah Asep yang berada di Kota Bandung itu bisa menjadi tempat yang akan kamu huni."


"Terima kasih ya Bi, Camelia harap ini semua adalah jalan yang terbaik." Ucap Camelia.


**


Sementara itu, Asep yang baru saja mendapatkan sebuah pesan dari Nani segera menghubungi kerabatnya di Bandung. Asep mengatakan bahwa dirinya akan siap membantu Camelia dalam melakukan pelarian, walaupun Asep sempat mengatakan ini hanya akan berlangsung saat dimana Camelia mengandung dan Camelia harus berjanji akan pulan di saat bayi itu lahir.


Dan bagaimana nasib pendidikan Camelia? Camelia hanya Pasrah, Camelia pun hanya berharap bahwa Sundari maupun ibu kandungnya tidak lah membenci dirinya walaupun Camelia sudah membuat mereka kecewa.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, Asep menghampiri Nani. Asep memberitahu Nani bahwa rumah yang berada di Bandung sudah terisi oleh saudaranya dan Asep sudah menemukan tempat tinggal yang sedikit nya akan membuat Camelia nyaman, dan rumah itu berada di atas puncak Bogor.


Rumah masa lalu mendiang Ayah dari Kala saat bersama Istri keduanya itu pun di pilih Asep untuk menjadi tempat tinggal Camelia, dan Nani menyetujui hal tersebut segitu tahu bahwa rumah itu masih dalam keadaan yang sangat layak.


Nani pun menghampiri Camelia, Ia segera memberitahu Camelia apa yang Asep katakan.


"Terimakasih Bibi, Amel tidak akan pernah melupakan apa yang sudah bibi lakukan untuk Amel."


Nani mengangguk dengan pelan, "Bibi akan meluangkan waktu untuk menemui dirimu, dan kamu tidak perlu memikirkan kemana kamu harus mencari kerja. Bibi dan Mang Asep akan membantu segala kebutuhan mu sesuai kemampuan kami, jadi kamu hanya harus memfokuskan diri dalam merawat janin itu." Pinta Nani dibalas senyuman oleh Camelia, "Bibi mau kamu aman, sehat dan terjaga. Dan kabari bibi kalaupun kamu membutuhkan sesuatu, atau kamu juga bisa mengabari Mang Asep. Ya." Camelia menganggukkan kepalanya.


"Amel akan menyiapkan pakaian Amel, pagi nanti Amel akan segera pergi dari rumah ini." Tak lama mengatakan hal itu, Asep datang dengan langkah yang begitu pelan.


"Kabari saja Mang Asep ya Mel." Ucap Asep, Camelia mengangguk dengan pelan.


"Terimakasih Mang Asep, terimakasih sudah mau membantu Amel." Sahut Camelia.


Jam pun berlalu begitu cepat, malam kini sudah tiba. Tepat pukul 2 dinihari , Camelia berjalan menghampiri satu persatu kamar orang-orang yang akan ia tinggalkan. Kamar pertama adalah kamar Sundari yang pintunya terlihat tertutup lalu ia berdiri dihadapan pintu kamar tersebut, Ia menangis sejenak lalu beringsut pergi menuju kamar lainnya. Ia juga menghampiri tempat-tempat dimana ia selalu bersama dengan Kala. Mengerjakan tugas sekolah, menemani Kala yang sedang melakukan tugas pekerjaan nya bahkan menemani Sundari yang ingin mendapatkan sebuah pijatan lembut Camelia.


Setelah menemui mereka, Camelia terlihat memeluk tubuh Nani. Nani mencoba untuk menenangkan hati Camelia, begitupun Asep yang terlihat menyeka air matanya.


"Kamu sudah benar-benar yakin Mel?" Tanya Asep, Amel mengangguk.


"Amel yakin Mang Asep, Amel tidak mau anak ini menjadi penghalang hubungan Mbak Ninis dan Mas Kala. Dan Amel tidak mau Ibu Sun mengetahui keberadaan anak ini, Amel tidak mau nantinya Ibu malah tidak menerima keadaan dan kenyataan ini." Sahut Camelia, "Amel yakin, Amel dapat membesarkan anak ini seorang diri. walaupun saat ini Amel sangat terbantu dengan bantuan yang diberikan oleh Mang Asep juga Bi Nani." Sahutnya kembali.


Nani menggelengkan kepalanya, "Berjanjilah untuk tidak lagi mengatakan hal itu, Bi Nani dan Mang Asep akan tetap membantu Amel. Kami tidak mau Amel pergi dari pandangan kami." Ujar Nani yang terlihat menatap sendu wajah Camelia.


Asep melihat jam yang melingkari tangan nya, "Ya sudah, kita cuma memiliki waktu yang terbatas. Esok pagi Mang Asep dan Bi Nani sudah harus siap di dalam rumah Ibu, jadi ayo kita berangkat saat ini juga." Nani mengangguk dan segera masuk ke dalam kursi samping kemudi, dan Camelia yang terlihat duduk di belakang kursi kemudi itu duduk dengan perasaan pilu.


Dua jam berlalu, perjalanan Jakarta-bogor itu sedikit terhambat karena adanya hujan besar. Mereka pun tiba tepat di hadapan rumah mungil milik mendiang Ayah kandung Kala saat bersama Istri kedua nya, rumah sederhana yang nantinya akan ditempati oleh Camelia.


"Rumahnya bersih Mel." Kata Nani.

__ADS_1


Asep tersenyum, "Semenjak Bu Eni meninggal, saya yang sering datang untuk membersihkan rumah ini. Itu amanat yang diberikan oleh Mendiang bapak." Ucap Asep.


"Jadi Bu Sundari di madu Kang Asep?" Tanya Nani yang sama sekali tidak mengetahui hal itu.


Asep tersenyum, ia berjalan sembari membawa barang-barang Camelia. Lalu membuka kunci dan mempersilahkan Camelia begitupun Nani untuk masuk kedalam rumah tersebut, "Kang Asep malah senyum-senyum sih." Sindir Nani kembali.


Asep pun membuka satu persatu kain putih yang menutupi barang-barang antik seperti kursi, meja dan yang lainnya. Dan terakhir Asep membuka sebuah foto, "Ini bu Eni." Kata Asep sembari menunjuk salah satu wanita yang berada di dalam foto tersebut, "Dan ini Bapak juga Mas Kal, lalu wanita yang duduk ini adalah Bu Sundari." Sambung Asep.


"Mereka dinikahkan oleh Bu Sundari, dan Bu Sundari hanya bertemu saat Mas Kala lahir dan setelah itu, mereka tidak pernah lagi bertemu." Terang Asep.


Camelia menatap wajah wanita berparas cantik yang sama sekali mirip dengan Ibu Sundari, "kedua nya sangat cantik Mang Asep." Celetuk Camelia.


Asep kembali tersenyum, "Mas Kala tidak mengetahui hal ini Mel, dan mengapa Mang Asep mengajak Amel untuk tinggal disini. Karena Mas Kala tidak tahu adanya rumah ini, bahkan Ibu Sun pun tidak pernah tahu." Terang Asep sembari berjalan menghampiri Camelia, "Mas Kala tidak tahu siapa Bu Eni? Mas Kala tidak tahu bahwa Bu Sundari bukanlah ibu kandungnya." Sambung Asep seraya menerangkan, Nani pun begitu terkejut saat mengetahui kebenaran ini semua.


"Yang tahu Bu Eni hanya, Aku, Bapak mu juga Ibu mu. Terutama Bu Sundari yang memberikan restu agar Bapak besar menikah lagi." Lanjut Asep, Asep pun sedikit menceritakan kebenaran tersebut. Mau tidak mau Asep harus mengatakan ini kepada Camelia karena Camelia harus tahu siapa wanita yang berada di dalam foto ini, namun Asep meminta Camelia ataupun Nani untuk tidak lagi bercerita kepada siapapun. Apalagi sampai Mas Kala tahu, Asep mulai menceritakan semuanya.


Hal itu bermula saat pernikahan Sundari dan Barata sudah memasuki tahun ke 10, Sundari tak kunjung mengandung. Barata pun tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, bahkan Barata sempat meminta Sumiati dan suaminya agar secepatnya menikah dan memiliki anak agar anak tersebut dapat mereka adopsi, namun saat pernikahan Sumiati dan Ayah dari Camelia terjalin pun, mereka juga belum memiliki tanda-tanda mengandung. Sundari begitu sangat terpukul, apalagi saat mengetahui bahwa kondisi kesehatan rahimnya bermasalah dan hal itu membuatnya tidak dapat memberikan keturunan kepada Barata.


Lalu Sundari meminta agar Barata mencari pendamping hidup lainnya, Barata menolak dan enggan melakukan hal tersebut. Ia memohon kepada Sundari agar tidak meninggalkan dirinya, lalu Sundari meminta kepada Barata agar dirinya mencari sosok wanita yang dapat Ia nikahi. Dan Wanita itu tidak dapat Barata temukan, hingga suatu hari Eni yang juga adik tiri dari Sundari pun datang untuk menjenguk keadaan kakaknya.


Di tengah pembicaraan itu, Sundari meminta Suraeni untuk menjadi wanita kedua Barata. Sontak hal itu membuat Eni merasa terkejut, namun Barata terdengar menyetujui permintaan Istri yang sangat ia cintai. Dengan kata lain, Eni harus memberikan keturunan pada Barata dalam jarak satu tahun pernikahan dan jika tidak, Sundari akan meminta Barata untuk menceraikan Eni dan memberikan Eni sebidang tanah sebagai harga pengganti rugi akan apa yang sudah Eni setujui.


Pernikahan itu pun terjadi, dalam jarak beberapa bulan Eni pun mengandung buah cintanya bersama Barata. Eni tidak meminta apapun kepada Sundari, bahkan untuk sekedar di temani Barata pun Eni tidak pernah meminta. Ia hanya ingin Sundari dan Barata memberikan kehidupan yang layak pada anak nya itu kelak, dan setelah melahirkan Eni pun meminta agar Barata tidak lagi menghampirinya.


Lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Kala Satria Barata, seorang bayi tampan sedari lahir itu membuat Eni merasa bangga. Eni pun meminta agar nama Satria hadir di tengah-tengah namanya dan hal itu di setujui oleh Sundari baik Barata.


10 tahun berlalu, Eni hidup seorang diri dirumah tersebut. Bahkan, Barata tidak pernah di persilahkan masuk oleh Eni. Hanya beberapa kebutuhan Eni setiap bulan nya lah yang memasuki rumah itu, selain itu hanya seorang Sumiati yang selalu menjenguknya.


Ya, Sumiati pun mendapatkan sebuah perintah dari Sundari untuk selalu menjenguk Eni. Dan Eni selalu menerima Sumiati dengan sangat baik, Eni tidak pernah bertanya bagaimana keadaan Kala saat ini, bagaimana wajahnya dan bagaimana mereka memperlakukan Kala. Eni sudah sangat tenang hidup seorang diri dan menghabiskan waktunya dengan mengucap syukur kepada Tuhan. Hingga saat usia Kala menginjak 15 tahun, Eni menghembuskan napas terkahirnya di dalam rumah itu dengan di temani Asep dan Sumiati. Ia hanya berpesan, “Jagalah kakak ku Sundari yang sangat aku sayangi, sampaikanlah rasa terimakasih ku padanya karena sudah merawat ku sedari kecil hingga dewasa. Aku tidak pernah menitipkan Kala, Kala adalah darahnya, Kala adalah anaknya sudah sepantasnya ia mencintai dan menyayangi Kala dan aku berharap kala menjadi anak yang sangat berbakti padanya. Aku mencintai Kakak ku sebelum aku mencintai diriku sendiri, salam kan salam hangat ku untuk nya.”


Dan pesan lainnya, “Jangan pernah mengatakan siapa aku pada Kala, karena Ibunya hanya satu yaitu Kakak ku Sundari.”

__ADS_1


Dan semenjak kepergiaan Eni, rumah itu kosong dan tak berpenghuni. Sumiati pun tidak pernah mengajak Sundari untuk menghampiri rumah mendiang Eni, karena Eni tidak pernah mau Sundari mengingat kedekatan diantara dirinya dan kakak Ipar yang saat itu menjadi suaminya. Sundari juga tidak pernah meminta kepada Sumiati, ataupun Asep untuk mencari tahu dimana keberadaan Eni karena sebuah syarat yang harus dipatuhi yang juga diberikan oleh Eni kepadanya.


__ADS_2