
Keesokan harinya, Kala terbangun dari tidur malamnya itu. Ia menggeliat sembari terlihat menguapkan bibirnya seraya masih merasakan rasa mengantuk yang sangat amat kuat, Ia pun meraih ponsel miliknya yang tersimpan di atas sebuah nakas samping tempat tidurnya.
Kala begitu terkejut saat melihat beberapa pesan masuk berupa foto-foto dari seseorang agen rahasia yang ia sewa untuk mengikuti mobil Asep, "Ya, kecurigaan ku mengenai malam itu benar." Ucap Kala sembari melihat foto-foto tersebut.
Kala melihat semua foto mengenai sosok Camelia yang Ia cari selama dua bulan ini, "Aku akan segera menemui mu Mel." Ucap Kala menyusul.
Kala pun beranjak dari tempat tidurnya itu, Ia keluar dari dalam kamar lain dan berjalan menuju kamar pribadinya itu. Dan saat memasuki kamarnya itu, Ia melihat bahwa kamar miliknya kosong dan tak ada Ninis di sana.
Lalu ia melihat secarik kertas di atas bantal miliknya, "Teruntuk Mas Kala, Ninis mohon jangan dulu mengatakan perpisahan ini kepada Bapak, Ibu kandung Ninis juga Ibu Sundari. Ninis tahu Ninis pun bersalah, tetapi beri Ninis waktu untuk menenangkan semuanya terlebih dahulu. Apalagi saat ini Ibu Widia sedang dalam keadaan tidak baik, Ibu dikabarkan Anfal pada dini hari tadi dan Ninis saat itu juga segera menyusulnya ke rumah sakit. Kebetulan Mas Kala mengunci salah satu kamar di rumah ini, dan Ninis tidak dapat memberitahu Mas. Ninis mohon Mas, tolong jangan katakan apapun terlebih dahulu. "
"Ninis pasrah dengan apapun keputusan Mas, tetapi Ninis mohon jangan lakukan itu saat keadaan Ibu Widia seperti ini. Wanita yang sangat berharap Mas maafkan, Ninis."
Kala memejamkan matanya sejenak, Ia pun tak tahu harus melakukan apa dan hatinya mengatakan bahwa dirinya tidak bisa jika harus berlaku tega. Kala pun mengirim pesan teks pada Ninis, "Assalamualaikum, Maaf jika Mas Kala belum bisa menemui Ibu. Kebetulan hari ini jadwal Mas sangatlah padat, beritahu Bapak setelah selesai Mas akan menemui Ibu di rumah sakit." Hatinya semakin Risau, Ia ingin sekali menemui Camelia. Namun, ia tidak mungkin juga jika tidak menemani Ninis di rumah sakit. Bahkan, sebuah talak yang sudah jatuh kepada Ninis pun terpaksa ia lupakan sejenak karena keadaan Ibu Mertuanya itu dan Kala harus kembali bersikap layaknya suami Ninis di hadapan mereka semua.
Namun, Talak tetaplah Talak. Talak itu sudah jatuh, dan Kala tidak bisa menarik perkataan nya kembali.
Ia pun segera pergi menuju kamar mandi dan memakai pakaian dengan sangat rapi, hari ini Ia tetap memutuskan untuk menemui Camelia. Hatinya mengatakan bahwa Ia harus menemui Camelia saat ini juga, "Aku akan segera menemui Camelia, tetapi Aku tidak akan mengatakan apapun pada Mang Asep dan Mbok Sum." Ucapnya sembari menatap dirinya di hadapan sebuah kaca.
Kala telah selesai mempersiapkan dirinya itu, ia pun berjalan keluar kamar dan melihat sosok Nani yang baru saja selesai membersihkan kamar yang telah Kala pakai untuk tidur pada malam tadi.
"Mas Kala tidur disini semalam?" Tanya Nani.
Kala mengangguk, "Bi Nani sudah tahu mungkin jika suami istri berpisah kamar kenapa? Kala berantem sama Ninis." Sahutnya, Nani pun mengangguk pelan.
"Apa Ibu tahu Kala tidur di sana?" Tanya nya kembali.
__ADS_1
Nani pun menjawab, "Sepertinya tidak Mas." Kala pun berjalan kembali tanpa mengatakan apapun, Nani mengikuti langkah kaki Kala dari belakang.
"Buatkan Kala Susu hangat ya Bi." Pintanya, "Sama Roti panggang." Tambah Kala, Nani pun segera mengangguk kembali dan Ia terlihat menuju dapur dimana Sumiati berada di sana.
Setelah selesai, Nani kembali membawakan sebuah nampan berisikan pesanan yang di minta oleh Kala.
"Ibu sudah pergi Bi?" Tanya Kala.
"Sudah Mas, sepertinya Ibu mau ke Panti lalu ke Rumah sakit." Jawab Nani sembari meletakan satu buah gelas dan juga satu buah piring di hadapan Kala, "Mas membutuhkan sesuatu kembali?" Tanya Nani kepada Kala.
"Oh tidak Bi, kalau Mbok Sum sedang apa?" Tanya Kala kembali pada Nani.
Nani pun menjawab, "Ada di dapur, Mbok Sum mau buatkan beberapa makanan untuk Mbak Ninis dan keluarganya. katanya Adiknya juga sudah sampai di rumah sakit, Ibu yang menyuruh Mbok Sum untuk membuatkan beberapa makanan dan nanti Bibi yang mengantar ke rumah sakit."
"Ya udah, Kala udah selesai bi. Maaf bukan tidak enak karena Kala tidak habiskan sarapan nya, tetapi Kala sudah terlambat untuk melakukan pertemuan." Terang Kala kembali.
"Pesan apa katanya bi? Tanya Kala kembali, Nani pun mencoba mengingat kalimat Sundari. Kala pun menilik wajah Pelayan nya itu, " Palingan Ibu suruh Kala segera ke rumah sakit." Celetuk Kala.
"Iya Mas, sama satu lagi. Kata Ibu, kalau bisa jangan dulu melakukan pekerjaan karena keluarga Pak Aji sedang membutuhkan Mas Kala." jawab Nani kembali.
"Ya sudahlah sudah pasti kok Bi." jawab Kala dengan nada yang terlihat santai, tidak seperti biasanya Kala bersikap santai saat mendapat sebuah pesan dari Ibunya dan menurut Nani, hal ini sangatlah aneh.
Kala pun segera pergi meninggalkan Nani yang terdiam terpaku saat melihat sikap aneh yang di tunjukkan oleh Kala pagi ini.
**
__ADS_1
Sementara itu, Camelia terlihat sedang asyik memasak sarapan untuk Regi. sedari tadi pagi, Camelia menyibukkan dirinya itu untuk membereskan rumah serta berbelanja bahan makanan yang akan ia masak untuk Regi.
Makanan pun telah selesai, Camelia memasak nasi goreng ayam mentega dan sayur cah brokoli sosis kesukaan Regi. Ia pun telah menyiapkan satu buah gelas Jus semangka sesuai permintaan Regi, tanpa melihat ponsel miliknya itu, ia segera mengantarkan makanan untuk sosok Pak Dokter baik yang selama ini selalu membantu nya.
namun saat melihat halaman rumah paviliun nya itu terlihat kosong, dan tidak ada tanda mobil Regi terparkir Camelia pun menyimpan sarapan itu di atas meja. Ia mencoba mencari tahu melalui celah jendela rumah paviliun nya itu, "Kemana Mas Regi ya? sepertinya rumah ini kosong, tetapi Mas Regi kan hari ini libur dan dia berjanji akan berbelanja bahan cet untuk rumah ini." Camelia merasa kebingungan, ia duduk di atas kursi yang berada di depan teras rumah tersebut.
nafasnya mulai tersengal akibat tendangan aktif si jabang bayi, "Maafkan Mama ya nak, sedari tadi mama tidak beristirahat. mungkin kamu sedang melakukan protes kecil pada Mama." ucap Camelia bermonolog, ia menarik nafasnya dengan pelan sembari mengusap perut miliknya yang sedikit membuncit.
Setelah ia rasa cukup, Ia pun beringsut pergi dari teras rumah Regi itu. Dan sesampainya di rumah, Camelia segera mengecek ponsel miliknya. mana tahu Regi memberikan pesan padanya, "Mas Regi menelpon ku sebanyak 8 kali." Kata Camelia sebelum ia melihat beberapa pesan masuk dari Regi, Ia pun segera membuka pesan masuk tersebut.
"Assalamualaikum Mel, maaf tidak berpamitan dan mengatakan apapun tadi pagi. Mama ku masuk rumah sakit dan katanya saat ini beliau tidak sadarkan diri, Aku sudah mengirim email untuk melakukan cuti sementara pada Petugas Klinik di Balai Desa. Tolong Doakan Mama ku ya Mel, dan baik-baik di sana." Kata Regi dalam Isi pesan teks tersebut.
Camelia pun membalas pesan tersebut, "Waalaikumsalam Mas, maaf Amel baru saja membaca pesan Mas tadi. kebetulan Amel sudah memasak makanan untuk Mas, tetapi tidak apa. Amel akan mengajak Bunda Alia dan Resa untuk memakan bersama, dan sudah pasti Amel akan membantu doa dari sini. Mas yang sabar ya, Syafakilah untuk Ibunda Mas Regi sendiri."
Amel menarik nafasnya dengan pelan kembali, rasanya begitu sesak dan entah mengapa hatinya merasa tidak enak saat ini. Amel segera menghubungi Alia dan meminta Alia untuk tidak memasak, Alia pun mengiyakan keinginan Amel.
Beberapa jam berlalu, Kabupaten Bogor sendiri memiliki curah hujan yang tinggi. malah di daerah tersebut masih sangat rawan bencana alam seperti tanah longsor juga banjir bandang seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu, dan saat ini hujan sudah mulai turun.
Camelia terlihat berjalan ke area dapur dan berniat untuk menutup pintu belakang yang menghubungkan taman kecil bersama tempat pakaian di jemur.
Sebuah ketukan pintu terdengar begitu cukup keras, dengan langkah pelan nya Camelia pun segera menghampiri seseorang yang sedang mengetuk pintu tersebut. Pintu kaca dengan kain penutup dari dalam itu menunjukan seseorang yang berdiri sembari membelakangi pintu tersebut, Camelia pun membuka pintu tersebut dan...
"Maaf Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Camelia yang sebenarnya ia tak menyadari bahwa sosok lelaki itu adalah Kala.
Kala pun membalikkan tubuhnya itu, "Apa kabar Mel?" Tanya Kala sembari membuka kaca mata yang sedang ia kenakan, kehadiran kala sontak membuatnya terkejut. matanya membelalak, bahkan ia seakan tidak mampu merapatkan bibirnya itu.
__ADS_1
"Mas... Kala.. " Ucap Camelia dengan terbata-bata.