INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
Chapter 8


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Semenjak mendengar kalimat itu, Camelia berusaha menghindar dari keberadaan Kala. Jangan kan untuk berada di dalam ruangan yang sama, untuk melakukan kontak mata pun seakan tidak ingin Camelia lakukan.


Hal itupun membuat Sumiati, ibu dari Camelia bertanya-tanya. Namun seketika Sumiati mendapatkan jawaban Nya sendiri, Ia seketika mengira Bajwa Amel hanya ingin menghargai keberadaan Ninis sebagai Istri dari Kala sendiri.


Dan akhir-akhir ini, entah mengapa kesehatan Camelia semakin memburuk. Ia sering merasakan kedingingan, bahkan Ia sering sekali tiba-tiba merasa pusing dan mual dan tanpa berpikir macam-macam Amel hanya mengira bahwa sakit lambung itu selalu kambuh akibat sering merasa kelelahan.


Camelia sedang tertidur dikamarnya, rasa mual pada perut nya semakin tak tertahan kan. Dan hal itu membuatnya segera berlari menuju kamar mandi, Ia pun kembali memuntahkan isi dalam perutnya. Padahal Camelia belum makan apapun sedari pagi, hanya air putih lah yang membuat kenyang perutnya.


Dalam hatinya berucap, “Dasar bodoh, sudah tahu Maag ku selalu kambuh. Aku malah mengosongkan perut ku.”


Suara Ibu nya terdengar dari luar kamar mandi, suara itu terdengar memanggil nama Camelia. Camelia pun segera keluar dari dalam kamar mandi, “Loh wajah mu pucat Cahayu!” dengan tegas sang ibu mengatakan hal tersebut.


“Amel memang gak pakai sentuhan bedak Bu.” Tukas Amel seraya ingin sang ibu tidak mengkhawatirkan dirinya.


Sumiati menatap lekat wajah anaknya, Ia juga merangkul tubuh anaknya untuk masuk kedalam kamarnya. Sumiati bertanya pada anaknya. “Apa sih yang selama ini berada di dalam pikiran Cahayu anak ibu satu-satunya ini?” Tanya Sumiati.


“Enggak ada toh bu,” ucap Camelia yang kembali dengan sengaja berbohong.


“Ibu tahu kamu sedih ya dengan pernikahan yang sudah terjadi diantara Mas Kala dan Mbak Ninis, Ibu yakin kalau kamu menyukai Mas Kala. Ndo, tidak mungkin itu bisa. Kamu harus ingat siapa kita sebenarnya, Ibu Sun sudah menganggap mu seperti anak gadisnya. Bahkan sekolah musaja beliau pikirkan dengan baik. Beliau ingin kamu bisa seperti Mas Kala, seperti anaknya yang lulus dengan nilai yang baik.” Ungkap Sumiati.


“Bu, Ibu ngomong apa sih. Camelia sudah menganggap Mas Kala seperti kakak Amel, Amel gak sedang memikirkan apapun bu. Sungguh.” Tukas Camelia kembali.

__ADS_1


“Lalu bagaimana dengan sikap kamu akhir-akhir ini kepada Mas Kala? Semenjak Mas Kala menengok mu di rumah sakit, semenjak itu pula ibu melihat keakraban diantara kalian.” Ibunya menatap wajah Camelia, namun ada hal lain yang ia lihat pada Camelia saat dirinya mengatakan hal itu. Camelia tertunduk seakan tak mampu mengucap satu kata pun kepada Ibu nya sebagai jawaban atas apa yang Ibu nya tanyakan, air mata nya pun mulai membasahi kelopak matanya.


“Mel, apa sesuatu hal telah kamu rahasiakan dari Ibu?” Tanya Sumiati kembali, Amel menutup rapat bibirnya. Napasnya pun seakan terkoyak menahan rasa ingin menangisnya saat ini, “Apa dibelakang kami kalian memiliki hubungan serius? Apa wanita yang selama ini di rahasiakan Mas Kala dari Ibu nya adalah dirimu?” Tanya nya kembali, Camelia menggelengkan kepalanya.


“Tidak Bu, kami tidak ada hubungan apapun. Mungkin Ibu hanya melihat dari sisi buruknya saja, Amel tidak terlalu dekat karena merasa menghormati sosok Mbak Ninis. Lagipula, Amel tidak mau membuat Mbak Ninis cemburu dengan kedekatan kami. Padahal Mas Kala dan Amel hanya sebatas kakak dan adik.” Terangnya pada Sumiati.


“Kalau begitu Ibu merasa tenang, Ibu pun sedikit memikirkan hal itu. Ya sudah, maafkan Ibu karena sudah menuduh mu dengan perkataan tadi.” Ucap Sumiati, Amel mengangguk dengan pelan. Ibu nya memeluk tubuh Amel, “Ingat ya Nak, Ibu hanya tidak mau memiliki masalah dengan Ibu Sun. Beliau sangat baik dan sangat menyayangi kita, Ibu tidak mau mengecewakan dirinya.” Tutur Sumiati kembali, Camelia hanya mengangguk ragu karena sebenarnya ia merasa bahwa apa yang sudah terjadi di malam itu akan mengecewakan Sundari maupun Sumiati apabila mereka mengetahui nya.


Sumiati beranjak dari ranjang milik Camelia dan segera keluar dari dalam kamarnya itu, kini air mata Camelia pun kembali jatuh membasahi pipi miliknya. Ia tidak dapat membendung kesedihan nya itu, Apalagi terdengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Ibunya. Ia sendiri tidak menginginkan hal tersebut, namun apalah daya ia harus siap menanggung semua nya seumur hidupnya. Terlebih apa yang ia miliki telah di renggut paksa oleh Kala pada malam sebelum ia melepas lajangnya, dan beban berat itulah yang memutar pada otak miliknya.


Camelia melihat layar ponselnya itu, tak sengaja ia melihat sebuah rekaman video yang kala simpan pada salah satu akun media sosialnya. Rekaman Video menunjukkan bahwa Kala begitu bahagia menikmati bulan madu kedua nya bersama Ninis, di dalam video tersebut terlihat Kala melakukan makan malam romantis bersama Ninis dengan suasana yang terlihat begitu hangat. Kala juga menambahkan sebuah tulisan, ‘Dinner romantic with my lovely Wife, and I Love you My wife’ ditambah emoticon love, hal itu semakin membuat Camelia merasa menderita seorang diri.


Dan di tempat berbeda, Apa yang dilakukan Kala memang murni tanpa ada unsur paksaan. Namun hal lain membuat dirinya terkejut, ia masih saja memikirkan Camelia tanpa ia sadari sebelumnya. Entah bagaimana hal itu terjadi, akan tetapi Kala merasa nyaman dengan keadaan sekarang, namun sosok Camelia masih bernaung di sisi hatinya yang lain dan tentu saja ia berusaha menutupi itu semua.


Kala sedang berada di atas balkon kamar hotel yang sedang ia kunjungi, “Mas…” Panggil Ninis dengan lembut.


“Iya sayang.” Jawab Kala.


“Ninis boleh meminta ijin?” Tanya Ninis kepadanya.


“Apa dulu? Mas ingin tahu dulu, baru Mas jawab boleh atau tidaknya.” Jawab Kala.


“Ninis mau ketemu sama Andre, tapi Ninis mau Mas ikut dengan Ninis.” Serunya sembari menatap wajah Kala, sebelumnya Ninis mengatakan Jujur kepada Kala bahwa Andre yang juga mantan kekasihnya itu selalu datang menemui nya di rumah sakit. Ia juga mengatakan bahwa Andre selalu mengancam nya akan mengatakan rahasia besar mengenai Ninis, akan tetapi Ninis tidak menyadari rahasia besar itu apa.

__ADS_1


“Mas gak mau ketemu lelaki itu, kalaupun mau ya dengan Bapak. Aku mau tahu apa sih rahasia besar itu?” Tanya Kala kembali, Ia semakin merasa sayang terhadap Ninis karena Ninis dengan baiknya mengatakan jujur apa yang Kala tidak ketahui itu.


“Ninis gak pernah melakukan hubungan macam-macam dengan nya, tetapi seakan ia mengatakan bahwa hal itu terjadi. Ninis berani bersumpah atas nama Tuhan Mas.” Ucapnya dengan manja, “Lagipula Mas juga lihat dan rasakan bahwa belum ada orang yang sudah menjamah Ninis.” Sambungnya.


“Ya kalau rahasia besar mengenai Ninis sering datang ke Club semasa di luar Negeri, Ninis akui. Tetapi itupun Ninis gak pernah pulang pagi dalam keadaan mabuk, Ninis tahu betul kalau itu sangat melanggar peraturan Bapak.” Tambahnya, Kala menatap nya dan memberikan senyuman pada Ninis.


“Mas gak mau bahas ini di dalam momen baik kita, Mas percaya kok sama kamu. Lagipula, orang yang akan merusak kebahagiaan kita akan melakukan berbagai cara untuk mencapainya. Sudah ya jangan bahas lagi.” Sahut Kala sembari memeluk Ninis yang duduk di samping kanan nya, Ninis pun mengangguk dan tersenyum saat mendengar kalimat bijak dari seorang suami yang saat ini begitu sangat ia cintai.


Kala mengecup kening Ninis, Ia juga memeluknya dengan erat. Namun di balik itu semua, wajah Camelia kembali melintas dalam pikirnya. Kala berusaha untuk menukis nya, namun entah mengapa wajah Camelia seakan tak henti melintas dalam ingatan nya itu.


Malam romantis itupun kembali terjadi, Kala menggendong istrinya menuju ranjang berukuran besar tersebut. Sorot mata penuh cinta itu ia berikan kepada Ninis, lagi-lagi sosok Camelia kembali melintas dalam ingatan nya. Ia sekuat mungkin berusaha untuk tidak mengecewakan Ninis, Dan… Ya Kala pun melakukan itu lagi dan lagi, keintiman dari kedua nya semakin hari semakin memanas dan Kala merasa puas dengan apa yang ia lakukan bersama Ninis.


Beberapa menit pun berlalu, Kala dan Ninis yang sudah mencapai kepuasan pun terlihat membaringkan tubuhnya masing-masing di atas ranjang yang menjadi saksi bisu mereka. Kala menggenggam erat tangan istrinya itu, “Berikan aku anak sebanyak mungkin, aku ingin sekali membahagiakan Ibu dan juga orang tua mu. Mungkin dengan kehadiran banyak cucu, kehidupan tua mereka akan terasa hangat.” Ungkap Kala, Ninis sedikit mengangguk.


“Ninis akan berusaha dan tentu nya kita jangan pernah lupa minta kepada Tuhan.” Ninis tersenyum dan membuat tubuhnya semakin dekat dengan tubuh Kala, Ninis memeluk Kala dan mereka tertidur dengan pulas.


Dalam mimpi Kala, Kala melihat seorang wanita yang sedang mengandung. Kala mengusap perut wanita itu, wanita menoleh kearah wajah Kala dan menunjukkan wajah cantik dengan senyuman sumringah. Kala terkejut bahwa wanita itu bukanlah Ninis melainkan sosok Camelia, Kala yang merasa terkejut pun segera terbangun dari tidur pulasnya itu.


Ia menarik napasnya dalam-dalam, satu bulan lebih satu minggu sudah peristiwa itu terjadi. Dan mungkinkah mimpi itu pertanda bahwa Camelia akan mengandung anaknya, Ia pun sempat memikirkan hal itu. Ia menatap ke arah samping dimana ia terkulai lemas akibat terbangun dari mimpi tersebut, wajah polos nan cantik Istrinya itu terlihat oleh matanya.


“Bagaimana jika memang itu tejadi? Bagaimana jika Ibu, Ninis tahu.Dan tentunya Aku akan mengecewakan mereka.” Ucap Kala dalam hati, Ia pun kembali risau akibat mimpi buruk tersebut.


Kala beranjak dari tempat tidurnya, Ia segera memakai pakaian miliknya itu dan berjalan menuju balkon kamar hotel nya kembali. Ia berusaha menghubungi Camelia, namun sayang nomor Kala seakan telah terblokir oleh Camelia sendiri. Entah sejak kapan dan Kala baru saja menyadari hal tersebut, Kala merasa kesal dan hatinya seakan ingin sesegera mungkin menghampiri Camelia.

__ADS_1


__ADS_2