
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Ninis yang pada saat itu memutuskan untuk segera masuk kedalam kamarnya di kejutkan oleh kehadiran Asep yang tak lain salah satu supir di dalam kediaman Sundari.
"Astagfirullah.." Ucap Ninis seketika.
"Aduh Mbak maaf, saya gak sengaja." ucap Asep.
Ninis pun tersenyum, "Gak apa-apa Pak Asep, Ninis hanya terkejut. Ninis kira siapa." ucap Ninis kembali, Asep terlihat membawa sebuah bingkisan di dalam kantong plastik berwarna hitam itu.
"Itu apa Pak?" Tanya Ninis.
"Mmm, Anu Mbak.." Asep terlihat kebingungan, namun sosok Ninis sepertinya bukanlah salah satu orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain.
"Ya sudah tidak perlu di jawab Pak, Ninis masuk dulu ya Pak Asep." Ucapnya, Asep pun menganggukkan kepalanya. Asep terdiam sejenak, apa yang sedang ia bawa adalah sebuah alat yang berada di dalam Kamera pengawas yang tak jauh dari Area kamar Kala. Tentu saja Asep mendapatkan perintah dari Kala, semua itu karena Kala tidak mau Ninis atau orang tua nya melihat kejadian malam itu. Apalagi, CCTV di luar kamar Kala menunjukkan betapa sedihnya raut wajah Camelia setelah kejadian malam naas itu.
"Ada apa di dalam sini Ya," ucap Asep, "Ah sudahlah, lagipula aku tidak paham caranya untuk memainkan alat ini. Besok Pun Teknisi CCTV akan datang, biar yang ini aku berikan saja pada Mas Kala di esok hari."
"Karena kata Mas Kala, alat ini harus sampai di tangan Mas Kala tanpa Ibu tahu." ujar Asep sembari berjalan menuju kamarnya.
Beralih menuju keberadaan Ninis, Ninis pun masuk kedalam kamar milik suaminya itu. Ia terkejut saat melihat Suaminya sudah tertidur pulas di atas ranjang yang sudah beberapa hari tidak pernah ia tempati, Ninis pun melihat kearah sofa dimana tempat itu biasa dipakai oleh Kala untuk tidur.
Kursi yang begitu rapi tanpa ada selimut ataupun Bantal diatasnya, dan itu artinya Kala sudah mau menerima Ninis sebagai seorang Istri yang akan melayani dirinya.
Kala terlihat membuka matanya dengan pelan, "Kamu sudah pulang dari Kamar Ibu?" Tanya Kala.
Ninis mengangguk pelan, ia masih tidak percaya mengapa Kala dengan begitu santai bertanya pada dirinya. Apalagi lelaki itu dengan nyaman tidur di atas ranjang mereka, "Sini, tidur di samping Mas." Ajak Kala.
Ninis berjalan dengan pelan, Kala tersenyum kepadanya. Sesampainya Ninis di hadapan Kala, "Boleh Ninis meminta sesuatu Mas?" Tanya Ninis.
"Ya, tentu boleh saja. Apa memangnya?" Tanya Kala balik pada Ninis.
"Tolong Cubit pipi Ninis, Apa Ninis bermimpi atau ini memang kenyataan?" Tanya Ninis pada Kala, Kala pun beranjak dari atas ranjang tersebut. Ia tidak mencubit Ninis, akan tetapi Ia mengusap pipinya lalu mendaratkan sebuah kecupan manis tepat pada bibir milik Ninis. Mata mereka terlihat begitu menyatu, saling tatap pun tak terhindarkan oleh kedua mata itu dan tanpa Ragu, Kala terlihat mengecup Ninis lebih dalam.
Bibir mereka saling memagut penuh kasih, dan pada akhirnya Kala pun menjatuhkan tubuh istrinya itu. Kala melakukan hal itu, dan Ninis merasa begitu bahagia. Malam itu pun menjadi malam yang paling Indah semasa hidup Ninis, rasa cinta terhadap Kala pun datang begitu saja, apalagi Ninis memang begitu sangat mengagumi sosok lelaki berusia 25 Tahun itu.
__ADS_1
"Terimakasih Mas Kala," Ucap Ninis seusai Kala memberikan hal yang sudah ia tunggu setelah Pernikahan itu terjadi, Kala tersenyum.
"Aku yang harusnya berterima kasih Nis, kamu itu wanita yang sangat baik. kamu sudah sangat sabar dalam menghadapi sikap ku." balas nya sembari memeluk tubuh Ninis, dan ia tak lupa mengecup kening Istrinya itu.
Mereka pun tertidur pulas hingga pagi menjelang, seperti Pasangan suami istri pada umumnya, Kala tak henti memeluk Ninis pada malam itu. Saat ini entah mengapa Kala begitu cepat merubah sikap buruk yang sebelum nya ia berikan pada Ninis, mungkin saja Ia sudah menyadari bahwa ia harus mulai merubah segalanya karena ia adalah seorang suami untuk Wanita bernama Ninis itu.
Keesokan paginya, Kala pun terbangun dari tidur lelap nya semalam. Ia tidak mendapati sosok Istrinya itu tertidur di samping dirinya, Ia pun terlihat menggeliatkan tubuhnya, lalu beranjak dari tempat tidur tersebut.
Sebuah nampan berisikan susu hangat di tambah dua buah roti lapis itu tersimpan di atas meja kerja Kala, Kala pun melihat sebuah surat terselip pada nampan tersebut. Kala membawa surat tersebut, "Assalamualaikum Mas Ku, Maaf Ninis tidak membangunkan Mas dan tidak memberitahu Mas bahwa Ninis harus pergi sepagi mungkin ke Rumah sakit di karenakan adanya Jadwal Operasi kandungan untuk Pasien Ninis. Ninis sudah meminta Mbak untuk membawakan Mas sarapan, maafkan Ninis ya Mas. Esok hari Ninis janji akan membuatkan Sarapan dari tangan Ninis untuk Mas, Love You. Tertanda Istri Mas, Ninis." Kala tersenyum sembari membaca surat kecil tersebut.
Ya, Ninis sudah berhasil membuat suasana hati Kala semakin membaik. Waktu yang Ninis tempuh pun tidak begitu lama, dan entah mengapa saat ini Kala merasa bangga karena mendapatkan Istri seperti Ninis. Ia pun kini seakan melupakan peristiwa malam itu, bahkan Ia berharap bahwa Camelia dapat menjaga rahasia tersebut.
Kala meneguk susu tersebut, Ia tak lupa memotret sarapan kecil yang diberikan oleh istrinya dan memposting foto tersebut pada akun media sosial medianya dan hal itu sudah pasti terlihat oleh sosok Camelia Dan kala seakan melupakan hal tersebut.
Setelah selesai menghabiskan sarapan miliknya itu, ia pun meminta salah satu Asisten rumah tangga nya itu untuk membawa nampan kosong dari kamarnya. Ia juga terlihat memasuki kamar mandi milik nya dan bergegas untuk mandi, kebetulan hari ini adalah hari yang akan sangat melelahkan untuk Kala. Pasalnya Kala akan bertemu Klien asal Malaysia bernama Datuk Rasyid dan Ia akan mulai menjalankan bisnis besar dengan orang tersebut.
Beberapa menit kemudian Kala selesai membersihkan tubuhnya itu, Ia terlihat keluar dari dalam kamar mandi pribadi milik nya itu. Tanpa di duga seorang Asisten rumah tangga tersebut adalah Camelia, Sontak hal itu membuat nya merasa terkejut.
"Kamu sudah pulang Mel?" Tanya Kala.
Kala mengangguk dengan pelan, ia merasa iba saat melihat tubuh kurus Camelia. sudah seminggu ini Camelia di rawat karena sakit, Dan Kala berharap tidak ada orang yang menyuruhnya untuk bekerja untuk beberapa hari ke depan.
"Mel." Panggil Kala saat melihat Amel dengan susah payah membawa nampan dan Keranjang berisikan pakaian kotor tersebut.
"Suruh Mbak lain untuk masuk kamar ku, Dan kalau bisa kamu beristirahat saja dulu. jangan dulu bekerja, Bukan nya Ibu ku meminta mu untuk Fokus belajar saja." Serunya dengan ketus.
Camelia terdiam sejenak, "Mbak Neni sedang repot, mbak Lain juga sama. Ibu Sum juga sedang memasak untuk sajian yang dikirim menuju panti, Amel gak bisa diam Mas Kala kalau ada kerjaan yang tidak atau belum dapat di selesaikan. lagipula Amel gak apa-apa kok." Lanjutnya menjawab.
"Bukan karena itu, Aku merasa risih saat kamu memasuki kamar ku." Ketus nya kembali.
Camelia terdiam kembali, rasanya begitu sakit saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Kala untuk dirinya.
Tanpa menjawab apapun Camelia segera pergi dari hadapan Kala, air matanya menetes dan tak dapat ia bendung saat mendengar kalimat yang terucap dengan nada yang begitu ketus dari Kala. Tidak biasanya Kala bersikap kasar seperti itu, bahkan sorot matanya seakan menunjukkan rasa benci terhadap Camelia.
__ADS_1
Ia menyimpan nampan tersebut dan segera berlari menuju kamar nya, di dalam sana, Ia menangis tersedu-sedu.
"Rasanya begitu sakit saat mendengar Mas Kala mengatakan hal itu, akan tetapi itu kah yang aku mau saat itu. Itu yang aku minta pada Tuhan, dan Tuhan mengabulkan doa ku untuk ia berikan jarak antara aku dengan Mas Kala. Lalu, mengapa hatiku begitu sakit saat melihat sorot matanya dan mendengar kalimat yang Mas Kala berikan padaku."
"Sadarlah Amelia, dia sudah menjadi suami orang." Ucapnya dalam hati, "Dan sudah seharusnya kamu melupakan peristiwa malam itu, Mas Kala mu sedang mabuk sehingga ia tidak menyadari hal tersebut." Ucapnya dalam hati kembali.
Di luar kamar Camelia, Kala terlihat berdiri tanpa mengatakan apapun. Keberadaan Kala pun terlihat oleh salah satu Asisten rumah tangga lainnya, dan ia segera bertanya mengenai Apa yang akan Kala perlukan.
"Apa Mas Kala membutuhkan sesuatu?" tanya Nani.
Kala menjawab dengan terbata-bata, "Mmm, Tidak.. Eh maksud Kala, Kala mencari Mbok Sum."
"Mbok Sum ada di dapur belakang Mas, apa mau Mbak Nani panggilkan?" Tanya Nani kembali.
"Enggak usah Mbak, Kala juga udah terlalu siang untuk pergi ke kantor. biar nanti saja saat Kala pulang." Ucap Kala menjawab, Nani pun menganggukkan kepalanya dan Kala segera berlalu.
Di tempat berbeda, Ninis terlihat berada di sebuah rumah sakit. seseorang terlihat menghampirinya, "Selamat pagi Bu Dokter Cantik." Ucap Pria dengan senyuman manis di wajahnya, Ninis pun terkejut saat melihat wajah Pria tersebut.
"Untuk apa kamu menemui ku?" Tanya Ninis dengan sorot mata yang begitu tajam.
Pria tersebut tersenyum sinis, "Jawaban cuma satu Nis, Aku Rindu sama kamu."
"Aku sudah menikah dengan lelaki lain Ndre, dan kamu tidak pantas mengatakan itu padaku." Ujar Ninis pada lelaki bernama Andre tersebut, "Hubungan kita sudah selesai." Tambah Ninis dengan sorot mata yang tajam.
Andre tersenyum dengan sinis, "Apa aku pernah mengatakan bahwa hubungan ku dengan mu selesai?" Kata Andre sembari menatap nya dengan lekat.
Ninis menarik napasnya dalam-dalam, "Dengar Ndre, Hubungan ku dengan mu sudah lama kandas. Dan aku sudah mengatakan itu sebelumnya, mengenai kamu yang menyetujui atau tidak. Itu terserah dirimu, Aku akan tetap setia dengan pernikahan ku bersama lelaki pilihan Bapak." Ninis membalikkan tubuhnya, dan berlalu meninggalkan Mantan kekasihnya itu. Andre pun tidak tinggal diam, ia terus menerus mengikuti Ninis hingga terlihat sebuah ruangan bertuliskan nama Ninis.
Ninis yang merasa risih pun terlihat kembali menghadapkan tubuhnya di hadapan Andre, matanya terlihat semakin menatap tajam ke arah Andre.
Lalu, "Pergi, jangan pernah lagi menemui ku dan lupakan apa yang sudah kita lalui sebelumnya. Aku tidak mau hubungan ku rusak karena lelaki yang sudah lama membuat waktu ku terbuang sia-sia."
"Aku akan pergi setelah memberitahu Suami mu Kala, juga Orang tua mu bahwa Rahasia besar mu ada pada diriku." Ucap Andre dengan pandangan mata yang begitu tajam, Ninis menarik napasnya dalam-dalam. Dada nya begitu sesak saat merasakan amarah yang kini ada pada dirinya, Andre pun berlalu pergi meninggalkan perasaan amarah dari dalam diri Ninis.
__ADS_1
Ninis masuk kedalam ruangan miliknya, di dalam ruangan tersebut Ia tak henti mengatur napas nya yang begitu sesak. mengingat begitu sarkas nya kalimat yang di ucapkan oleh Andre kepadanya.