INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
Chapter 27


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Regi baru saja menyelesaikan meeting Zoom bersama Tim medis lainnya. Alia pun yang sama-sama menghadiri meeting tersebut segera menghampiri Regi dan menawarkan apa yang sebelumnya ia bicarakan dengan Camelia, Camelia pun terlihat berjalan untuk menemui mereka dengan satu buah nampan berisikan Nasi goreng buatan nya dan satu gelas air putih yang akan ia berikan untuk Regi.


“Maaf hanya ini yang Amel punya di dalam, Pak Dokter pasti belum makan.” Ucap Amel sembari meletakkan nasi goreng buatan nya itu, “Bunda mau makan juga gak, biar Amel bawakan juga.” Tawarnya pada Alia.


“Enggak Usah Mel, bunda sudah jarang sekali makan malam.” Sahutnya.


Melihat sebuah aksi perhatian yang diberikan oleh Camelia, Regi pun merasa bahwa Camelia adalah sosok wanita yang baik. Regi pun berucap, “Duh Mbak, saya jadi malu ini. Saya sangat merepotkan Mbak, udah Mbak pinjami saya teras, kasih saya secangkir Teh dan sekarang juga Mbak memberi saya makan.” Camelia tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya sangat Ikhlas dalam membantu Regi, Regi pun segera menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh Camelia. Camelia pun ikut berbincang bersama-sama dengan Regi dan juga Alia.


Beberapa saat kemudian, Regi terlihat sudah menghabiskan makanan nya itu. Ia terlihat begitu lahap saat memakan nasi goreng buatan Camelia, entah karena perut yang lapar atau mungkin karena makanan itu memang sangat lezat. Ia pun memuji Camelia, “Makanan yang Mbak Buat ini sangat lah lezat, perut saya sangat menerima itu dan Alhamdulilah semoga rezeki yang Mbak berikan untuk saya tergantikan oleh Allah subhanahuwataa’La.”


“Amin, makasih juga doanya. Semoga doa baik berbalik kepada Mas.” Sahut Camelia.


Alia merasa jika Regi sangat Cocok untuk Camelia, Ia berharap bahwa suatu saat mereka bisa bersatu sebagai sepasang kekasih. Alia pun segera memberitahu mengenai rumah yang di butuhkan oleh Regi, “Pak Dokter maaf menyela waktunya, kebetulan rumah di samping itu adalah Paviliun rumah Camelia. Jika Pak Dokter mau, Camelia mau menyewakan rumah itu kepada Pak Dokter. Itupun jika Pak Dokter berkenan.” Tutur Bidan Alia pada saat itu, Ia juga menunjukkan sebuah paviliun di samping rumah yang di tempati oleh Camelia.


“Kebetulan rumah itu sudah lama tidak di tingali, tetapi pemilik nya selalu merawatnya dengan baik sehingga tidak ada kerusakan di dalam nya. Dan di dalam itu ada satu buah kamar dengan tempat tidur besar, satu buah dapur beserta kamar mandi dan ruang tamu juga ruang makan yang berada di dekat dapur. Tempatnya cukup luas, kita tinggal memasang Ac jika Pak Dokter mau.” Terang Alia.


Mendengar hal tersebut, sepertinya Regi menyetujui tawaran yang di berikan oleh Alia juga Camelia. Regi pun menjawab, “Berapa harus saya bayar sewa rumah itu?” Tanya Regi, “Sepertinya saya terima tawaran Bu bidan dan Mbak Amel.” Sambungnya.


Amel menatap wajah Alia, Ia merasa kebingungan saat mendengar pertanyaan Regi. Alia pun memberikan sebuah harga yang terbilang tidak terlalu mahal dan juga tidak terlalu murah untuk rumah tersebut, Regi mengulurkan tangan nya itu dan menyetujui harga yang Alia berikan.

__ADS_1


Regi membuka dompet yang ia simpan di dalam tas nya itu, “Saya bayar di muka ya Mbak.” Kata Regi sembari memberikan satu gepok uang yang bernilai lebih dari harga yang di tawarkan oleh Alia, “Jangan menolak, saya Ikhlas.” Kata Regi.


“Tetapi Pak Dokter,”


Alia pun terlihat memberikan senyuman, “Ini rezeki utun dari Om Dokter, terima saja Mel, lagipula ini akan sangat cukup untuk kamu dan bayi ini.” Ungkap Alia.


“Tapi Amel tidak mau menerima ini dengan hanya Cuma-Cuma, bagaimana kalau nanti Amel menyiapkan makan untuk Pak Dokter. Pak Dokter tinggal memberitahu makanan kesukaan nya apa saja, Amel siap memasak untuk Pak Dokter.” Ujar Amel, “tetapi itupun jika berkenan, jika tidak Amel akan membawa uang ini dengan jumlah yang tadi di ucapkan oleh Bunda Alia.” Kata Amel menyusul.


Regi pun tersenyum kepada Camelia, lelaki berkulit putih dan berwajah tampan bak oppa korea ini pun mengangguk dengan pelan. Lalu mengatakan, “Saya sangat senang jika Mbak Amel mau memberikan saya masakan lezat seperti tadi, saya sih tidak pernah rewel masalah makanan yang akan saya makan. Yang penting halal, dan menyehatkan. Hanya itu, apapun pasti saya makan.” Camelia pun menganggukkan kepalanya.


“Baiklah kalau begitu kita sepakat untuk itu, di pagi hari Amel akan mempersiapkan sarapan dan di siang hari jika Pak Dokter mau Amel akan memberikan makan siang, biar nanti petugas sipil yang membawa nya kemari dan di malam hari, Amel akan menyiapkan makan malam untuk Pak dokter.” Ucap Amel, Alia semakin senang karena berharap hal itu menjadi Tiket untuk Amel dekat dengan Regi dan dengan begitu Amel akan melupakan sosok Kala.


Alia juga merasa lebih tenang karena mala mini sosok lelaki akan menjadi pelindung Camelia, Ia berpikir keberadaan Camelia yang hanya seorang diri sangatlah rawan dan hari ini hatinya merasa lebih tenang.


Setelah selesai, Regi mengantar Camelia dan Alia untuk masing-masing menuju rumah nya itu. Dan sesampainya ia di dalam rumah Paviliun nya itu, Ia kembali memikirkan siapa Camelia, gadis cantik yang sedang dalam keadaan hamil. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang tersebut, “Siapa gadis itu? Mengapa dia tinggal sendiri dan dalam keadaan hamil muda. Lalu kemana suaminya?” Tanya nya sembari membayangkan wajah Camelia.


Ia merasa jika sesuatu hal tengah terjadi pada Camelia, “Malang sekali nasib gadis itu, dan sepertinya usia gadis itu masih sangat belia. Apa aku cari tahu saja siapa dia sebenarnya?” Tanya Regi kembali bermonolog.


Menurut Regi, Camelia seakan menaruh beban yang sangat besar. Ia melihat sorot mata Camelia yang tidak biasa, Ia pun merasa Iba saat melihat kejadian yang terjadi di rumah Camelia sore tadi.

__ADS_1


Sementara itu, di tempat yang berbeda Camelia pun kembali memikirkan nasib jabang bayi yang berada di dalam kandungan nya itu. Ia juga memikirkan apa yang akan Regi pikirkan mengenai keadaan nya yang hamil tanpa di temani siapapun, dan pastinya hal itu akan membuat spekulasi lain di pikiran juga benak Regi dan orang-orang sekitarnya.


“Sampai kapan aku menyembunyikan semua ini, sampai kapan aku hidup dan Mas Kala membayangi kehidupan ku. Bagaimana ini selalu menjadi beban di hatiku, Aku hanya tidak mau mengorbankan wanita yang menjadi Istri dari Mas kala. Tuhan, tolong aku.” Ungkap nya sembari menangis.


“Bagaimana bisa aku tidak stress, semua ini menjadi beban yang sangat berat untuk ku. Maafkan mama Nak, maafkan mama. Karena permasalahan mama bersama Papa mu, kamu pun hendak menjadi korban. Mama janji akan berusaha lagi untuk menjaga kamu yang kini hidup di Rahim Mama.”


Camelia pun merebahkan dirinya itu, Ia tertidur dengan mengesampingkan tubuhnya dan mengusap pelan perutnya itu. Sebuah getaran begitu dirasakan olehnya, dan hal itu sontak mengejutkan dirinya.


“Apa ini? Mengapa perut ku bergetar.” Tanya nya seorang diri kembali, Ia pun mengusap kembali perutnya dan getaran itu semakin hebat.


“Apa ini yang di namakan sebuah tendangan dari bayi di dalam perut, tetapi mengapa hanya getaran saja. Dan pusar ku begitu linu,” keluhnya sembari kembali mengusap pelan perut kecilnya itu.


Ingin sekali ia memberitahu Alia, tetapi saat melihat jam dinding, jam menunjukkan pukul 12 malam dan hal itu di rasa sangat tidaklah sopan. Camelia pun memilih untuk mengistirahatkan dirinya itu, ia menarik selimut hingga bagian Dada dan tertidur dengan pulas.


Di dalam mimpinya itu, Ia terlihat menggendong anak lelaki yang sangat tampan. Lalu Kala datang, dan mengambil anak tersebut. Kala mengatakan, “Berikan saja anak ini biar Ninis dan aku yang mengasuhnya, Aku tidak dapat memiliki bayi yang dari istriku dan aku berharap kamu mau memberikan nya.” Camelia terlihat merebut bayi itu, “Tidak Camelia, ini bayi ku dan Ia adalah darah daging ku! Berikan padaku, Ku mohon!” Camelia tidak memberikan bayi tersebut, Ia memeluknya dengan erat dan berlari sekencang mungkin seakan ingin menghindari keberadaan Kala dan juga Ninis. Ia juga bersembunyi, namun seseorang menariknya membuat nya jauh dengan kedua sosok itu.


Ia terbangun, Ia melihat kembali jam dinding yang berada di dalam kamarnya. Jam menunjukkan pukul 3 dini hari, Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan segera beranjak dari tempat tidurnya hanya untuk mengambil segelas air. Ia kehilangan setengah dari dahaganya akibat mimpi buruk itu, Ia pun mencoba mengatur napasnya itu manakala ia meneguk air di dalam gelas itu.


“Ya Tuhan, Aku tidak rela jika harus memberikan bayi ini kepada mereka. Aku tidak akan dengan mudah memberikan nya, Tidak dan tidak akan pernah!” ucapnya dengan tegas sembari menatap lurus dengan mata yang terlihat berkilat.

__ADS_1


__ADS_2