INCIDENT BEFORE THE WEDDING

INCIDENT BEFORE THE WEDDING
chapter 15


__ADS_3

Malam pun berlalu, matahari itu terlihat sudah memancarkan sinarnya. Nani yang bari saja kembali dari kepergian nya mengantar Camelia itupun tak mampu menutupi mata ngantuknya itu, Ibu dari Camelia pun bertanya pada Nani.


“Kamu sakit Nan?”


Nani mencoba menahan rasa ngantuknya itu, setelah melakukan pekerjaan di hari kemarin hingga ia mengantar kepergiaan Camelia, Nani memang sama sekali belum beristirahat. Nani hanya sempat memejamkan mata saat dalam perjalanan pulang, “Tidak Bu, Nani Cuma kurang beristirahat.” Jawabnya.


“Memang nya tidur kamu kurang nyenyak? Atau kamu sedang merasa sakit badan?” Tanya Sumiati menyusul.


Nani pun berdalih bahwa semalaman ini ia memang tidak dapat tidur dengan nyenyak karena banyak sekali nyamuk dikamarnya, namun Sumiati menyuruhnya untuk segera membersihkan perabotan yang sudah lama tidak terpakai dan Nani mengiyakan apa yang menjadi perintah Sumiati yang juga sebagai kepala Asisten rumah tangga di sana.


Lalu, “Surti, Panggil Asep ya. Sekalian bangunkan Camelia, tumben sekali Amel ini belum bangun.” Gerutunya sekaligus memerintah Surti asisten lainnya.


Surti mengangguk dengan pelan, Ia pun segera beringsut pergi menuju Asep dan menuju kamar Camelia.


Lalu, “Bu Sum..” Teriak Surti, teriakan nya begitu terdengar kencang dan Sumiati segera berlari menuju suara Surti.


“Ada apa Sur? Kenapa kamu teriak?” Tanya Sumiati.


“Camelia..” Sumiati pun segera mendorong tubuh Surti yang terlihat berdiri tepat menghalangi pintu kamar Camelia, Sumiati mendapati sebuah kamar kosong tak berpenghuni dengan beberapa kertas yang tersimpan rapi di atas ranjang kecil milik Camelia.


Sumiati pun membawa salah satu kertas di sana, sebuah tulisan maaf yang dibuat Camelia sebelum kepergiaan. Satu persatu ia berikan sebuah catatan, termasuk untuk Asep dan Nanti yang pada kenyataan nya membantu kepergiaan nya.


“Assalamualaikum Ibu, Maaf sebelumnya jika apa yang Amel lakukan membuat Ibu khawatir dan merasa jika Amel sudah mengecewakan Ibu. Tetapi jauh di dalam lubuk hati Amel yang paling dalam, Amel sangat menyayangi Ibu dan sangat menghormati Ibu sebagai orang tua tunggal Amel. Amel mohon jangan pernah mencari Amel sampai tiba saat nya dimana Amel pulang. Tidak ada jawaban yang mampu menjelaskan mengapa Amel harus pergi meninggalkan semua nya disini, Amel hanya ingin Ibu tahu, kepergiaan Amel sadalah yang terbaik. Tertanda, Amel yang sangat menyayangi Ibu.” Sumiati menarik napasnya dalam-dalam, tangan dan kakinya begitu gemetar. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, air matanya pun mulai membasahi pipinya itu.


“Ada apa Sur?” Tanya Nani.

__ADS_1


“Amel pergi Nan, ini kita juga dapat surat dari Amel.” Jawab Surti.


Tak lama kemudian Asep pun datang bersama Pak Abu si tukang kebun kesayangan Camelia, “Ada apa ini?” Tanya Abu.


Surti kembali menjawab hal yang sama sebagai jawaban nya kepada Nani, semua merasa kebingungan. Bahkan Nani pun tak kuasa saat melihat keadaan Sumiati. Sumiati menangis sejadi-jadinya, anak satu-satunya telah meminta ijin untuk pergi tanpa Sumiati tahu pokok permasalahan anak nya itu dan hal ini jelas terdengar oleh Sundari. Sundari menghampiri para Asisten nya itu, “Ada apa ini?” Tanya Sundari.


Surti kembali menjawab, “Camelia menulis surat kepergiaannya, Ia pamit melalui surat itu. Dan Ini juga salah satu surat yang diberikan oleh Camelia untuk Ibu.” Sundari meraih secarik kertas yang ditujukan oleh Camelia untuknya.


Sundari pun mulai membaca pesan tersebut, “Assalamualaikum Ibu Sun, sebelumnya Amel memohon maaf yang sangat-sangat dalam kepada Ibu yang juga sangat menyayani Amel. Tetapi ini sudah menjadi keputusan Amel, Amel harus pergi sampai waktu yang tidak dapat di tentukan. Amel tidak dapat mengatakan alasan apapun, Amel hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih Amel yang sangat dalam kepada Ibu dan mas Kala dan Maaf Amel tidak bisa menjadi yang terbaik untuk Ibu. Mungkin Amel pun tidak dapat mengganti semua yang sudah Ibu berikan kepada Amel, Amel hanya memohon keikhlasan Ibu untuk memaafkan segala kesalahan Amel. Tertanda, Camelia.” Matanya terbelalak saat melihat sebuah tulisan rapi sebagai pesan yang di buat oleh Amel untuk nya, Ia juga melihat keadaan Sumiati yang terduduk lemas tak berdaya dan hanya menangis.


“Apa Amel memiliki masalah dengan kalian?” Tanya Sundari, mereka semua menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa hubungan nya sangat baik dengan Camelia. Bahkan Camelia sangat manja kepada mereka semua, dan semua sudah menganggap Camelia adalah adik kecilnya. Pak Abu yang sudah menganggap Camelia seperti putrinya bahkan mendiang Ayah Camelia adalah sahabat dekat Pak Abu, Surti yang selalu memanjakan Camelia. Ia sudah seperti kakak bagi Camelia, Nani dan Asep pun mengatakan bahwa Camelia terlihat baik-baik saja dan terakhir Sundari meminta para pekerja Laundry di rumahnya itu untuk mengatakan apakah ada yang bermasalah dengan Camelia atau tidak, namun mereka semua sangat memiliki hubungan baik dengan sosok Camelia ini.


Sundari meminta Surti dan Nani untuk membawa Sumiati masuk kedalam kamarnya, Sundari yang masih berdiri itu terlihat menunjukkan raut wajah yang tak biasa. Amarahnya memuncak manakala Camelia seharusnya hari ini sudah berada di sebuah Kampus ternama, “Asep, Abu. Suruh Romi dan Samuel mencari keberadaan Camelia. Dan tolong lihat rekaman CCTV depan rumah agar kita tahu dengan siapa Camelia pergi, saya hanya takut Camelia dipaksa pergi dengan lelaki yang sudah memacarinya.” Perintah Sundari dengan mata Membola.


Lalu Abu berkata, “Maaf Bu Sun, setahu saya Camelia tidak memiliki kekasih.”


“Saya sudah menduga bahwa Camelia sakit itu bukan karena dia kelelahan atau kecapean, ada hal yang menyangkut dalam pikiran nya dan hal tersebut saya tidak dapat pastikan.” Ungkap Sundari.


Mereka semua terdiam dan enggan mengatakan apapun lagi, Sundari sungat terlihat sangat marah. Ia pun memilih untuk meninggalkan tempat itu, “Asep, ikut keruangan saya. Siapkan laporan kepolisian dan beritakan kehilangan Camelia.” Ujar Sundari.


Asep membalas kalimat tersebut, “Saya rasa kita harus menunggu kedatangan Mas Kala Bu, kalau laporan itu menyebar dan media membesarkan berita itu. Bulan Madu Mas kala dan Mbak Ninis akan terganggu, karena saya tahu bagaimana perasaan seorang kakak saat adiknya hilang. Saya rasa kita pertimbangkan satu atau dua hari ini.” Mendengar hal tersebut Sundari pun setuju dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Asep dan Sundari berpikir jika Kala bisa saja secepatnya pulang dari Acara bulan madu tersebut, dan sepertinya Kala baru saja sampai di Amerika dan hal itu akan sangat mengganggu kepergiaanb Kala bersama Istrinya.


“Ya sudah, kita tunggu 2X24 jam. Setelah itu kamu membuat laporan kepolisian dan katakan bahwa kepergiaan Camelia tidak boleh terhembus oleh media manapun.” Sahut Sundari, Sundari cukup terkenal di kalangan Masyarakat. Beliau adalah salah satu pemilik panti sosial yang bekerja sama dengan Pemerintahan Indonesia dan jika sesuatu hal buruk dari rumahnya tercium oleh media, sudah dapat dipastikan berita itu akan menjadi konsumsi Publik.


Sundari memilih untuk menghampiri Sumiati, Surti mempersilahkan Sundari untuk duduk di samping tubuh Sumiati yang tak henti menangisi kepergiaan anaknya.

__ADS_1


“Sum, bersabarlah. Kita akan segera menemukan Camelia,” ucap Sundari.


Sumiati menganguk dengan pelan, Sundari pun memberikan pelukan untuk Sumiati.


“Sudah menjadi hal biasa bahwa gadis seusia Camelia membuat Ulah dirumah. Janganlah marah, jangan kecewa. Doakan dia agar Tuhan secepatnya membawa nya pulang.” Sambung Sundari.


Sementara itu, Camelia yang kini tinggal di sebuah rumah di atas bukit tempat mendiang Eni tinggal dengan sigap membersihkan rumah tersebut agar debu di dalam rumah using itu kembali bersih. Tidak ada rasa takut untuk tinggal sendiri, yang jelas Camelia merasa jauh lebih tenang walaupun ia tidak dapat membohongi perasaan nya bahwa Ia sangat ingin memeluk Ibunya.


Ia pun mengusap perut miliknya itu, “Anak bayi yang masih sangat kecil ini, kita berjuang sama-sama ya sayang. Jangan khawatir Mama akan selalu menjaga mu.” Ungkap nya saat ini, air matanya tak sengaja menetes.


Ting! Sebuah pesan mendarat pada nomor barunya.


“Setuu setu, Ini Mang Asep. Kamu baik-baik disana. Semua sudah menyadari kepergiaan mu, jangan pernah membuka pintu untuk orang yang tidak kenal dengan mu.” Kata Asep pada pesan pribadinya.


Amel menjawab, “Setu setu, Siap Mang. Jangan lupa menghapus pesan nya.”


Mendengar kabar yang baru saja diberikan oleh Asep, hatinya meringis sakit dan merasakan kesedihan yang begitu sangat dalam. Andai semua ini tidak pernah terjadi, Camelia mungkin tidak akan sehancur ini.


Ia pun berdiri dibalik foto keluarga Eni, Barata juga Sundari dan seorang bayi mungil itu yang tak lain adalah Kala.


“Bu Sun, Bu Eni dan Bapak besar yang mungkin dulu selalu mengajak main Amel. Ini cucu Bapak, juga cucu Bu Eni dan Bu Sun. Amel ikut berlindung di rumah masa kecil Mas Kala ya, semoga bayi yang ada di perut Amel selalu memberikan Amel kekuatan seperti Mas Kala yang memberikan kekuatan kepada kalian bertiga. Amel mohon maaf atas apa yang sudah terjadi dan Amel berharap semua memaafkan Amel juga Mas Kala. Kalian tahu kan apa yang sudah terjadi? Ini bukan kehendak kami, hanya pengertian Bu Sun lah yang Amel harapkan saat nanti Amel membawa bayi ini pulang. Walaupun sebelah hati Amel mengatakan agar Bu Sun tidak perlu tahu mengenai siapa Ayah dari bayi ini, semua Amel lakukan atas rasa empati Amel kepada Mbak Ninis. Amel tidak mau menyakiti Mbak Ninis.” Air matanya kembali mengalir, kali ini lebih deras. Tubuhnya itu terlukai lemas, Ia menangis dengan apa yang terjadi saat ini.


Tidak hanya Amel yang menjadi korban, akan tetapi Sumiati yang sangat mengkhawatirkan Camelia juga menjadi korban dalam permasalahan ini.


Terdengar suara Ibunya memanggil nama Camelia, namun sepertinya itu hanyalah khayalan Camelia semata.

__ADS_1


"Maafkan Amel bu, Maafkan Amel. Amel mohon tolong maafkan Amel."


__ADS_2